
Sean mendekap Rania dengan perasaan iba padanya, diapun perlahan melepas dekapanya itu "Sudah sudah, jangan nangis, kita kedalam dulu" ucap Sean sambil mengambil tas yang di bawa Rania
Sean pun menggandeng Rania untuk masuk kedalam rumah dengan Rania yang terus terisak, merekapun masuk dan duduk di sofa minimalis di ruang tamu berdampingan, dengan kepala Rania yang mulai bersandar di bahu Sean
"Sudah jangan menangis terus, kalau air matamu habis, aku susah nanti nyari isi ulangnya!" ucap Sean
Rania masih tidak merespon, dia masih tidak ada mood untuk bercanda, dan hanya terus menangis sambil terisak
"Kamu malam ini tidur di sini saja, di atas ada kamar kosong, kalau kamu butuh teman biar aku suruh bi Sari untuk menemanimu" ucap Sean sambil melirik bi Sari yang sedikit jauh dari mereka
Rania hanya menganggukan kepalanya, dia masih belum merasa tenang dan terus bersandar di bahu Sean
Sean juga tidak bisa berbuat banyak dia hanya bisa merelakan kemejanya itu di guyur air mata Rania untuk beberapa waktu
Sampai akhirnya air mata Rania pun perlahan surut, dan hanya sesekali terdengar cegukan
"Apa mau ke kamar sekarang?" tanya Sean
Rania hanya menggeleng manja di bahu Sean itu
Tidak bisa di hindari mereka memang sangat dekat untuk saat ini, dan itu juga yang membuat Rania perlahan tenang, dia selalu mendapat kenyamanan saat berada di dekat Sean
"Minum dulu, biar hatimu sedikit tenang" ucap Sean
Sean pun mengambil segelas air putih dari meja dan membawanya langsung ke mulut Rania
Rania juga merespon dengan memegang gelas yang di berikan Sean dan meminumnya
"Terima kasih, kalau gak ada kamu, aku tidak tau harus menenangkan diriku kemana" ucap Rania di barengi sedikit cegukan
"Iya, ada aku, jadi kamu jangan sedih lagi, apa kamu ingin menceritakan masalahmu?, ya mungkin belum tentu aku bisa bantu, tapi Setidaknya kamu bisa membaginya denganku" ucap Sean
Rania pun menghela napas nya "Dari awal memang aku tidak pernah di terima dengan baik di rumah ibu, aku tidak pernah diperlakukan adil oleh ibuku, kakaku juga tidak pernah menghargaiku, mereka selalu menindasku, aku tidak bisa melawan mereka, aku juga tidak bisa pergi karena semua pasilitas yang diberikan papa untuku di tahan olehnya, aku sesekali meladeni mereka, tapi ini lah jadinya aku tidak pernah menang melawan mereka" ucap Rania
"Kakakmu?, kenapa dia masih tinggal dengan ibumu? apa dia belum menikah?" tanya Sean penasaran
"Kakaku single paren dengan satu anak, dia mengikuti jejak ibuku, aku tidak tau kemana suaminya, mereka hanya menikah sekitar 3 tahun saja" ucap Rania
"O yah, apa kakakmu itu cantik sepertimu" tanya Sean asal
__ADS_1
"Kenapa? apa kamu tertarik dengan janda?, kalu begitu ambil sana" ucap Rania sambil mendorong pelan tubuh Sean
Sean pun hanya tersenyum "Tidak, maksudku bukan seperti itu, kalau dia cantik sepertimu kenapa suaminya bisa meninggalkannya? itu maksudku" ucap Sean
"Itulah kenapa aku tidak percaya cinta sebelumnya" ucap Rania
"Apa kamu juga tidak percaya aku mencintaimu?" ucap Sean
Rania diam untuk sesaat "Aku tidak peduli kamu mencintaiku atau tidak, yang aku tau aku bisa nyaman jika berada di dekatmu" ucap Rania
"Iya, aku juga nyaman di dekatmu" ucap Sean
Rania yang sudah sedikit tenang pun baru sadar kalau memang mereka sangat dekat, dengan segera diapun menggeser sedikit tempat duduknya "Hhhuuuu , kamu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan" ucap Rania manja
