
Aku dan teman-temanku berada di depan pintu gerbang Kerajaan Machinery dengan Kurumi dan keluarga Obounara didepan kami.
"Jaga diri kalian saat berpetualang. Aku tahu masalah akan selalu menghampiri kalian dimana pun kalian berada." kata Bibi Yo,
"Baiklah." kataku,
"Jagalah headset ayahmu itu nak. Itu adalah benda rongsokan miliknya dan satu-satunya kenangan untukmu." kata Paman Inara.
Aku menjawabnya dengan mengangguk dan tersenyum. Paman Inara tersenyum sinis.
Aku berjalan mendekati Kurumi dan menaruh tanganku di atas kepala dan bando uniknya.
"Maaf aku tak bisa menemanimu." kataku dengan nada bersalah,
"Tidak apa. Lagian semua ini juga salahku dan aku harus memperbaikinya.",
"Aku akan segera kesini bila urusan kami dengan Tohka selesai untuk menjemputmu.",
"Baiklah, akan aku tunggu kedatanganmu.".
Aku tersenyum dan melihat ke arah Paman Inara.
"Paman, aku serahkan Kurumi kepadamu." kataku,
"Baiklah. Peduli terhadap istri ya.".
Aku menjawabnya tersenyum, lalu melihat ke arah Sumiko dan bilang:
"Dan kamu juga Sumiko." kataku.
Dia sedikit terkejut karena namanya dipanggil lalu tersenyum sinis menjawab kata-kataku,
"Baiklah. Itulah gunanya sahabat, bukan? Lagian dia ini salah satu istrimu dan juga jaga istrimu yang lain dan jangan lupakan mereka." katanya,
"Deh... apa yang kamu bicarakan? aku takkan melupakan mereka bagaimanapun caranya.",
"Hoh... Haha... aku hanya bercanda. Aku tahu kamu adalah tipe laki-laki setia bukan?".
Sumiko kemudian melihat ke arah Artoria sambil tersenyum sinis.
"Jaga anakmu itu, Nona Gila.".
Artoria terkejut sebentar lalu menjawabnya,
"Apa maksudmu dengan "Nona Gila"?".
Mereka semua tertawa kecuali aku, Anna, dan Kurumi yang menggantikannya dengan senyuman.
Aku melihat ke arah Liyu dan berbicara setelah tawanya reda.
"Liyu kembangkan lagi kemampuanmu karena aku tahu kamu akan menjadi seseorang dengan kekuatan yang hebat dimasa depan.",
"Yah... gak sekuat kakak sih tapi baiklah!".
Setelah itu, aku pamit dan siap untuk pergi ke tujuan kami selanjutnya.
"Kalau begitu, sampai jumpa lagi Paman, Bibi, Sumiko, dan Liyu, dan lagi Kurumi. Aku yakin kita akan bertemu lagi dalam waktu yang cepat.",
"Dah~!",
"Sampai jumpa lagi!".
Kata mereka semua bersama-sama sambil melambaikan tangan.
Aku langsung berteleportasi ke Istana Pion Putih untuk mengantar Anna. Dia berjalan menjauh dari gerombolan sambil berbicara,
"Kamu tak perlu mengantarku padahal. Bagaimana dengan batas penggunaannya?" tanyanya,
"Tidak apa-apa. Aku bisa menggunakannya kurang lebih 15-20 kali untuk individu dan 1-5 kali untuk kelompok.",
"Itu sedikit kau tahu! Kau normalnya bisa melakukannya sampai 300 lebih untuk individu dan 50-100 kali untuk kelompok!",
"Yah... kau tahu sendiri kan kalau kemampuan itu perlu isi ulang yang sangat lama.",
"Aku tahu karena itu aku khawatir Naka-bodoh!".
