
Entah kenapa rasanya... amarahku meluap-luap. Aku tak bisa mengendalikan diriku lagi. Aku... sudah di telan kegelapan. Di bawah alam sadarku, aku terjerat oleh ribuan rantai. Seseorang.... tolong aku..
Ditempat ku berdiri. Artoria berdiri dan berlari ke arah pedangnya. Sedangkan aku hanya diam dan memandang lurus ke depan.
Di tempat dimana kakakku dan keluargaku berada. "Apa... itu?" tanya Arthories kebingungan dengan situasinya,
"Aku akan aku beritahu sesuatu kepadamu. Jika Nakano merasa dia dikhianati, maka dia akan kehilangan kendali akan amarahnya. Dia akan membunuh siapapun tanpa terkecuali." jelas Ayahku,
"Kalau begitu bagaimana kita keluar dari situasi ini?" tanya Arthories,
"Aku tak tahu. Karena ini pertama kalinya aku melihat Nakano bisa sehitam ini." jawab ayahku,
"Kalau begitu... kita harus apa?" tanya kakakku,
"Kita hanya bisa percaya kepada Nakano yang ada di bawah alam sadarnya.".
__ADS_1
Ditempat dimana teman-temanku berada. "Nakano..." kata Sei khawatir,
"Andaikan kita bisa melakukan sesuatu terhadap penjerat kursi ini!" kata Tohka memberontak terhadap kursi yang menjeratnya. Sedangkan Anna tidak berkata apa-apa melainkan menunjukkan wajah kesal karena tak bisa berbuat apapun di saat aku perlu bantuan.
Ditempat aku berada. Artoria sampai di pedangnya berada dan berusaha mengangkatnya. Dia berhasil mengangkatnya. Dia mengarahkan pedangnya kepadaku. Aku melihat kearahnya dan membalikkan badan kearah yang sama. Artoria bergetar. Dia kemudian mencoba menggenggam erat tangannya dan menatapku dengan mata tajam.
"Sudah cukup! Ini sudah berakhir!". Aku tak meresponnya.
Aku memegang pedangku dengan kedua tanganku dan mengayunkannya ke samping bawah kiri badanku. Aku menundukkan badanku dan bersiap mendorong badanku dengan kakiku.
Aku mendorong kedua kakiku ke belakang dan menimbulkan gaya dorong yang luar biasa di saat yang sama. Tidak membutuhkan 1 detik, aku sudah ada di bawah Artoria. Aku mengayunkan pedangku tetapi meleset. Artoria meloncat mundur kebelakang. Aku maju sekali lagi dan menebas sebanyak 3 kali. Artoria menghindari serangan ku dengan pedangnya, tetapi hanya bisa menghentikan 2 seranganku. Serangan ketiga terkena bajunya bagian bahu kanan dan menyobeknya. Artoria mundur kebelakang.
Setelah banyak serangan yang tak kena, Artoria menyerang lagi. Aku menunduk dibawah pedang Artoria yang mencoba menyerangku. Setelah itu, aku mencoba menyerang ke arah lehernya, tetapi Artoria sadar akan hal itu dan menunduk ke belakang.
Kami menyerang satu sama lain dengan serius tanpa ada istirahat. Setelah menyerang cukup banyak, Artoria kelelahan dan sedangkan aku tidak sama sekali. Aku menyerangnya, tetapi Artoria menghindarinya dengan pedangnya. Artoria mundur kebelakang.
Aku melepas pedangku dari genggamanku. Pedang yang hitam merah itu berubah menjadi hitam biru tua. (Apa dia sudah menyerah?) tanya Artoria dipikirannya.
__ADS_1
Sebagai ganti pedangku, Tentakel hitam merah itu berkeliaran di sampingku. Aku mengulurkan tanganku ke arah Artoria berdiri dan Tentakel itu menyerangnya. Artoria menyerang balik tentakel itu untuk menghindarinya. Tetapi Tentakel itu berjumlah banyak sehingga beberapa diantaranya mengenai tubuh Artoria. Artoria mundur kebelakang tetapi Tentakel itu tetap menyerangnya.
Sementara itu di tempat dimana Anna dan yang lainnya berada. Anna mencoba untuk melepaskan penjerat yang mengunci tubuhnya itu dengan pistolnya dan itu berhasil. Anna berdiri dan menembak penjerat yang mengunci badan Sei dan Tohka sehingga mereka berdua bebas dari penjeratan itu. Mereka bertiga berlari dan mencari Arthories untuk menanyakan sesuatu. Mereka keluar arena dan bertemu dengan Kakakku, Keluargaku, dan Arthories.
"Arthories!" sapa Tohka. Mereka bertiga melihat muka Arthories yang pucat. Mereka bertiga berhenti di tempat dimana mereka semua berdiri. Arthories duduk dan tak percaya dengan apa yang terjadi. Anna melihat ke arahnya dan menampar mukanya. Dia menampar mukanya dengan sangat keras, mengeluarkan pistol dan mengarahkannya ke Arthories dan menembaknya. Tembakannya itu meleset karena disengaja olehnya. Anna yang dari tadi menundukkan kepalanya, mulai menunjukkan mukanya. Dia sedang marah besar. Semua orang yang disana khawatir dengan keadaanku tetapi diantara semuanya, Anna lah yang paling khawatir kepadaku.
"Aku tidak akan memaafkan dirimu ini karena telah melakukan hal ini. Aku akan membunuhmu sekarang juga!" kata Anna.
Semuanya terkejut karena perkataan itu karena Anna adalah orang yang pertama kali bilang seperti itu terhadap seorang penguasa alam semesta. Sebenarnya seberapa besar cintanya terhadapku?
"Tunggu dulu, Anna!" kata Sei yang mencoba menghentikannya,
"JANGAN MENGHENTIKANKU!" Teriak Anna
"Dia telah... MEMBUAT NAKANO SEPERTI INI!" Lanjut Anna,
"Tahan sebentar.. Kamu ingin membunuhnya? Dia ini penguasa alam semesta loh. Jika kamu membunuhnya alam semesta ini akan hilang kendali." kata Ayahku,
__ADS_1
"Biarkan! Aku sudah tidak peduli dengan hal seperti itu! NAKANO ADALAH ORANG YANG PALING KUCINTAI! Aku tidak akan memaafkan dirimu bila Nakano tak kembali sadar dari bawah sadarnya! SELAMANYA! Bahkan jika kamu mati juga aku tidak akan memaafkan mu!" kata Anna dengan Punuh amarah. Anna menghilangkan pistolnya dari Arthories dan pergi ke suatu tempat. Mereka semua tersadar kalau dalam hal mencintaiku, Anna adalah orang yang paling mencintaiku dan aku tahu akan hal itu. Maka dari itu aku tak mengkhianati kepercayaannya.
Sei dan Tohka mengejar Anna. Dan yang lainnya hanya bisa menerima takdir. Arthories tak bisa berbuat apa-apa karena itu. Benar-benar rasa cinta yang hebat.