
Randi pun tidak bisa berbuat apa apa, hanya menemani Sean duduk dan memegangi pundaknya,
lama sekali Sean berada di posisi seperti itu, hingga dia pun akhirnya mengangkat kepalanya, dia memperhatikan gelang tali di tangannya
Itu adalah gelang dari Lena yang di berikanya tempo hari, sean menyentuh gantungan berbentuk hati kecil nya dan memperhatikan ukiran hurup L di tengahnya, setelah itu dia pun mengeluarkan ponselnya dan mentransfer uang ke rekening Lena sebesar 100 juta, "Sudah ku kirim, terserah kamu mau pakai atau tidak" ucap Sean berbicara pada gelang Lena
Randi bingung melihat kelakuan Sean yang aneh, selama barengan baru kali ini dia melihat Sean seperti ini
"Sean, Lu gak sakit kan, kalau lu sakit kedokter bukan uring uringan kaya gini" ucap Randi bingung
"Engga, gue gak papah, cuman sedikit sesak tadi" ucap Sean asal
"Ada ada saja kau, gue kira lu kenapa gitu" ucap Randi
"O iya Rand, kapan kira kira kita bisa mulai merombak Rumah makan ini, aku sih sukanya konsep modern classic dekorasi kayu, bagaimana menurutmu," tanya Sean
"Kalau aku sih oke sajalah, kurang paham kalau soal konsep" ucap Randi
"Ya sudah , berarti deal yah konsep nya itu, kalau mulai ngerombak mungkin minggu depan saja, biar tidak terlalu mendadak juga kan, juga kamu ada waktu buat mencari pekerjanya" ucap Sean
"Oke oke baik lah, terserah kamu, kamu ini bos nya, "ucap Randi
"Ya engga gitu juga, aku juga butuh masukan, mana bisa hanya menurut pandanganku saja, kalau mau bagus ya harus menimbang pandangan orang lain juga kan" ucap Sean
"Ya ya, memang benar, tapi aku memang tidak tau soal gituan, aku taunya hanya menghitung kertas bon saja" ucap Randi
"Haduh, mana bisa maju kalau gitu doang" ucap Sean
"he he, ya habis apa lagi, emang kerjaan sehari hariku kayak gitu, ya bisanya itu" ucap Randi
"Ya sudah, Lain kali ku ajak kamu keliling keliling, biar kamu tau pentingnya konsep di jaman sekarang in" ucap Sean
Randi mulai mengagumi pola pikir Sean yang sekarang, meskipun baru beberapa waktu Sean di kota J, menurutnya pandangan Sean sudah lumayan jauh,
"Sean, lu di kasi makan apa si sama emak lu di kota J, belum juga 2 bulan lu pergi , sudah jadi orang pinter saja perasaan", tanya Randi
"Ah masa?, perasaan ak biasa aja, gak makan yang aneh aneh juga aku," ucap Sean
Pada dasarnya Sean memang orangnya cerdas, hanya potensinya saja yang kurang di gali, kebetulan kemarin dia baru mempelajari manajmen pemasaran, jadi sean mulai terbuka soal pemikiran konsep itu penting untuk menarik pelanggan, biar pelangganya ga itu itu saja
__ADS_1
Setelah lama dia membahas masalah lainya dengan Randi, Sean pun berencana mengunjungi pusat perbelanjaan besar yang ada di samping, dia pun menghubungi ibunya dulu untuk memastikan kalau itu memang milik ibunya
"Rand, aku mau ke supermarket di depan, lu mau ikut gak?," ucap Sean
"Hah, lu royal amat si sekarang," ucap Randi
"Jadi lu ga mau nih?" ucap Sean
"Ya mau lah, masa engga, selama gue di sini belum pernah gue kedalem sana " ucap Randi
Mereka pun keluar dan berjalan kaki ke supermarket yang memang tidak terlalu jauh, tidak usah pakai mobil juga
Setibanya di depan Supermarket Sean melihat pemandangan yang tidak biasa, terlihat puluhan karyawan yang berdiri di sisi kiri dan kanan pintu masuk
'Ada apa di sini, aneh' pikir Sean
"Ada apa ya, mereka seperti mau menyambut orang penting saja, mending gak usah masuk Sean, kayaknya memang bakal ada acara penyambutan" ucap Randi
'Apa mereka di beri tau ibu kalau aku akan kesini, ah merepotkan mereka saja ibu ' pikir Sean
"Sudah, ayo masuk, kurasa tidak akan apa apa kalau kita masuk" ucap Sean
tapi tiba tiba ada petugas keamanan menghampiri mereka
"Hey berhenti dulu, apa kalian mau masuk?"
