Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 64, Keadaan Darurat!


__ADS_3

"Gunung yang dilindungi oleh Leviathan itu memiliki sesuatu pasti." kata Artoria,


"Ya..." jawab Anna.


"Bagaimana sekarang? Meminta bantuan Tohka untuk berpindah ke gunung sana?" tanya Anna,


"Kau benar... Tohka, apakah kamu bisa?" tanya Artoria,


"Ya. Aku bisa, tetapi aku akan kehabisan banyak energi setelahnya. Aku harus tidak berteleportasi dalam waktu beberapa jam untuk memulihkan energi ku." jelas Tohka,


"Kalau begitu... Sei, apakah pedangmu bisa mentransfer energi mu ke Tohka?" tanya Artoria,


"Eh?! Itu susah juga... aku belum tahu apakah aku bisa atau tidak karena aku belum pernah mencobanya." jelasku,


"Kalau begitu aku akan mentransferkan energi ku ke Tohka. Akan gawat kalau kita menetap di gunung itu sangat lama, ditambah hawa panas yang menyengat ini.",


"Terimakasih, Artoria. Kau sangat membantu kali— Tidak, kamu sangat membantu dalam perjalanan kali ini.",


"Ya. Tohka benar. Kau telah banyak membantu kali ini. Aku akan memberitahu Nakano nanti tentang masalah ini dan mungkin saja kamu akan menerima suatu penghargaan atau hadiah dari Nakano nanti loh~!" Jelas Anna.


Artoria mulai membayangkan Nakano mengusap kepalanya dan bilang, "Istri pintar..". Wajahnya memerah dan mulai malu.


"Ada apa, Artoria?" tanyaku,


"T-Tidak! Tidak ada apa-apa!" kata Artoria mencoba menutupi rasa malu,


"Eh... benar kah..? Sepertinya kamu sudah membayangkan dimana Nakano memujimu.." kata Anna tersenyum sinis,


"A-Apa yang kamu bicarakan?! Aku... itu... Tidak mengharapkan pujian apapun dari Nakano!".


Artoria memalingkan wajahnya yang memerah itu dari pandangan Anna. Anna tersenyum sinis dan menutup mulutnya seperti putri.


"Eh... benar kah..?".


Tak ada jawaban apapun dari Artoria.


"Kalian semua! Kita harus fokus kepada misi! Aku sudah siap membawa kita pergi ke gunung disana." kata Tohka,


"Y-Ya! Benar kata Tohka! Kita harus f-fo-fokus pada misi!" kata Artoria berusaha menutupi rasa malunya,


"Kau memang tak mau jujur ya." kata Anna kepada Artoria,

__ADS_1


"Kalau begitu, Kalian semua siap?" tanya Tohka,


"Ya.",


"Ya.",


"Ya." Jawab kami bertiga secara bersamaan.


Tohka berdiri di hadapan kami semua, merapal mantra.


"Engkau kegelapan, turuti perintahku. Atas nama kegelapan, aku memintamu membawa kami pergi. Mazikí tilemetaforá!".


Seketika, dibawah kami ada lingkaran dengan bentuk bintang di tengah. Lingkaran itu mengeluarkan cahaya dari bawah kami hingga ke atas langit. Kami tak melihat apapun, hanya cahaya putih silau di mata kami. Dan tanpa disadari, kami menutup mata sendiri.


Kami membuka mata kami dan melihat kalau tempat kami sudah berbeda. Kami berada dalam goa tapi entah dimana. Sihir pernapasan yang diberikan olehku untuk diriku dan teman-temanku masih berfungsi. Kami baik-baik saja. Kami berada di dalam goa gunung yang kami tuju.


Kami berteleportasi dekat dengan tempat keluar goa itu. Kami berjalan ke depan goa dan melihat keluar. Kami benar-benar berada di dalam gunung!


Tak lama, kami melihat ke atas kami dan melihat Leviathan Naga Air di atas kami. Dia tak merasa terancam, dia masih tenang. Aku melihat ke arah Tohka yang terengah-engah kehabisan nafas. Dia telah kehabisan banyak energi karena tadi.


