Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo

Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo
Tidak Enak Badan


__ADS_3

Kartina sangat mengerti perkataan Sean itu, karena dia juga tidak sepolos itu , dia juga sering menyaksikan Agam berkelahi untuk melindunginya, hingga sampai tanganya penuh darah


"Syukurlah, ibu sangat mencemaskanmu, sudah sana segera bersihkan badan mu kalau kamu tidak papa, soalnya Hendro sudah mamah undang untuk makan malam nanti," ucap Kartina, dia merasa lega karena dia yakin kalau putranya sudah bisa melindungi dirinya sendiri,


"Baiklah, aku ke atas dulu kalau gitu" Sean pun langsung bergegas ke lantai atas dan masuk ke kamarnya, dia segera membersihkan dirinya dan bersiap siap


.....


~


Di waktu yang bersamaan di kediaman Hendro, terlihat seorang gadis muda sedang terduduk di atas sofa di ruang keluarga rumahnya, dia masih terlihat anggun meskipun dia hanya mengenakan baju rumahan, dan tetap terlihat cantik meskipun tampa polesan makeup di wajahnya, dia Rania


Rania sedang asik dengan ponselnya sambil sesekali tertawa, dia sedang fokus streaming film drakor favoritnya di phonsel,


Di saat yang sama Hendro juga turun dari lantai atas rumahnya, dia pun menghampiri Rania yang duduk di sofa ruang keluaragnya


"Rania, Direktur Kartina mengundang kita untuk makan malam di rumah nya, jadi kamu bersiap siaplah, dan juga dandan yang cantik, " ucap Hendro


"Begitu kah? da acara apaan pah?, kok tumben Diretur Kartina mengundang kita makan malam" tanya Rania yang masih terfokus pada phonselnya, jadi dia bicara juga tanpa menengok ke ayahnya


"Tidak ada apa apa, Direktur Kartina hanya ingin mengenalkan kamu dengan anaknya saja, yang beberapa hari lalu menjabat sebagai Direktur baru itu lho, kamu pasti sudah tau kan?" ucap hendro


"Apa?" Rania cukup kaget mendengar hal itu,


"Aduuuuh, Rania sepertinya tidak bisa pergi pah, Rania merasa tidak enak badan sekarang" ucap Rania mencoba mencari alasan


"Ayolah Ran, cuma sebentar saja, ini kesempatan yang jarang kan, kamu bisa mengenal lebih dekat anak dari direktur Kartina itu, dan ayah berharap kalian akan ada kecocokan nanti, bukan kah itu bagus!, kamu juga tidak ada pacar kan?" ucap Hendro


Rania pun berpikir lagi sejenak, karena alasan yang tadi ternyata kurang ampuh, "Aku, aku ada pacar ko pah, beneran, aku ada" ucap Rania terbata, dia tidak tertarik untuk pergi, apa lagi kalau harus bertemu dengan direktur Arman itu, dia merasa itu tidak perlu


"Pacar siapa,?,, papah tidak pernah mlihat kamu jalan dengan seseorang selain Seli, memangnya siapa pacarmu,? apa dia lebih kaya dari keluarga direktur Arman, kalau tidak lupakan saja, papah tidak akan menyetujuinya" ucap Hendro


"papah,,,, apa papah harus melihat setiap orang itu dari hartanya dulu baru setuju aku pacaran, apa perasaan Rania itu tidak penting pah?"

__ADS_1


"Rania, kamu itu putri papah satu satunya, jadi papa selalu ingin kamu mendapatkan yang terbaik dalam hal apapun, apa lagi ini menyangkut masadepanmu kan, pokonya papah tidak mau dengar alasan kamu lagi, kamu bersiap lah, setengah jam lagi kita akan berangkat" ucap Hendro


"Tapi pah......"


"Tidak ada tapi tapian, jadi bergegaslah ke kamar mu dan bersiap siaplah, papah tidak ingin membuat mereka menunggu" ucap Hendro, dia pun berbalik dan kembali ke lantai atas rumahnya lagi


Rania pun langsung menghela napasnya, "Kenapa harus selalu begini, apa wanita seperti ku tidak berhak untuk menentukan masa depanya sendiri?" gumam Rania kesal, dia pun tidak bisa berpikir apa apa lagi sekarang, dia hanya bisa menuruti ayahnya untuk masuk ke kamarnya dan mempersiapkan dirinya,


Dan setelah mereka bersiap, mereka pun segera naik ke mobil mercy hitam Hendro, dan segera melajukan mobilnya keluar dari kediamanya itu


.....


~


Sementara Di kediaman Kartina, Sean sudah duduk manis di depan meja makan, dia tidak bisa membayangkan akan seperti apa ekspresi Rania nanti, kalau tau anak direktur yang akan di temuinya itu adalah dirinya, dia pun sampai senyum senyum sendiri memikirkanya


"Duuuh, yang lagi nunggu calonnya datang, sampai senyum senyum sendiri gitu, apa segitu senengnya?" ucap Kartina yang sedari tadi melihat gelagat putranya itu


...


