
Sesampainya di tempat acara, rombongan Sean pun turun dari mobil, merekapun langsung di sambut para tamu undangan yang sudah hadir di tempat acara
"Hey, Arman, kamu sudah datang ternyata, bagai mana perjalananmu, apakah lancar?" tanya Seorang pria paruh baya yang menghampiri Sean dari kerumunan tamu
Sean pun langsung brejabat tangan dengan pria paruh baya itu "Lancar om, alhamdullilah" ucap Sean
"Oh syukurlah, ayo mari masuk kedalam, kita makan makan dulu, kamu pasti lapar kan?" ucap Dirto
Dirto adalah kakak kandung Kartina, Sean juga mengenalinya karna Dirto hadir pada Saat kepulangan Sean waktu itu, Selain itu, Sean juga tau dari data data perusahaan, Karna Dirto adalah direktur kantor cabang Kartin.corp yang ada di kota K ini
Acara ini juga Dirto yang buat, dan Sengaja mengundang pimpinan kantor pusat ya itu Sean dan Kartina untuk gunting pita, hanya saja Kartina tidak bisa datang untuk peresmian gedung perusahaan baru yang di kelola oleh Dirto ini
"Iya om, luamayan memang lapar" ucap Sean
Sean dan rombongan pun segera masuk melewati kerumunan tamu yang datang, dan merkapun masuk kedalam untuk makan makan terlebih dulu
"Arman kenapa ibumu tidak datang, padahal aku ingin dia yang meresmikan perusahaan ini" ucap Dirto
"Ibu katanya sedikit tidak enak badan om, jadi dia tidak bisa datang, Ibu hanya menitipkan sedikit hadiah untuk permohonan maaf nya"
Sean pun menyerahkan kotak transparan yang di dalam nya ada sebuah patung kuda dari emas murni yang bertahtakan kan beberapa batu mulya (Atau disebut juga patung kuda pembawa keberuntungan)
"Aduh, kenapa harus repot repot seperti ini, ini kan perusahaan miliknya juga, kenapa harus ada hadiah segala" ucap Dirto
"Ibu bilang hanya untuk simbolis di perusahan ini saja om" ucap Sean
"Iya iya, om paham, silahkan silahkan semuanya makan makan dulu," ucap Dirto
Mereka pun mulai mencicipi makanan makanan yang tersedia di meja bundar di depan mereka
Setelah beberapa waktu mereka di dalam, Dirto pun mengumumkan kalau acara inti akan segera di mulai, jadi semua tamu undangan pun segera pergi kehalaman perusahaan untuk menggunting pita peresmian, dan yang bertugas menggunting pita adalah Sean yang sebagai pimpinan kantor pusat
Sean pun di dampingi Agam dan beberapa petinggi kantor untuk ketempat yang sudah di sediakan di halaman perusahaan itu
Di sisi lain, di kerumunan ada sesosok pria berjas hitam dan mengunakan masker di wajahnya, dia baru saja turun dari mobilnya
__ADS_1
Pria itu membawa jas hitam juga di tanganya, dia pun terus mendekat ke arah tempat di laksanakanya peresmian, hingga diapun menemukan tempat yang menurutnya cocok, diapun berdiri di sana
Sean juga tidak terlalu memperhatikan ke arah kerumunan, dan dia sekarang sudah berada tepat di depan pita yang akan di potong nya
Diapun mengambil gunting di baki yang di bawa pengantar itu, Sean pun berpidato beberapa kalimat yang tidak terlalu panjang, dan dia pun bersiap untuk menggunting pita itu, namun
'dor, dor' Sebelum Sean benar benar memutusakan pita itu dia mendengar 2 bunyi ledakan, dan dua butir peluru pun melesat cepat ke arah Sean
Sean tidak sempat menghindari peluru yang bergerak cepat itu, Alhasil, Sean pun merasakan ada benda kecil dan panas menghantam dada dan pelipisnya secara bersamaan
Seketika itu Sean pun menjatuhkan tubuhnya ke lanatai karena dia merasa pusing
Seketika para tamu undangan pun berhamburan dan panik karena ada sebuah penembakan di acara itu
Sean pun langsung di hampiri Agam dan menyangga tubuh Sean
"Tuan..tuan.. bangun tuaaaaan" ucap Agam panik "Cepat tangakap penembak itu, kenapa kalian masih di sini" ucap Agam pada anak buahnya dengan marah
"Ba ba baik" jawab seorang anak buah Agam juga merasa gugup dengan kejadian yang tidak terduga ini
Anak buah Agam pun memakai beberapa mobil untuk mengejar mereka
Sean yang langsung di hampiri semua orang pun hanya bisa terkulai lemas,Tapi Sean merasakan kalau dirinya masih sadar "Agam, tang kap pe pelakunya hidup hidup, ja ngan biarkan dia lol los, pergilah" ucap Sean dengan suara yang lemah
"Tapi tuan..."