"iya" ucap Sean
"untuk sementara waktu pengunjung di larang masuk dulu, soalnya akan ada tamu penting Supermaket yang akan datang" ucap salah satu petugas ke amanan yang melihat mereka akan masuk dengan hanya berjalan kaki dari luar
"Tamu penting siapa?, aku sangat ingin melihatnya" ucap Sean
"Ada apa pak" tiba tiba ada seorang pria jangkung datang dari belakang satpam itu
"Ah tidak, Ini pak ada yang mau masuk" ucap satpam itu
"Oh, si pelayan rumah makan, ku kira siapa, mau apa kamu kemari? mau belanja? gak pantes! pantesnya kamu kepasar sana, mau so soan masuk super market Segala" ucap pria jangkung ini sambil tersenyum merendahkan
Sean mengenali orang ini, dia adalah Riki, dia kepala karyawan di supermarket ini, dia sempat berselisih dengan Sean karna masalah Lena, dia memang sangat menyukai Lena, dan dia tau kalau Lena menyukai Sean
__ADS_1
"Kamu saja yang kepasar, aku mau kedalam," ucap Sean sdikit tidak enak dengan kata kata Riki
"memangnya kamu punya uang berapa pake so soan ke supermaket hah? gak takut malah malu kamu, sudah sana pergi ketukang loak saja," ucap Riki
"Biarkan Aku masuk, atau kamu akan menyesal" ucap Sean
"Wah lu benar benar, tidak bisa di kasih tau baik baik, memangnya lu siapa bicara seperti itu,? yang punya Supermarket?, coba saja sendiri, kalau kamu bisa masuk melewati kerumunan itu, aku akan mengelilingi parkiran ini dengan merangkak, kalau tidak elu yang harus merangkak" ucap Riki optimis
"Baiklah kalau begitu, kita lihat siapa yang akan merangkak nanti" ucap Sean
"Wah Bener bener lu nantangin," Riki sedikit jengkel pada sean
"Riki, Ada apa ini?" ucap seorang pria paruh baya bersetelan jas kotak kotak dari belakangnya
Riki pun langsung menoleh ke arah suara
"Pak Hardi, maaf pak, ada orang yang memaksa untuk masuk, aku sudah memberitaunya baik baik tapi dia tetap ngotot" ucap Riki
Pak Hardi pun menghampiri mereka
"Kamu ini tidak ada sopan sopan nyh, Apa kamu tau dia ini siapa? dia adalah Direktur utama dari kantor induk sekaligus pemilik Supermaket ini, bukanya Bapak sudah sebar Fotonya di grup" ucap pak Hardi
Rikipun tercengang tidak bisa mempercayai apa yang di katakan Direktur nya ini, dia memang melihat informasinya tapi hanya nama dan mobilnya saja yang jadi perhatianya, sedangkan untuk fotonya dia tidak terlalu memperhatikan
Randi dan Arni juga mersa tidak mempercayai ini semua yang serba mendadak seperti kebetulan saja
"Maaf pak Arman, saya sebagai direktur anak perusahaan di sini, ini keteledoran saya kurang mendisiplinkan karyawan, mohon anda untuk memakluminya" ucap pak Hardi
"Minta maaf kamu pada pak Arman" ucap pak hardi pada Riki
Riki sudah lama mengenal Sean, Jika orang lain yang bilang Riki tidak akan percaya, tapi ini direkturnya sendiri yang bilang, jadi mau tidak mau dia harus percaya
"Ma ma maaf Sean...." ucapan Riki belum selesai tapi pak Hardi sudah memukul punggungnya duluan 'plak'
"Minta maaf yang benar, Sean sean siapa Sean?" ucap pak Hardi
Riki pun segera meralat kata katanya, "Ma ma maaf pak Arman Saya Salah, saya mengaku Salah, mohon kejadian ini tidak pak Arman masukan kedalam Hati" ucap Riki
"Baiklah saya maafkan, tapi kamu harus menepati kata katamu tadi, apa kamu masih ingat?" ucap Sean
__ADS_1
...~°~...