
Dia mengumpulkan semua tenaganya untuk memukul Sean lagi, namun sebelum dia menghatamkan tinjunya pada Sean tiba tiba muncul sebuah tangan yang menggenggam tinjunya dari belakag
"Siapa kamu, lepaskan" ucap Ferdi yang mengira itu hanya petugas Hotel,
Agam malah memperkuat genggamanya pada tangan Ferdi hingga terdengar bunyi 'krekk' Alhasil Ferdi pun menjerit kesakitan karena kepalan tinjunya di remas Agam
"Aaaaaaaaaaw, Sakit, Sakit ,lepaskan lepaskan, ampun" lirih Ferdi meringis karena merasa tanganya hampir hancur
Agam pun membantingkan tubuh Ferdi itu hingga jatuh, diapun segera menghapiri Sean "Tuan, apa anda tidak papa?" tanya Agam
"Tidak tidak papa, aku baik baik saja, awasi saja Ferdi jangan Sampai kabur" ucap Sean meskipun dia merasa kepalanya sangat pusing, tapi dia tidak ingin Ferdi lepas
"Baiklah" Agam pun membalikan badan dan mendapati kalau si Ferdi sudah tidak ada di Ruangan itu lagi
"Maaf tuan sepertinya dia sudah melarikan diri" ucap Agam
"Apa? cari dia sampai dapat, jangan kembali jika kamu tidak membawa dia" tegas Sean tampa menoleh
"Baiklah" agam pun segera keluar untuk mencari Ferdi, aldo yang tadi Agam lepas juga tentunya sudah tidak ada jejaknya sama sekali
Sean mencoba berdiri dan berniat untuk mengecek ke adaan Rania yang tidak terlalu jauh darinya, hanya dua langkah jarak antara Sean dan tempat tidur Rania, tapi setelah dia memaksaakan dirinya untuk berdiri, sakit di kepalanya pun semakin dia rasakn, pandangan matanya seperti berputar dan akhirnya menggelap, tubuh Sean pun seketika terhempas kelantai dan dia pun tidak sadarkan diri
Beberapa jam sudah berlalu, Agam pun tidak kunjung kembali membawa Ferdi, yang tersisa di Ruangan itupun hanya Rania dan Sean yang sama sama terbaring tak sadarkan diri,
Selang beberapa waktu kemudian Rania mulai sadar dan dia pun melihat ke langit langit ruangan, dia merasa ruangan itu sangat asing baginya, dia yakin kalau dia bukan berada di kamarnya
Dia pun mencoba menggerakan badanya namun dia merasa kalau seluruh badanya terasa sangat lemas dan kepalanya sedikit pusing, mungkin karena efek obat yang di berikan Ferdi tadi, dia mencoba untuk duduk di kasur dengan sisa tenaga yang dia punya sekarang, dia ingin segera pergi dari tempat asing ini
Dengan kondisinya yang setengah sadar dia pun melihat kesekeliling tempat ini, dia pun mendapati kalau ada orang lain di ruangan ini yang bersama dirinya, pikiran Rania pun sempat traveling kemana mana
Tapi setelah dia memmperhatikan dengan teliti dia mengenali orang yang tergeletak di lantai itu, dia pun berusaha ketepian tempat tidur untuk mendekat ke arah Sean
Rania sampai terjatuh dari tempat tidur karena badanya masih terasa lemas, dia pun merangkak untuk sampai kepada Sean dia mencoba membangunkan Sean
"Sean, Sean, bangun, kita ada dimana?, Sean," ucap Rania pelan sambil menggoyangkan tubuh Sean dengan tenaga seadanya
Rania mulai sadar kalau wajah Sean penuh luka, dia pun panik "Sean, Sean, bangun, kamu kenapa Sean bangun" Rania terus membangunkan Sean tapi dia tidak kunjung bangun juga
__ADS_1
Rania semakin panik, Rania takut kalau Sean meninggal
"Sean please bangun, jangan tinggalin aku, aku butuh kamu, bukan kah kamu bilang ingin jadi pacarku, ayo bangun kalau kamu mau, ayo kita pacaran, tapi tolong kamu bangun, Sean ayolah jangan seperti ini please" Rania manangis sejadi jadinya
Entah berapa lama Rania menangisi Sean, hingga diapun akhirnya terlelap tidur di dada Sean,
...
