Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo

Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo
Pak Bos


__ADS_3

Randi pun segera melepaskan pelukanya "Iya iya gue tau lu pria sejati, O yah, ayo duduk duduk" ucap Randi


"Wih kak Sean, udah lama tidak ketemu, masih di perban aja kepalanya" ucap Arni, karena terakhir kali dia lihat sean juga di perban di tempat yang sama


"Iya lu heran, lu bilang baik baik saja di telepon kemarin, kenapa lukamu malah nambah dari pada waktu lu pergi," ucap Randi juga mulai sadar kalau mmasih ada beberapa luka kecil di wajahnya


"Iya, jatoh lagi aku kemarin" ucap Sean asal


"Ngomong ngomong lu sudah berhasil jadian belum dengan Arni" bisik Sean


"Sudah dong, berkat lu, makasih ya" ucap Randi juga berbisik


"Hey, kebiasaan kalian berdua, apa memang kalian suka begitu kalau sedang ngobrol, aku suka curiga kalau kalian bisik bisik pasti ngomongin aku ya?" ucap Arni


"Enggak, kamu mh Gr an saja sayang" ucap Randi


"Widih, panggilanya sudah sayang sayangn, ada peningkatan lu lumayan" ucap Sean


"Harus lah, gue gak mau kalah sama lu walaupun lu lebih tampan dari gue, O yah, ngomong ngomong gimana dengan bu manager yang waktu itu, lu ketemu lagi gak sama dia di Kota 'J" ucap Randi


"Ketemu lah, ampir tiap hari malah, emangnya kenapa?" ucap Sean


Sean jadi berfikir 'kalau Rania dulu kemari untuk urusan kerja, berarti supermarket yang besar ini juga masih milik ibu?' gumam Sean di hatinya


"Wah mantap mantap, coba kalo lu bisa dapetin dia, lebih mantap lagi tuh, sudah cantik manager pula, haduh" ucap Randi, dia masih merasa Sean yang sekarang masih Sean yang dulu, dan memang Randi belum terlalu tau kenyataanya


"Tenang saja, aku juga lagi usaha," ucap Sean


Saat mereka sedang asik asik ngobrol tiba tiba dari luar datang Dito, Dito adalah nama pemilik Ruma makan ini


"Pagi pak Dito," Randi pun langsung menyapanya


"Iya pagi juga, bukanya kamu Sean ya? katanya pindah Ke kota J" ucap Dito yang melihat Sean dan menghampiri mereka juga


"Iya pak" jawab Sean


dito pun duduk semeja dengan mereka


"Waduh, ada mobil Sport BMW di depan, bagus punya itu mobil, pengen mobil kayak gitu dari dulu, entah punya siapa itu" ucap Dito,

__ADS_1


Sean hanya tersenyum mendengarnya


"Jadi begini lo Rand, bapak tuh sudah nemu calon pembeli Rumah makan ini, Dan besok harus mulai di Kosongkan ini Rumah makan" ucap pak Dito dengan logat daerah yang kental (medok)


"Apa secepat itu pak, terus saya bagaimana?" ucap Randi


"Ya untuk sementara mungkin kamu pulang dulu, aku juga bingung kalo masalah itu, kalo Arni bisa saya tempatin di rumah makan yang satu lagi


"kita bakalan pisah dong pa, ga bisa gitu dong pa, saya mohon, aku juga butuh kerja" ucap Randi memelas


"gimana ya Rand, bapak ada di situasi sulit sekarang ini, bukanya bapak tidak Kasian padamu, cuma dengan menjual Rumah makan di sini mungkin bapak bisa keluar dari kesulitan" ucap pak Dito


Randi pun menghela napas, "kalau bgitu ya sudahlah terserah bapa," ucap Randi pasrah


"Ya sudah bapak cuman mau kasih tau itu Saja, bapak pergi dulu, besok kemari lagi," Pak dito pun beranjak untuk keluar


Dan Randi pun terlihat murung


"Tunggu dulu sebentar pak," ucap Sean


"Ya Sean, ada apa" tanya pak dito


"O kalau masalah itu bapak mungkin akan nego dulu berapa nawarnya dia, untuk harga penawaranya bapak kasih 300juta dulu" ucap pak dito


