
Mereka pun mengendarai mobil di jalanan kota 'J' yang cukup padat di jam jam seperti ini, setelah melajukan mobilnya berapa waktu, mereka pun akhirnya sampai di pintu masuk kantor pusat perusahaan KARTIN Corp, gedung 80 lantai ini cukup tinggi dan besar, karena berdiri di atas tanah seluas 3 hektar lebih
Merekapun masuk melewati palang pintu otomatis pos keamanan perusahaan, penjaga yang di sana pun berdiri dengan hormat menyambut datangnya rombongan mobil, ratusan karyawan juga sudah berdiri memenuhi area luar pintu masuk perusahaan untuk menyambut datangnya ahli waris dari direktur mereka ini, hingga ruangan lobi yang begitu luas pun hampir penuh oleh karyawan yang berantusias ingin menyambut kedatangan Sean di perusahaan ini, dan mereka hanya menyisakan jalan di tengah untuk di lewatinya saja
Mobil Sean pun berhenti lebih ke depan, dan mobil Kartina berhenti tepat di tengah kerumunan karyawan yang memberi jalan untuk mereka masuk ke keperusahaan, Kartina pun segera turun, di ikuti Sean yang juga turun dari mobilnya,
Semua mata tertuju pada pria yang baru saja turun dari mobil BMW putihnya itu, dan sektika Sean pun jadi pembicaraan karyawan karyawan wanita yang kagum dengan sosok Sean itu "Pak Arman tampan ya" "Pak Arman tampan sekali, ya ampun" "Pak Arman keren" "Pak Arman sangat berkarisma ya" ucap beberapa karyawan
Mereka sudah dapat kabar sebelumnya kalau anak dari pemilik sekaligus ahli waris presdir kartina itu bernama Arman, jadi mereka pun memanggil namanya lansung
Sean bergegas kesisi ibunya di ikuti beberapa pengawal berpakaian hitam di sisi Sean dan Kartina, Sean mengangkat tanganya untuk menyapa semua karyawan yang menyambutnya itu,
Sean pun melangkah ke arah lobi dengan di gandeng ibunya, sambutan hangat semua karyawan pun mngiringi di setiap langkah mereka, hingga Sean dan Kartina masuk ke ruang lobi perusahaan pun masih banyak karyawan yang menyambut mereka di sana
Mereka menatap kagum kepada ibu dan anak ini, terutama kepada Sean, semua mata memperhatikan Sean dari ujung kaki hingga ujung rambutnya, tidak ada cacat sedikitpun dari penampilanya sekarang
Hanya ada seorang wanita saja yang sangat jeli memperhatikan pergelangan tangan Sean dari tengah tengah kerumunan itu
"Ya ampun lihat lah, dia tampan sekali kak, hey kak lihat kesana dong itu pak Arman yang nanti akan jadi Presdir baru kita, dari atas sampai bawah pakainya itu barang berkelas semua, tapi sayang jam di tanganya itu sepertinya hanya jam murahan saja , sangat kontras sekali dengan penampilanya ini, hey kak kamu sedang melihat apa di ponselmu? lihatlah Presdir baru kita ini, tampan sekali" ucap wanita itu
Yang di ajak bicara tidak terlalu memperhatikan kedatangan Sean, dan dia pun hanya melirik ke arah Sean sekilas, kebetulan dari tempat Rania sekarang berdiri posisi Sean hanya terlihat dari arah sampingnya saja
"Ya, memang tampan, tapi memangnya kenapa kalau dia tampan? apa ketampanan itu bisa di makan?" ucap Rania acuh tak acuh menjawab wanita di sampingnya, dia tidak memperhatikan dengan sangat jeli wajah Sean itu, jadi dia tidak menyangka kalau Presdir barunya itu adalah Sean yang di kenalnya
Wanita di samping Rania itu adalah adik sepupu Rania, namanya Seli, umurnya hanya beda 2 tahun dengan Rania, dia juga cukup cantik, hanya saja posturnya lebih pendek dari Rania, dan ada beberapa kemiripan wajah di antara mereka ber 2, hanya saja sifatnya jauh berbeda, jika Rania cenderung tenang, Seli bisa di bilang kebalikanya, dia juga adalah asisten Rania di kantor ini
"Ah kak Rania, gak asik ah, ya sudah kalau tidak mau, Presdir tampan itu akan jadi milik Seli nanti" ucap Seli bercanda
__ADS_1
"Ya terserah, ambil saja" ucap Rania, dia sekarang juga memperhatikan jam di tangan Sean dan merasa sedikit familiar, tapi dia tidak terlalu memikirkanya, dia tidak ingat detil jam yang dia berikan kepada Sean waktu itu, dia memang tidak terlalu memperhatikanya
Sean dan Kartina pun langsung berjalan ke arah lift yang khusus diperuntukkan untuk ceo, Sean tidak memperhatikan karyawan karyawan itu satu persatu, karena memang terlalu banyak karyawan yang ada di sana, jadi dia juga tidak menyangka kalau ada Rania di kerumunan itu, Sean dan Kartina pun masuk ke dalam lift
