
Aku mengulurkan tanganku ke pada anak yang menantangku, Liyu, dan berusaha membantunya berdiri.
"Ayo berdiri." kataku sambil mengulurkan tangan.
Anak itu menerima bantuan ku dan memegang tanganku. Aku menariknya berdiri sebelum berbicara.
"Walaupun usiamu masih muda dariku, kamu memiliki kekuatan yang bisa dibilang besar." kataku,
"...",
"Jika kamu bisa mengendalikan emosimu, aku yakin kamu bisa mewarisi Alam Semesta ini." kataku,
"Te-terimakasih...".
Aku melepaskan tangannya dan maju satu langkah ke sampingnya kemudian berbisik selagi ada kesempatan.
"Buat dia tenang di alam sana. Aku yakin dia pasti banyak berharap kepadamu." bisik ku,
"Eh...?".
Aku kemudian berjalan ke tempat teman-temanku berada dan bibi Yo.
"Ayo lanjutkan perjalanan." kataku,
"Kalau begitu, ayo masuk.." kata bibi Yo mengajak kami semua,
"Baik!" kami serentak.
Saat kami berjalan masuk, Sei melihat ke arah belakang dimana Liyu berada. Dia melihat Liyu sedang menundukkan badannya dan menangis karena suatu hal. Sei melihatku dan bertanya kepadaku sambil berbisik.
"Nakano..." panggilnya sambil berbisik,
"Hmm...?",
"Barusan, apa yang kamu bisikkan kepada Liyu..?",
"Sesuatu. Sesuatu yang tak begitu penting..".
Sei sekali lagi melihat ke arah Liyu yang menangis kemudian melihat ke arahku lagi.
"Kamu bohong. Pasti sesuatu yang penting. Tak mungkin anak seperti Liyu akan mudah menangis hanya karena kekalahan." bisik Sei,
"Benarkah? heng.. Sesuatu itu tak ada hubungannya dengan kita." kataku,
"Eh... begitu ya... Kalau Nakano bilang begitu aku akan percaya.",
"Lebih baik begitu. Karena sesuatu itu hanya berhubungan dengannya saja.".
Kami berjalan masuk ke dalam istana. Tiba-tiba aku mendengar suara suara perempuan datang menyambut bibi Yo.
"Ibu selamat datang..." kata suara perempuan itu.
Perhatianku dari isi ruangan yang bermodel jaman pertengahan teralihkan karena suara itu. Aku melihat ke arah suara itu berasal dan aku pun melihat seorang perempuan berpakaian seperti petualang dengan rok panjang. Perempuan itu menyambut kedatangan ibunya.
"Ya. Terimakasih karena telah menyambut ku, Sumiko." jawab bibi.
Sumiko ya... nama yang normal. Kukira nama orang-otang kerajaan lebih sulit.
Perempuan bernama Sumiko itu melihat ke arahku. Berbeda dengan Liyu, dia tidak bereaksi apapun saat bertemu denganku. Dia melihat ke arah bibi dan bertanya:
"Ibu, dimana Liyu?" tanyanya,
"Dia ada diluar.",
__ADS_1
"Kenapa dia tak kemari?",
"Apa maksudmu?",
"Disini ada sampah yang seharusnya diusir olehnya.".
Sampah? Wajahnya memang bisa dibilang cantik tetapi tak aku sangka mulutnya lebih tajam dari tampangnya.
"Sumiko hentikan itu!" kata bibi Yo sambil mengerutkan keningnya,
"Kan memang seperti itu. Atas dasar apa dia berani menginjak lantai di kerajaan ini?" kata Sumiko,
"Kau! Ayahmu bisa marah!",
"Bukankah peraturan ini ditetapkan oleh ayah sendiri?".
Paman Inara yang menetapkan peraturan konyol ini?! Aku hampir tak percaya padahal dia seperti orang baik, tidak aku memang masih tidak percaya sih.. Tetapi kenapa Paman melakukan ini? Pasti ada sesuatu dibaliknya.
"SUMIKO HENTIKAN ITU!!!" Teriak seseorang dari atas lantai kanan yang ada didekat kami semua.
Suara ini, sepertinya aku kenal. Aku memalingkan wajahku ke atas dan melihat sosok yang kukenal dengan jelas. Paman Inara!
"Tapi.. Ayah!" teriak Sumiko.
Paman Inara berjalan ke anak tangga dibawahnya tetapi dihentikan oleh sebuah gerigi. Tiba-tiba terbentuk beberapa gerigi di bawah paman setiap dia melangkah. Apakah ini adalah kekuatannya? Mengendalikan... gerigi?
Dia berjalan di bawah gerigi yang mengantarnya ke bawah dekat kami langsung.
"Selamat datang, Sakamaki... Nakano...?",
"Ya. Itu benar. Sakamaki Nakano.".
Sumiko langsung tertegun terkejut.
Sumiko langsung melihatku dengan tatapan sinis penuh pertanyaan dan tidak percaya. Badannya gemetaran takut.
"HAHAHAHA... Yah... sudah lama sekali semenjak terakhir kali bertemu. Sepertinya kamu semakin kuat ya." kata paman Inara,
"Ya. Aku telah melakukan banyak perjalanan." jawabku dengan percaya diri,
"HAHAHAHAHA.... Benar juga ya. Kamu ingin menjadi penguasa Alam Semesta Bimasakti kan?!",
"Ya. Itu benar.",
"Hehehe... Semoga mimpimu terkabul nak. Kamu adalah anak dari keluarga Sakamaki. Bagi keluarga Sakamaki, tak ada yang mustahil." —Sambil tersenyum,
"Terimakasih banyak Paman!",
"HAHAHAHAHA... Kamu mengenal tata krama dibandingkan ayahmu ya?!",
"...".
