
Sean pun menyusuri kembali jalana kota SB yang ramai lancar pada hari yang cukup cerah ini, namun wajah Sean masih sedikit suram karena masalah tadi
Merekapun sampai ke depan kantor Rania, tapi mobil yang di pesan Sean sepertinya belum datang, karena dia belum melihat ada tanda tandanya, Sean pun turun dari mobil dan menghubungi Rania untuk memintanya keluar
Tak lama Rania pun muncul dari dalam kantor "Sore sayang" sapa Rania dengan wajah yang cerah
Seanpun hanya tersenyum ke arah Rania yang datang sambil bersandar di samping cup mobil dengan memasukan satu tangan ke sakunya
Rania pun berdiri di depan Sean "kamu kenapa jam Segini kesini,? apa tidak Sibuk di kantor?" tanya Rania sambil senyum senyum
"Iya, kebetulan sudah tidak sibuk" ucap Sean, diapun memperhatikan wajah Rania yang terlihat sumringah
"Tumben wajahmu cerah!" ucap Sean
"Ah masa? kelihatan ya? aku memang lagi senang sih" ucap Rania
"O yah?, memangnya kamu dapat apa?" tanya Sean penasaran, dia yakin kalau mobil yang di pesannya belum di terima oleh Rania
"Tidak dapat apa apa kok," ucap Rania tersenyum, "Kakaku yang pernah kuceritain waktu itu kamu ingat tidak?, dia barusan pulang nangis nangis, gak tau siapa yang buat dia seperti itu" ucap Rania
'Sesimple itu bisa bikin Rania senang? coba kalo bisa tiap hari aku buat kakaknya menangis' pikir Sean sambil tersenyum
"Kenapa kamu senyum senyum juga?" tanya Rania
"Tidak,, mungkin itu karma untuk kakakmu" ucap Sean
"Kupikir juga gitu sih, tuhan memang adil" ucap Rania
Tidak lama sebuah truk towing datang dan menepi dengan alfhard putih 3,5 Q A/T di atasnya, mobil itu berhenti tidak jauh di depan mobil Sean
"Waduh, mobil bagus nih, tapi kenapa minggir di sini?, kan menhalangi jalan masuk kantor!" ucap Rania
Sean pun hanya tersenyum
Tidak lama pengantar mobil inipun keluar dari truk dan langsung menghampiri Sean dan Rania
"Maaf pak, bu, apa benar ini kantornya bu Rania?" tanya pengantar itu
"Iya,, kebetulan memang saya sendiri, ada apa ya pak" tanya Rania
"Oh baiklah, kalau gitu tolong tanda tangan di sini bu" ucap pengantar itu
"Tunggu tunggu, apa maksudnya minta tanda tanganku," Raniapun membaca selembaran kwitansi itu dan memang mobil di atas itu dikirim atas namanya, dan nominal harganya juga tidak sedikit
__ADS_1
"Tunggu tunggu, ini pasti ada kesalahan pak, saya merasa tidak pesan mobil, mending bapak cek lagi alamatnya" ucap Rania bingung
"Sudah benar bu, di sini kantor Hendros properti kan?" tanya pengantar itu
Rania pun terdiam dan menoleh ke arah Sean yang tersenyum "Kamu kenapa cuma senyum senyum, bantuin ke gituh, aku sekarang tidak pegang uang segini" ucap Rania memperlihatkan kwitansi itu pada Sean yang harganya 1,9m
Sean tidak menjawab apapun dia hanya terus tersenyum saja
"Ibu hanya tinggal tanda tangan saja, karena mobil ini sudah lunas pembayaranya dan ibu tinggal menerimanya saja" ucap pengantar itu
"Hah, lunas? mana bisa? siapa yang bayar?" tanya Rania yang bingung
Sean pun mengambil kwitansi dari tangan Rania "Tinggal tanda tangan saja kan, apa Susahnya" Sean menulis tanda tanganya sendiri
"Tunggu tunggu, apaan sih sayang, ini belum jelas pengirimnya" ucap Rania
"Mobil ini aku yang beli untuk kamu, jadi sudah jelaskan?" ucap Sean tersenyum
"Masa?,, jangan bercanda, ini tidak lucu sayang" ucap Rania
"Terserah mau percaya atau tidak!" ucap Sean "Turunin di sini saja pak, mau langsung kita coba " ucap Sean
"Oh iya baik pak" ucap pengantar itu
"Kamu apa apaan sih sayang, kenapa harus beli mobil segala, bukanya kamu ingin meminangku, kenapa harus boros boros, aku tidak butuh mobil, aku hanya butuh kamu?" ucap Rania hampir menangis
"Aku tau,,,, aku juga butuh kamu, jadi terima saja yah, ini dari hasil kerja ku sendiri, tenang saja" ucap Sean