"Kerja bagus, Tohka." kata Artoria,


"Sihirmu tadi benar-benar bagus dan berguna. Dan berkat kamu juga, kita ada berada dalam gunung tanpa disadari oleh penjaganya. Ini patut dipuji." jelas Artoria,


"Benar kata Artoria. Tindakanmu ini patut di puji." kata Anna,


"Ya. Terimakasih." jawab Tohka,


"Dan juga kami akan mengandalkan mu lagi setelah ini selesai ya!" kataku,


"Aku beryukur jika aku benar-benar membantu kalian.",


"Kalau begitu, ayo pergi. Kamu masih sanggup, Tohka?",


"Ya. Aku sanggup jika hanya beberapa ratus meter saja.",


"Kalau begitu baguslah.".


Kami berjalan masuk ke bagian terdalam goa. Kami tak tahu kemana goa ini mengarah, tetapi kami percaya kalau di dalamnya ada bahan yang kami cari.


Kami berjalan cukup panjang. Tohka melambat, jalannya sudah tak seimbang lagi. Saat kami berjalan di tengah hawa yang sangat panas, kami mendengar suara yang jatuh. *Gubrak*. Aku, Anna, dan Artoria yang mendengar hal itu melihat ke belakang. Kami melihat Tohka sedang berbaring disana dengan nafas yang tak terkontrol. Kami dengan cepat berlari ke arah Tohka, khawatir dengan keadaannya.

__ADS_1


"Tohka!" panggil Anna.


Saat kami sampai di tempat Tohka berbaring, kami menurunkan badan kami.


"Tohka! Kamu baik-baik saja?" tanyaku.


Tohka tak menjawab. Mulutnya kering dan nafas yang tak terkontrol, tentu saja dia tidak baik-baik saja.


"Sepertinya Tohka tak bisa melanjutkan perjalanan." kata Artoria,


"Terus, bagaimana ini?!" tanyaku,


".... Cih!.." gumam Artoria.


Artoria tak bisa menemukan jawaban dalam situasi ini.


(Berpikirlah! Bukan demi pujian Nakano! Demi teman-temanku! Berpikirlah! Pasti ada jalan keluarnya!) pikir Artoria.


"Harus ada yang membawanya keluar!" kata Anna dengan tegas,


"Tapi siapa?" tanyaku,


"Sudah jelas bukan? Kaulah orangnya? Hanya kau disini yang bisa bergerak cepat dan lagi jika kau berada dalam kondisi sama seperti Tohka, tidak hanya aku tapi semuanya akan mati. Kita juga perlu Tohka dengan kemampuan teleportasi nya." Jelas Anna,


"Tapi...",


"TIDAK ADA TAPI! Kita sudah berada dalam situasi darurat. Jika kau tak mencerna hal tadi dengan baik, percayalah aku, Artoria, Tohka dan terakhir kau akan mati disini!".


Apa yang dikatakan Anna benar. Jika aku terus masuk, aku akan berada dalam situasi seperti Tohka dan jika aku seperti itu, dampaknya akan lebih besar daripada Tohka. Kami berempat akan mati dan itu salahku! Aku harus menuruti kata-kata Anna.


"Baiklah!" kataku dengan tegas.


Anna tersenyum dengan tatapan tajam kepadaku.


Aku mengenakan tongkat yang biasa kubawa ke tanah. Dua portal keluar dengan satu pedang sedang dan satu pedang dengan bilah besar. Salah satunya ke bawah kakiku dan satunya dengan bilah besar pergi ke kepala Tohka. Menyelipkan bilah nya dengan hati-hati agar tak terluka. Pedang itu mulai terbang dan membawa aku dan Tohka pergi kembali ke awal.


"Kalau begitu, ayo kita pergi." kata Anna,


"Ya. Ayo.".


Dan kamipun berpisah sementara di situ dengan tujuan untuk kebaikan satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2