Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 125, Hubungan yang hampir rusak ll


__ADS_3

".... Begitu ya..." kata Anna setelah mendengarkan masa laluku.


Reaksinya sama seperti yang lain merasa sedih atas penderitaan ku.


"Tak usah khawatir. Aku sudah tak merasakan pengalaman itu lagi dan sekarang pengalaman itu sudah membawaku sampai kesini." kataku,


"Hehe..." katanya sambil tersenyum,


"Karena itulah aku memikirkannya tentang kakak tiri ku. Dia adalah orang yang berharga pertama bagiku. Aku mencintainya dan dia tahu itu bahkan sampai mengajakku menikah.",


"... Enak ya.. Setidaknya ada cahaya di gelap mu saat itu...",


"Ya.. aku cukup beruntung... tetapi... sebelum aku menerimanya, dia sudah mati... dan tentu saja.. itu karena kedua orang tua brengsek itu.",


"...".


Anna merasa bersalah karena suatu hal. Aku diam saja menatapi lurus ke arahku memikirkan betapa busuknya orang tuaku saat itu. Di sana, Anna membuka bibirnya, bertanya kepadaku.


"Hei Nakano... apakah... kehilangan orang yang berharga itu.. menyakitkan?" tanyanya sambil melihatku dengan mata yang berkaca-kaca.


Aku melirik ke arahnya dan melihat matanya sebelum aku kembali melihat lurus ke depan.


"Ya... sangat... Karena itu aku takkan membiarkan orang yang ku sayangi dan berharga bagiku hilang lagi!" kataku,

__ADS_1


"... Begitu ya... Bagaimana dengan Ayahmu..? Saat kamu menyadarinya kamu mengurung diri selama 5 hari... dan saat mengetahui kakakmu mati... kamu berusaha tetap tenang dan merasa tak ada apa-apa... tetapi.. kamu sebenarnya sedih kan dan ingin mengurung diri lagi kan—".


Anna berhenti karena aku menyentuh bibirnya dengan satu jari. Aku menjauhkan jariku dan menarik nafas.


"Yah... aku memang bersedih akan kejadian itu... tetapi aku sudah berjanji kepada diriku sendiri kalau aku takkan membuat kalian khawatir lagi bagaimana atau apapun kejadiannya.",


"Nakano... Ehe... Kamu bersikap sok keren padahal kamu masih merasa sedih bukan?" tanyanya,


"Yah... aku tak bisa menyangkalnya..".


Anna langsung memelukku dan mendorongku jatuh ke lantai. Dia berbaring di atasku sambil tersenyum bahagia. Aku tak melakukan apapun dan membiarkan dia melakukan apapun yang dia mau. Tetapi.. aku memeluknya sedikit...


Setelah semua itu, aku keluar menuju ke kamarku lagi. Aku merenggangkan badanku dan merasa sakit di bagian samping dadaku yang terluka.


"Aduduh..." kataku kesakitan sedikit.


"Ah.. Tohka.." sapa ku.


Tohka melihat ke arahku sebentar sebelum dia memalingkan wajahnya ke arah lain.


Aku memegang pundaknya dan menghentikannya.


"Oi Tunggu!" kataku.

__ADS_1


Tohka berhenti dan bertanya dengan wajahnya yang memandang ke bawah.


"Ada apa?",


"Aku minta maaf karena aku membentakmu sebelumnya dan aku juga minta maaf karena telah membuatmu khawatir.",


"Ya. Aku sudah memaafkanmu sejak lama.",


"Kamu... berbohong bukan? kamu tak memaafkanku bukan?",


"Tidak. aku sudah memaafkanmu sungguh-sungguh—".


Aku langsung memeluknya berusaha untuk berbaikan dengannya.


"Artoria bilang kalau sepasang kekasih tak boleh bertengkar jika tidak akan ada hal buruk yang datang nantinya dan aku tak mau itu.",


"....",


"Aku rela melakukan apapun sampai kamu memaafkanku! Apapun!" kataku.


Aku menutup mata dan hampir pasrah disana. Tetapi, Tohka memelukku balik dan aku terkejut, aku mendengar suara tangisan perempuan yang sedang bilang sesuatu.


"Ya.. Ya! Hiks... aku memaafkanmu.. Dan juga.. maaf telah menusukmu! Aku... aku selalu berpikir kalau ini adalah akhirnya dimana aku bukan lagi tunanganmu.. aku pikir inilah akhirnya... ini salahku! Aku yang seharusnya minta maaf!",

__ADS_1


".... Ya... aku maafkan kok...".


Dan masalahku tentang hubungan... berakhir disini... banyak sekali masalahku yang berhubungan dengan hubungan... yah... semoga saja dimasa depan takkan terjadi lagi..


__ADS_2