"Aku,,, aku tidak bisa terima ini" ucap Rania yang mulai menitikan air matanya
"Aku juga tidak bisa ambil kembali, jadi ini terserah kamu mau di buang mau di kasih ke orang lain juga terserah kalau kamu tidak butuh" Sean pun pura pura berpikir, "Mmm, munkin kalau ibu kamu akan butuh mobil ini ya, apa aku kasih ke dia saja sebagai hadiah calon menantu" ucap Sean menggoda Rania
"Tidak boleh!, aku tidak setuju, mending kamu jual lagi" ucap Rania
"Betul juga katamu, kasih ke kakakmu saja ya?, dia lebih butuh dari ibumu sepertinya" ucap Sean
"Iiiiiihh sayang, kamu kok gitu sih, jangan di kasih ke dia, aku tidak rela" ucap Rania sambil mencubit pinggir perut Sean
"Aw aw sakit Ran" ucap Sean pura pura kesakitan
"Bukanya kamu tidak butuh?, ya sudah untuk kakamu saja pasti dia butuh kan" ucap Sean terus menggodanya
"Enggak gak boleh, aku tidak rela kamu kasih sesuatu ke dia" ucap Rania sambil memanyunkan bibirnya
__ADS_1
"Jadi kamu butuh atau tidak?, kalau tidak ya sudah kasih ke ........" ucap Sean terhenti
"Iya iya aku butuh, puas,? dasar genit" ucap Rania
Sementara mereka sibuk berdebat, mobilpun kini sudah turun dari truk town, dan terparkir tidak jauh dari Rania, kuncinya pun kini sudah ada di tangan Sean
"Sudah sudah daripada ngambek, mending cobain mobilnya" ucap Sean
"Gak mau" ucap Rania
"Oh ya sudah aku panggil kakak mu kedalam kalau gitu, mungkin dia mau mencobanya" ucap Sean sambil mencoba melangkah ke sisi Rania yang di hadapanya dan pura pura akan kedalam
Rania pun langsung menahanya "Tidak boleh!," ucap Rania dengan nada cukup tinggi "Oke oke aku coba, tapi jangan bahas lagi kakaku" ucap Rania yang tidak rela kalau Sean benar benar menemuinya, Rania takut kalau Sean akan tergoda janda muda,
"Baiklah, ayo aku temenin" ucap Sean sambil memapah Rania ke mobil
Sean pun membuka pintu mobil dan memasukan Rania kemobil itu, dan dia juga Segera berjalan memutar untuk kepintu sebrang dan duduk di kursi sebelah Rania
Rania pun terus memperhatikan setiap inci di bagian interior mobil yang dalamnya cukup luas ini "Nyaman sekali mobil ini, pantas kalau harganya lumayan," ucap Rania
"Ya sudah kita jalan, apa masih nunggu kakamu keluar?" ucap Sean
"Jangan sebut dia lagi" ucap Rania yang perlahan mulai melajukan mobilnya
Mereka pun mulai berkendara beberapa waktu hingga merekapun akhirnya tiba di depan sebuah Bangunan Apartemen yang cukup tinggi, krena memang Sean yang memintanya Rania untuk berkendara ke sana, mereka pun turun dari mobil dan langsung ke lobi apartemen,
"Kita ngapain kesini sih Sayang,?" tanya Rania yang menggandeng tangan Sean dari saat dia masuk
"Ikut saja" ucap Sean
Setelah mengurus beberapa hal di meja resepsionis Merekapun langsung naik lift ke lantai yang sudah di beri tahu Regan sebelumnya, dan merekapun masuk ke pintu unit yang di beri tau Regan juga
Seanpun membuka pintu apartemen itu dengan acces card di tangganya, "Silahkan masuk" ucap Sean
Rania pun malah tertegun di sana, dia menatap Sean dengan perasaan curiga karena Sean membawanya ke apartemen "Tunggu tunggu, apa ini maksudnya kamu akan meminta sesuatu dariku untuk balasan pemberianmu?" tanya Rania
Sean pun menghela napas nya, "Apa yang kamu katakan? ayo masuk saja" ucap Sean
"Kenapa kamu seperti ini?" tanya Rania menatap lurus ke arah mata Sean
Seanpun menyerahkan sertifikat di tanganya beserta acces card itu ke tangan Rania, "Untukmu," ucap Sean, dan diapun melangkah masuk kedalam tampa memperdulikan Rania mengikutinya atau tidak, dia memang penasaran ingin melihat isi dari unit yang di beli Regan ini,
Rania pun memperhatikan Sertipikat dan acces card yang ada di tanganya ini "Untuku?, apa maksudnya apartemen ini untuku juga?" gumam Rania, diapun langsung masuk untuk mengikuti Sean ke dalam
__ADS_1