
Setelah acara makan yang berkesan itu selesai Sean pun pamit untuk pulang, Lena juga tidak ingin ikut seperti yang di khawatirkan, Hari juga mulai malam, Sean pun langsung pulang ke mansion ibunya
...
Keesokan paginya dia bangun pagi seperti biasa, latihan seperti biasa, dan berangkat ke kantor juga seperti biasa untuk memulai pekerjaanya kembali
Semuanya tampak normal, dan tidak ada yang aneh dalam pekerjaanya, hingga waktu istirahat pun tiba, Sean tidak ke atas menemui ibunya seperti biasa, dia Langsung turun ke Lantai dasar berharap bertemu dengan Rania
Setelah sampai di lantai dasar, dia pun keluar dari lift dan dia mencoba melihat lihat apakah Rania sudah turun atau belum,
Tapi Sean melihat ada sesosok pria asing dengan stelan jas mahal yang ada di lorong dekat area lift
Dia juga beradu pandang dengan Sean, 'Siapa dia? sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana?' ucap hati Sean
Pria itu pun berdiri dari tempat duduknya
"Hay Sean, kau sehat sehat saja ternyata, kukira kau sudah masuk Rumah Sakit" ucap pria ini tiba tiba
Sean berpikir keras untuk mengingat pria yang di depanya ini
"Apa maksudmu, apa kita Saling kenal?" Tanya Sean mendekat ke pria yang usianya kira kira lebih tua 2 taun dari Sean
"Tidak, kau tidak akan mengenalku, hanya saja kau menghalangi jalanku untuk dekat dengan wanita yang ku suka di kantor ini" ucap pria ini
Sean pun Langsung terpikir Rania "Oh, kamu pria yang bersama Rania kemarin kan" tanya Sean
"Kau tau juga rupanya, jadi langsung kuperingatkan saja, jauhi Rania, atau aku akan mengirimu keneraka" ucap Leon mengancam
Sean jadi berpikir tentang kejadian kemarin, "Apa itu artinya kau yang mengirim pria bermotor itu untuk menyerngku?" tanya Sean
"Seratus,,, kau memang pintar, tapi kau sepertinya memiliki keberuntungan yang cukup bagus, tapi keberuntunganmu itu tidak akan bertahan selamanya" ucap Leon terang terangan
"Kurang ajar" Sean langsung mengambil kerah jasnya dengan keras tampa mempedulikan dia berada di area kantor
"Berhenti" tiba tiba ada suara yang melerai Sean
__ADS_1
Suara langkah kakinyapun semakin mendekat "Lepaskan!!, apa yang kamu lakukan terhadap temanku Sean" ucap Rania
"Tapi Ran dia ini penjahat, dia sudah........" ucap Sean mencoba menjelaskan namun langsung di potong Leon
"Dia memperingatkanku untuk tidak dekat denganmu Ran, karena dia melihat kita kemarin" ucap Leon
Rania pun langsung menoleh ke wajah Sean "Aku tidak menyangka kamu sekeji ini Sean, ku kira kau pria baik, apakah salah jika aku punya teman pria selain dirimu? bukanya kau juga punya wanita dokter di luaran sana?"ucap Rania mengeluarkan phonselnya dan memperlihatkan foto Sean yang sedang berpelukan dengan Lena kemarin
"Ran bukan itu masalahnya tapi......" ucapan Sean kali ini di potong Rania Langsung
"Cukup, lepaskan dia, dia temanku, kau tidak berhak untuk berbuat apa apa padanya" ucap Rania sambil mencoba menyingkirkan tangan Sean
Sean tidak bisa melakukan kekerasan di depan Rania, jadi dengan berat hati Sean melepaskanya , "Bagus juga taktikmu, kau berlidung di bawah ketiak wanita, pengecut" ucap Sean
"Maaf bung kalau saya menggangu anda, aku tidak ada niat untuk merusak pertemananmu dengan Rania, aku hanya menganggap Rania teman lamaku juga" ucap Leon yang sangat jauh dari kata katanya di awal tadi
"Sudah ayo kita pergi, jangan pedulikan dia Lagi" ucap Rania mengajak Leon pergi
Sean tidak percaya Rania tidak mendengar penjelasanya Sean terus mengelengkan kepalanya