__ADS_1
Dia berjalan ke depanku dan langsung mencium ku. Aku terkejut karena tak bisa menyadari hawa keberadaannya barusan seperti kecepatannya bergerak telah melebihi kecepatan suara. Dia melepaskan aku dan berjalan mundur kebelakang. Wajahnya senang dan memerah sedikit di pipinya. Saat itu juga teman-temanku yang ada di belakangku mengeluarkan wajah kesal dan cemburu.
"Kalau begitu, jaga dirimu baik-baik ya, Nakano~" katanya dengan senyum manis bahagia,
"Baiklah, aku mengerti." kataku dengan tersenyum.
Aku dan teman-temanku berteleportasi ke depan istana Ender End. Bentuknya masih sama dengan yang dulu, mengingatkanku pertama kali melihat istana ini. Bentuknya seperti kaktus berwarna ungu sebagai pilar dan putih sebagai temboknya.
"Nakano... sebelum kamu masuk... aku ingin bilang sesuatu..." kata Keiko.
Aku dan teman-temanku terheran-heran. Keiko menggerakkan bibirnya, berbicara:
"Kakakmu... telah tiada..." kata Keiko.
Teman-temanku terkejut dengan hal itu. Tetapi aku? Ekspresi apa yang aku tunjuk.. sekarang..? dihadapan teman-temanku? Aku bahkan tak bisa merasakan seperti apa ekspresi wajahku sekarang.
"Nakano... Apa kau baik-baik saja...?" tanya Sei,
"Ya. Aku baik saja.".
kataku lalu membalikkan badan darinya dan menghadap ke arah pintu masuk. Teman-temanku melihatku dengan tatapan kasihan.
Aku memang sedih tetapi... yang aku tahu aku telah bertambah kuat baik itu di mental maupun di fisik. Aku bukan anak cengeng lagi!
"Jangan khawatir. Aku baik-baik, jika memang benar kakakku mati... aku hanya bisa menyerahkan alam semesta ini kepada satu orang." kataku,
"....".
Tak ada yang berbicara disana. Semuanya membiarkan aku melakukan apapun yang aku mau.
"Kalau begitu, ayo!" kataku.
Aku mendorong masuk ke dalam istana dan menemukan... banyak mayat berserakan dimana-mana. Baik itu prajurit ataupun pelayan istana semuanya disana tanpa sisa dan juga banyak bercak darah yang menempel di dinding dan mengalir dilantai. Ini sudah bisa disebut... pembantaian.
"Apa... yang terjadi...?" tanya Artoria,
"Satu-satunya orang yang sedang kehilangan kendali." jawabku.
Aku lalu berjalan melewati semua mayat dan darah itu menuju lantai paling atas.
Saat sampai, aku menemukan Tohka sedang memegang sebuah kepala yang meneteskan darah.
Dia melihat ke arahku dan aku menemukan sesuatu. Matanya yang seperti ikan mati menatapku dengan wajahnya yang penuh bercak darah di seluruh wajahnya.
"Tohka.... kamu yang membuat semua ini kan?" tanyaku.
Dia memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Apa maumu?" tanya Tohka dengan nada kecil,
".... Tohka. Kembalilah." kataku sambil mengulurkan tangan.
Satu tangannya lagi yang memegang pedang katana langsung berekskresi.
"BERISIK!" Teriaknya.
Tohka kemudian maju ke atas ku dan menyerangku dengan katana nya. Aku menghindar dan katana nya menancap di lantai.
"Kenapa? Apa karena kakakku dan juga sahabatmu... tiada?" kataku berusaha tenang.
Dia terdiam, mencabut pedangnya dan melempar kepala orang yang dia bunuh dan pegang.
"Berisik..! Berisik! BERISIK!!!" katanya.
Dia maju ke depanku. Aku bukannya menghindar malah menerima serangannya. Alhasil pedangnya menusuk tepat di perutku. Aku muntah darah dan rasanya sakit. Apa sih yang aku pikirkan?
Tetapi karena itulah aku bisa melakukan apa yang aku mau. Aku memeluk Tohka dan tangannya lepas dari katana nya.
"Cih!".
