Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 41, Dunia Merah Gelap dan Kota Abyss.


__ADS_3

Aku, Sei, Tohka, Anna, dan Artoria masuk ke dalam. Kami masuk satu persatu di mulai dariku. Aku menutup mata beberapa detik dan membukanya kembali. Saat aku membuka mataku, yang aku lihat adalah dunia merah gelap gulita. Hampir mirip dengan Alam Semesta Fighterys.


Aku melihat semuanya merah gelap gulita. aku melihat sekitar, hanya ada hamparan gurun tanpa batas. Aku tak tahu harus kemana. Kemudian teman-temanku mulai masuk dan melihat ke sekeliling juga.


"Apa-apaan dengan dunia ini? Apakah benar ini Alam Semestanya?" tanya Sei kebingungan,


"Tidak salah lagi! Ini memang Alam Semestanya! Alam semesta ini dirancang khusus untuk tempat tinggal ras iblis dan biasanya ras iblis akan hidup dalam kegelapan kecuali keturunan kerajaan!" Jelas Artoria dengan tegas,


"Segelap ini?" —Tohka terheran-heran,


"Ya. Tapi tak kusangka Alam Semestanya segelap ini." Jawab Artoria,


"Tapi hebat juga ya kamu bisa tahu hal-hal yang ada di Sarang Monster ini." kata Anna,


"Aku berterimakasih." kata Artoria tak senang,


"Terus bagaimana, Nakano?" tanya Anna,


"Entahlah. Aku tak tahu kita harus kemana." jawabku,


"Andaikan ada gambar kota yang ada disini." kata Anna.


Gambar? Benar juga! Bagaimana caranya aku bisa ke depan gerbang kota Kerajaan Pion Putih? Apakah hanya kebetulan? Aku bahkan tak menggunakan apapun untuk ke sana. Andaikan aku bisa menggunakannya sekarang.


"Nakano?" Sapa Sei,


"Hei, Artoria! Apa nama kota atau kerajaan disini?" tanyaku,


"Mana kutahu... Aku hanya tahu sedikit. Dari seluruh alam semesta, alam semesta ini adalah alam semesta yang paling susah diajak berkomunikasi. Bahkan berani untuk datang kesini juga sudah bisa dibilang penghargaan." Jelas Artoria.


Aku mengeluarkan tasku dan mencari buku tentang Alam Semesta Devilains. Buku yang kucari pun kutemukan, aku mengeluarkannya dari tas dan membukanya. Aku mencari tentang Sarang Monster ini dan menemukannya. Aku mencari kerajaan atau kota yang ada di alam semesta ini.


"Aku menemukannya." kataku,


"Temukan apa?" tanya Artoria. Semuanya mendekat untuk melihat apa yang aku temukan. Kami, termasuk aku, melihat sebuah kata yang menjadi nama kerajaan sekaligus kota disini. Namanya Abyss, nama yang singkat dan mudah di ingat.


"Apa? ternyata hanya sebuah nama. Itu akan sedikit berguna tetapi tidak disini." kata Artoria. Yang Artoria bilang itu benar, ini tak berguna... tetapi ini sangat berguna bagiku.

__ADS_1


Aku menutup bukunya lalu memasukkannya kembali ke tas. Aku menutup mataku. (Tolong kirim kami ke Kerajaan Abyss! Tolong! Mata waktu!).


Teman-temanku penasaran apa yang aku lakukan, kemudian tiba-tiba dunia yang mereka lihat bertingkah aneh seolah-olah mencair. Kemudian semuanya pecah seperti kejadian saat Anna membebaskan aku dan Artoria dari dunia buatan Artoria. Semuanya menutup mata saat itu juga. Saat mereka membuka matanya kembali, mereka berada di gang sempit di samping jalan. Aku membuka mataku dan berdiri, melihat lurus ke depan. Suara memenuhi jalan yang ada di pandangan kami.


"Akan menyusahkan kalau mereka tahu kita bukan ras Iblis. Kita harus memiliki jubah untuk menyembunyikan penampilan kita." kataku,


"Kau benar. Tidak aman." kata Anna,


"Tapi bagaimana cara kita mendapatkan jubah yang menutupi penuh tubuh kita?" tanya Tohka,


"Kita harus bergerak pada malam hari." kataku,


"Kamu mulai serius ya, Nakano?" Tanya Artoria,


"Ya... ini adalah Sarang Monster. Akan bahaya kalau kita bertindak gegabah." Jelasku.


Kami pun memutuskan untuk menunggu sampai malam hari.


Malam hari pun tiba. Saatnya bagi kami untuk melakukan aktivitas kami layaknya kelelawar pada malam hari.


Jalan semakin sepi seiring waktu berjalan. Itu adalah kesempatan bagi kami untuk beraksi.


