Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 25, Sakamaki Mashiro dan kemenangan Pion Putih


__ADS_3

"Kau sudah berusaha ya.. Nakano... Istirahatlah, sisanya serahkan pada kami semua.." Kata Anna. Kata-kata Anna barusan seperti menenangkan pikiranku sebelum pingsan. Rasanya beban ku menghilang dan aku pun pingsan disana. Pertarungannya memang dimenangi olehku tapi... pertarungannya belum selesai. Terutama di tempat ibuku berdiri. Dia sedang berhadapan dengan Raja Kerajaan Pion Hitam yaitu anaknya sendiri.


Sementara itu di tempat Ibuku, Sakamaki Usagi, berada sedang menghadapi seseorang yang menurutnya sangat berharga yaitu anaknya sendiri. Mereka bertatapan. "Anakku..." kata Ibuku dengan suara kecil kepada dirinya sendiri. "Apa kau ingin menghalangi jalanku?" kata Anak itu,


"Eh?",


"Kukatakan sekali lagi, apakah kamu mau menghalangi jalanku menuju kemenangan?",


"Sakamaki Mashiro! Sadarlah! Ini ibumu!" Kata ibuku,


"Aku tidak kenal dirimu! Terserah.. aku akan menghabisi mu!" kata Anak itu, Sakamaki Mashiro,


"Coba saja kalau kamu bisa." Kata ibuku,


"Kau meremehkan ku ya?!" Kata Mashiro marah. Pertarungan mereka berdua diawasi oleh ayahku, Sakamaki Izayoi. "Terima ini! Sihir Kegelapan: Cengkraman Hitam!" Teriak Mashiro.


Laki-laki yang bernama Mashiro itu memiliki kemampuan kegelapan. Kegelapan adalah sihir yang sama langkanya seperti sihir cahaya. Ibuku memiliki sihir Pengubahan. Sihir yang sama seperti yang kulakukan sebelumnya. Bedanya, Ibuku lebih terlatih sedangkan aku baru pertama kalinya menggunakannya. Ibuku hanya perlu bilang 'Trace On' dan ibuku bisa membuat sesukanya sampai mananya habis. Mana yang dimiliki oleh ibuku memiliki pasokan yang amat besar.


Tiba-tiba ada sebuah portal hitam yang mengeluarkan tangan-tangan hitam dari sana. Ibuku membuat beberapa pedang yang melayang di sekitarnya untuk melawan itu dan hasilnya seimbang.


Ibuku sangat diunggulkan dalam sesuatu seperti ini. Dia ras Kelinci Bulan, tentu saja dia bisa berlari dengan sangat cepat dan meloncat dengan sangat tinggi layaknya kelinci pada umumnya. Tapi sihir kegelapan tak hanya bagus dalam penyerangan tetapi bagus dalam pertahanan. Sihir yang sangat sempurna. Tetapi sihir itu sangat lambat berbeda dengan sihir cahaya yang sangat cepat.


Ibuku meloncat dengan tinggi ke arah Mashiro berada. Membuat sebuah palu besar, dan menghantamkannya ke Mashiro. Tentu saja Mashiro akan baik-baik saja, akan tetapi pertahanannya retak. Pertahanannya sudah berada di sekitarnya selama ini. Jika tidak menyerangnya secara terus menerus, pertahanannya akan pulih kembali. Ibuku tahu akan hal itu. Benar-benar merepotkan walaupun tak seperti pertahanan waktu milik Kurumi yang sangat keras. Aku dan ayahku bisa menghancurkan itu dalam sekali tendangan.


Ibuku terus menghantamkan Palu besarnya ke pertahanan Mashiro agar bisa menembusnya dan ibuku terus berpikir cara menembusnya. Akhirnya ibuku menemukan solusinya setelah hantaman ke-54. Solusinya adalah terus menghantamnya dengan cepat dan lebih cepat. Seperti yang dijelaskan kalau sihir kegelapan itu sangat lambat, maka dari itu pasti pemulihan pertahanannya pasti ada waktunya walaupun itu hanya 5 detik.


Ibuku menghantamkannya sekali lagi dan mundur kebelakang sambil bilang, "Satu",

__ADS_1


"Dua",


"Tiga",


"Empat",


"Lima!". Ibuku menghantamkannya lagi dan itu menghasilkan retakan yang sama seperti sebelumnya. Pemulihannya memiliki waktu 5 detik tapi yang janggal adalah.. Kenapa Mashiro tidak menyerangnya?. Ibuku memiliki firasat buruk dan benar.


