Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 71, Kemampuan yang Bangkit


__ADS_3

Aoi tumbang sendirian di tempat terang dan sempit, jatuh dan menyatu dengan pasir. Setelah itu, Alam Semesta itu yang sudah lama dikarantina mulai perlahan pulih. Seperti kata Aoi, itu membutuhkan waktu 30 tahun untuk bersih dari virus. Selama itu, apakah aku akan menggapai mimpiku sebelum alam semesta itu selesai?


Aku dan teman-temanku berteleportasi pulang ke istana Anna. Saat sampai disana, itu adalah perpisahan teman-temanku dengan Keiko.


"Terimakasih banyak Keiko. Perjalanan ini panjang tetapi kamu sangat membantu disana." kata Artoria,


"Benar! Benar!" kata Sei,


"Tidak. Seharusnya akulah yang berterimakasih. Kalian telah menyelamatkan nyawaku dari Leviathan itu." kata Keiko.


Anna berjalan mendekati Keiko. Setelah itu, dia berdiri di hadapan Keiko yang kecil dan memeluknya dengan cepat. Setelah itu, Anna melepaskan pelukannya dengan kedua tangannya di pundak Keiko.


"Maaf karena perlakuanku padamu sebelumnya. Aku tak bisa menahan emosiku." kata Anna menyesal,


"Tidak apa-apa. Aku malah bersyukur karena kamu memaafkan ku. Aku tahu kalau kamu itu anak baik." kata Keiko,


"Kamu memang orang baik, Keiko.",


"Kalau begitu aku akan pulang ke Ender Library." kata Keiko,


"Kalau begitu, mohon bantuannya, Nakano." kata Anna sambil melihatku.


Aku mengangguk. Setelah itu, Anna melepaskan genggamannya dari pundak Keiko dan Keiko berjalan ke dekatku. Setelah sampai di dekatku, aku langsung berteleportasi ke Ender Library.


Setelah sampai di depan, Keiko berjalan dengan pelan ke depanku. Dia memutarkan badannya dan menciumiku di pipiku. Aku terkejut. Setelah itu, dia melepaskannya dan meloncat mundur dan melambaikan tangannya ke arahku. Dia melakukannya karena aku mungkin tak akan bertemu dengannya dalam waktu singkat. Dia tersenyum ke arahku dan berlari masuk ke dalam Ender Library. Anak aneh... tapi imut. Aku langsung berteleportasi pulang ke Istana Pion Putih.


Saat sampai di depan istana, aku sudah tak melihat mereka lagi. Mereka mungkin sudah masuk ke dalam. Aku pun mendorong pintu dan masuk ke dalam. Saat setelah dibuka, aku melihat Arthories sedang menunggu di depan pintu.


"Selamat datang, Tuan Muda." katanya menyambut kedatanganku.


Tuan muda? Kurasa itu karena dia terpaksa.


"Kamar mandi sudah siap. Tak ada seorangpun disana. Apakah Anda akan pergi ke sana?",


"Ya, tapi nanti. Aku akan ke kamarku dulu.",


"Kalau begitu, biar saya antar ke kamar Anda.",


"Baiklah.".


Arthories memutar badannya dengan pelan dan berjalan lurus ke depan. Aku pun mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Setelah perjalanan, Arthories berhenti di samping pintu kamar biasa dengan nomor 503 tertera di pintunya. Arthories mengeluarkan kunci dari saku baju pelayannya dan membuka kamar. Saat kamar dibuka, di dalamnya gelap karena lampunya yang belum dinyalakan. Arthories manrik kuncinya dan kemudian dia memutar ke arahku dan berdiri di depanku. Dia membungkukkan badannya sedikit.


"Ini kamar Anda. Silahkan masuk." katanya,


"Ya. Terimakasih." jawabku,


"Dan ini kunci kamarnya." katanya sambil menyerahkan kunci kamarku. Aku menerimanya.


"Ya. Terimakasih." kataku,


"Kalau begitu. Saya permisi dulu." katanya dengan sopan dan kemudian pergi ke arah yang berlawanan.


Dia pergi meninggalkan kamar terbuka. Aku masuk ke dalam kamar dan menyalakan lampunya. Kamar dengan dinding putih dan furnitur putih, serba putih khas dengan namanya, Pion Putih. Aku masuk dan menutup pintu kamar. Aku duduk di atas kasur empuk yang sudah ada di dalam kamar. Aku merentangkan tanganku ke atas dan tiduran di atasnya. Serasa sudah 1000 tahun aku tak kesini lagi.


Aku menutup mataku dan menenangkan pikiranku sejenak. Setelah itu, aku bangun dari tidurku dan melepaskan pakaian petualangan ku dan menggantinya dengan baju santai.Setelah berganti pakaian, aku pergi ke kamar mandi untuk mandi.


Saat sampai, tak ada siapapun di dalam. Aku masuk dan mandi. Dan juga aku membawa buku tentang semua Alam Semesta ke kamar mandi untuk aku baca. Sudah lama sekali aku tidak membaca buku itu. Aku membaca buku itu sedikit tentang beberapa alam semesta, walaupun hanya pengetahuan umum saja yang ada di buku. Aku selalu bertanya, kemana lembaran-lembaran yang hilang?


