
Tiara menangis sejadinya sambil terus memanggil nama ayahnya, tapi Sean tidak menghiraukan tangis Tiara, meskipun hatinya tidak tega tapi dia lebih memilih untuk segera melihat Lena dan ibunya yang sudah sadarkan diri, dan entah dari kapan mereka sadar
"Ibu, ibu tidak papah?" tanya Sean sambil melepas lakban yang melilit di tangan dan kakinya dengan sedikit gugup, mana tega Sean melihat ibunya seperti ini
Tapi ibunya belum bisa menjawab karena mulutnya juga di lakban
"Len, apa kamu baik baik saja?" Sean pun juga melepas lilitan lakban di tangan dan kaki Lena yang menangis, mulut Lena juga sama tertutup lakban
Setelah tangan dan kakinya lepas Lena pun langsung saja merangkul Sean yang masih duduk jongkok setelah melepas lilitan di kaki Lena
"Mmmm mm mm" ucap Lena yang merangkul Sean sambil menangis
Sean pun sadar kalau mulut Lena belum di buka "Len buka dulu lakbanmu" ucap Sean
Lena pun melepas pelukannya pada Sean dan melepas lakbanya sendiri, dan kembali memeluk Sean "Kenapa kakak berkelahi di depan Lena?, Lena sangat takut kak Sean Kenapa kenapa" ucap Lena yang semenjak sadar langsung disuguhkan pemandangan Sean yang dipukuli pipah besi oleh Goma tadi
"Kalau kak Sean tidak berkelahi nanti kamu yang kenapa kenapa kan" ucapa Sean
"Terima kasih kak, tapi jangan ulangi lagi, Lena sangat takut" ucap Lena Sambil memeluk erat tubuh Sean itu
"Apa lukamu Sakit Arman?" tanya Kartina, dia bukannya tidak ingin memeluk putranya juga, tapi Lena sudah duluan mnguasai Sean
"Tidak apa Bu, ini tidak sakit" ucap Sean
Lena pun melepas lagi pelukannya dan melihat ke sudut bibir Sean yang terdapat darah yang mulai mengering
"Kak, kamu terluka?, mending kita ke dokter, mungkin banyak lagi luka yang lain di tubuh kakak" ucap Lena
"Tidak perlu Len, hanya ini saja" ucap Sean
"Tapi Lena tadi lihat kak Sean di pukul besi, Lena takut kak Sean ada luka dalam" ucap Lena yang khawatir
"Tidak, itu hanya besi mainan," ucap Sean asal
"Masa?" ucap Lena tidak percaya
Kartina pun melihat ke arah Tiara yang menangis dan tidak beranjak dari sana "Apa kamu tidak kasihan pada gadis itu?" tanya Kartina pada Sean
"Untuk apa kasihan padanya, Ayahnya sudah berbuat seperti ini pada ibu" ucap Kartina
"Ayahnya yang berbuat, bukan dia" ucap Kartina
Sean juga melihat ke Arah tiara, dia tidak tau harus berbuat apa padanya, 'Apa aku harus minta maaf?, tidak mungkin, Ayahnya pantas mendapat itu' pikir Sean "Biarkan saja lah bu" ucap Sean
Tidak lama Agam pun datang, dia sudah berhenti bertarung dengan Aruna karena Aruna juga menghentikan serangannya
saat tau pemimpinnya di terbangkan oleh Sean dari jendela
"Tuan, apa anda baik baik saja?" tanya Agam yang ngeri melihat pertarungan mereka yang luar biasa itu, dia memang tidak menyangka kalau Sean sekuat itu
__ADS_1
"Tentu, jika kamu masih kuat, kamu periksa Goma di bawah, aku akan menyusulmu nanti," ucap Sean
"Baik" ucap Agam pun segera beranjak, Aruna juga mengajak Tiara ikut melihat kondisi Ayah nya di bawah
"Bu, apa kalian sudah kuat berjalan ke bawah, kalau masih pusing, Arman tunggu kalian sampai pulih di sini" ucap Sean
"Tidak terlalu, ibu sudah kuat, sebaiknya kita pergi sekarang" ucap Kartina yang sudah tidak betah berlama lama di sana
"Baiklah"
Merekapun segera beranjak dari Ruangan itu dengan Sean yang di gandeng 2 wanita itu, karena langkah mereka memang masih sedikit gontai karena pengaruh dari obat bius
Sementara anak buah Agam saling membantu untuk pergi dari sana
Merekapun turun dari gedung itu melewati tubuh tubuh yang bergelimpangan di lantai lantai gedung itu
Sean pun akhirnya tiba di luar , diapun melihat kerumunan dari 2 kubu yang masih sanggup berdiri , mereka mengerumuni tubuh Goma yang terkapar lemah disana
Sean pun menyuruh Anak buah Agam untuk mengantar Kartina dan Lena ke mobil duluan
"Bu, ibu duluan saja, ada yang harus aku urus dulu" ucap Sean
"Baiklah, jangan lama lama" ucap Kartina
Sean pun menghampiri kerumunan itu dan semua anggota dari kedua kubu pun langsung memberi jalan pada Sean, mereka berdiri dengan hormat kepada Sean yang datang, mereka takut dan segan kepada Sean karena bisa mengalahkan Goma yang terkenal tidak bisa di lukai ini
Tiara pun langsung menangis histeris melihat Ayahnya di injak Sean seprti itu, dia memegangi kaki Sean dan berusaha menyingkirkannya dari tubuh Ayahnya "Jangan Sean, jangan Sakiti dia lagi aku mohon" ucap Tiara yang menangis sejadinya
Tapi Sean tidak menghiraukannya dan Sean juga mengambil tangan Goma yang terdapat 2 cicin kursani di jarinya, dan Sean mengambil dua buah cincin itu, Sean memegang erat tangan Goma itu, dan dia pun menghantamkan dengkulnya keras ke sendi tangan Goma, dan 'krek' "Aaaaaaaahhh, sakiit" teriak Goma karena merasa ngilu pada sendi tangannya yang di patahkan Sean itu
"Jangaaaaan," ucap Tiara mencoba menahan Sean, namun dia tidak ada kekuatan untuk menahan Sean yang hatinya sudah kalap ini "Jangan menyakitinya lagi, tolong" ucap Tiara
Sean ingin sekali menghabisi Goma saat itu juga, namun dia hanya menghela napasnya, sisi kemanusiaannya masih merasa tidak tega dengan Tiara jika dia melakukanya
"Goma, kau seharusnya memang segera lenyap dari muka bumi ini, tap............."
