Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo

Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo
Drama


__ADS_3

Setelah mereka kembali ke ruang rawat , mereka pun sudah di tunggu Kartina yang kehilangan putranya


"Arman, kamu dari mana saja,?" ucap Kartina dengan raut wajah yang khawatir


Tapi dia melihat kalau di samping Sean ada Lena dan Gina juga, jadi ke khawtiranya pun sedikit berkurang


"Ibu menghawatirkanmu di sini, kamu malah asik jalan jalan" ucap Kartina


"Iya bu maaf, barusan antar Lena dulu makan, dia manja bu, makan saja ingin di temani Arman" ucap Sean bercanda


"Kak Sean, apaan si, kenapa jadi ikut ikutan Gina, malu maluin" ucap Lena dengan suara pelan dan sambil mencubit tangan Sean


Tapi Sean yang di cubit tidak mersakan apa apa, jadi dia hanya melempar senyum saja pada Lena


"Engak enggak tante, tidak seperti itu, tadi tadi hanya ada sedikit urusan, aku aku sudah melarangnya pergi tadi, tapi dia tidak nurut tante, tanya saja Gina, iya kan Gin?" ucap Lena panik karena merasa di Salahkan


"Aku gak tau Len" ucap Gina juga tidak membelanya, dia sekongkol dengan Sean, karena menggoda Lena juga merupakan hobi Gina


Sean juga tersenyum mendengar Gina yang tidak mendukung Lena


Lena pun langsung gelagapan di buatnya "Gin kamu kamu" 'Awas saja kamu' ucap Lena dalam hatinya


"Sudah sudah tidak papa, yang penting kalian sudah kembali sekarang kan," ucap Kartina


"Iya bu, sebenarnya memang Arman yang bandel, Arman cuma bercanda barusan" ucap Sean sambil tersenyum


"Kamu memang anak bandel ya, sudah Salah malah nyalahin orang" ucap Kartina bercanda juga denga menjewer kuping Sean pelan, dan dia mendudukan Sean ke tempat tidurnya


"Diam di sini kalau mau cepat Sembuh, jangan jalan jalan" ucap Kartina yang sadar kalau Sean memang sedang mengisengi Lena


"Iya iya bu, Arman diam" ucap Sean juga sambil tersenyum


"Rasain" ucap Lena merasa kalau dia yang di bela Kartina


"Maaf ya Len, Anak tante memang seperti ini kelakuanya" ucap Kartina

__ADS_1


"Enggak ko tante, dia Sebenarnya juga baik ke Lena" ucap Lena


Suasana ruang rawat Sean pun terasa sangat hangat dengan hadirnnya wanita wanita yang sangat berarti untuk Sean, tentu Gina tidak termasuk, tapi tetap saja bisa menghangatkan suasana juga


Setelah hari beranjak Sore Lena pun berencana untuk pulang, dia tadinya menghawatirkan kalau Tiara akan datang, tapi sepertinnya Tiara tidak jadi untunk menjenguk Sean


"Tante, Lena pulang dulu ya," ucap Lena berpamitan


"Iya, kamu hati hati di jalan" ucap Kartina


"Kak Sean cepet Sembuh juga, terima kasih banyak untuk hadiahnya, Lena tidak tau harus membalasnya gimana" ucap Lena


"Janga terlalu di pikirkan, kamu yang giat saja belajar, biar kamu juga bisa menjadi apa yang kamu impikan" ucap Sean


"Iya terima kasih kak, kalau Lena sudah jadi dokter nanti, Lena siap merawat kak Sean yang sering terjatuh ini" ucap Lena tersenyum


Sean merasa hangat di hatinya, meskipun itu hanya kata kata kiasan saja, tapi kata kata itu sampai ke hatinya "Iya siap bu Dokter" ucap Sean


Stelah memberi salam ke Kartina, Lena dan Gina pun pergi dari rumah sakit dengan mobil barunya, Lena pun kembali ke rumah kostnya dengan perasaan yang sulit di gambarkan bahkan oleh dirinya sendiri


Sean sudah tidak sabar ingin melihat sosok penembak yang sudah di tangkap Agam itu, dan semenjak Sean keluar dari rumah sakit, diapun mulai memakai cicin kursaninya itu di jari tanganya, meskipun modelnya tidak Sean sukai, tapi dia sadar kalau itu memang bukan untuk sekedar fasion, tapi untuk berjaga jaga



Sean dan Kartina tiba di kediamanya sekitar pertengahan hari, Sean pun beristirahat lagi di kamar mewahnya untuk beberapa waktu


