
Merekapun segera beranjak dari sana, menyusuri jalanan kota J dengan Sean yang duduk sendiri di depan, sedangkan Lena dan Gina duduk di belakang, sepanjang perjalanan Gina terus saja menggoda Lena, hingga tak ayal Lena pun selalu di buat tersipuh dan malu oleh Gina di depan Sean
Sean pun memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah Butik muslim, Sean berpikir kalau Lena itu pribadi yang bersahaja, dan tidak terlalu suka dengan keramayan, jadi dia tidak mengajak Lena ke pusat perbelanjaan atau semacamnya
"Sudah sampai, ayo turun", ucap Sean
"wihh, butik pakaian Len, wah bagus bagus kayaknya modelnya, ayo turun Len" ucap Gina yang melihat beberapa model baju di manekin yang ada di dalam kaca depan butik
Merekapun segera turun dari mobil dan masuk kedalam, keuntungan membawa Gina untuk Sean adalah dia tidak perlu dia langsung yang membujuk Lena untuk ini itu, karena Lena memang sipatnya sedikit pemalu, jadi kehadiran gina meringankan langkah Sean, merekapun langsung di sambut hangat oleh beberapa orang di sana
merekapun langsung mengarah ke deretan koleksi pakaian yang di sediakan di sana, Lena pun berkosultasi tentang pakaian yang cocok untuk di pakai dirinya, dan mencoba beberapa pakaian, hampir Semua yang di coba Lena Sean menyukainya, tapi Sean lebih tertarik dengan baju yang terakhir di pakai Lena
"Gimana yang ini kak" tanya Lena yang memperlihatkan baju yang dikenakanya sekarang
Sean pun terdiam beberapa saat untuk menilai "Bagus Len, cantik di pakai kamu, menurut kak Sean kamu cocok dengan yang ini daripada yang sebelumnya, tapi itu terserah kamu mau yang mana" ucap Sean, menurut Sean pakaian yang di pakai lena sekarang itu cocok untuk Lena, simple, modis, dan anggun
"Kalau menurut kak Sean begitu, ya sudah, Lena ambil yang ini saja, Lena juga Suka, tapi harganya......." ucap Lena tidak melanjutkan perkataanya
"Tidak usah di pikirkan, kak Sean ini kan yang bayar, kalau kamu ada yang suka lagi ambil saja, biar sekalian" ucap Sean, dia pun melihat ke arah Gina yang juga sibuk melihat lihat "Gin, kamu sudah dapat belum?, kalau sudah sekalian hitung dengan yang Lena ya" ucap Sean
"Aku juga boleh kak?, wah kenapa tidak bilang dari tadi, aku mau yang ini kak, boleh tidak?" ucap Gina langsung mengambil dan memperlihatkan baju yang warnanya hampir senada dengan punya Lena, tapi berbeda model
"Iya ambil Saja" ucap Sean
Merekapun segera menyerahkan pakaian mereka ke meja kasir untuk di bayar Sean, dan Sean menyuruh mereka langsung memakainya di tempat, mereka juga mengganti kerudung putih mereka dengan yang berwarna serasi dengan baju yang mereka pilih
__ADS_1
Hasilnya, mereka keluar dengan dadanan modis simpel dan gaya tentunya, Gina malahan terus mengajak Lena Selfie saat di dalam bahkan sampai mereka di luar dan di dalam mobil, mereka pun berangkat dengan keadaan mood yang baik, dan memang itu tujuan Sean
Sean berpikir ingin sekali memperlakukan Rania Seperti dia memperlakukan Lena, tapi apa daya, mereka memang Sangat berbeda jauh dalam urusan keperibadian, Rania itu lebih cenderung mandiri dalam banyak hal, dan bermental kuat, sedangkan Lena lebih ke lembut dan tidak terlalu menonjolkan diri dalam beberapa hal
Sean lebih merasa kalau dia itu laki laki sejati jika di samping Lena, keduanya memang masing masing punya kelebihan tapi Sean juga Laki laki yang senang jika dirinya bisa melakukan banyak hal atau sekedar berbagi pendapat dengan seseorang yang dikasihinya
Tapi di sisi lain dia juga memang mengagumi keperibadian Rania yang bisa melakukan apapun sendiri tampa harus banyak merepotkan orang Lain.
