
Merekapun Akhirnya tiba di depan kantor Hendros properti dengan Intan yang sudah di belikan Sean apapun yang di sebutkanya sepanjang jalan
"Ini kantornya?" Sean melihat bangunan kantor properti yang tidak terlalu besar
"Iya, cuma ini yang intan tau" ucap intan sambil terus ngemil snack yang di beli tadi oleh Sean
Sambil menunggu, Sean meminta bantuan (S) untuk memastikan, dan memang benar Rania ada di dalam sana,
Sean melihat ada sebuah kedai kopi di depan, diapun terpikirkan Sesuatu "Apa kamu punya kertas?" tanya Sean pada Intan
"Ada di tas sekolahku di belakang, memangnya untuk apa?" tanya intan
"Minta saja, sekalian dengan bolpen nya" ucap Sean
Intan pun mengambilnya dan memberikanya ke pada Sean, dan Sean pun menulis sesuatu di secarik kertas kemudian melipatnya,
"Nulis apaan sih?, jadi penasaran" tanya intan
"Rahasia dong" ucap Sean, "kamu bantu kakak berikan ini kedalam, berani tidak?" tanya Sean
"Oke, siapa takut, itu urusan gampang" ucap intan
"Sip, Kalau gitu kakak tunggu disini" ucap Sean
"Baik lah" intan pun turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam kantor itu dan langsung berjalan ke meja Resepsionis,
Intan melihat di bagian luar lipatan tertulis nama Rania
'namanya Rania ya' pikir intan
Diapun langsung memberikanya pada resepsionis wanita di sana dan memintanya mengantarkan surat itu ke nama yang ada di luar lipatan itu, mungkin karena yang mengantarnya wanita, resepsionis itu juga tidak banyak bertanya atau mempersulitnya, dipun segera menyuruh orang untuk mengantarnya ke Rania
Intan juga langsung keluar dan masuk kembali ke mobil dan mobil pun pergi ke kedai di sebrang jalan perempatan di depan
…
Di sisi lain, di Ruangan pimpinan kantor properti yang tidak terlalu luas terlihat Seorang wanita cantik berpakaian formal dengan jilbab berwarna biru tua sedang duduk bersandar di kursi di depan sebuah layar komputernya, dengan beberapa map yang tertumpuk di sisi komputer di mejanya
'tok, tok, tok' tiba tiba dia mendengar pintu ruanganya di ketuk dari luar "Masuk" ucap wanita ini
Pintu pun terbuka dan masuklah seorang karyawan dari pintu
"Ada apa?" tanya Rania yang seperti sedang suntuk ini
__ADS_1
"Bu, saya di suruh ngantar ini dari meja resepsionis" ucap karyawan itu menyerhkan secarik kertas yang di lipat kapada Rania
Rania pun menerimanya "Dari siapa?" tanya Rania
"Kurang tau bu, saya hanya di minta untuk menyerahkanya ke ibu" ucap pria ini
"Oh, ya sudah, kamu boleh keluar" ucap Rania
Dia pun melihat di secarik kertas yang terlipat itu tertulis namanya, dia pun penasaran dengan apa yang ada di dalamnya, diapun membuka lipatanya perlahan
Dan di kertas itu hanya tertulis 'ku tunggu di kedai depan, S' dengan hurup s nya sengaja di tulis besar dan dilingkari
"S?, siapa?" Rania pun penasaran
Kebetulan dia juga tidak terlalu sibuk dan kedai di depan juga tidak terlalu jauh dari kantor, diapun keluar dari kantor dan mengendarai sebuah motor matic untuk ke kedai yang
di sebrang perapatan jalan, dia sangat penasaran siapa yang mengiriminya surat semacam itu
Dia sama sekali tidak terpikir kalau itu Sean, karena ini di kota yang jauh dari Kota J
Diapun sampai ke depan kedai dan memarkirkan motornya di sana, Rania pun sedikit Ragu, 'masuk tidak ya?' pikir Rania
Dia melihat di dalam kedai tidak banyak orang, dia hanya melihat seorang laki laki berkemeja putih yang duduk memunggunginya di depan meja barista
Dan seorang gadis remaja cantik yang duduk terpisah agak jauh dari laki laki itu
"Hallo, apa di sini ada orang yang berinisial S yang menulis surat padaku?" tanya Rania
Sean tidak langsung menoleh dia hanya tersenyum mendengar Suara yang sangat has dari Rania ini
2 barista dan intan juga tidak ada yang menjawab pertanyaan Rania dan hanya meliahat ke arah Rania saja