Dan Setelah hari beranjak sore, diapun nenghubungi Agam yang masih berjaga di markas untuk menjemputnya


Agam pun langsung kembali ke mansion dan langsung menghadap Sean yang sudah menunggunya "Tuan, apa anda benar tidak apa apa, jangan dulu memaksakan diri anda jika kondisi anda belum Setabil" ucap Agam yang berpikir kalau luka dari peluru itu bukan hanya luka luar


"Tidak papa, aku baik baik saja, bawa saja aku kepada mereka" ucap Sean


"Baiklah" Agam pun tidak menahan tuanya Lagi


Merekapun berangkat menggunakan mobil yang baru di beli Sean beberapa minggu lalu dari hasil kerja kerasnya, Dia sekarang menggunakan mobil Koenigsegg one:1 tetap dengan warna putih hitam kesukaanya, dan mengistirahatkan mobil BMW nya sementara

__ADS_1


Mobil ini Sean beli dengan harga $2jt dolar atau sekitaran 28M lebih, atau setara dengan harga 7 unit mobil BMW Sean yang sebelumnya dia pakai, meskipun tidak semahal Koenigsegg CCXR Trevita yang harganya mencapai $4,8jt dolar, tapi itu cukup memuaskan hasrat Sean untuk membeli mobil impian masa remajanya yang dulu hanya bisa di lihatnya di sampul buku tulisnya


Merekapun pergi ke aula latihan Agam atau yang di sebutnya sebagai markas


Sesampainya disana merekapun turun dan menuju salah satu ruangan di aula, Agam pun membukakan pintu ruangan itu untuk Sean , hanya ada beberapa kursi kayu di sana dan meja kotak sedang, mirip seperti sebuah ruang introgasi dengan Lampu gantung di atas meja


Mungkin ini di persiapkan Agam sebelumnya agar suasananya lebih dramatis dan tegang untuk tersangka


Seanpun masuk dan langsung melihat tiga orang yang terikat di kursi dengan penutup kepala hitam di sebrang meja kotak ini, dan dua anak buah agam yang berdiri tegak di sisi kiri dan kanan mereka, ini benar benar di persiapkan Agam seperti untuk drama saja


Sean pun tersenyum "Agam, kau yang mempersiapkan ini?" tanya Sean cukup puas dengan kerja Agam


"Iya tuan" ucap Agam


"Seperti di film film saja, buka penutup kepala mereka!" ucap Sean yang masih belum duduk dan hanya bediri di belakang kursi yang Agam siapkan sambil melihat kepada pria pria itu dengan penasaran


Kedua anak buah Agam pun membukanya satu persatu hingga wajah merekapun terlihat oleh Sean


Sean sedikit terkejut dengan Salah satu wajah yang tidak asing baginya ini, dia Ferdi dengan mukanya yang sudah babak belur, mungkin karena di siksa anak buah agam habis habisan, hingga ketiga orang ini pun babak belur seperti itu


"Kukira aku akan melihat wajah yang asing karena kejadianya di luar," Sean pura pura kecewa dengan menghela napas


"Agam apa tidak ada yang lain aktornya selain dia?, kenapa harus dia lagi dia lagi, aku bosan melihatnya?" ucap Sean


Agam bingung menjawab tuanya ini karena dia orangnya memang serius "Ku rasa tidak ada tuan" ucap Agam mencoba meladeni pembicaraan tuanya yang cuplas ceplos


"Se sean, kenapa kau belum mati ?" tanya Ferdi yang sedikit terkejut, dia yakin melihat tembakanya pas di kepala dan dada Sean meskipun bukan dia yang mengeksekusinya, tapi di melihatnya jelas dari dalam mobil


Pikir Ferdi, meskipun Sean itu tidak mati, setidaknya Sean terbaring di rumah sakit selama berbulan bulan karena tembakan itu, jadi dia tidak habis pikir kalau Sean sudah bangun bahkan terlihat masih bugar hanya dalam waktu 2 hari


"Aku punya 10 nyawa, jadi meskipun kamu menembaku ber kali kali, kamu tetap akan melihatku hidup untuk mengejarmu terus sebelum kamu mati" ucap Sean tersenyum penuh drama


"Ii itu mustahil" ucap Ferdi tidak percaya


"Tentu, barusan aku hanya berdialok drama , langsung ke intinya saja, siapa orang yang menyuruhmu?" tanya Sean tidak basa basi lagi

__ADS_1


...~°~...


__ADS_2