Saat setelah ketemu benda yang kami cari, kami ke depan kasir dan menaruh 2 keping emas di meja. Kami keluar dan menguncinya kembali. Kami sangat beruntung, kami bisa melakukan semuanya sesuai rencana sebelum para penjaga datang dan tanpa bencana sedikitpun, sempurna.


Kami berkumpul di gang yang sama. Tohka mengeluarkan jubahnya dan memberikannya kepada kami semua.


"Akhirnya kita mendapatkan jubah untuk kita. Dengan begini, kita bisa berpergian saat siang hari, benar kan Nakano?" kata Sei,


"Ya kau benar." jawabku,


"Kau benar. Ayo pergi ke istana yang ada di ujung kota sana!" kata Tohka. Tohka mengulurkan jari telunjuknya menuju ke sebuah bangunan besar yang berada di tengah, bangunan itu adalah istana Abyss.


Anna menaruh tangannya di pinggul, memiringkan kepalanya dan tersenyum disertai tatapan yang menyipit ke arah Tohka.


"Bagus juga. Bukan ide yang buruk." kata Anna,


"Bagaimana ini, Nakano?" tanya Anna kepadaku,

__ADS_1


"Karena ini sedang malam hari dan aku bingung akan melakukan apa selanjutnya, mungkin lebih baik jika kita menemui langsung ke intinya, benar?" kataku dengan menajamkan tatapanku di kalimat terakhir,


"Kau benar." Jawab Artoria.


Artoria tersenyum dan menutup mata.


"Kita sudah mirip dengan penjahat ya?" katanya,


"Kau benar. Kita memang mirip penjahat." jawab Tohka,


"Kalau begitu..." hentiku. Teman-temanku menatap ke arahku. Aku sedang berjalan ke depan ke arah jalanan yang sepi. Aku berhenti di ujung gang yang sempit itu dan melanjutkan kalimatku barusan.


"Mari kita mulai permainan monster ini."


Kami semua meloncat ke atap bangunan-bangunan yang ada di sekitar kami. Kami semua meloncat dari gedung satu ke gedung yang lainnya. Kami meloncat menuju ke istana Abyss.


Sementara itu, ada seseorang yang mengamati kami dari Bola Penglihatan yang dimana pengamat itu berada di dalam istana. Dia seorang wanita dengan rambut berwarna merah gelap gulita mirip seperti langit yang ada di dunia ini.


Wanita itu berjalan ke arah jendela kamarnya dan mendorongnya terbuka.


"Kau sudah tiba ya... Nakano... Aku menunggumu dari sini." kata wanita itu. Dia tersenyum ke arah langit merah.


Aku melihat sebuah jendela terbuka karena wanita itu. Aku tersenyum kecil dan kembali murung. Aku meloncat-loncat menuju ke jendela itu. Wanita itu melihat ke arahku dengan ekspresi wajah cemas, aku tak tahu apa maksud dari ekspresinya itu.


"JANGAN MENDEKAT!" Teriak wanita itu.


Tiba-tiba dari samping, ada anak panah yang mengarah ke arahku untuk menghentikan gerakanku. Dengan cepat, aku menyuruh Excusifer berpindah ke tanganku dengan cepat, kemudian aku menebas ke arah anak panah yang datang ke arahku. Aku jatuh ke bawah karena hal itu tetapi aku baik-baik saja. Penembak jitu ya.


"Wah, wah... ternyata manusia ya... hebat juga kamu bisa menghindari tembakanku. Kamu seharusnya bangga, karena tak ada yang pernah bisa menghindari anak panahku seperti barusan." kata orang itu. Orang itu keluar dari semak-semak. Muncullah seorang pria berjenggot yang sedang memegang panah dengan anak panah berapi-api. Muncul lagi yang merepotkan.


Di tempat lain, Anna mendapatkan serangan busur, tetapi Anna berhasil menembak busur yang menyerangnya itu dengan tepat. Orang itu keluar dari bayang-bayang bangunan dan bilang hal yang sama seperti pria yang menyerangku.


Di tempat lain, Tohka mendapatkan serangan pedang dari seseorang. Artoria mendapatkan serangan sihir dari seseorang. Dan, Sei mendapatkan serangan dari seorang pengguna belati. Orang yang menyerang mereka bertiga juga mengatakan hal yang sama seperti orang yang menyerangku dan Anna. Ini hanya pendapatku tetapi orang-orang disini mungkin hanya bisa memamerkan kekuatan mereka saja. Bahkan teman-temanku merasa kalau kelompok yang menyerang kami.... suka memamerkan kekuatan mereka. Kami mendapatkan musuh yang merepotkan.


---


Assalamu'alaikum wr.wb

__ADS_1


BESOK, 28 JUNI 2020, TIDAK AKAN UPDATE BAB BARU KARENA INGIN MEMBETULKAN BAB-BAB YANG LAMA UNTUK MEMAJUKAN ALUR CERITA. KARENA ITU SAYA MINTA MAAF SEBESAR-BESARNYA.


Wassalamu'alaikum wr.wb


__ADS_2