Tiba-tiba ada sebuah sihir hitam dibawah kaki ibuku. Ibuku mencoba meloncat tapi kakinya di genggam oleh sihir Cengkraman Hitam. Perlahan-lahan memegang pinggang ibuku dan menariknya langsung ke bawah.


Ayahku tidak menolongnya dan tidak khawatir karena dia tahu kalau dia menikahi seorang wanita kuat. Artinya, ibuku tadi itu masih belum mengeluarkan kekuatan aslinya. Kekuatan aslinya jauh lebih besar dari apa yang ku perkirakan. Maka dari itu Ayahku percaya jika ibuku akan baik-baik saja disana.


 


Di tempat ibuku berada. Tempat yang gelap, dingin dan sepi. Tempatnya seperti sedang berada di luar angkasa. Kosong tanpa ada kehidupan sedikitpun. Ibuku melirik ke kanan dan ke kiri, seseorang pun berbicara, "Selamat datang di Celah Dimensi! Dimensi yang ku kuasai." kata orang itu dan dia adalah Mashiro,


 


"Benar sekali! Kau juga tidak tahu kenapa aku bisa hidup disini." kata Mashiro,


"Itu pasti karena Gen milikku. Sebuah ras seharusnya tidak boleh kawin dengan ras lainnya, tetapi aku dan Izayoi membantahnya. Kami melakukan kawin silang dan menghasilkan anak ini." pikir ibuku,


"Aku akan mengakhiri mu sekarang juga!" kata Mashiro dan dia mengeluarkan pedang layang berwarna hitam dan menyerang ibuku,


"Trace On!" kata ibuku dan pedang yang melayang terbentuk di sekitar ibuku dan menyerang pedang yang datang ke arah ibuku. "Sudah cukup, Mashiro!" kata ibuku,


"Heh! Kau tidak bisa memerintahku!" kata Mashiro.

__ADS_1


Ibuku baru saja menyadari kalau celah Dimensi sama seperti mimpi, akan tetapi itu cukup menghabiskan mana ibuku dan juga dia belum tahu caranya. Dan sepertinya Mashiro juga belum tentu menguasai dimensi ini, dengan begitu aku bisa mengambil alih dimensi ini. Ibuku mulai mencari cara. Dan mendapatkannya. Tapi itu cukup sulit. Ibuku bilang, "Change Position!".


Dan tiba-tiba celah Dimensi itu bertingkah aneh. Ibuku berteriak, "HHAAAAAAAAAHHHG!". sebagian mananya terserap oleh Celah Dimensi dan akhirnya dimensi itu sepenuhnya milik Ibuku. "Aku akan menyadarkan mu kembali nak." kata ibuku.


Ibuku mengimajinasikan rumah nya dan berhasil. Mashiro bertingkah aneh, seolah-olah ada sesuatu yang masuk ke tubuhnya. Ingatannya mulai kembali secara perlahan. Mashiro berteriak kesakitan. Ibuku berjalan ke arahnya dan memeluknya. Dia bilang, "Ingatlah, Mashiro.".


"Kata-kata itu pernah kudengar sebelumnya..." pikir Mashiro,


"Oh iya benar juga... Aku lahir di keluarga yang amat bahagia sebelumnya." pikir Mashiro,


"I-ibu.." kata Mashiro.


Ibuku terkejut dan kemudian dia menangis karena anaknya telah kembali. "Ya... benar... aku ini ibumu..." kata Ibuku kepada Mashiro.


Mereka saling berpelukan dan ruang dimensi pun pecah, Mereka kembali ke peperangan. "Eh apa yang sudah terjadi..?" tanya Mashiro,


"Jangan takut, ibu akan melindungi mu.." kata Ibuku,


"Semuanya akan beres berkat bantuan mereka karena itu... Janganlah khawatir. Tidurlah." kata ibuku kepada Mashiro.


Ayahku melihat kepulangan ibuku. Dia menarik lawan yang dia lawan dan bilang, "Sepertinya rajamu sudah mati ya.",


"Mana Mungkin!" kata prajurit itu,


"Lihatlah ke arah sana.." kata Ayahku. Ayahku memberikan daerah sekitarnya sihir ilusi. Prajurit itu melihat ke arah Ibuku berdiri. Prajurit itu melihat kalau raja mereka telah mati. "M-mustahil." kata Prajurit itu,


"Oi mundur! Raja telah mati!" kata Prajurit itu.

__ADS_1


Dan mereka semua mundur setelah mendengar kata-kata itu dan menghilang seketika,


"Kita menang!" kata Tohka. Semua prajurit bersorak untuk kerajaan Pion Putih. Dan peperangan ini pun kemenangan mereka


__ADS_2