"Tidaaaaak,, jangan lakukan itu, aku mohon, kau bunuh aku saja, bunuh aku, aku siap menggantikanya" ucap Tiara histeris memotong perkataan Sean yang belum selesai itu
Goma sudah terlihat hampir kehabisan napas karena injakan Sean pada dadanya itu,
"Tapi aku tidak ingin membuat putri mu jadi anak yatim" ucap Sean
Tiara pun bernapas lega mendengar pernyataan itu
Sean pun segera melepaskan injakanya pada Goma yang sudah kesakitan itu, Tiara pun langsung memeluk ayahnya lagi
"Ayah mu ku lepaskan, tapi hukum tidak akan melepaskannya" ucap Sean, dia pun segera pergi dari sana
Sean yakin Goma kali ini bisa di masukan ke penjara dengan mudah, karena sumber kekuatanya kini sudah ada di tangan Sean,
__ADS_1
Sean pun segera menyusul ibunya ke mobil yang terparkir berantakan di depan gerbang
Sean pun melihat ibunya kebingungan memilih mobil, Karena mobil saling terhalang oleh satu sama lain, namun beberapa anak buah Agam segera merapihkanya, dan mobil Sean pun ada jalan untuk keluar
"Bu, naik mobilku saja" ucap Sean
"Ibu naik mobil Agam saja, kamu mending antar Lena, kasian dia" ucap Kartina
"O iya baiklah" ucap Sean
Sean pun mengantar Lena untuk pulang ke rumah kost nya, sementara Kartina kembali ke mansion dengan Agam, dia tidak kembali ke kantor karena sedikit merasa trauma dengan kejadian ini
Tidak lama Sean pun sudah sampai ke rumah kost Lena lagi,
merekapun segera turun dari mobil, sementara Lena masih terlihat sangat syok, bukan karena merasa dia habis di culik, karena dia memang tidak mengingat proses penculikanya,
Tapi yang terus terbayang di pikiran Lena adalah saat dia sadar, dan langsung melihat Sean di pukul benda benda logam, itu membuat hatinya serasa ingin menjerit karena merasa tidak tega
Sean pun mengantar Lena sampai ke teras rumah kost, mereka juga duduk di kursi depan, Lena yang duduk di kursi lain pun terus memperhatikan keadaan Sean sekarang "Kak, apa benar kakak tidak papa?, baju Kaka sobek di beberapa bagian, Lena periksa ya, takutnya ada luka di tubuh kakak itu, bisa infeksi kalau tidak buru buru di tangani" ucap Lena
"Aku tidak papa, tidak perlu khawatir" ucap Sean
"Tidak,,, Lena tidak percaya sebelum Lena memeriksanya sendiri" ucap Lena
Sean pun menghela nafasnya, "Baiklah, kalau tidak percaya, periksa saja di sini" ucap Sean
"Masa di sini, di kamar Lena saja" ucap Lena polos
Sean pun merenung sejenak "Tidak,, disini juga bisa kan?" ucap Sean
"Kalau ada orang lihat gimana? kan Lena malu periksanya" ucap Lena
"Ya sudah, berati tidak usah di periksa" ucap Sean
"Kok gitu?" ucap Lena cemberut
"Iya kan kamu orang, aku juga orang, nanti kamu malu di lihat oleh kamu sendiri, atau di lihatku" ucap Sean
"Iii maksudnya orang lain kak, ya sudah kalau gitu cepat buka bajunya" ucap Lena sedikit kesal
"Baiklah" Sean pun segera membuka kancing kemejanya, dan Sean pun menyingkap kemejanya dan terlihatlah tubuh Sean yang cukup atletis itu
Lena pun sekarang bisa melihat jelas dada bidang Sean dan perutnya yang sixpack, dia jadi deg-degan dan malah jadi gugup sendiri melihat tubuh Sean itu, meskipun dia calon dokter, dia belum sampai ke tahap berinteraksi langsung dengan tubuh pasien, dia baru menggunakan alat peraga dalam prakteknya,
Jadi dia belum benar benar menyiapkan mental untuk memriksa langsung tubuh Sean ini, dia hanya terlalu mengkhawatirkan Sean tadi
Leana pun langsung menutup matanya "Stop Stop, jangan lanjutin di buka nya, , Lena, Lena tidak jadi periksa kak Sean, Lena percaya saja" ucap Lena
"Hah???, aneh kamu, tadi maksa, sekarang melarang," ucap Sean
__ADS_1