
Saat selesai mandi dan berbincan-bincang dengan ayahku, Aku memakai baju dan berjalan menuju ke kamarku. Tohka dan yang lainnya juga melakukan hal yang sama. Saat aku ingin menaiki tangga dan menuju ke kamarku yang telah disiapkan oleh pengurus di Istana Pion Putih, aku bertemu dengan Tohka yang juga ingin melewati tangga yang sama. "Ah! Nakano ternyata." kata Tohka,
"Tohka.." kataku,
"Mau kemana?" tanya Tohka,
"Ke kamarku." Jawabku,
"Begitu ya. Apakah kamu baru mandi?" tanya Tohka,
"Benar, bagaimana kamu tahu?" tanyaku kembali,
"Rambut hitam kemerahan mu itu.." kata Tohka,
"Begitu. Apakah kamu juga baru mandi?" tanyaku,
"Benar. Bagaimana kamu tahu?" Tanya Tohka kembali,
"Itu karena rambut hitam mu yang di kuncir kesamping." Jawabku,
"Begitu ya..",
"Ngomong-ngomong, bagaimana rencaramu besok?" tanya Tohka,
"Aku juga tidak tahu apa yang harus kulakukan. Mungkin jalan-jalan." Jawabku,
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan bersama?" tanyanya,
"Maksudmu aku diajak kencan begitu?" tanyaku kembali,
"Ken--" henti Tohka. "Gawat aku tak kepikiran akan hal itu!" pikir Tohka,
"I-ini bukan ke-ke-kencan tahu. I-ini hanya jalan-jalan saja... Ya benar Jalan-Jalan!" kata Tohka yang panik,
"Begitu? kalau begitu sampai jumpa besok." kataku dan berjalan naik tangga duluan dan pergi.
Sementara itu Tohka panik karena membuat kesalahan yaitu mengajakku bergi bersama-sama, tapi dia tak menyadari kalau itu hampir sama dengan Kencan. "B-ba-ba-ba-ba-ba-bagaimana ini?. Aku tidak menyadari kalau tindakan itu mirip dengan mengajak kencan!" pikir Tohka setelah melihat ku naik ke atas dan menghilang dari pandangannya. "Tenanglah diriku! Aku harus tenang. Tetap tenang...." kata Tohka. Dia menarik nafas dalam dalam dan mengeluarkannya, dia melakukannya sebanyak 3 kali. "AAaaahhh DASAR! Bodohnya diriku! Aku tidak bisa tenang... Bagaimana ini?" kata Tohka yang putus asa.
Sei berjalan dan melihat Tohka dengan wajah murung dan pucat nya. Dia menyapa, "Ada apa, Tohka?",
"Aku melakukan kesalahan.." kata Tohka,
"Kesalahan apa yang kamu maksud?" tanya Sei,
"Aku mengajak Nakano pergi keluar bersama besok!!" kata Tohka,
"Jadi... Dimana letak kesalahannya?" Tanya Sei,
__ADS_1
"Kamu masih belum paham juga kah?. Itu artinya aku mengajaknya Kencan tahu! Kencan!" Jawab Tohka,
"Eh?.. EEEEHHHHH??!!!!" Teriak Sei,
"Eh? eh?! Yang benar saja? Sungguh?" tanya Sei yang tak percaya,
"Benar tahu! Itulah kesalahannya!" Jawab Tohka,
"Bukannya itu bagus? mempererat ikatan kalian berdua akan menjadi sesuatu yang bagus bukan?" Kata Sei yang mencoba menyemangati Tohka,
"Ta-Tapi aku tidak mau menyakiti perasaanmu!" kata Tohka,
"Sudah cukup! Kamu juga harus mementingkan hubunganmu dengan Nakano! Jika tidak.. kamu akan kehilangannya!" kata Sei dengan tegas,
"T-tapi..." kata Tohka,
"TIDAK ADA KATA TAPI!" kata Sei dengan tegas.
Anna pun melihat Sei yang sedang meneriaki Tohka. "Ada apa? Sampai teriak-teriak begitu." tanya Anna,
"Anak ini seharusnya bangga karena akan berkencan dengan Nakano! Tapi dia malah berputus asa hanya memikirkan ku!" kata Sei penuh amarah,
"Sudah-sudah. Tohka hanya ingin menghargai perasaanmu saja." kata Anna menenangkan Sei yang marah,
"Aku tahu! Tapi dia tak memikirkan tentang perasaannya sendiri kepada Nakano!. Jika begitu, maka Nakano akan menghilang tanpa sepengetahuannya.. LAGI!" Kata Sei,
"Sudah-sudah.. Tapi ya.. Tohka, reinkarnasi dari Si Pelindung di Balik Bayangan atau Narumi Ikumi... Berkencan dengan Nakano si Penghancur Alam Semesta, itu cukup menarik!" kata Anna,
"Sejak kapan kamu tahu kalau Nakano sudah bisa tersenyum?" tanya Tohka,
"Dulu sebelum reinkarnasi, dia juga sudah sering tersenyum ramah kepada rakyat di kerajaannya yaitu Pion Merah." Jelas Anna,
"Begitu kah?, Kalau begitu aku sepakat." kata Sei,
"Bersiaplah kemungkinan terburuk nya, ya Sei!" kata Anna,
"Maksudmu apa?" tanya Sei,
"Kamu akan tahu besok!" kata Anna,
"Apa yang dia maksud sebenarnya?" pikir Sei.