Aku membalik sebuah halaman dan menemukan halaman yang robek. Ini sudah 32 kalinya, pasti ulah Nakano Wynox. Terutama sobekan yang ada di antara 35-109. Itu adalah robekan yang amat besar dan itu semuanya saling menyambung. Ini hanya perkiraan ku, tidak ini pasti! Di halaman 36 sampai dengan 108 adalah tentang alam semesta Bimasakti! Tapi untuk mendapatkan halaman yang disobek tentang alam semesta itu, pasti ada di tangan Nakano Wynox. Itu artinya, aku harus mengalahkannya terlebih dahulu.


Dan untuk sisa lembarannya, aku harus cari sendiri. Layaknya sebuah puzzle, setiap kepingannya mengarah ke satu arah yang sama dan semakin banyak semakin maka akan semakin jelas. Ini waktunya aku pergi, aku sudah disini sekitar 1 jam.


"Aha!" gumam kami berdua sambil bertatapan,


"Nakano?",


"Ya. Tak disangka kita bertemu disini.",


"Kebetulan saja. Kamu sepertinya baru mandi ya?",


"Ya. Kenapa kamu bisa tahu?",


"Dari rambutmu. Rambutmu masih basah dan segar. Dilihat saja sudah bisa diduga bukan?",


"Benarkah? Matamu sepertinya spesial.",


"Apa maksudmu? Aku gak mungkin punya sesuatu seperti itu. Mungkin saja jika Artoria disini, dia langsung mengetahuinya dengan cepat dibandingkan aku.".


Tiba-tiba suara perempuan menyela pembicaraan kami.


"Apa yang kalian bicarakan? Ada apa denganku?" tanya Suara itu, Artoria,

__ADS_1


"Ah... Artoria!" kata Tohka,


"Ada apa?",


"Nakano bilang kalau aku memiliki penglihatan spesial yang bisa membedakan sesuatu yang detil.",


"Apa maksudmu?",


"Apakah kamu bisa membedakan rambut Nakano yang kering dengan yang basah?",


"Tentu saja tidak bisa.",


"Eh?",


"Sesuatu seperti itu membutuhkan penglihatan tingkat tinggi, setinggi kucing atau kelinci. Aku bukan diantaranya, tentu saja aku tidak bisa.",


"Eh?".


(Bahkan Artoria sampai bilang begitu? Ada apa denganku...? Tunggu... kelinci? Bukannya aku itu Ras... kelinci bulan...? berarti kekuatan kelinci bulan ku mulai bangkit kah?"),


"Tohka, Ada apa?" tanyaku,


"Tidak! tidak ada. Aku akan ke kamarku sekarang." kata Tohka.


Tohka kemudian berlari dengan cepat ke arah berlawanan denganku dan pergi ke kamarnya. Ada sesuatu yang dia sembunyikan.


Tak sampai 10 detik, Tohka sudah sampai di kamarnya. Dia memulai hipotesisnya.


(Ada apa ini? Jika benar kekuatan kelinci bulan ku akan bangkit, apa yang sebaiknya kau lakukan? Bertemu dengan ibu Nakano? Dia juga ras Kelinci Bulan, dia pasti akan menolongku mengendalikan kekuatanku. Akan bahaya jika aku bertindak biasa tanpa mengetahui sedikitpun tentang ras ini. Yosh, sudah kuputuskan!).


Tohka berganti pakaian dengan cepat dan membuka jendela. Dia meloncat turun dan menggunakan sihir teleportasi miliknya di udara. Dia berteleportasi ke rumahku.


Saat sampai, dia berjalan ke depan pintu. Sunyi tak ada suara apapun dari dalam. Dan entah kenapa, Tohka merasakan firasat buruk.


(Entah kenapa... aku merasakan suatu firasat buruk.).


Tohka mengetuk pintu sebanyak 3 kali. Tapi tak ada jawaban dari dalam. Dia merasa heran. Dia kemudian mengetuk pintu lagi dan menunggu ada jawaban. Tetapi, setelah 30 detik setelah Tohka mengetuk pintu, masih belum ada jawaban. Apa yang terjadi?


Tohka mulai merasa cemas. Dia memutuskan untuk masuk dengan paksa. Dia mendobrak pintu dengan kasar hingga pintu itu terlempar cukup jauh. Tohka tak melihat apapun. Tak ada suara, tak ada orang. Tetapi anehnya, pintu kamar milikku dulu tertutup. Biasanya di siang bolong begini tak tertutup dan Tohka yang tahu itu merasa curiga.


Tohka berjalan ke depan pintu kamarku yang dulu dan membukanya. Setelah dibuka, dia melihat Mashiro, Adikku, duduk di atas kasurku. Tohka tak bisa melihat wajah Mashiro karena tertutup oleh rambut Mashiro sendiri. Tohka langsung mendekat dan panik. Dia kemudian melihat sedikit wajah Mashiro. Mashiro memasang wajah pucat seakan-akan sesuatu yang buruk telah terjadi. Apa yang sebenarnya terjadi?

__ADS_1


__ADS_2