Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo

Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo
Bertengkar


__ADS_3

Tidak butuh waktu terlalu lama, mobil pun Sampai di depan gerbang rumah Rania "Terimakasih ya" ucap Rania sambil menatap wajah Sean disampingnya


"Untuk apa?" tanya Sean


"Untuk hari ini!, sudah lama aku tidak pernah merasakan hari seperti ini semenjak aku pindah kesini" ucap Rania dengan mata berkaca kaca


"Iya sama sama" ucap Sean


"Kamu kapan pulang ke Kota J?" tanya Rania


"Entahlah, mungkin beberapa hari lagi" ucap Sean


"Oh, baguslah" ucap Rania


"Aku turun ya, terimakasih sudah antar juga" ucap Rania sambil membuka pintu mobil


"Iya sama sama, eh Ran....... " ucap Sean tertahan


Rania pun menoleh lagi "Ada apa? jangan minta yang macem macem deh" ucap Rania yang berpikir Sean akan minta sesuatu seperti ciuman mesra layaknya pasangan kekasih yang ada di film drakor yang sering dia tonton


"Tidak, aku cuma mau bilang sampai jumpa lagi besok" ucap Sean yang hanya ingin mengatakan itu sambil tersenyum


"Oh, iya sampai jumpa juga, hati hati di jalan" ucap Rania yang sedikit tersipuh, karena pikiranya kemana mana


Rania pun menutup pintu mobil Sean dan masuk kedalam rumah


Sean masih berdiam di sana melihat Rania masuk ke halaman rumanya,


Rania pun melambaykan tangannya ke mobil Sean meskipun Sean tidak terlihat jelas olehnya dan dia pun berbalik untuk masuk


Rania pun sudah di tunggu oleh ibunya di depan pintu rumah "Kamu itu, apa kamu tidak di ajarkan tatakrama oleh papahmu? darimana saja kamu jam segini baru pulang? kerjaan rumah masih numpuk, keluyuran saja terus kerjamu, kamu memang sama saja dengan papahmu itu" omel Ibunda Rania


"Iya mah, maaf, Rania ada urusan sebentar tadi" ucap Rania yang sudah terbiasa dengan keadaan itu


"Ya sudah masuk sana, cuci piring, cucian juga sudah banyak, kalau kamu masih mau tinggal di sini kamu jangan malas" ucap ibunda Rania itu


"Iya bu" ucap Rania merekapun masuk kedalam


Sean yang mendengar ini dari mobil benar benar tidak habis pikir, dia menggelengkan kepalanya "kenapa ada orang tua yang seperti ini, apa Rania benar benar anaknya?" gumam Sean sambil hatinya tidak tega mendengar Rania yang di perlakukan seperti itu

__ADS_1


Sean pun tidak bisa lagi mendengar pembicaraan mereka karena mereka sudah masuk ke rumah, jadi diapun pergi dari halaman rumah ibunda Rania ini, dan kembali kerumah Kartina lagi


Sesampainya di rumah Sean naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya, ambil wudu untuk kemudian solat,


Setelah itu dia kembali ke balkon untuk bersantai, melihat pohon pohon di malam hari dengan lampu lampu taman yang indah dengan secangkir kopi di tananya, dan melihat ikan ikan yang berenang kesana kemari di dalam kolam yang di sertai suara gemercik air, itu membuat jiwanya merasa sangat tenang


Sudah beberapa waktu dia bediam di sana, tiba tiba ada yang mengagetkanya dari belakang "Hayo lagi ngapain, ngelamun saja sendirian" ucap seorang wanita dari belakangnya


Sean pun menoleh, "Intan, kapan kamu kesini? kakak tidak mendengar suara mobilmu di bawah" ucap Sean kaget


"Emang intan gak bawa mobil kak, Intan memeng jalan kaki dari depan, rumah mamah kan tidak jauh dari sini juga" ucap Intan sambil berdiri di samping Sean dan melihat pemandangan taman di malam hari juga