Pengawal tidak mengikuti mereka masuk, tapi ada seorang wanita anggun yang ikut masuk bersama mereka, dan tentu saja itu mengundang tanda tanya dari Sean, dia menoleh ke arahnya yang di samping lain ibunya, tapi dia tidak bertanya
Kartina pun menyadari kalau Sean memperhatikan gadis di sebelahnya ini
"O iya, ibu perkenalkan, dia adalah Sekretaris ibu, namanya Elisa, dia seusia dengan mu, dia juga akan jadi Sekretarismu nanti, tapi ingat jangan naksir, dia sudah punya tunangan" ucap Kartina
Elisa pun hanya mengangguk ke arah Sean
"Oh, iya baik bu," Sean pun menyudahi pandanganya pada gadis cantik berjilbab hijau toska itu
Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di lantai 80, lantai tertinggi di gedung ini, lantai ini tidak sembarang orang bisa kemari, hanya tamu penting dan beberapa petinggi perusahaan yang dapat kemari, dan petugas kebersihan jika di perlukan
Sean juga melihat di depan ruangan itu semuanya adalah kaca, bahkan Sean bisa melihat keluar dari tempat dia berdiri sekarang, kalau lebih dekat lagi mungkin bisa melihat pemandangan gedung gedung di bawah, tapi Sean tidak ada waktu untuk melihat itu
Sean terus mngikuti ibunya menuju sebuah pintu lagi, melewati sebuah meja sekretaris semi lingkaran dari kayu solid dengan sebuah komputer di atas meja dan 1 kursi kantor berwarna merah di tengah meja itu.
Kartina pun membuka pintu yang tidak jauh dari meja semi bundar itu, dan Segera melangkah masuk ke dalam
"Arman, ini adalah ruangan ibu, dan tentunya akan jadi ruanganmu juga, masuklah" ucap Kartina
Gadis berjilbab hijau toska tadi pun masuk ke meja semi lingkaran itu dan duduk di kursinya, dia langsung menyalakan komputer di mejanya itu
Sedangkan Sean masuk keruangan yang ibunya tunjukan, Sean melihat ruanganya cukup besar berdekorasi minimalis , ada 2 sofa panjang untuk 3 orang dengan 2 meja kaca, ada layar LCD besar juga yang menempel di dinding yang bersebrangan dengan sebuah meja kantor persegi minimalis dari kayu solid, dengan satu kursi kantor hitam berbahan kulit di belakangnya
__ADS_1
Dan ada 2 kursi kantor berwarna coklat muda di depan meja itu, di atas meja juga terdapat sebuah layar komputar tipis, keyboard, sebuah lampu meja dan telepon, di belakang kursi hitam itu juga hanya ada jendela kaca ful dari lantai hingga langit langit, dari kursi itu bahkan bisa melihat langsung ke bawah luar kantor
"Itu tempat dudukmu sekarang, duduklah di sana" Kartina menunjuk ke 1 kursi kantor hitam di belakang meja itu
"Baiklah" Sean pun menurut dan duduk di sana
"Bu, menurutku ini cukup menakutkan, apa ibu tidak merasa seperti sedang menguji adrenaline jika duduk di kursi ini?" ucap Sean, dia melihat kaca di belakangnya seakan akan dia bisa saja jatuh ke bawah kalau dia memundurkan kursinya
"Tidak, kaca itu kokoh dan anti peluru, jadi ibu tidak pernah merasakan apa-apa, kalau kamu merasa tidak nyaman, nanti ibu suruh orang untuk mendekor ulang ruangan ini" ucap Kartina yang sekarang duduk di sofa
"Tidak perlu, mungkin Arman hanya belum terbiasa," ucap Sean, dia pun mencoba untuk menyesuaikan dirinya dengan ruangan itu
Tak lama Elisa mengetuk pintu yang tidak tertutup, "Ya Elisa?" ucap Kartina
"Saya membawa beberapa dokumen dan berkas yang mungkin penting untuk di pelajari pak Arman" ucap Elisa
"Oh iya, masuklah, simpan saja di mejanya" ucap Kartina
Elisa pun masuk dan menyimpan dokumen itu di meja Arman "Iya, terimakasih," ucap Sean, Elisa pun kembali keluar
Sean membuka dokumen dokumen itu satu persatu mebacanya dan dia pun menemukan susunan struktur menejmen kantor, dengan beberapa foto petingi petinggi kantor dan jabatan mereka, Sean memperhatikan satu persatu nama nama dan foto nya, mnurut Sean itu penting untuk mengenali bawahan,
Dia terus memlihat susunannya satu persatu, tatapan Sean terhenti di satu jabatan manajer operasional, dengan nama yang tidak asing baginya, Rania Radita S.Mb Sean memperhatikan fotonya, "Memang dia, ternyata dunia ini memang sempit" gumam Sean
"Apa? siapa yang dia ??" tanya Kartina mendengar gumaman Sean yang sebenarnya cukup pelan
"Oh, tidak, hanya seperti mengenal seseorang saja" ucap Sean
__ADS_1
...~°~...