Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo

Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo
Break


__ADS_3

Kartina pun hanya memeberi senyum kepada putranya yang wajahnya merah padam itu, "Iya iya, ibu bercanda, itu karena kalian perempuan yang kebetulan sama sama main kesini, kalau di kasihnya satu orang, yang stunya lagi takutnya sirik kan" ucap Kartina yang bisa menebak apa yang di pikirkan putranya


"Tuh kan, aku bilang pasti ibu bercanda Ran, jangan di anggap serius" ucap Sean ingin mencoba mengembalikan ke adaan


"Iya, aku tau" ucap Rania, meskipun hatinya sadar betul yang di katakan Kartina itu sama seperti yang di pikirkanya "Terima kasih bu untuk set perhiasanya, ini sangat cantik, aku pasti akan memakainya" ucap Rania dengan senyuman yang sedikit di paksakan


Sementara Lena menundukan pandanganya dan tidak berani melihat ke arah Rania lagi, jantungnya berdebar kencang, dia merasa seperti sedang berbuat salah dan kepergok oleh orang lain


"Bu, aku baru ingat kalau ada urusan lagi di luar, jadi aku mau pulang sekarang ya" ucap Rania yang hatinya merasa sedikit tidak enak sekarang


"Kok buru buru Ran, tadinya ibu mau ajak kalian bikin kue, apa yakin tidak mau bantu ibu?" tanya Kartina


"Iya bu maaf, aku benar benar harus mengurus sesuatu" ucap Rania


Rania sangat ingin mengatakan ingin membantu, soalny kapan lagi dia bisa mengakrabkan diri dengan calon mertua, tapi hatinya sedang bimbang sekarang, dan tidak ada mood untuk melakukan Sesuatu


"O ya Sudah, ibu tidak akan memaksa kalau gitu" ucap Kartina, "Len, jangan bilang kalau kamu ada urusan juga, tante akan sangat kecewa lho" ucap Kartina yang memang menyadari kalau gelagat mereka berbeda


"Ti tidak tante, Lena kebetulan tidak ada urusan" ucap Lena, dia tadinnya ingin beralasan sama, tapi karena merasa niatnya ketebak Kartina, Jadi dia tidak jadi beralasan


"Syukur deh kalau gitu, jadi tante ada teman buat bikin kue" ucap Kartina


Rania melihat ke arah Lena dengan perasaan Iri, tapi dia malu untuk menarik kata katanya lagi, "Ya sudah aku pergi ya bu" ucap Rania beranjak dari kursi dan memberi salam pada Kartina


"Iya hati hati" ucap Kartina


"O iya aku akan antar Rania juga bu, aku, aku juga tidak bisa temani ibu bikin kue" ucap Sean yang sedari tadi diam karena takut salah bicara


"Ya sudah, ibu juga memang tidak akan mengajakmu" ucap Kartina


Rania dan Sean pun keluar dari mansion berbarengan, dan mereka pun masuk ke mobil Rania, sementara Lena dan Kartina pergi ke dapur untuk membuat adonan kue, Lena juga tidak merasa terlalu tertekan seperti tadi, karena Sean pergi dengan Rania, dan Lena pun merasa senang karena bisa melakukan sesuatu di hari liburnya ini


Sementara di dalam mobil hatchback berwarna pink ini ada 2 insan yang duduk bersebelah namun tidak ada obrolan yang terdengar dari mereka selama beberapa saat


"Aku, aku minta maaf untuk ibu, dia tidak bermasud berkata seperti itu tadi, kamu jangan marah pada ibu ya" ucap Sean


"Kenapa aku harus marah pada ibumu, yang di katakan bu Kartina tentangmu itu benar kan? yang ada harusnya aku marah padamu" ucap Rania dingin


Sean pun merenung mendengar perkataan Rania ini , "Ya sudah, kalau gitu aku yang minta maaf padamu, aku yang salah, kamu mau memaafkanku kan?" tanya Sean

__ADS_1


"Apa kamu pernah berpikir kalau aku hanya jadi penghalang di antara kamu dan Lena?" ucap Rania masih dengan tampa ekspresi


"Apa maksudmu Ran?, aku aku mnyukaimu, aku tidak pernah menganggapmu sebagai penghalang atau apapun" ucap Sean


"Apa kamu mencintai Lena?" tanya Rania langsung


Sean pun tertegun dengan pertanyaan yang di ajukan Rania ini, dia tidak tau apa yang harus di katakan untuk menenangkan Rania yang seperti sekarang ini


"Ran aku mencintaimu, apa yang kamu bicarakan" ucap Sean


"Apa pertanyaanku kurang jelas?" ucap Rania


Sean pun menarik nafasnya panjang "Tidak,,, aku tidak mencintainya," ucap Sean terpaksa berbohong berharap suasana hati Rania bisa membaik saat ini


"Apa kamu tau,? aku paling tidak suka jika ada orang yang berbohong padaku, tidak terkecuali tunanganku sendiri" ucap Rania


Sean tidak tau harus membujuk apa pada Rania, dia pun hanya di hadapkan denga pilihan untuk jujur "Baiklah aku jujur, aku memang menyukainya, tapi aku sudah memilihmu untuk jadi teman hidupku sekarang, dan itu tidak akan berubah selama kamu masih mengharapkan kita bersama, kecuali.......... kecuali kalau kamu merasa tidak bahagia bersamaku" ucap Sean


Rania pun mengambil napas panjang dan mengeluarkanya, "Kalau begitu aku perlu waktu untuk bertanya pada diriku sendiri apakah aku bahagia atau tidak bersamamu,,,,, jadi untuk sementara,,, kita break saja dulu" ucap Rania sambil menahan Air matanya yang hampir tumpah


Sean pun hanya bisa merenung 'kenapa harus jadi seperti ini, apa aku memang salah?'