"Tidak ada ya, maaf kalau gitu" Rania pun berbalik untuk pergi
Sean pun perlahan memutar tubuhnya di kursi bundar yang agak tinggi itu untuk menghadap ke arah Rania yang akan pergi "Kebetulan aku berinisial S" ucap Sean
Langkah Rania pun terhenti saat mendengar ada orang yang menyahut pertanyaanya, dengan suaranya yang tidak asing di telinga Rania
Rania pun membalikan tubuhnya lagi perlahan, dan dia pun melihat sosok pria yang di rindukannya selama berbualn bulan ini duduk di kursi di depanya, tidak terasa air matanya pun keluar tampa di pinta, dia pun melangkah perlahan dan mendekat ke Sean dan memandangi wajah Sean dengan sangat lekat
Dia pun menghentikan langkah dan berdiri tepat di hadapan Sean yang duduk, dan masih belum ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Rania, dia masih sdikit tidak percaya kalau itu Sean, sampai beberapa saat Rania hanya menatap rindu wajah Sean itu
Sean juga hanya menatap wajah putih Rania yang di aliri air matanya sendiri
__ADS_1
"Apa kamu tidak mau menyapaku?" tanya Sean
"Kamu jahat, kenapa baru kesini sekarang? apa kamu tau aku menantimu dari berbulan bulan lalu" ucap Rania
Sean pun berdiri bermaksud untuk menghapus air mata Rania "Maaf, aku sedikit sibuk" ucap Sean sambil menyeka Air mata Rania di wajahnya
"Jahat," Rania pun langsung memeluk Sean tampa memperdulikan ke adaan sekitarnya
Dia pun menumpahkan Air mata kerinduanya di dada Sean
Sean pun hanya bisa mengusap ngusap kepalanya
"Sudah jangan menangis, aku di sini sekarang kan? maaf jika aku terlalu lama untuk menemuimu" ucap Sean
Rania tidak berkata apapun, dia hanya ingin menumpahkan semua air matanya hingga bisa menenggelamkan Sean di dalam air matanya itu, supaya Sean tau kalau dia benar benar merindukanya
Intan yang melihat adegan tangis tangisan seperti ini pun keluar dengan sendirinya dan menunggu Sean di mobil
Beberapa waktu berlalau, air mata Rania juga mulai surut, begitupun kerinduanya, diapun perlahan melepas pelukanya dari Sean
"Sudah jangan menangis, malu di lihat orang kan?" ucap Sean
"Aku tidak peduli" ucap Rania menatap wajah Sean lagi dengan sdikit senyum di bibirnya
Sean pun menyeka air mata yang tersisa dari mata Rania dan mendudukan Rania di kursi yang ada di samping nya, dia juga duduk dan menghadap ke arah Rania
"Maaf, aku terlalu sibuk di kota J" ucap Sean
"Tidak papa, aku ngerti, pasti karena perkataan papah tempo hari kan? kamu tidak perlu mendengarnya, aku hanya mau kamu ada di dekatku, itu saja" ucap Rania masih sedikit terisak
Sean pun hanya terdiam, awalnya memang itu acuanya, namun perlahan ambisinya yang mebuatnya tidak punya banyak waktu luang
"Gimana kamu bisa tau kalau aku ada di kantor depan?" tanya Rania
"Aku mengetahui nama kantor Ayahmu yang di kota J, jadi kupikir namanya pasti sama," ucap Sean
"Oh" Rania pun tidak banyak berpikir
"Rasanya aku ingin kembali lagi ke kota J, aku tidak suka disini, aku sangat ingin menjalani kembali kehidupan ku yang sebelumnya," ucap Rania meneteskan lagi air matanya dengan wajah tertunduk
Sean pun merasa iba pada Rania yang sepertinya tidak mendapat kebahagiaan di kota ini, "Kenapa? bukan kah di sini kamu memimpin perusahaan" ucap Sean
"Ya mungkin statusku naik, tapi di sini tidak ada yang sayang padaku, meskipun aku tinggal dengan ibu dan kakaku , tapi mereka memperlakukanku seperti orang Asing," ucap Rania
__ADS_1
"Begitukah? orang tua mana yang tidak sayang anaknya?, kalau dia ibumu harusnya dia menyayangimu kan?" ucap Sean
"Entahlah, tapi aku merasa ibuku mengnggap aku hanya anak tirinya, mungkin karena aku tinggal dengan papah sebelumnya, dan mungkin juga karena masalah kepemimpinan kantor yang diserahkan papah padaku, bukan ke kakaku yang tinggal dengan ibu" ucap Rania yang sdikit menceritakan masalahnya