Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo

Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo
Tidak adil


__ADS_3

Setelah beberapa saat Rania pergi, diapun kembali ke ruang tamu dengan membawa 2 minuman di tanganya, Rania berjalan dengan menundukan kepalanya, dan dengan senyuaman yang di umpatkanya


Rania merasa malu juga karena sudah mencium Sean tadi, dia hanya Reflek untuk mengungkapkan perasaanya yang tidak mampu dia jelaskan


"Minumanya pak Ar....., eh Sayang maksudku" ucap Rania yang gugup 'kenapa aku jadi gugup seprti ini' pikir Rania


"Kenapa panggil pak,? jangan bilang kalau aku mirip bapak bapak" ucap Sean


"Ti tidak, aku hanya tidak sengaja menyebutnya" ucap Rania menyimpan minumannya di meja


"Oh,,,, duduk sini, mau dengar penjelasan kan" ucap Sean


"Iya" Rania pun menurut dan duduk di dekat Sean


"Jadi,,, apa yang menurutmu belum jelas?" tanya Sean


"Tidak, sebenarnya aku masih penasaran soal kejadian kemarin, kenapa kamu tidak papa?, bukanya kamu tertembak" ucap Rania


"Soal itu ya,,,, tembakan Leon waktu itu meleset, aku hanya kaget kemarin, jadi aku jatuh" ucap Sean asal


"Begitukah?,,, terus kenapa kamu tidak pernah kasih kabar padaku beberapa hari ini?, aku kan khawatir" ucap Rania


"Iya maaf, aku salah" ucap Sean


"Aku maafkan, tapi jangan ulangi lagi seperti itu, kamu tidak tau bagaimana khawtirnya aku kemarin kan?, rasanya aku sampai ingin kabur dari rumah sakit tau," ucap Rania sedikit cemberut


"Iya iya maaf, jangan cemberut gitu" ucap Sean sambil mencubit ringan pipi Rania "O iya Ran, ngomong ngomong perusahaanmu masih ada niat ingin kerja sama dengan Jaya estate tidak" tanya Sean mengalihkan topik


"Jaya estate?, kenapa kamua tau ayah menyuruhku bekerja sama dengan Jaya estate, perasaan aku tidak pernah cerita padamu" ucap Rania


"Engak, waktu itu Viona datang ke kantor jaya........" ucapan Sean terhenti karena menyadari ada 1 kata yang sensitif untuk di dengar Rania 'Aduhhh, kenapa aku harus menyebut namanya' pikir Sean yang melihat raut wajah Rania seketika berubah dari cemberut jadi menatapnya curiga


"Tunggu tunggu, kamu tau nama kakaku?, apa kalian pernah bertemu di belakangku sebelumnya?" tanya Rania curiga


"I iya sih pernah, waktu di kantor pemasaran jaya estate" ucap Sean terbata karena merasa seperti sudah membuat kesalahan


"Terus apa yang kamu lakukan denganya? apa dia menggodamu?" tanya Rania yang tau kalau kakanya sedikit ganjen


"Ya,, bisa di bilang begitu" ucap Sean


"Bisa di bilang begitu? jadi maksudnya dia benar bear menggodamu? dan, dan apa lagi?" ucap Rania menaikan nada bicaranya dengan nada cemburu juga


"Aku hanya membuatnya menangis?" ucap Sean jujur

__ADS_1


"Maksudmu?" tanya Rania yang pikiranya selalu kemana mana


"Iya aku mengusirnya, dan dia menangis, itu saja" ucap Sean


Rania pun menghela nafasnya "Baguslah, kukira kau ada main di belakangku dengan dia" ucap Rania merasa lega


"O yah sayang, apa kamu masih punya Rahasia lain yang tidak aku tau?, kita sekarang sudah tunangan, aku tidak mau ada yang kamu Sembunyikan dariku" ucap Rania lagi


'Deg' hati Sean seperti terkena pukulan, karena dia sempat bertemu Lena tempo hari meskipun Rania telah melarang Sean waktu itu


"Aku, aku pernah bertemu lagi dengan Lena waktu kamu sudah di kota ini" ucap Sean sedikit tergagap, dia bukanya takut oleh Rania, tapi lebih ke menghargai pasangan


"Sungguh?" ucap Rania menatap tajam mata Sean


"Iiiiii ya" ucap Sean ragu


"Kalau itu aku sudah tau" ucap Rania


"Tau darimana?" tanya Sean bingung


"Leon,,,,, dia memberitau ku kalau kamu pernah bertemu lagi denganya , tapi aku percaya padamu kalau gadis itu memang hanya temanmu kan?" ucap Rania


Sean pun menghela nafasnya 'Aku kira akan ada perang dunia' pikir Sean "Apa artinya aku masih boleh bertemu denganya lagi?" tanya Sean