Hari mulai gelap, merekapun segera bergegas ke kawasan perumahan sultan di kota J, dengan segera Gina dan Lena pun di buat kagum karena di suguhkan pemandangan deretan rumah mewah yang mungkin hanya bisa mereka lihat di telvisi sebelumnya
Merekapun dengan Segera masuk ke mansion Kartina yang teramat megah ini, karena Sean juga sudah memberikan arahan untuk membuka gerbang pada penjaga tadi, jadi tidak perlu menunggu lagi untuk masuk
Dan Setelah mobil berhenti beberapa penjaga pun Langsung membukakan pintu mobil untuk orang yang ada di dalamnya
Gina dan Lena pun hanya saling memandang mereka tidak berani turun dari mobil sebelum Sean, mereka seperti sedang berada di sebuah negri dongeng dimana sang pangeran membawa mereka ke istana yang sangat megah
"A aku tidak turun dari mobil boleh tidak kak?" ucap Gina yang nyalinya mulai menciut
"I iya aku juga sama" ucap Lena
"Begitu ya, kalau begitu aku harus angkut ibuku beserta meja makanya ke dalam mobil ini kalau kalian tidak turun?"
ucap Sean bercanda
Merekapun Saling memandang lagi lagi dan Lagi "Ti tidak perlu kak, kami turun Saja kalau begitu" ucap Lena
__ADS_1
Lena tidak Habis pikir sebelumnya kalau kekayaan ibu Sean itu seperti ini, dia hanya membayangkan kalau Sean hanya orang kaya biasa seperti kebanyakan orang, jadi ini di Luar espektasinya
"Kalau begitu Ayo" ucap Sean, dia juga paham perasaan mereka, karna Sean juga sama seperti mereka saat pertama kali melihat mansion ibunya ini
"Gin kamu keluar duluan," ucap Lena
"Tidak, kamu duluan saja, kan kamu yang di undangnya juga bukan aku" ucap Gina
Sean pun berinisiatif mengulurkan tanganya pada Lena "Ayo" ucap Sean
Lena pun menatap wajah Sean Sesaat dan diapun mulai berani memberikan tanganya kemudian dia turun dari mobil perlahan, dan di ikuti Gina yang langsung memutar menghampiri mereka berdua
"Nah gitu, masa tidak turun, ayo masuk" ucap Sean tetap memegang tangan Lena karena Lena juga tidak melepaskanya, perlahan Seanpun menuntun Lena untuk jalan
"Sebentar kak, Lena belum Siap" Lena pun menahan tanganya
Lena sempat membayangkan bagaimana sosok ibunda Sean dalam lamunanya tadi, dia membayangkan sosok yang tegas, mempunyai sanggul rambut yang besar, dan punya tatapan mata yang tajam mampu mengiris apapun yang di lihatnya, bersuara lantang 8 oktaf yang kalau bicara bisa memecahkan gelas dengan suaranya, atau mempunyai ekpresi muka yang dingin sedingin lembah Es, Lena pokonya membayangkan gambaran gambaran orang seperti yang pernah di lihatnya di dalam film
"Kak Sean, Sepertinya Lena mendadak Sakit, kita pulang lagi saja yah" ucap Lena yang sangat merasa gugup jika harus berhadapan dengan nyonya pemilik Istana ini
"Sungguh?, kalau begitu aku panggilkan dokter dulu, aku gendong kamu kedalam dulu bagai mana?" ucap Sean terus menggoda Lena
"Tidak, tidak perlu, aku tidak papah, baiklah kita masuk" ucap Lena, diapun mengambil nafas panjang dan menguatkan jiwa dan raganya untuk menghadapi apaun yang akan terjadi
"Baiklah ayo," Sean pun perlahan melepas tangan Lena dan berbalik untuk memimpin jalan diapun mulai melangkah beberapa langkah kedepan, dan kemudian dia melihat kebelakang lagi karena tidak ada suara yang mengikutinya
__ADS_1
"Ya ampun, kenapa kalian masih di Sana, ayo kita masuk" ucap Sean kembali dan mendorong tubuh mereka pelahan yang masih di depan pintu mobil itu, dan perlahan merekapun melangkah menjauh dari mobil berkat dorongan Sean