Leon yang mulai menjauh dengan Rania pun terlihat mengacungkan jempolnya di belakang pungung Rania, dan perlahan jempolnya dia putar kebawah,
Perlahan dia mengatur nafasnya kembali, dia menenangkan dirinya, dan merasa tidak tau apa yang harus dia perbuat, kalu ada yang mengajaknya bertarung Sean mudah melawanya, tapi kalau bermain siasat seperti ini, dan menggunakan Rania sebagai tameng hidup, dia belum bisa memikirkan cara melawanya, memukulinya pun percuma kalau tidak ada bukti, pasti Sean yang di salahkan
Perlahan nafas Sean mulai normal kembali dan emosinya sudah setabil, dia pun memutuskan untuk kembali ke atas dengan pikiran yang kacau, sean terus memikirkan cara melawan musuh yang terang terangan ingin mencelakainya, tapi dia tidak bisa berbuat apapun meski dia di hadapanya
Dia duduk di kursinya lagi dengan terus mendinginkan hatinya, emosi yang tidak keluar memang selalu jadi pengganjal di dalam hati, Sean memendamkan wajahnya di meja kerjanya, cukup lama hingga Akhirnya ada telepon masuk di ponselnya, dia pun melihat ponselnya dan mengenali nomornya
"Hallo bu," ucap Sean tenang
"Hallo Sean, kamu kapan pulang, sudah lama sekali kamu tidak pulang, ibumu ini sudah mulai Rindu padamu" ucap yang di sebrang telpon tapi dengan bahasa daerah, itu adalah ibu angkat Sean
"Iya bu, aku akan pulang besok, bagaimana keadaan ayah sekarang?" tanya Sean yang juga merindukan mereka, sekaligus menenagkan sejenak pikiranya
"Oh sukurlah kalau begitu, ayahmu baik baik saja Sean" ucap ibu Sean
__ADS_1
"Oh syukurlah, sudah dulu ya bu, Sean sedang kerja," ucap Sean asal
"Iya, ibu juga akan ke kebun lagi" ucap ibu Sean
Diapun menutup panggilanya, Sean Jadi berpikir mana bisa dia pulang naik mobil BMW nya untuk ke kampung, akses jalan kepegunungan tidak terlalu bagus dan jalanya menanjak, dari itu Sean berpikir untuk membeli motor gunung
"Baiklah, sepertinya aku harus membeli motor" ucap Sean, dia mengesampingkan dulu masalah dengan Rania dan Leon, karena menurutnya keluarga lebih penting
Dia menelepon Kartina untuk izin Keluar dulu, karena memang harusnya sekarang sudah waktunya masuk lagi kerja
Dia pun langsung bergegas ke daeler motor baru dengan agam, tapi proses untuk mendapat suratnya suratnya terlalu lama, sedangkan dia butuhnya besok, jadi dia putuskan membeli yang Second saja tapi masih bagus
Sean pun langsung mengendarainya pulang ke kantor sekalian mengecek kualitasnya, sean tadi juga sekalian membeli helm motocross
Kondisi motor memang masih lumayan, dia pun memarkirkan speda motornya di besment, "Masi Lumayan juga kondisinya mesinya" ucap San dan dia kembali lagi ke tempat kerjanya
Pulang dari kantor Seann juga mengendarainya Lagi, itu membuat kartina sedikit khawatir dengan putranya ini karna dia berpikir kalau naik motor itu kurang bisa terlindungi oleh Agam
...
keesokan paginya diapun sudah bersiap siap
"Apa kamu yakin menjenguk ibu angkatmu hanya menggunakan motor?" ucap Kartina
"Iya bu, soalnya kondisi Jalan di sana tidak memungkinkan untuk bawa mobil Arman" ucap Sean
"Terus Agam gimana, apa kamu mau memboncengnya?"
"Tidak usah, Agam terlalu berat, aku sendiri saja, di sana tidak akan ada apa apa, berbeda dengan di sini, jadi yang butuh Agam tuh ibu" ucap Sean
"Apa kau yakin" ucap kartina menegaskanya lagi
"Tentu saja bu" ucap Sean
'
__ADS_1
"Baiklah, jangan lupa titip salam dari ibu untuk ibu angkatmu, dan mohon maaf karena ibu belum bisa menemuinya secara langsung" ucap Katina
"Baik bu," ucap Sean diapun segera pergi dari mansiaon ibunya