Rania sedikit melonggarkan aturanya, sekarang mereka sudah tunangan, jadi sedikit banyaknya dia sudah merasa tenang karena mereka sudah resmi terikat, jadi Rania tidak terlalu khawatir Sean akan berpaling darinya


"Baiklah aku paham, teriama kasih sayang" ucap Sean, yang akan merangkul Rania yang duduk di sampingnya


"Hey hey, mau ngapain?" tanya Rania memiringkan tubuhnya untuk menghindar


"Mau memelukmu" ucap Sean yang sudah merentangkan tanganya


"Tidak boleh!" ucap Rania


"Kenapa tidak boleh?, kamu sering memeluku, kenapa aku tidak boleh memelukmu" ucap Sean polos


"Pokonya tidak boleh, kamu tidak boleh memeluku, kalau aku boleh, itu peraturanya" ucap Rania yang sebenarnya hanya takut Sean kebabalasan karena kondisinya sekarang mereka hanya ber 2 saja, sedangkan biasanya ada orang lain juga kalau Rania memeluk Sean


"Baiklah kalo begitu, tapi itu rasanya tidak adil" ucap Sean menyimpan tanganya lagi ke tempat semula, dia memang tidak tau apa yang Rania pikirkan


"O yah, kamu belum jawab soal kerja sama tadi, apa perlu aku bantu kamu untuk kerja sama denga Jaya estate?" ucap Sean kembali ke topik awal


"Aku sebenarnya tidak perduli dengan kerja sama di sini, yang aku inginkan sekrang adalah aku bisa kembali ke kota J lagi, tapi aku belum berani memintanya ke papah" ucap Rania

__ADS_1


"Begitu kah?, itu urusan gampang, biar aku saja yang bicarakan itu ke om Hendro" ucap Sean


"Sungguh?,,, terimakasih sayang" ucap Rania yang lansung memeluk Sean saking senangnya


"Ini tidak adil" ucap Sean yang di peluk Rania


"Adil" ucap Rania


"Tidak" ucap Sean


"Ya sudah, coba saja balas peluk kalau bisa" ucap Rania yang memang mengunci tangan Sean dengan pelukanya itu


"Tidak bisa," ucap Sean yang mencoba mengerakan tangan tapi tidak mengeluarkan tenaganya


"Ya sudah diam saja kalau gitu" ucap Rania yang terus memeluk Sean dari samping dan menyandarkan kepalanya di bahunya


"Ran, aku akan menghubungi ayahmu sekarang, jadi lepaskan dulu tanganmu ini" ucap Sean


"Oh, baiklah" Rania pun melepasnya


Sean pun mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Hendro, Sean pun mengatakan apa yang Rania inginkan, dan Hendro juga menyetujuinya, Sean pun mengajak Rania langsung terbang ke kota J besok, setelah semunya ter urus Sean pun pamit pergi dari apartemen Rania untuk kembali ke Rumah ibunya Lagi


Setibanya di Rumah ibunya, Seanpun langsung masuk ke Rumah , semuanya masih kumpul di sini, jadi suasana rumah pun sedikit rame "Bu aku pulang" ucap Sean


"Kak Arman, sini, aku lagi bikin kue, mau bantu tidak?" ucap Intan yang memang sedang membuat adonan kue bersama bi irna , Kartina , dan bi Sari juga di pantry


Sedangkan paman Rusdi dan Ifan sedang bermain biliard di ruang tengah yang tidak jauh juga dari ruangan pantry "Mendingan kamu main biliard dengan paman, urusan dapur itu urusan wanita, kamu lebih baik main permainan laki laki saja, ayo sini lawan paman" ucap paman Rusdi


"Aku tidak bisa main biliar paman, belum pernah coba permainan seperti itu" ucap Sean yang memang belum pernah mencobanya


"Gampang, kamu tinggal masukin boalanya ke lubang seperti ini ni" ucap Paman Rusdi sambil menyodokan tongkatnya ke bola itu 'trok, trok' tapi bolanya tidak masuk ke lubang yang di inginkan


"Ha ha ha, papah tidak bisa memasukan bola dari tadi, pake so soan ngajarin kak Arman segala" ucap Irfan yang di hadapan paman Rusdi


"Iyakan papah juga masih belajar, nanti kalau papah sudah jadi pemain pro juga pasti bisa ngalahin kamu" ucap paman Rusdi


Sean pun hanya tersenyum melihat suasana kekeluargaan semacam ini


"Ya sudah aku mau mencobanya juga" ucap Sean, diapun bergabung dengan paman Rusdi dan Ifan


"Yah kak Arman, kenapa malah ikutan ke papah, mending bantuin kita bikin kue, itu permainan yang tidak berpaedah, kalau bikin kue kan bisa di makan" ucap intan


Seketika semua yang ada di sana pun tertawa karena mendengar intan, dan sungguh suasana yang sangat hangat dan jarang sekali di temui Sean jika di kota J

__ADS_1


...~°~...


__ADS_2