Aku tak tahu harus menanggapi apa terhadap kata-kata itu, mengingat kalau orang pertama yang berharga bagiku menghilang dari hadapanku.
"Aku turut berdukacita terhadap apa yang terjadi kepada ayahmu. Semoga hal yang sama takkan terjadi kepadamu.",
"Terimakasih.".
Paman melihat mataku yang masih tak menerima kenyataan ini. Dia meletakkan tangan kanannya di pundak kiri ku.
"Kamu semakin kuat saja ya. Bahkan kamu semakin mirip dengannya. Relakan lah bocah. Jika kamu tak merelakan itu, kamu takkan bisa maju.",
"Baik. Aku akan berusaha semaksimal mungkin. Terimakasih sekali lagi, paman Inara!",
__ADS_1
"Tidak apa-apa! Walaupun kamu hanya anak angkatnya tetapi bersikaplah lebih percaya diri. Bagaimanapun ajaran yang pernah diajarkan oleh ayahmu dulu adalah jalanmu menuju masa depan yang baik. Karena itu percaya dirilah, jika kamu tak percaya diri bukan Sakamaki namanya.".
Aku yang menundukkan kepalaku, mengangkat kepalaku dengan tegas dan tatapan penuh dengan kegagahan dan keyakinan diri. Aku menjawab Paman Inara dengan senyuman penuh percaya diri.
"SIAP!".
(Matanya... senyumannya... semakin mirip dengannya. Benar. Inilah jalan yang harus kamu tempuh bersama dengan teman-temanmu. Kamu sudah berubah banyak ya bocah.).
Sumiko yang geram tak terima keberadaan ku mulai marah.
"DIA HANYALAH ANAK ANGKAT!",
"Eh..?" gumam ku,
"DIA HANYALAH ANAK ANGKAT KELUARGA SAKAMAKI! KENAPA DIA HARUS SOMBONG?!",
"AKU TAK TERIMA KEBERADAANNYA DI ALAM SEMESTA INI! Jika dia hanyalah anak angkat.. maka dia harus mengangkat kakinya dari sini!".
Aku mulai merenung ke arah yang salah lagi. Tetapi Artoria mulai geram tak bisa menahan emosinya lagi. Dia bergerak cepat mengangkat pedangnya dan berlari ke belakang Sumiko dengan cepat kemudian meletakkan bilah pedangnya tepat di depan lehernya.
"DIAM KAU!" Kata Artoria dengan nada yang menyeramkan.
Sumiko sedikit ketakutan. Lehernya mulai bersentuhan dengan bilah pedangnya. Sumiko menggertak giginya.
"Aku takkan pernah... memaafkan siapapun... yang... merendahkan NAKANO!" kata Artoria,
"K-Kau sialan..!" kata Sumiko,
"Apakah. Aku perlu mengatakannya sekali lagi dengan pedangku..?" tanya Artoria,
"Ckh!" gumam Sumiko.
Sumiko tak bisa berbuat apa-apa. Jika dia menggerakkan lehernya sedikit saja dia... akan mati disaat itu juga. Aku pun menghentikan Artoria.
"HENTIKAN ITU ARTORIA!" Teriakku.
Artoria mendengar hal itu langsung menentang ku.
"Tetapi dia..!".
Tepat sebelum Artoria menyelesaikan kalimatnya, aku menentangnya.
"Hentikan itu! Sekarang juga!" kataku dengan nada yang serius.
Artoria yang mendengar hal itu langsung menjauhkan bilah pedangnya dari leher Sumiko kemudian meletakkannya kembali di saku pedangnya.
"Anggap saja kau beruntung hari ini, *******!" bisik Artoria dengan nada yang mengancam.
Dia kemudian mundur ke belakang beberapa langkah. Sumiko melihat ke arahku penuh dengan kebencian.
"Kau..!".
"Maaf. Nak Nakano tentang anakku ini." kata Paman Inara,
"Tidak apa-apa paman.".
Aku berjalan mendekati Sumiko yang jatuh duduk di atas lantai. Aku mengeluarkan pedangku dari sabuk yang aku buat sendiri dan mengarahkannya ke leher Sumiko sambil berbicara dengan nada yang mengancam:
"Aku tahu aku hanyalah anak angkat... Tetapi apa karena hanya anak angkat aku tak boleh kesini? Heh, jangan menganggap remeh aku, nona. Walaupun kamu melarang ku kesini atas Hukum Alam Semesta* ini, aku tetap akan kesini melawan itu. Tak ada yang bisa... mengehentikan ku dari perjalananku sendiri, meskipun itu sang pembuat takdir sendiri.".
Sumiko langsung terkejut akan hal itu. Dia berpikir kalau aku hanya bercanda, tetapi saat dia melihat mataku penuh keseriusan. Jika Alam Semesta ini melarang ku sekalipun aku akan tetap datang. Tak ada yang bisa menghentikan ku dari perjalananku sendiri.
———
__ADS_1
*Hukum Alam Semesta: Semacam hukum yang dibuat oleh penguasa alam semesta untuk mengatur alam semesta mereka sendiri. Biasanya hukum ini takkan bisa dilawan oleh siapapun kecuali pembuatnya sendiri.