~


Di perjalanan, Hendro masih fokus mengemudikan mobilnya itu, dia melewati banyak persimpangan dan lampu merah untuk sampai ke kediaman Kartina itu, dan jarak untuk sampai ke kediaman direktur Kartina pun sekarang sudah tinggal beberapa blok lagi


"Rania, kamu sudah pernah melihat pewaris direktur kartina itu kan?, bagai mana dia menurutmu?" tanya Hendro tampa menoleh ke tempat Rania duduk, tapi dia pun tidak mendapat jawaban dari arah belakang


"Rania, apa kamu marah pada papah,? maaf kalau papah sedikit memaksa, tapi ini demi........" saat Hendro menoleh ke belakang ucapanya pun langsung terhenti, karena dia tidak melihat Rania di kursi belakang mobilnya,, seketika itu Hendro pun langsung menghentikan mobilnya mendadak, hingga tubuhnya pun tersentak ke arah depan


Dia pun turun dari mobil dengan perasaan tidak karuan , dia ingin memastikanya ke kursi belakang, dan dia mendapati kalau pintu mobil bagian belakangnya itu tidak tertutup rapat "Ya Tuhan Rania, kenapa kamu harus kabur segala, apa yang akan papah katakan nanti pada direktur Kartina," ucap Hendro


..


Di kediaman Kartina, Sean sudah tidak sabar menunggu kedatangan Rania, hatinya sudah merasa tidak karuan, memikirkan apa yang akan Sean katakan pada Rania saat nanti mereka bertemu di acara resmi semacam ini

__ADS_1


Tiba tiba phonsel Kartina pun bergetar tanda panggilan masuk, dia pun langsung saja mengangkatnya, dan itu hendro yang meneleponnya


"Hallo Hendro, kalian sudah sampai mana?" tanya Kartina,


Dia pun mendengarkan Hendro berbicara di telepon


Dan Sean tidak bisa mendengar apa yang Hendro bicarakan di telepon, dia hanya memperhatikan ibunya yang sedang menelpon itu dengan tersenyum,


Setelah beberapa saat Kartina pun menyudahi panggilan itu, dan dia tidak tersenyum seperti saat dia mengangkat teleponnya tadi,


"Arman, Rania tidak bisa datang malam ini, jadi makan malam ini sepertinya batal, tapi kamu tenang saja mungkin besok atau lusa Rania pasti datang, Hendro bilang Rania mendadak tidak enak badan barusan, jadi mereka membatalkan nya, tidak apa kan?" ucap Kartina dengan ekpresi kecewa, bukan karena semuanya sudah dipersiapkan, tapi dia tidak ingin melihat anaknya kecewa juga


Senyum Sean pun perlahan hilang dari wajahnya itu


"Tidak papa bu, aku juga tidak terburu buru juga kan, kalau begitu kita mulai makan malam saja" ucap Sean, dia pun berusaha menutupi kekecewaanya itu dari ibunya, dan bersikap seperti biasa saja


Setelah mereka selesai makan, Sean pun segera kembali ke kamarnya lagi, dia langsung melepas jas dan dasi yang di kenakan nya sekarang, dan melemparkannya ke atas tempat tidurnya, dia langsung membasuh wajahnya di wastapel, dan sejenak melihat pantulan dirinya di cermin yang ada di depanya, ada raut kekecewaan yang tersirat di wajahnya itu, meskipun ini semua rencana ibunya, tapi dia juga tidak berharap kalau makan malam ini akan batal begitu saja


Tiba tiba ponsel miliknya pun begetar tanda panggilan masuk, Sean pun langsung melihat Ponselnya, ternyata itu Rania yang memanggil, dia pun segera mengangkatnya


"Hallo Ran" kekecewaan Sean pun merasa sdikit terobati dengan Rania yang menghubungi nya 'Mungkin Rania akan mengadu karena dia sakit' pikir Sean


"Hallo Sean, kamu di mana,? aku dari tadi nunggu kamu di depan rumah sewamu, aku sudah mengetuk pintu rumahmu ini berpuluh puluh kali, tapi kamu masih tidak membukanya juga" ucap Rania dari sebrang telepon


Sean pun merespon dengan menepuk jidatnya sendiri, 'Gadis ini kenapa dia kerumah sewaku, buka kah dia sedang sakit'


"Aku sedang ada di luar sekarang, kenapa kamu kerumah sewaku, bukan kah kamu sedang tidak enak badan" ucap Sean


"Siapa yang bilang aku tidak enak badan?, aku baik baik saja kok, hanya saja ada sedikit masalah di rumah, jadi cepat lah kemari, nanti aku jelaskan" ucap Rania


"Baiklah, tunggu sebentar, aku kesana" ucap Sean, dia pun bergegas turun dari kamarnya menuju garasi, karna sekarang dia sudah bisa menyetir sendiri, dia tak berniat menyuruh Agam mengantarnya,


...~°~...

__ADS_1


__ADS_2