Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo

Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo
Melihat Rania


__ADS_3

Sean melanjutkan membaca beberapa dokumen lagi, setelah beberapa waktu, Elisa mengetuk pintu lagi


"Bu, para Direktur dari perusahaan cabang dan anak perusahaan Semuanya sudah hadir, mereka sudah menunggu anda di ruang meeting" ucap Elisa


"Baiklah," ucap Kartina ke Elisa


"Arman kita keruang meeting dulu sekarang" ucap Kartina


"Baik bu" ucap Sean,


Mereka pun keluar dari ruangan direktur dan masuk ke Ruangan meeting yang masih di lantai itu juga, Elisa juga ikut untuk mendampingi Sean dan Kartina


Kartina pun segera memulainya, agenda meeting kali ini hanya untuk perkenalan Sean pada petinggi petinggi perusahaan miliknya


Dan membahas soal penyerahan jabatan untuk kedepanya nanti, meeting pun berjalan lancar dan tidak memakan waktu yang terlalau lama, setelah mereka selesai membahas beberapa poin penting kartina pun langsung membubarkan meeting


Tapi Sean dan kartina tidak langsung pergi dari Ruang meeting itu dan kartima juga menyisakan beberapa direktur bawahannya


"Arman mereka adalah beberapa direktur di kantor ini, pak Abrahah dia direktur personalia, di sampingnya ada pak Bendi dia sebagai direktur umum, dan bu Iren dia adalah direktur keuangan perusahaan, mereka akan memberikan beberapa penjelasan tentang perusahaan secara rinci" ucap Kartina


Sean hanya mengagukan kepalanya,


Mereka pun memberi Senyum pada Sean, mereka pun memulainya dengan pendahuluan dan satu persatu merka mulai menerangkan beberapa hal hal penting tentang perusahaan secara menditail, dan sesekali Kartina juga memberi penjelasan dalam beberapa hal pada Sean


Sean hanya menycoba memperhatikan apa yang mereka jelaskan, dia hanya mengerti secara garis besarnya saja, sedangkan utuk rincianya Sean merasa bingung sendiri, hanya beberapa poin saja yang berhasil di tangkap oleh otaknya dari sekian banyak poin yang di bicarakan


Meski pikiranya merasa ini sangat rumit, tapi Sean mencoba untuk tenang di permukaan, dia tidak menunjukan kalau dia terbebani dan walaupun kapasitas kepalanya sudah hampir terisi penuh, dia tetap mendengarkannya sampai akhir


Setelah beberapa waktu mereka memberikan iformasi tentang perusahaan pada Sean, merekapun pamit dari ruangan meeting, Sean pun mulai bernapas lega, tapi kepalanya seperti tertindih beban yang cukup berat, Sean pun memijat keningnya sendiri


"Kenapa, apa kamu pusing? " tanya Kartina


"Tentu saja, daya pikir Arman masih perlu di tingkatkan, tapi mereka memberi informasi yng sangat rumit, rasanya kepala Arman sangat penuh bu, rasanya seperti mau pecah saja" ucap Sean

__ADS_1


"Ya, kamu benar, harusnya mungkin memang bertahap, nanti saja ibu akan menyuruh mereka sedikit sedikit menjelaskanya padamu" ucap Kartina


"Ya kurasa harusnya memang begitu" Sean merenung sejenak "Bu, sepertinya aku harus mempelajari semuanya dari nol dulu, dengan begitu aku akan sangat mudah mengerti kondisi di perusahaan ini" ucap Sean


"Maksudmu?" tanya Kartina tidak paham dengan maksud Sean


"Maksudku aku harus terjun langsung dan merasakan jadi karyawan rendah dulu untuk lebih mengenal perusahaan ini dari dasarnya, Arman harap ibu tidak keberatan" ucap Sean


"Tidak ,tidak, ibu tidak akan tega membiarkanmu jadi karyawan biasa, ibu mempersiapkan semua ini bertahun tahun hanya untukmu" ucap Kartina


"Justru karena itu bu, Arman tidak ingin menghancurkan kerja keras ibu selama bertahun tahun ini hanya karna Arman yang tidak kompeten, jadi Arman harap ibu mengijinkanya, ini juga untuk masadepan Arman juga kan, jadi Arman harus tau setiap divisi dari perusahaan, dan melihatnya secara langsung, percayalah tidak akan butuh waktu lama, malah dengan begitu menurut Arman akan sangat mempersingkaat waktu Arman untuk memahami perusahaan daripada hanya mendengarkan penjelasan atau mebacanya dari data perusahaan, beri Arman sedikit waktu dulu sampai Arman benar benar siap untuk jadi seorang pemimpin" ucap Sean


"Tapi ....,," Kartina pun menghela nafasnya


"Ya, sudah lah, jika itu memang keputusan mu, ibu hanya bisa menyetujuinya, tapi kamu tidak harus melepas nama direkturmu, ibu akan menganggap kamu hanya melakukan sidak departemen saja" ucap Kartina


"Baik bu, kalau ibu setuju mulai besok Arman akan jadi karyawan biasa dulu, adapun indentitas sebagai direktur, akan lebih baik Arman tidak membawanya, Arman lebih suka sesuatu yang natural, dengan begitu Arman bisa melihat sikap yang reel dari masing masing karyawan kita nantinya" ucap Sean


