
Sean pun segera masuk kedalam Rumah dengan menggendong Aya, Regan juga ikut masuk kedalam dan duduk di kursi
Sri, Aca dan isna juga segera menghampiri mereka "A, apa mereka sudah pergi?" tanya aca sambil mencoba melihat keluar
"Sudah, kakak sudah menyemprotkan pestisida tadi di luar, jadi tenang saja mereka tidak akan kembali" ucap Sean
"Memangnya mreka itu hama?, ada ada saja aa, tapi syukurlah, Aca sampai ketakutan tadi, untung Aa datang" ucap Aca
"O yah Aca, buatkan minum untuk kak Regan, kakak juga haus, jadi sekalian" ucap Sean tersenyum
"Biar saya saja" ucap Sri
Sri pun segera ke dapur untuk mengambil minuman, Sementara Aca dan Isna menghampiri Aya yang di pangkuan Sean untuk mengajaknya bercanda
Tidak lama Orang tua angkat Sean pun kembali dari perkebunan "Sean, apa tadi terjadi sesuatu di sini, bapak tadi dapat kabar kalau ada puluhan warga yang datang kemari, ada apa?" tanya pak Kadi
"Tidak ada apa apa pak, mereka hanya salah menerima informasi, mereka kira di sini mengadakan acara orgen tunggal tadi" ucap Sean Asal
"Ah masa sih?, ibu sudah sangat khawatir tadi, makanya ibu buru buru pulang," ucap bu ika sambil mendekat dan duduk di kursi yang lain
Regan yang mendengar bosnya membual pun hanya bisa tersenyum tidak mencoba menjelaskan, dia juga paham kalau bosnya hanya tidak ingin mbuat mereka banyak berpikir saja
"O yah Sean, ibu baru ingat, tempo hari kamu janji pada ibu mau bawa calon mu kemari, tapi kenapa Regan lagi Regan lagi yang kamu bawa" ucap bu ika tersenyum
Sean juga tersenyum kecut, "Iya maaf bu, calon mantu ibu belum bisa datang, kebetulan kami memang ada sedikit masalah, mungkin lain waktu bu", ucap Sean
"Padahal ibu sudah penasaran, kenapa kamu tidak cari jodoh di desa saja, di sini kan gadis gadis nya jelas kelihatan baik atau buruknya, kalau gadis kota kan belum tentu" ucap bu Ika
"Tenang saja bu, aku yakin gadis pilihanku juga orangnya baik, pokonya Sean yakin dia tidak akan mengecewakan ibu" ucap Sean
"Iya benar bu, tunangan si bos itu memang sangat cantik, kayaknya gak bakal nemu kalo nyari gadis seperti dia di desa ini" ucap Regan
"Hey, tidak sopan, ini obrolan ibu dan anak, kamu jangan ikut ikut" ucap Sean
"Ya kan cuma bantu jelasin bos" ucap Regan
"Iya ibu percaya kalau Sean bisa dapat gadis cantik, anak ibu ini juga kan gak jelek jelek amat, tapi apa gadis kota yang cantik itu akan mau menginjakan kakinya di Rumah pedesaan seperti ini?" tanya bu Ika
Sean pun merenung beberapa Saat, dan dia membayangkan saat pertama dia jumpa dengan Rania, dia mau saja masuk ke rumah sewanya yang sangat kecil di kota B itu, jadi Sean memastikan kalau Rania tidak akan panatik soal tempat
"Ibu tidak usah Khawtir, dia pasti mau jika aku mengajaknya ke rumah ini" ucap Sean
__ADS_1
"Ya, semoga saja begitu" ucap bu Ika yang merasa sedikit ragu
Waktupun terasa sangat cepat bagi Sean yang memang merasa nyaman di desa tempatnya tumbuh besar ini, meskipun tidak ada kemewahan seperti di Mansion Kartina, tapi tetap saja Sean merasa betah tinggal di sini, terutama karena disini ada 3 adik perempuannya, jadi dia merasa hidupnya tidak terlalu monoton, tidak melulu soal urusan kantor, dan tidak melulu soal masalah hatinya yang rumit,