Keesokan paginya Di kamar yang sama, dengan kondisi yang tidak berubah, perlahan Sean mulai medapat kesadaranya kembali, tapi Sean merasa kalau dadanya sangat berat, dia masih belum sepenuhnya mengingat kejadian semalam
Perlahan dia pun mengumpulkan ingatanya, dan setelah dia mengingat barulah dia menyadari kalau ada seseorang yang tidur di dadanya, Sean pun menyingkap rambut yang menghalangi wajah Rania memastikan kalau itu memang Rania
Sean tidak berniat membangunkan Rania, dia hanya terus mengelus kepala Rania yang masih tertidur pulas, momen yang tidak pernah Sean bayangkan sebelumnya ini membuat hatinya tidak karuan antara senang dan sedikit gugup karena bisa sedekat ini dengan Rania
Perlahan Rania pun membuka matanya, dan pandanganya langsung bertabrakan dengan pandangan Sean yang dari tadi memandanginya, Setelah Rania sadar kalau dirinya tertidur di dada Sean dia pun kaget dan lansung bangkit
dari dada Sean
"Sean, Apa yang ........" Rania tidak melajutkan pertanyaan nya, di hanya terdiam beberapa saat untuk mengingat apa yang sudah terjadi semalam
"Iya" ucap Sean
"Apa, apa Ferdi juga melakukan sesuatu padaku?" Tanya Rania mulai prustasi mengingat apa yang terjadi
"Tidak, kurasa tidak" ucap Sean
"Apa kau yakin?" Rania mulai meneteskan Air matanya, dia pun bersandar di samping tempat tidur dan menutupi wajahnya dengan kedua tanganya
Sean pun mencoba duduk meski badanya sedikit ngilu, mungkin karna perkelahian semalam "Ran, aku Yakin 100% kalau dia tidak berbuat apa apa padamu aku berani jamin" ucap Sean meyakinkan
"Kamu bohong, aku ingat dia mencium kepalaku dan entah apa lagi yang dia cium, aku aku benci Ferdi aku benci" ucap Rania sambil menangis sejadi jadinya
"Ran" sean mencoba menyentuh kaki Rania
"Jangan sentuh aku, aku benci" ucap Rania membentak dan terus menangis
Sean bingung bagaimana cara menenangkan Rania, bagaimana meyakinkan Rania sedangkan Sean juga tidak merasa yakin kalau Ferdi tidak berbuat apa apa
__ADS_1
Sean menghela nafas, dia melihat sekeliling Ruangan kamar berharap menemukan sesuatu untuk meyakinkan Rania
pandanganya pun terhenti pada tripod yang masih terdapat ponsel Ferdi di situ, Sean pun mencoba menjangkaunya karena letaknya memang lumayan dekat dengan posisi Sean duduk
Dan benar saja, ponselnya masih dalam mode merekam vidio , Sean pun menghentikan dan menyimpanRekaman dan mencoba memutarnya dari awal, berharap ada sesuatu yang bisa membuat Rania tenang
Sean pun menekan tombol play dan Vidio pun di mulai, terlihat Rania yang terbaring di tempat tidur sendirian, lalu Ferdi datang dan memang mengecup kepala Rania, Rania memang terlihat bereaksi, mungkin waktu itulah yang dia ingat, tapi kemudian Ferdi balik lagi ke arah kamera dan vidionya berguncang, mungkin Ferdi sedang mengecek arah kameranya lagi dan Saat itu lah ada suara bantingan pintu, itu adalah suara Sean yang menendang pintu
Setelah melihat potongan Vidio itu Sean merasa lega dan langsung ingin memperlihatkanya pada Rania
"Rania" "Rania" "Rania" Sean memanggil Rania beberapa kali tapi Rania tidak ada Respon, dia hanya terus menangis dan mnutup wajahnya
"Ran, ada buktinya kalau Ferdi tidak melakukan apa apa lagi selain yang kamu bilang, coba kamu lihat ini" ucap Sean
Rania pun merespon dengan menurunkan kedua tangan yang menutup wajahnya, dia pun melihat ke arah Sean yang memperlihatkan sebuah phonsel
"Bu bukti apa" tanya Rania sambil sedikit cegukan
"Di phonsel ini ada rekaman saat tadi malam, apa kamu mau melihatnya?" tanya Sean
"Tidak!!, aku tidak mau lihat, tidak mau" ucap Rania menutup kembali Wajahnya dan melanjutkan tangisanya, Rania takut melihat ada adegan yang tidak ingin dia lihat
"Beneran tidak ada yang terjadi Ran, aku sudah melihat rekamanya barusan" ucap Sean
Rania pun merespon kembali "Benarkah? kamu tidak bohong kan" tanya Rania
"Buat apa aku bohong, kalau tidak percaya lihat saja sendiri" ucap Sean
"Tidak tidak usah, aku percaya kamu saja, aku malas melihat si Ferdi brengsek itu lagi, kalau ketemu lagi awas saja dia, akan ku cincang dia sampai halus" ucap Rania sambil terisak isak
"Apa enggak sekalian di tumis dan di kasih kecap asin gitu?" ucap Sean yang mulai bisa bercanda lagi, jauh berbeda dari Sean yang tadi malam
"Iiiiih, Sean aku Serius" ucap Rania sambil memukul mukul tangan Sean
"Aw aw aw, itu sakit, aku di gebukin suruhan Ferdi semalam, beneran" ucap Sean manja
...~°~...
__ADS_1