Sean hanya tersenyum "Bagus lah kalau kamu sudah baikan" ucap Sean
"Iya terimakasih, itu karenamu" ucap Rania
"Iya sama sama" ucap Sean "O yah ngomong ngomong sebelum kamu kesini, perusahaan ayahmu siapa yang memimpin kalau bukan ibumu?" tanya Sean yang masih belum mengerti seluk beluk keluarga Rania ini
"Kantor tadinya di percayakan papa kepada orang lain, dia tidak mempercayakan kantor ke mamah atau kakaku, mungkin itu karena keegoisan papa" ucap Rania
"Seperti itu kah, apa kakak mu juga bekerja di perusahaan ayahmu?" tanya Sean lagi
"Bukan begitu, aku hanya ingin tau lebih dalam masalah keluargamu, itu saja" ucap Sean masih
mempertahankan senyumanya
"Kakaku hanya staf biasa di perushaan ayah, dari itulah dia tidak menyukaiku,?" ucap Rania
"Begitu ya" Sean tidak mengerti keluarga Rania ini, menurut Sean itu lebih rumit dari pada kehidupanya
"Apa kamu sudah makan?" tanya Sean
Rania menggelengkan kepalanya "Belum" ucap Rania
"Kalau gitu ayo makan" Sean pun berdiri dari tempat duduknya, tapi Rania tidak mengikutinya
"Ayo makan dulu, kamu harus makan" ucap Sean sambil meraih tanganya
__ADS_1
Tapi Rania menahanya, "Tidak ah, tidak enak dengan bu Kartina kalau aku makan di sini" ucap Rania merasa ragu
"Apa?,,,, mau di genddong,,,, boleh saja" ucap Sean menggoda Rania
"Iiih apaan sih, sejak kapan kamu bolot, aku bilang tidak enak Sama bu Kartina" ucap Rania agak kesal
"Ya meskipun belum jadi pengantin aku tidak keberatan, tenang saja" ucap Sean sambil pura pura berlaga akan merangkulnya
"Iiih enggak enggak apaan sih kamu, malu sama bi Sari tuh, iya iya aku makan, tapi jangan macam macam" ucap Rania sambil mengacungkan jari telunjuknya pada Sean
"Gitu dong, masa iya mau di gendong seperti anak kecil saja" ucap Sean terus menggodanya
"Siapa yang bilang mau di gendong, kamu saja yang bolot ihhh" ucap Rania ketus
Rania pun akhirnya mengikuti Sean untuk keruang makan dan duduk bersebrangan dengan Sean di meja makan , bi Sari dan beberapa asisten lain juga langsung membawa makananya ke meja makan
"Ini beneran tidak papa bi aku makan di sisni?" tanya Rania
"Tentu saja tidak non, jangan sungkan" ucap bi Sari tersenyum
"Makan saja, nanti bayarnya belakangan," ucap Sean
"Iih kamu suka gitu deh, ini di rumah orang, jangan malu maluin, gak jadi makan ah, males" ucap Rania sdikit ngambek karena di goda Sean terus terusan
"Iya iya bercanda, jangan ngambek gitu kalau mau di suapin, tinggal bilang saja kan?" ucap Sean dengan tersenyum ke arah Rania
"Idih, siapa juga yang mau disuapin, aku bisa sendiri" ucap Rania langsung mengambil garpu dan sendok yang di depanya
Bi sari hanya tersenyum melihat kelakuan tuanya yang unik itu
Sean memang sengaja menggoda Rania terus supaya dia bisa sejenak melupakan masalahnya,
"Kamu tidak makan?" tanya Rania yang melembutkan kembali nada suaranya
"Tidak, aku sudah makan tadi" ucap Sean yang hanya memandangi Rania yang sudah bersiap makan itu
"Oh, ya sudah aku makan ya," ucap Rania "Makan bi" Rania juga menawari bi sari
"Iya silahkan non" ucap bi Sari tersenyum, dia masih berdiri di sana, dan setelahah memastikan tidak ada yang kurang lagi di meja makan dia pun berbalik untuk ke belakang
__ADS_1
Rania pun makan dengan tenang meskipun Sean terus menatapnya sambil menyangga dagu dengan tanganya di meja makan
...~°~...