
Di tempatku berada dimana Tohka berbaring di atas pedang layang ku. Aku duduk disana mencoba memulihkan energi ku sedikit demi sedikit tetapi semua itu diganggu karena raungan Leviathan dan gempa. Aku berharap Anna dan Artoria baik-baik saja di dalam.
Di tempat Anna dan Artoria, mereka sedang berlari keluar dengan membawa Fire Sea Flower Seed. Yang dibutuhkan adalah bijinya tetapi karena bunganya mirip mawar sekaligus belum terjadi penyerbukan tentunya mustahil untuk mendapatkan bijinya.
Anna dan Artoria terus berlari dengan cepat. Anna tak menggunakan sihir layang waktunya karena untuk menghemat energi. Energi Artoria dan Anna selalu mengurang sedikit demi sedikit saat masuk ke goa terdalam. Tetapi itu tidak lagi, energi mereka mulai pulih kembali saat mereka menemukan bagian goa dimana suhunya mulai mendingin.
Mereka mulai bisa melihat dua orang yang duduk dan berbaring, itu adalah Tohka dan aku. Aku yang bisa melihat mereka berlari, menyapa mereka.
"Anna! Artoria!" panggilku,
"Sei!",
"Sei!" jawab mereka secara bersamaan.
Artoria dan Anna berhenti di dekatku dengan nafas terengah-engah. Mereka mencoba mengontrol nafas mereka. Mereka menarik nafas dan melepaskannya dengan perlahan. Mereka pun mulai berbicara.
"Sei. Bagaimana keadaan Tohka?" tanya Artoria,
"Dia baik-baik saja tetapi apa yang terjadi kepada kulit kita?" tanyaku,
"Ini mungkin tahap kedua dari virus yang dibicarakan Aoi sebelumnya.",
"Begitu ya.".
Ditengah suasana itu, sunyi tak ada yang berbicara. Hanya ada gempa dari naga laut dan raungannya. Ditengah suasana sepi itu, Anna menanyakan sesuatu kepada aku dan yang lainnya.
"Sekarang bagaimana?" tanya Anna,
"Benar juga. Sei, apakah kamu bisa menggunakan sihir penyembuhan?" tanya Artoria,
"Bisa sih tapi energi ku akan cepat habis." jawabku,
"Kalau begitu, Anna bisakah kamu menyerahkan setengah energi mu kepada Sei?",
"Bisa sih. Tapi nanti siapa yang akan mentransferkan energi ke Tohka untuk menggunakan sihir perpindahannya?",
"Biar aku saja.",
"Baiklah kalau begitu.".
Anna berjalan mendekatiku. Dia mengeluarkan pistol dan dengan cepat mengarahkan pistolnya ke arahku dan menembakkannya dengan cepat.
"APA YANG KAMU LAKUKAN?!" Teriak Artoria,
"Tenanglah. Aku tidak mencelakainya." jawab Anna.
Aku yang ditembak oleh Anna di dada, tak mati. Aku malah dapat merasakan energi besar yang mengalir di tubuhku.
"Anna... ini..?" tanyaku,
"Ya kau benar. Itu adalah energi yang aku transfer kepadamu. Setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk mentransfer energi mereka." Jelas Anna,
"Begitu ya.",
"Dengan energi sebesar itu, cukupkan untuk membuat Tohka tersadar dan memulihkan setengah energinya?",
__ADS_1
"Ya. Aku bisa!" kataku dengan yakin.
Aku berjalan mendekati Tohka, kemudian aku duduk disebelahnya dan menaruh ujung tongkatku di dadanya. Diujung tongkat itu ada bola kristal, artinya kristal itu yang menyentuh dadanya. Aku merapal mantra.
"Oh engkau penguasa surga. Berikanlah hamba mu yang sakit ini kenyamanan dan keamanan darimu. Bebaskanlah dia dari rasa sakit! Therapévontas ton Parádeiso!".
Tiba-tiba kristal yang menyentuh dada Tohka skearang mengeluarkan sinar dengan warna yang sama. Diwaktu yang sama pula, tubuh Tohka tiba-tiba mengeluarkan cahaya. Artoria dan Anna terdiam, terkejut kalau mereka menyadari bahwa sihir yang dikeluarkan olehku adalah... sihir tingkat tinggi. Setelah beberapa saat, cahaya yang keluar dari tubuh Tohka meredup begitu juga dengan kristal milikku.
Beberapa detik setelah itu, Tohka membuka matanya. Artoria dan Anna terkejut akan hal itu. Tak mereka sangka kalau Sei telah menguasai sihir penyembuhan tingkat tinggi.
"Tohka!" panggil Anna,
"Kamu baik-baik saja?" tanyaku,
"Ya. Aku baik." jawab Tohka.
Setelah pertanyaan ku terjawab, aku langsung terjun memeluk Tohka dengan cepat.
"Syukurlah~ Kamu baik-baik saja~.." kataku sambil menangis bahagia,
"Tunggu Sei! Aku tidak mati loh." kata Tohka,
"Ya.. Aku tahu itu.",
"Kalau kau tahu itu, bisakah lepaskan pelukanmu? Panas disini.".
Aku langsung pergi menjauh.
"Ya... Kita harus mengapresiasikan usaha Sei. Tak ku sangka Sei bisa melakukan sihir penyembuhan tingkat tinggi." kata Artoria,
"Hehe... aku sudah berusaha selama ini.." kataku sambil malu-malu,
"Benarkah itu? Terimakasih banyak Sei." kata Tohka,
"Tidak apa. Aku juga senang bisa berguna.".