"Saya bayar 310 juta pak, saya ingin rumah makan ini, apa bisa?" tawar Sean


"Lo lo lo, memang kamu ada uang segitu Sean" tanya pak Dito kaget karna penawaran sean mningkat bukan menurun


"Ada pak , kalau bapak setuju uangnya saya akan transfer langsung ke bapak" ucap Sean


"Kalo kamu serius dengan penawarnmu itu, bapak juga akan langsung ambil dulu suratnya di mobil, apa kamu serius" ucap pak Dito dia mau lihat anak ini mau so atau mau mempermainkanya,


"Saya serius, berikan saja nomor rekening bapa, saya transper langsung dari phonsel saya" ucap Sean


Meskipun pak dito ragu untuk mempercayai Sean


tapi dia mengambil surat surat bangunan dan tanahnya


"Sean lu apa apaan, lu tau nggak 300 juta itu lumayan, ini bukan 300 ribu, emang lu ada duit segitu" ucap Randi

__ADS_1


"Diem, ini urusan gue, kamu masih ingin kerja di sini dengan Arni tidak?" ucap Sean,


"ya ya mau sih," ucap Randi


"Ya sudah diem kalo gitu" ucap Sean, Sean berpikir apa salahnya jika dia berinvestasi kecil kecilan dulu, itung itung dia belajar punya usaha dari yang kecil dulu, sekaligus bantu teman juga


Pak dito pun kembali dengan surat suratnya, dia juga memberikan nomor rekening nya, dan Sean pun mengirim uangnya melalui Mobile banking dan uangnya pun langsung masuk sesuai nominal yang sesuai dengan perjanjian yang tadi


"Sudah saya kirim uangnya" ucap Sean yang sudah mulai mengenal tehnologi sekarang


'Bagai mana bisa, limit platinum saja cuma 100juta perhari, itu juga sesama, kartu apa yang di miliki anak ini hingga bisa transfer langsung' pikir pak Dito yang tadinya menganggap Sean hanya main main, "iya iya, sudah masuk uangnya" ucap pak dito penuh dengan senyuman


Randi hanya terbengong tidak terlalu paham,


Setelah menandatangani semua surat surat penting Sean pun berjabat tangan dengan pak ditro


"Terimakasih senang berbisnis dengan mu Sean" ucap pak Dito


"Iya sama sama pak," ucap Sean,


pak ditro pun pergi dengan wajah yang senang


Sean sebenarnya mana tau kalau kartunya itu spesial, karna kartunya itu di custom Kartina langsung dari pusat, jadi limit nya beda dari kebanyakan kartu yang beredar, dan tidak semua bisa membuat kartu seperti yang Sean punya, karena harus mencapai kekayaan tertentu untuk membuatnya, sean hanya tau menggunakanya saja


Randi masih tercengang, begitu juga Arni, mereka tidak percaya kalau sean sudah membeli rumah makan ini


"Rand karena sekarang rumah makan ini sudah jadi miliku kurasa harus ada banyak yang di perbaiki di sini, biar pengunjungnya pun tambah nyaman gitu, tolong kamu aturkan untuku yah, kalu perlu apa apa tinggal bilang Saja, dan perlu modal berapa juga tinggal bilang saja, intinya aku percayakan sepenuhnya semuanya padamu," ucap Sean


"Ba baik Sean, eh pak bos" ucap Randi masih tidak percaya


"bus bos bus bos apa lu, ga enak dengernya, o yah sekalian surat surat ini juga kamu yang simpan" ucap Sean


"iya iya pak, eh Sean," Randi yang tadinya biasa pun menjadi segan, Arni juga tidak bicara apa apa hanya terus mentap Sean tampa berkedip,


"Hey biasa saja, jangan sungkan seperti ini, ga asik tau, O iya aku mau cari Lena, sudah lama gak ketemu, soal modal nanti aku transfer" ucap Sean


"Iya, silahkan" ucap Randi yang terus saja sungkan


...~°~...

__ADS_1


__ADS_2