
"Kamu terlalu percaya kepada orang ya, Nakano palsu. Diamlah disitu dan matilah!" kata Artoria.
Sementara itu, di tempat Tohka, Anna, dan Sei berada. Mereka melihat kalau aku ditusuk. "Mengapa Nakano ditusuk? Bukannya melanggar peraturan?" tanya Sei.
Artoria tertawa kecil dan melihat ke arah mereka bertiga. "Ini adalah bagian dari rencana ku." kata Arthories,
"SUDAH HENTIKAN PERMAINAN INI!" Kata Anna,
"Baiklah akan kulakukan." kata Arthories. Dia menunjukkan sisi jahatnya. Mata yang membuka lebar dan senyuman yang jahat. Anna melihat hal itu dan mencoba berdiri. "KAU!!". Tetapi Anna tidak bisa berdiri karena seketika kursi yang mereka duduki mengunci badan Anna dan yang lainnya, sehingga mereka tidak bisa bergerak.
Mereka mencoba memberontak tetapi tak bisa. Benda itu sangat keras dan kuat. "Percuma saja. Kursi itu kuat dan selalu digunakan saat pengeksekusian. Kalian bertiga duduklah dan lihat orang yang berharga bagi kalian mati.". Memang benar mereka tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi mereka berpikir cara melepaskan diri.
Ditempat ku berada. Aku jatuh dan tertidur. Rasa apa ini? Pengkhianatan terhadap diriku? Aku pernah merasakannya. Tiba\-tiba semua suara terngiang\-ngiang di kepalaku. "KAU TIDAK BERGUNA! SUDAH BERAPA KALI AKU BILANG JADILAH BERGUNA! JANGAN MEMBERONTAK! KAMU HANYALAH MANUSIA BUATAN KAMI BERDUA!
Tidak ada dunia yang layak untukmu. Hei... adikku.. suatu saat setelah masalah ini selesai... maukah kamu menikahi kakakmu ini?". Semua suara yang muncul ini akhirnya selesai dan diselesaikan oleh sebuah gambaran wanita berambut putih yang rambutnya terhembus angin. Wanita itu bilang, "Hei... adikku... saat masalah orang tua kita selesai. Maukah kamu menikahi kakakmu ini?". Setelah itu ada gambaran dimana wanita yang mengaku kakakku ini... mati dibunuh oleh orang tua brengsek itu.
Amarahku sudah tak terkendali. Apa aku lepas saja? Nanti mengenai teman-temanku.
__ADS_1
Sementara itu, Kakakku, Miyaniku Maname, datang ke alam semesta Fighterys untuk menyelamatkanku. Semua keluarga Sakamaki datang ke arahku. Arthories yang duduk di tempat duduknya menerima laporan kalau keluargaku dan kakak kandungku berada disini. Dia berdiri dan dengan cepat berlari ke tempat mereka berdiri. "Wah, wah. Ternyata dua penguasa alam semesta dan keluarga mereka ya. Ada apa?" tanya Arthories kepada kakakku dan keluargaku,
"Aku menerima laporan kalau adikku sedang dalam duel dan dia dibunuh." kata Kakakku.
Tentu saja keluargaku mendengar hal itu dan mereka terkejut. (Inikah orang yang dibicarakan Nakano?) pikir Ibuku, Sakamaki Usagi.
"Kami juga menerima laporan kalau anak angkat kami dalam pertarungan dan di saat pertarungan, dia dibunuh dan dianggap tak melanggar peraturan. Apa maksudnya ini, Arthories?" kata Ayahku
Kakakku terkejut karena akan hal itu. Dia ingin berterimakasih karena telah merawat diriku tetapi ini bukan waktu yang tepat. "Kenapa? kalian khawatir padanya? Dia itu akan langsung mati!" kata Arthories,
"Bukan itu." jawab Ayahku
"Bukan itu.",
"Maksudmu apa?",
"Jika kita melihat pertarungannya, kamu akan tahu.".
Arthories menggunakan sihir layar, sihir yang memungkinkan kita melihat tempat yang ingin kita lihat dengan sebuah layar sihir yang besar. Saat setelah menggunakannya, Mereka semua melihat ke arah layar melihat pertandinganku.
Aku yang terbaring dengan belati tertusuk di badanku mengeluarkan amarah besar. Aku bangkit dari tidurku dan memaksa tubuhku untuk bergerak. Artoria melihat ke arahku. "Apa? Ternyata masih bisa berdiri.".
__ADS_1
Aku tidak menjawab perkataannya.
"Jawablah Palsu!".
Aku tak menjawab perkataannya dan maju ke arah Artoria seolah-olah tak terjadi apa-apa. Aku kemudian maju beberapa langkah saja dan berhenti.
Pedang yang tergeletak dekat tempat aku berbaring tadi, berpindah ke tanganku. "Wah.. Nakano. Itu melanggar peraturan." kata Artoria. Aku tak menjawab kata-katanya. (Kenapa dia dari tadi diam?) Tanya Artoria didalam pikirannya.
Aku berteleportasi ke atas Artoria. Aku mengangkat pedangku dan mengayunkannya ke bawah. Artoria meloncat ke belakang sebelum aku menebasnya. (Hampir saja.) pikir Artoria.
Aku melepaskan pedangku dari genggamanku. Aku menunduk dan bersiap berlari.
Artoria melihat ke arah pedangnya dan berlari ke arahnya. Saat dia berlari, aku berlari ke arahnya dan memukul perutnya. "AKHAAH!". Artoria terdorong jauh dan diakhir, dia berbaring di tanah.
"S-sudah cukup bukan?" tanya Artoria, tetapi aku tak menjawab pertanyaan darinya.
Aku berlari lagi ke hadapan Artoria dan menendang perutnya dan terpental lagi. "S-sudah... sudah cukup bukan? Pertandingan telah berakhir DAN AKU PEMENANGNYA!".
Tiba-tiba, ada sesuatu seperti tentakel hitam yang membalut ku. Tapi aku tak begitu peduli. Tentakel itu melepaskan belatinya dari tubuhku. Tentakel itu terus membalut ku sehingga tubuhku tak terlihat lagi.
Setelah beberapa saat, Tentakel itu berubah menjadi sebuah kostum hitam merah.
Pedang Excusifer berteleportasi ke genggamanku dan pedang itu dibaluti oleh tentakel hitam itu. Setelah beberapa saat, pedang yang awalnya berwarna ungu dan hitam, kini berubah menjadi Hitam dan merah. Tak hanya itu, bentuknya juga ikut berubah. Yang awalnya memiliki tubuh biasa dengan bentuk segitiga diujung pedangnya, menjadi pedang yang memiliki tubuh pedang normal.
__ADS_1
Aku membuka mataku. Mata waktu milikku disegel dan diganti dengan mata berwarna merah. Sepasang mata ini tak memiliki jiwa didalamnya. Yang kulihat hanyalah kegelapan. Apa yang terjadi padaku?. Yang kutahu hanyalah, versiku yang ini dipanggil Dark Nakano.