Keesokan harinya. Tohka sedang berdiri didepan istana menungguku keluar dari dalam. Tohka mengingat rencana yang diberikan Anna kepadanya kemarin malam, "Begini rencananya, Aku akan berkomunikasi kepadamu lewat telepati." kata Anna,
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Tohka,
"Dengan ini.." kata Anna yang maju beberapa langkah ke hadapan Tohka dan memberikan sebuah alat. "Gunakan ini di telingamu." kata Anna kepadanya kemarin malam.
__ADS_1
Tohka memegang telinga kirinya yang ada Alat pembantu telepati di telinganya, dia menggunakannya sebagai anting yang memiliki sihir. "Semoga saja berjalan lancar.." pikir Tohka.
Aku berjalan keluar dari pintu, dengan jas bermotif segitiga dengan warna merah dan biru tua berbentuk segitiga yang dipisahkan oleh warna hitam. Jaket yang cukup suram. Dan menggunakan pakaian santai lainnya seperti kaos hitam polos, dan celana panjang hitam polos.
Aku melihat ke arah Tohka yang menggunakan rok panjang putih polos dengan kain tipis, dan baju panjang berwarna putih polos. Membuatnya sangat cantik. "Selamat Siang, Tohka." Kataku menyapa Tohka,
"Ah! Nakano! Selamat Siang." Jawab Tohka,
"Pakaianmu sangat cocok untukmu." kataku memujinya,
"Be-benarkah?. Nakano juga.. Pakaianmu sangat cocok untukmu. Menyatu dengan warna rambutmu!" kata Tohka,
"Kalau begitu, Terimakasih. Langsung berangkat saja." kataku mengajak Tohka berjalan-jalan,
"Kau benar! Ayo!" kata Tohka penuh semangat.
Sei dan Anna melihat kami dari Istana melewati Bola Penglihatan. "Sepertinya berjalan baik ya." kata Sei kepada Anna,
"Tapi ini baru permulaannya saja." Kata Anna,
"Kencannya baru saja dimulai!" kata Anna.
Aku dan Tohka berjalan mengitari Kota Putih, yang menjadi Ibukota di Kerajaan Pion Putih. Kami bersenang-senang bersama. Sei yang melihat kami, mulai mendapati dampaknya. "Apa ini? Rasanya hatiku tertekan." pikir Sei,
"Rasanya ingin menangis dan iri." pikir Sei,
"Apakah ini yang disebut cemburu?",
"Saat melihat Tohka yang selalu menggenggam tangan Nakano.. Rasanya menyesakkan. Mungkin, inilah yang dinamakan... Cemburu.",
"Rasanya begitu sedih.. Dadaku sesak.. Aku ingin menggenggam tangan Nakano... Aku ingin berada di posisi Tohka... Ini kah yang dimaksud oleh Anna tadi?".
Saat hari menjelang malam. Aku dan Tohka duduk di bangku taman melihat cahaya indah didepan kami dengan aku yang menggenggam tangan Tohka. Saat kencan berlangsung, Tohka melupakan Sei dan hanya memikirkan dirinya sendiri dan dia semakin dekat kepada Nakano. Tapi saat malam hari, dia mulai mengingat sesuatu yang penting yang seharusnya tak boleh dilupakan. Disaat yang sama, Sei mulai tak bisa menahan dirinya lagi untuk menangis. Sehingga dia mulai menangis. Anna yang ada di sampingnya panik, "SEI ADA APA?",
"Dadaku... merasa begitu sesak... ingin menangis... aku... sudah tak bisa menahan rasa sakit ini lebih lama lagi..." Kata Sei yang menangis,
"Inilah konsekuensinya... Yang sabar ya.." kata Anna yang mencoba menenangkan Sei,
"KAMU TAK TAHU APA PUN!" Teriak Sei. Dia menyingkirkan tangan Anna yang ingin memegang pundaknya dan melarikan dirinya ke kamar.
Saat itu juga, Tohka mulai mengingat sesuatu yang tak boleh di lupakannya. "Gawat!" pikir Tohka,
"Nakano.. Aku ingin pulang duluan." Kata Tohka,
"Kenapa tiba-tiba?" tanyaku,
"Aku melupakan sesuatu.. Kalau begitu Samapi jumpa di istana." kata Tohka,
"Tu--" hentiku, karena Tohka telah berteleportasi dengan cepat.
Tohka masuk ke Istana dan berlari secepat mungkin menuju ke Kamar Sei, "Gawat.. Ini gawat.. Seharusnya aku tak melupakannya... Kenapa aku melupakannya?" pikir Tohka,
__ADS_1
"Semoga saja sempat!"