"Kau sudah bisa melakukannya, Tohka?" tanya Artoria menyela,
"Ya. Aku bisa. Ayo... pulang!" kata Tohka.
Tohka berdiri di depan Anna dan aku dengan Artoria di belakangnya, memegang pinggangnya dengan satu tangan. Kemudian, Artoria mentransfer energinya kepada Tohka. Tohka merasakan energinya mulai kembali seperti sedia kala. Tohka menutup matanya dan dia merapal mantra perpindahan.
"Engkau kegelapan, turuti perintahku. Atas nama kegelapan, aku memintamu membawa kami pergi. Mazikí tilemetaforá!".
Kami bertiga menutup mata kami dan setelah itu, membukanya. Kami melihat lurus ke depan, melihat Leviathan Naga Air berenang. Kami pulang ke tempat portalnya berada.
Kami melihat satu sama lain dan tersenyum. Kami membalikkan badan kami dan berjalan masuk ke dalam portal. Kamipun berada di tempat yang seperti sebelum kami pergi ke tempat itu. Kami berjalan didalam lorong yang cukup panjang.
Di ujung, kami melihat tempat monumen yang kami namakan "Monumen 6 Senjata Segi enam.". Kami berjalan ke arah Utara. Kami berjalan di lorong pendek dan di ujungnya ada kolam besar. Kami masuk ke dalam kolam dan berpijak kepada balok besar. Kami pun menuruni balok itu dan akhirnya.. bertemu lagi dengan Aoi, Keiko dan Nakano.
Kami telah menyelesaikan misi kami. Nakano, Keiko, dan Aoi melihat ke atas, melihat aku dan yang lainnya turun kebawah dengan perlahan. Keiko tersenyum bahagia.
Saat kami telah terjun, kami berjalan ke dekat mereka bertiga. Keiko yang tengah duduk di dekat Nakano, berdiri dan berlari ke arah kami. Dia memelukku dengan erat.
"Tung-- Keiko?!" kataku terkejut,
__ADS_1
"Syukurlah! Syukurlah kalian baik-baik saja!" kata Keiko.
Aku pun membalas pelukannya yang erat itu.
"Ya. Kami tiba, Keiko." kataku,
"Ya. Selamat datang!" jawab Keiko.
Keiko melepaskan pelukannya dan menghadap ke arah Anna. Anna membalasnya dengan tersenyum.
"Dengan cara kalian bersikap sekarang, kalian pasti telah mendapatkan barang-barang yang dibutuhkan kan?" tanya Aoi,
"Ya. Kami mendapatkan 2 bahan yang tersisa." jawab Anna,
"Kerja bagus kalian berempat." kata Nakano menyela sambil tersenyum. Entah kenapa kami merasa senang saat melihat senyum Nakano yang asli tanpa dibuat-buat.
"Jangan puji kami, Nakano. Seharusnya kamu memuji Artoria." kata Anna,
"Ap--?!" henti Artoria,
"Ya. Benar kata Anna. Artoria telah banyak membantu kami di perjalanan." kata Tohka,
"Begitu ya.".
Nakano berjalan mendekati Artoria. Dia dengan cepat mencium dahi Artoria. Artoria terkejut akan hal itu, wajahnya memerah.
"Ap-- Apa?!" teriak Artoria,
"Itu hadiah dariku. Kamu telah berusaha keras ya, Artoria." kata Nakano.
Artoria tak menjawab kata-kata Nakano. Dia menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan rasa malunya.
"Oh iya. Sei juga telah berusaha keras loh!" kata Anna,
"Hehh?!" gumam ku,
"Ya, Anna benar. Sei telah menyembuhkan setengah energi ku saat keadaan darurat dan lagi sihir penyembuhannya itu tingkat tinggi!" jelas Tohka,
"Kamu juga sudah berusaha keras loh, Tohka. Kamu membawa kami berpindah, pergi ke dalam gunung itu 2 kali walaupun menggunakan sihir pinjaman dari Artoria." Jelas Tohka,
"Kamu juga telah berusaha keras Anna.",
"Aku? Aku bahkan tak tahu apa yang membuatku patut dipuji.".
Nakano melihat ke arah kami bertiga berdiri dan dia berpindah. Dengan cepat dia berpindah ke depan Tohka mencium dahinya dan begitu juga aku dan Anna.
"Yah. Intinya, kalian telah bekerja keras dalam perjalanan kali ini. Kalian pantas mendapatkan itu." kata Nakano,
"Bagaimana denganku?" tanya Keiko,
"Kamu? Bukannya aku telah mengambil ciuman pertamamu ya? Aku anggap itu hadiah karena telah berusaha untuk menyelamatkanku." kata Nakano.
Wajah Keiko memerah dengan salah tingkah.
"Yah.. itu... anu...".
__ADS_1
Dengan begitu perjalanan kami di alam semesta Waviware mendekati akhir! Oh ya aku juga lupa bilang kalah nanti di bab selanjutnya bukan aku yang menjadi pemeran utamanya lagi... Kalian jangan sedih ya! Suatu hari aku akan menemani kalian lagi! Bab selanjutnya yang menjadi pemeran utamanya tentu saja kalian sudah tahu kan. Kalau begitu, sampai jumpa di bab selanjutnya!