Malam pun segera tiba, Sean pun mulai melakukan latihan dengan kang Rawing lagi untuk lebih memperdalam kemampuan barunya ini, seperti biasa mereka pun melakukanya sampai dini Hari, "Sudah dulu kang, kita istirahat dulu, besok kita latihan lagi" ucap Sean
"Iya akang juga sudah ngantuk, ya sudah kita lanjutin besok, o ya den, apa aden tidak kedinginan tidur di sofa, kalau mau Aden tidur di tempat akang saja di kamar belakang, biar saya yang tidur di luar" ucap Kang Rawing
"Tidak usah kang, saya cukup nyaman tidur di sofa" ucap Sean
"O yah sudah
Merekapun segera masuk ke Rumah, dan Sean juga langsung menuju Sofa tengah rumah untuk tidur, dan Sudah tersedia bantal dan Selimut yang di bawakan oleh Sri di sana,
Seanpun mematikan lampu utama dan hanya menyalakan lampu meja, dia pun Segera merebahkan dirinya di sofa panjang itu, dan perlahan diapun tertidur karena dia memang sangat ngantuk
Dan dia tertidur di ruangan tegah yang suasananya temaram, dia tidak sadar kalau masih ada seseorang yang masih memperhatikanya dari celah pintu kamar
Entah baru berapa menit Sean tertidur, dia sudah merasa ingin membuka matanya lagi, dia merasa sedikit tidak nyaman di tidur kali ini, dia merasa sedikit pengap, dan juga merasa kalau tubuhnya berat seperti di tindih sesuatu
Perlahan diapun membuka matanya, namun pandangan Sean seperti terhalang oleh rambut yang panjang, diapun mulai menyadari ada sebuah wajah yang sangat dekat dengan wajahnya "Sean aku merindukanmu"
Sean mendengar sebuah bisikan di telinganya dan diapun mulai sadar kalau ada sebuah tubuh hangat yang menindih dan memeluk tubuhnya
Dia pun segera mendorong tubuh itu hingga dia terjatuh ke lanatai 'guprak' "Aduh" lirih sosok yang jatuh itu
Sean pun segera bangkit dan meraih saklar untuk menyalakan lampu "Sri, apa yang kamu lakukan?" ucap Sean dengan suara pelan biar tidak membangunkan penhuni rumah yang lain, dia cukup kaget karena yang menindih tubuhnya tadi itu bukan hantu, tapi Sri yang mengenakan baju tidur seksi
"Aku, aku tidak melakukan apapun" ucap Sri gugup, dia juga berbicara dengan suara pelan
"Iya tapi kenapa kamu berbaring di tubuhku, apa yang kamu pikirkan?" ucap Sean
"Aku, aku hanya rindu padamu" ucap Sri yang masih terduduk di lantai
"Kamu benar benar tidak waras Sri, bagaimana jalan pikiranmu itu?, kau sudah menikah, kau seharusnya malu, apa yang akan seisi Rumah pikirkan jika melihat kamu seperti ini padaku" ucap Sean yang tidak habis pikir dengan kelakuan Sri
"Ma maaf Sean, aku aku khilap" ucap Sri
"Benar benar kamu, sudah, kamu kembali ke kamarmu," ucap Sean sedikit kesal dengan kelakuan Sri ini, diapun langsung beranjak meninggalkan Ruangan itu
"Se Sean, jangan marah" ucap Sri yang masih sempat terdengar Sean
__ADS_1
Sean pun langsung ke luar Rumah dan dia langsung bergegas pergi, dia berniat untuk ke rumah orang tuanya yang dulu untuk tidur di sana, dia tidak merasa tenang melanjutkan tidurnya di sofa itu lagi
