
Rania pun kini terbaring di ranjang Rumah sakit dan tidak sadarkan diri, Sean juga berada di sampingnya dan tidak melepas tangan Rania hingga hari mulai beranjak malam
"Bos, ayah nona Rania mungkin sebentar lagi sampai, apa anda ingin beristirahat dulu?, biar saya saja yang menjaga nona Rania di sini" ucap Regan yang memang sudah memberi tau Hendro tadi karena di suruh Sean juga
"Tidak apa, aku di sini saja" ucap Sean
"Oh Baiklah" ucap Regan
Tidak berselang lama pintu ruangan rawat pun terbuka, dan benar saja itu adalah Hendro yang datang, Hendro pun segera menghampiri ranjang rawat Rania
"Pak Regan, terima kasih sudah memberi tau kabar tentang putriku" ucap Hendro yang perhatianya ke Regan terlebih dahulu karena dia berada di belakang Sean
Dan dia pun mulai melihat ke arah Sean yang duduk, diapun juga menghampirinya "Kamu lagi kamu lagi, kenapa kamu selalu mengganggu putriku, apa sekarang kamu puas melihat putriku seperti ini? ini pasti karenamu putriku seperti ini kan" ucap Hendro denga nada biasa, mungkin karena sadar ini di rumah sakit, dia tidak terlalu gaduh
Kondisi hati Sean memang tidak terlalu baik, jadi dia merasa tidak enak jika tiba tiba di salahkan seperti itu oleh Hendro "Seharusnya aku yang bertanya seperti itu ke anda, apa anda puas melihat kondisi Rania seperti ini,? anda pasti mengenal Leon kan?, saya yakin pasti dia yang mengadu pada anda tentang hubungan kami hingga waktu itu anda menyuruh Rania untuk ke kota ini kan?, dan inilah hasilnya" ucap Sean dingin dan tampa menoleh ke arah Hendro
"Lancang, berani sekali kau malah menyalahkanku, kamu memang benar benar anak kurang ajar!" ucap Hendro sangat murka, meskipun yang di katakan Sean itu adalah kebenaran, tapi tidak semudah itu bagi Hendro untuk mengakui kalau dirinya salah
"Terserah anda mengakuinya atau tidak, tapi kalau memang benar anda sayang pada putri anda, anda harusnya tidak memaksa Rania untuk ke kota ini waktu itu, mungkin saja jika Rania masih di kota J sekarang, kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi, dan anda juga tentu tidak perlu melihat Rania yang seperti ini sekarang" ucap Sean
Hendro pun terdiam oleh perkataan Sean ini, dia merasa perkataan Sean itu memang benar, dan diapun melihat ke wajah Rania yang pucat pasi itu, dia memang merasa sangat sakit di hatinya melihat putri yang sangat di sayangnya ini terbaring lemas di ranjang rumah sakit
Dia pun perlahan mengeluarkan air matanya dan menghampiri Rania, "Ran, ini papah sayang, maafkan papah, ini semua memang salah papah, papah yang terlalu egois, papah yang terlalu pilih pilih orang agar papah bisa melihat kamu bahagia, tapi malah papah sendiri yang membuatmu tidak bahagia" ucap Hendro
Hendro pun berbalik ke arah Sean dan menyentuh pundak Sean "Anak muda,,, jika kamu memang bisa membuat Rania bahagia, teruslah bersamanya, aku tidak akan menghalangi kalian" ucap Hendro sambil terus menangis
"Baik, tentu saja" ucap Sean
"O yah, siapa namamu?, saya tidak ingat" ucap Hendro, meskipun dia sering mendengar Rania menyebut nama Sean di depanya, tapi dia memang tidak pernah mengingat ngingat nama itu
"Anda bisa panggil saya Arman" ucap Sean
"Arman?" ucap Hendro kaget dan langsung melirik ke arah Regan dengan Heran
__ADS_1
"Iya, dia Direktur Arman, pewaris tunggal perusahaan KARTIN.corp milik bu kartina, dia bos saya, dan dia yang memberi kepercayaan kepada saya untuk mengurus sahamnya yang beliau tanamkan di perusahaan anda," ucap Regan
Seketika lutut Hendro pun terasa lemas mendengar ucapan Regan itu, dia tidak pernah menyangka direktur Arman yang dia kagumi itu adalah orang yang pernah dia caci dan di sebutnya sebagai berandal, hingga diapun dengan sadar menurunkan tubuhnyanya sendiri dan berlutut di samping kursi Sean
"Ma maaf pak Arman, Saya Salah, saya pernah salah kepada anda, mohon anda memaafkan Saya" ucap Hendro yang menundukan pandanganya dan berlutut kepada Sean
"Aku tidak pernah menyalahkan anda untuk perkataan anda tempo hari, aku hanya menyalahkan anda karena anda telah menelantarkan putri anda di sini, apa anda tidak tau?, dia menjalani hari harinya dengan penuh kepedihan selama dia berada di kota ini, dan ironisnya Ibu dan kakanya sendiri yang membuatnya seperti itu," ucap Sean