"Iya tapi kenapa kamu keluar malam malam, apa sudah izin keibumu" tanya Sean


"mamah tidak ada, papah tidak ada, kak Ifan juga ga tau pada kemana, Intan di rumah sendirian, jadi kesini saja" ucap Intan


"Ya sudah, tapi kamu bilang dulu ke ibumu, takutnya mereka mencarimu nanti" ucap Sean


"Iya tenang saja, aku kabarin mamah nanti" ucap Intan


"Kak makan yuk, laper nih"


"Ayo, Kakak juga belum makan, tadinya malas kalau harus makan sendirian, kebetulan kamu kesini" ucap Sean


Sean pun langsung mengambil piring dan menganbil makanannya sendiri , begitu juga intan yang di sampingnya, merekapun makan dengan tenang


Tidak lama merekapun sudah menghabiskan makan malam mereka lagi "Ah, sudah kenyang, intan langsung pulang saja ya kak, mamah juga sudah mengirimi intan pesan nih" ucap Intan


"O ya sudah, kakak antar kamu, sekalian biar tau rumah bibi Irna" ucap Sean


"Baiklah ayo" ucap Intan juga langsung beranjak dari kursi


Merekapun keluar dari rumah


"Apa mau pakai mobil?" tanya Sean


"Gak usah lah dekat juga dari sini, hanya melewati 1 rumah dan tinggal belok kiri, sudah deh sampai" ucap Intan


"Oh, baiklah"

__ADS_1


Merekapun berjalan keluar menuju gerbang dengan sesekali terdengar suara tawa intan karena candaan Sean padanya, dan ketika Sean membuka pintu gerbang dia mendapati sesosok wanita berdiri di depan gerabang itu


Wanita ini membawa sebuah tas ransel di tanganya, tapi wajahnya tidak terlihat jelas karena minimnya penerangan, tapi Sean hapal meskipun hanya melihat siluet saja


"Ran, ada apa?" tanya Sean yang yakin kalau itu Rania


"Ku kira aku bisa menenangkan diri di sini, tapi sepertinya kamu sibuk dengan teman wanitamu" ucap Rania berpaling dan akan pergi dari sana


"Tungu tunggu, sebentar Ran" ucap Sean yang langsung menghampirinya dan meraih tanganya yang memegang tas itu


"Lepaskan aku, aku mau pergi," ucap Rania


"Ran Ran tunggu dulu, jangan salah paham, ini tidak...."


"Lepaskan, percuma saja aku kesini, ternyata memang benar tidak ada yang peduli padaku di dunia ini" ucap Rania


"Ran, dia adik sepupu ku, dia putri bibiku apa aku tidak boleh bersama sepupu kj sendiri?"


Rania hanya menangis disana dia tidak menjawab pertanyaan Sean


Sean pun membalikan badan Rania supaya dia melihat ke arahnya


"Ran, apa kamu menangis? ayolah, ini hanya salah paham, jangan seperti ini" ucap Sean yang merasa di curigai


"Kak, intan pulang sendiri saja ya" ucap Intan yang merasa sedikit tidak enak hati juga kalau berada di sana


"Iya hati hati" ucap Sean


Sementara Rania masih saja menangis dengan air mata yang cukup deras mengalir di wajahnya


Seanpun mengambil kedua tanganya "Ran, apa kamu tidak percaya padaku?" tanya Sean


Rania hanya menggelengkan kepalanya tanda bukan itu masalahnya


"Terus kenapa?, kenapa kamu menangis seperti ini?" tanya Sean


"Aku bertengkar dengan ibu dan kakaku" ucap Rania,


Jika sebelumnya Rania hanya bisa bertahan da mengurung diri di kamar dengan situasi seperti ini, tapi kali ini dia merasa ada Sean untuk tempatnya berbagi dan bersandar, jadi dia kesini

__ADS_1


"Begitu kah?, sudah sudah jangan menangis seperti ini, Rania yang ku kenal adalah wanita yang kuat kan?" ucap Sean sambil meraih kepala Rania dan meletakanya di dadanya dan mengusap kepalanya


...~°~...


__ADS_2