"Kalau begitu, turunlah, kita break mulai dari sekarang" ucap Rania yang terus menahan air matanya supaya tidak jatuh di depan Sean, karena ini keputusan yang sudah di buatnya, jadi dia ingin terlihat kuat dengan apapun yang di putuskannya


"Baiklah, hati hati di jalan" ucap Sean,


Sean pun segera turun dari mobil dengan perasaan sedikit sesak di dada nya, dia merasa seperti ada sebuah kerikil yang mengganjal di hatinya, terasa sedikit sakit dan pengap meskipun yang di katakan Rania hanya break hubungan,,


Perlahan Rania pun melajukan mobilnya dengan deraian air mata yang sudah tidak tertahankan lagi


Sean pun hanya bisa melihat bagian belakang mobil Rania yang perlahan menjauh sampai akhirnya dia pun hanya melihat ke arah pintu gerbang yang sudah di tutup kembali


Setelah beberapa Saat diapun kembali ke dalam dan bergegas masuk ke kamarnya, Sean memang belum terlalu kuat jika menghadapi masalah hati, meskipun sekarang dia mempunyai besi kursani, tapi itu tidak serta merta bisa menguatkan hatinya sekarang


Sementara itu Kartina dan Lena masih sibuk di dapur dan sudah membuat beberapa kue, kartina tau Sean tidak jadi untuk mengantar Rania, dia tau dari salah satu pelayan Rumah


Dan setelah beberapa macam kue matang, Kartina dan Lena pun mengetuk pintu kamar Sean untuk mengajaknya mencicipi kue buatan mereka di bawah


"Arman, apa kamu di dalam,?" ucap Kartina dari luar pintu, tapi tidak ada jawaban dari dalam

__ADS_1


"Araman, kue nya sudah jadi, apa kamu mau mencicipinya?" tanya Kartina


"Mungkin kak Arman tidur tante," ucap Lena


"Ya mungkin begitu" ucap Kartina


Merekapun memutuskan beranjak dari sana namun tiba tiba handle pintu kamar Sean terdengar di buka dari dalam, dan Kartina pun menolh kembali ke pintu kamar


"Arman" panggil Kartina lagi


Sean pun membuka pintunya dan dia pun keluar dengan membawa sebuah tas Ransel gunung di punggungnya


"Araman, kamu mau kemana, kenapa kamu bawa tas segala?" ucap Kartina heran


"Arman mau menengok orang tua angakat Arman di desa bu, Arman Rasanya sudah rindu kepada mereka", ucap Sean


"O yah, kenapa mendadak seperti inj, apa kamu ada masalah? atau mereka yang ada masalah?" tanya kartina


"Tidak,,,,, tidak ada masalah bu, hanya tiba tiba teringat mereka saja hari ini" ucap Sean


"Oh ya sudah, tapi kamu tidak ada masalah dengan Rania kan?" tanya Kartina sambil mentap Sean curiga


"Tidak bu, kami baik baik saja" ucap Sean, dia tidak mengatakanya karena dia tidak mau ibunya merasa bersalah Soal perkataanya tadi, Karena memang menurut Sean masalah mereka itu di sebabkan oleh hatinya sendiri, bukan ibunya


"Oh baiklah, Ibu akan sendirian lagi dong di rumah kalo kamu pergi, sepii" ucap Kartina dengan sedikit murung


"Kan ada Lena, Lena juga libur beberapa hari kan?, dia saja yang temani ibu di sini" ucap Sean sambil melirik Lena yang di samping ibunya


"Itu ide bagus" ucap Kartina "Gimana Len, kamu mau tidak menginap di sini beberapa hari? ya anggap saja liburan" ucap Kartina


"Boleh tante, Lena juga Sepi kalau sendirian di rumah kost" ucap Lena


"Oh bagus lah, ya sudah masalah di sini selesai, o yah apa kamu pergi sendirian kesana?" tanya Kartina


"Tidak, aku ajak Regan juga, kebetulan desa kita bertetangga, dan dia kemarin bilang ingin sekali menjenguk ibunya, mumpung kantor libur, jadi sekalian aku ajak dia juga" ucap Sean


"Oh, ya sudah"


Merekapun segera turun ke halaman depan untuk mengantar Sean yang akan berangkat, Sean mengeluarkan mobil jeef wrangler Rubikon berwarna putih dari garasi, kareana kebetulan Sean sepulang dari kota SB kemarin langsung menyuruh Regan untuk membeli sebuah mobil jeep wrangler untuknya, karena dia merasa nyaman mengendarai mobil jeef waktu di kota SB, jadi dia pun ingin memilikinya di sini

__ADS_1


Dan kebetulan Sean belum mencobanya semenjak mobilnya datang, kebetulan juga sekarang dia ingin menenangkan diri di desa, jadi kebetulan mobilnya juga bisa di pakai untuk kesana karena jenis mobil gunung, jadi kebetulanya serba kebetulan sekali


__ADS_2