Hendro pun tambah menangis lagi, dia sadar betul, dia cuma beberapa kali menemui Rania di sini, dan itupun tidak lama, juga tidak pernah menanyakn apa dia nyaman atau tidak tinggal dengan ibunya
"Saya minta maaf, saya salah" ucap Hendro
"Minta maaf saja pada putri bapak" ucap Sean
Hendro pun perlahan berdiri dan mendekat ke Rania dengan menagis, selama dia hidup di kota J, belum pernah dia mebiarkan Rania kekurangan suatu apapun, jadi tentu dia merasa bersalah jika yang di katakan Sean itu benar
"Ran maaf, jika kamu memang selalu di persulit ibumu di sini, papah berjanji akan membuat perhitungan padanya" ucap Hendro
Di saat saat deramatis seperti ini tiba tiba saja ponsel Sean bergetar tanda panggilan masuk, Sean pun keluar ruangan untuk mengangkatnya
"Maaf tuan, saya dapat laporan kalau nyonya masuk rumah sakit di kota J sekarang, ini berhubungan denga Dirto yang membuat pergerakan lagi di kota J" ucap Agam d telpon
"Apa??, baiklah kita akan terbang malam ini juga ke kota J, dan aku minta beberapa anak buah mu untuk berjaga di rumah sakit" ucap Sean
"Baik tuan, siap laksanakan" ucap Agam
Sean pun segera menutup sambungan telponnya "Kenapa harus di kondisi seperti ini" Seanpun menghela napsnya dan kembali kedalam
Dia tidak mungkin diam saja jika ada sesuatu yang terjadi dengan ibunya, jadi dia memilih kembali ke kota J, meskipun di sisi lain Sean juga sangat ingin menemani Rania yang kondisinya juga tidak terlalu baik, ini memang pilihan yang cukup Sulit untuknya
Sean pun kembali ke dalam Ruangan rawat Rania
"Regan, tolong kamu urus semuanya di sini, aku harus kembali ke kota J sekarang juga" ucap Sean
__ADS_1
"Baik bos, percayakan saja padaku" ucap Regan
"Om Hendro, saya ada urusan dulu di kota J, dan akan langsung terbang kesanana sekarang, kalau Rania sudah pulih tolong kasih kabar , Saya akan melamarnya segera jika kondisinya sudah baik, itu juga kalau anda mengijinkannya" ucap Sean yang sekarang memanggil Hendro dengan sebutan om
"Tentu tentu pak Arman, saya sangat mengijinkanya" ucap Hendro
"Baiklah, tolong jagakan Rania untuku" ucap Sean
Sean pun segera pergi dari rumah sakit itu dengan perasaan sedikit enggan untuk meninggalkan Rania di sini
Sean juga langsung mengintruksikan Agam untuk langsung ke bandara, dan mereka pun bertemu di sana dan langsung terbang ke kota J
…
Beberapa jam berlalau, pesawat Sean dan rombongan Agam pun mendarat di kota J, seperti biasa mereka sudah di tunggu anak buah Agam yang menjemput merka, dengan cepat Sean pun menuju Rumah Sakit kota J untuk melihat Ibunya yang di rawat di sana
Sean pun Segera tiba di ruang Rawat ibunya dan langsung menghampirinya dengat panik
"Bu, ibu, apa kau tidak papah?" tanya Sean yang langsung bergegas menghampiri ibunya yang terbaring di sana
"Tidak, Ibu tidak papa, ibu hanya mendapat luka kecil saja" ucap Kartina
"Ada apa sebenarnya bu? apa yang terjadi pada ibu?" tanya Sean penasaran
"Ada yang memasang peledak di mobil BMW mu, dan mobilmu itu meledak saat Kita sedang di perjalanan pulang dari kantor, kebetulan mobil ibu tepat berada di belakang mobilmu, dan supir ibu tidak bisa menghindari tabrakan dengan mobilmu yang meledak tiba tiba itu, jadi ya seperti ini" ucap Kartina
"Apa? siapa yang memakai mobilku itu bu?" tanya Sean heran
"Ibu menyuruh pengawal untuk mengendarainya ke kantor, krena mobilmu lama tidak kamu pakai kan, jadi pikir ibu tidak ada salahnya untuk sekedar manasin mesin mobilmu, tapi mungkin Om mu mengira itu masih kamu yang mengendarainya dan menyuruh orang untuk memasang peledak waktu mobilmu di parkiran besment, dan memang tidak terpantau oleh para pengawal dan petugas, mereka cukup lihai" ucap Kartina
"Begitukah?, darimana Dirto tau kalau aku tidak papa setelah insiden penembakan itu?" ucap Sean
"Ibu rasa dia diam diam menemui Ferdi di penjara dan pasti dia mengetahui itu dari Ferdi, tapi entah kenapa polisi tidak menangkap Om mu itu, padaha ibu sudah memberi informasi om ke setiap kantor polisi untuk menangkapnya" ucap Kartina
__ADS_1
"Om cukup pintar untuk bermain taktik, tentu itu bukan hal yang sulit untuk dia lakukan, bisa saja dia menyamar atau menyuruh orang lain untuk menggali informasinya kan?" ucap Sean
"Ya, ibu pikir itu masuk akal juga, untung di mobil itu bukan kamu,, tapi nahas pengawal ibu harus terluka cukup serius sekarang" ucap Kartina