Sepanjang perjalanan Sean pun tidak henti hentinya ngedumel "Apa yang di pikirkan gadis itu, benar benar sri tidak waras" ucap Sean
Diapun akhirnya tiba di Rumah orang tua angkatnya yang dulu, diapun segera masuk dan langsung menuju kamarnya yang hanya beralaskan kasur biasa itu, dan diapun langsung tertidur di sana
Keesokan paginya dia di bangunkan bu Ika yang akan pergi ke perkebunan "Sean, kenapa kamu tidur di sini?, tidak nyaman ya tidur di kursi? kasihan" ucap bu Ika
Sean mulai membuka matanya perlahan, dan meregangkan sedikit badanya "Ini jam berapa bu?" tanya Sean
"Ini sudah hampir jam tujuh, cepat bangun, dan mandi sana!" ucap bu Ika
Sean pun serasa bernostalgia ke masa lalunya, saat dia selalu di bangunkan tidur oleh bu ika di kamar ini untuk bersiap sekolah, kata kata ibu ika pun sama persis seperti di masa itu
"Iya bu, kantong sekolahku di letakan di mana?" ucap Sean yang sudah duduk namun matanya masih terasa sepat dan masih berjuang untuk membukanya
"Kamu ini, ngelindur saja" ucap bu ika
"Iya, aku teringat masa sekolahku dulu bu" ucap Sean tersenyum, dia sangat malas beranjak dari tempat tidur sederhana itu, itu karena Sri yang mengganggu tidurnya tadi malam
Sesudah membangunkan Sean bu ika pun langsung bergegas pergi dari sana, sementara Sean dia kembali tertidur lagi untuk bernostalgia di kasurnya ini
Setelah lumayan lama dia tertidur lagi dan bermalas malasan, diapun perlahan membuka matanya lagi dengan malas, dia pun langsung melihat ke Arah pintu kamar yang biasanya hanya tertutup gorden,
Tapi sekarang bukan gorden yang menutup lawang pintu itu, melainkan dua sosok gadis berjilbab yang wajahnya sangat familiar bagi Sean
Dia mencoba membelalakan matanya lebih besar lagi, dia ingin memastikan kalau yang di lihatnya itu memang mereka
Sean pun menghela nafasnya "Apakah ini mimpi?, kuharap mimpi ini tidak berakhir, aku senang melihat kalian akur seperti ini" ucap Sean yang memandangi dua sosok gadis yang berdiri berdampingan itu
"Jadi ini tempat persembunyianmu untuk melarikan diri dari masalah" ucap salah satu gadis berjibab navy blue yang perawakanya tinggi
"Kata katanya sangat mirip" ucap Sean tersenyum dan masih mengira dirinya hanya bermimpi
"Dasar kak Sean pemalas, masa jam segini belum bangun sih" ucap gadis jilbab putih yang perawakanya lebih pendek dari gadis yang di sebelahnya
"Ini sungguh terlihat nyata" ucap Sean
Namun tiba tiba "Dia memang orangnya sulit bangun, awas biar aku yang bangunkan" ucap seorang pria yang langsung masuk dari sebelah 2 gadis berhijab itu
Pria itu pun langsung meloncat ke kasur dan duduk di samping Sean yang masih rebahan "Woy bangun woy, 2 bidadarimu sudah menunggumu dari tadi" ucap Pria ini
__ADS_1
Sean pun langsung bankit untuk duduk di kasur, "Randi?, lu di sini?, lu ngerusak mimpi indah gue saja lu ah" ucap Sean sambil meninju pelan dada Randi "Aneh, tapi ini terasa sangat nyata, kamar ini memang ajaib" ucap Sean
"Ya elah, memang lu kira ini di alam mimpi apa, woy sadar woy" ucap Randi sambil menampar nampar pelan pipi Sean supaya dia sadar ini bukan mimpi