"Pergi" ucap Sean
"B b b baik tuan" ucap Agam terbata karena dia cukup panik saat ini , dia merasa sudah gagal melindungi tuanya ini, tapi diapun tidak membantah Sean, diapun menyerahkan Sean kepangkuan Elisa yang menagis di samping Sean juga
Agampun segera pergi dengan mobil yang masih tersisa
"Cepat panggilkan ambulans kenapa kalian hanya diam saja" teriak Elisa yang menagis sejadinya dengan mendekap erat kepala Sean yang terbaring di pangkuanya
Beberapa orang pun Segera merespon ucapan Elisa ini dengan mengeluarkan ponsel mereka dan menelepon rumasakit untuk mengirim ambulan
__ADS_1
Elisa terus menagisi Sean yang di pangkuanya ini "Pak direktur bertahanlah, bantuan akan Segera datang, tolong bertahanlah" ucap Elisa yang tidak tau harus berbuat apa lagi, dia hanya bisa mendekap kepala Sean itu eret erat di pankuanya
Air mata Elisa pun mengucur deras sampai kewajah Sean, dia merasa sangat terpukul melihat kondisi atasanya seperti ini
"E Elisa, aku ti tidak papa, le lepaskan saja aku" ucap Sean yang mencoba bangkit dari dekapan Elisa itu
Sean masih sepenuhnya sadar, dia merasa sedikit risih dengan posisi semacam ini, dia bisa merasakan benda kenyal nan lembut di dada Elisa sangat menempel di kepalanya, jadi dia mencoba untuk lepas dari dekapan Elisa ini
"Pak direktur, anda jangan banyak bergerak, bertahanlah" ucap Elisa tidak melepaskan dekapanya pada kepala Sean, dia terus menyangga kepala Sean di pangkuanya
"Aku tidak papa, lepas saja" ucap Sean masih mencoba meyakinkan Elisa kalau dia baik baik saja, dia hanya merasa sedikit pusing dan sedikit sakit
"Anda tidak baik pak direktur, anda tidak baik baik Saja, bertahanlah" ucap Elisa yang terus menangisi Sean ini, karena dia mengira Sean tidak sepenuhnya sadar dengan apa yang di ucapkanya barusan
Sean tidak bisa berbuat apa apa lagi, dia sekarang memang tidak ada tenaga untuk bangkit, jadi dia pasrah saja di dekapan Elisa ini
Sean pria normal, dia juga masih sepenuhnya sadar, jadi tidak mungkin kalau tubuhnya tidak ada reaksi apapun di kondisi seperti ini, meskipun ukuran dada elisa itu tidak terlalu besar, tapi tetap saja Sean bisa merasakan sesuatu itu jika posisinya menempel seperti sekarang
Sean pun hanya berusaha sebisa mungkin menyingkirkan otak cabulnya , karena dia memang tidak bisa apa apa untuk Sekarang
Tidak berselang lama Suara Sirine pun terdengar dan mulai mendekat ke arah mereka, Sean pun sedikit merasa lega di tengah kecanggungan yang terjadi sekarang ini
Benar saja Elisa pun melepaskan dekapanya setelah petugas ambulans menghampiri mereka untuk mengangkat tubuh Sean kemobil
Sean pun akhirnya dibawa masuk kedalam ambulans itu
Regan yang sedari tadi terbisu karena panik pun sekarang ikut masuk ke dalam ambulans bersama Elisa juga
"Pak direktur bertahanlah, anda akan selamat, anda akan baik baik saja" ucap Elisa yang masih menangis di samping Sean
Sean pun tersenyum dengan mata yang tertutup karena merasa sangat pening di kepalanya "Aku tidak papah, jangan khawtirkan aku, aku hanya pusing saja" ucap Sean
Elisa yang mendengar itu malah mengeraskan lagi volume tangisanya, dia mengira Sean sudah tidak sadarkan diri dan menggigau
"Bertahanlah, sebentar lagi pasti sampai, anda pasti kuat pak direktur" ucap Elisa
__ADS_1