Dia memegang katana nya kembali dan menusukku lebih dalam.
"KEMBALILAH!" Teriakku.
Dia mencabut katana nya dariku dan menusukku di tulang rusukku. Dia berusaha keluar dari pelukanku.
__ADS_1
"Kembalilah! Aku tahu kalau kamu masih disana! TOHKA!".
Dia terkejut dengan apa yang aku bilang. Dia berhenti sebentar lalu lanjut menusuk-nusuk tulang rusukku terus.
"LEPASKAN!" Teriaknya,
"TIDAK! SAMPAI KAMU KEMBALI, AKU TAKKAN MELEPASKANMU!",
"Cih... Kau...!".
Rasanya sakit dan kesadaran ku mulai memudar dengan sendirinya.
"Tohka... maaf... soal yang terjadi di Machinery....",
"....",
"... Kau tak mendengarkan ku...? Itu kejam loh...",
"Heh.. siapa peduli.. emangnya kamu siapanya aku?!",
".... Entahlah... kau siapanya aku...? Aku tiba-tiba bertemu denganmu dan mengajakmu untuk melakukan perjalanan denganku... Kamu sendiri yang mengakui kalau kamu adalah... tunanganku..".
Dia terkejut dan tusukannya berhenti. Apakah berhasil?
"Bahkan aku tak memintamu melakukannya malah kamu sendiri yang bilang kalau kamu adalah calon istriku... Ini aneh bukan..? Hubungan biasanya akan susah untuk dibangun... tetapi... kita bisa membangunnya dalam waktu singkat...",
"....",
"Aku selalu bertanya-tanya... apakah yang aku lakukan ini benar? Apakah jalan yang aku tempuh ini benar? Apakah semua yang aku lakukan ini sudah benar?",
"....",
"Aku pernah bertanya kepadamu bukan? Kalau tak salah... tentang hubungan ini? Kamu menjawabnya seperti seseorang yang berani tetapi faktanya sendiri... kamu merasa malu bilang hal semacam itu.",
"...",
"Hehehe....",
"Apa yang kamu ketawa kan?",
"Tidak. Hanya kejadian dimana kamu hampir melakukannya denganku... Kau tahukan? ****. Kita hampir melakukannya tetapi karena Mashiro kita jadi gagal melakukannya... dan sekarang yang merenggut milikku adalah Artoria.",
"Apakah... itu benar...?",
"Ya... Apakah kamu terkejut?",
"Mhm..." jawanya dengan mengangguk,
"Aku juga terkejut... tak ku sangka orang yang pertama kali yang melakukan itu bersamaku adalah Artoria, padahal kukira diantara kamu atau Anna.",
"....",
"Bagaimana?",
"Bagaimana apanya?",
"Perasaanmu?",
"... Apa yang kamu bicarakan?",
"Aku tahu kamu melakukan ini semua karena.. kakakku yang telah tiada bukan...?".
Tangannya meremas bajuku dengan erat. Aku tersenyum... dia hampir kembali.
"... Aku juga sebenarnya merasa sedih... tetapi... aku menutupinya agar yang lain tak merasa khawatir kepadaku terus menerus...",
"....".
Dia mulai meneteskan air mata, mulai menangis.
"Menangis lah sepuasmu. Aku tahu kamu kuat tetapi kamu tetaplah seorang perempuan, wajar untuk menangis bila ada sesuatu yang buruk terjadi.".
Dia mulai menangis dengan keras didalam pelukanku.
"NAKANO... MAAF! MAAF!... HISK... AKU TAK TAHU HARUS BERBUAT APA... HISK... DAN SAAT AKU SADAR... AKU SUDAH MEMBUNUH SEMUANYA YANG ADA DISINI...",
__ADS_1
"Baik-baik.. menangis lah sepuasmu.".
Dia menangis kencang tetapi aku biarkan. Kadang... orang-orang kuat perlu untuk menangis baik dia itu laki ataupun perempuan.