"Baiklah terserah kamu saja, ibu akan bicara dengan Elisa, dia akan mengatur untuk penempatanmu besok, kamu mau memulainya dari mana?" tanya Kartina


"Baiklah, " ucap Kartina


Setelah itu mereka pun kembali ke ruang presedir dan Sean pun kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan membaca dokumen kantor yang coba dia pahami, Kartina juga masuk ke ruang baca yang ada di ruangan itu juga,


Hinga hari pun beranjak siang, Kartina mengajak Sean keluar untuk makan siang, dan berjalan melewati Elisa yang masih berada di meanya


"Elisa, kamu ikut dengan kami saja untuk makan siang," ucap Kartina


"Iya baik bu," Elisa tidak enak untuk menolak meskipun dia agak canggung dengan adanya Sean , mereka pun turun dan pergi bertiga untuk makan siang dengan naik mobil Kartina


Merekapun makan di lestoran yang dekat dengan kantor, mereka duduk di meja yang sama, kebetulan Sean duduk bersebrangan dengan Elisa, Sean juga sesekali memperhatikan Elisa saat mereka sedang makan, jujur saja Sean memang mengagumi sosok wanita yang menutup rambutnya, hanya saja tak pernah ada kesempatan untuk dekat dengan salah satunya


Kartina pun memperhatikanya, "Arman, kamu makanya cari pacar, jangan lihatin punya orang terus" ucap Kartina tersenyum

__ADS_1


Elisa sadar kalau dirinya yang di bicarakan mereka, dia pun semakin menundukan kepalanya karna merasa canggung


"Apaan si bu, bukanya lihatin, memang kebetulan dia ada d depan Arman kan" Sean juga merasa sangat canggung karena ketahuan diam diam mencuri pandang


Setelah makan merekapun kembali ke kantor, mereka masuk dan berjalan kearah lift, kebetulan lift ceo dan lift karyawan memang bersebelahan, Sean melihat ada 2 karyawan wanita yang sedang mnunggu di luar lift karyawan di sana, Sean merasa tidak asing dengan salah satu dari wanita itu meskipun melihatnya dari belakang


Setelah Sean dan ibunya mendekat, karyawan wanita itu pun menoleh dan berbalik ke arah mereka "Selamat siang bu presdir, selamat siang pak direktur," ucap Rania dan Seli serempak, tapi Rania tidak terlalu memperhatikan Sean secara langsung, dia hanya terfokus ke arah Kartina saja


Sean yang melihat Rania di depan matanya ini ingin sekali menyapanya langsung, tapi Rania seperti tidak mengenalinya, Sean jadi ragu ragu, mungkin karna penampilan Sean ini sedikit berbeda


"Selamat siang juga " jawab Kartina dia pun mulai masuk lift yang sudah terbuka, dia melihat Sean yang masih di sana, dia pun menegurnya


"Arman, sedang apa? ayo masuk" Kartina pun mencoba melihat ke arah yang di pandangan oleh Sean, tapi tidak ada apa apa, Rania juga sudah masuk lift


"Oh, baiklah" Sean pun masuk dan lift pun mulai bergerak ke atas, tak lama mereka pun sampai di lantai atas, mereka keluar dari lif dan kembali ke tempat duduk masing masing


Sean menyalakan komputer lagi dan melihat beberapa data dan laporan yang mungkin dia harus pelajari juga, hinga hari pun beranjak sore kartina yang melihat beberapa dokumen juga mulai merapihkanya,


"Arman, sore ini kamu mau kemana dulu? " tanya Kartina


"Langsung pulang saja paling bu, Arman tidak punya rencana" ucap Sean


"Baiklah, ibu juga tidak ada rencana, di luar juga seperti nya turun hujan" ucap Kartina, mereka pun berberes dan bersiap untuk pulang


Hari pertama kerja, tidak terlalu banyak hal yang Sean urus, jadi tidak ada alasan untuk menuda pulang, mereka pun bergegas turun kebawah


Agam juga sudah menungu di samping mobil BMW putih milik Sean, ajudan kartina juga menunggu di mobil bentley yang ada di belakang mobil Sean, mereka pun bergegas dan masuk kemobil mereka masing masing


Dan Segera Mobil pun mulai melaju, tapi tidak lama mobil terhenti kembali karena ada sebuah mobil berjenis jenis hatchback merah muda yang melintas dari Arah besmen, itu mobil Rania, Sean pun memandangi mobilnnya dan ada 2 wanita di dalam mobil, tentu saja yang jadi perhatian Sean adalah wanita yang ada di belakang kemudi


Hanya sepintas saja Sean mempertikan mobil itu, dan mobil yang di kemudikan Agam pun kembali berjalan di belakang mobil Rania, mereka pun keluar dari perusahaan beriringan, hanya saja mobil mereka terpisah di persimpangan, dan berjalan ke arah yang berbeda,


Mobil Sean menuju ke arah perumahan elit kota 'J', yang tidak semua kalangan bisa memiliki rumah di sana, hanya yang bersetatus konglomerat atau bos besar yang mampu membeli tanah atau rumah di sana,

__ADS_1


Jadi, walau pun ayah Rania kaya, tapi dia belum mampu untuk membeli rumah di perumahan elit yang di diami Kartina sekarang


...~°~...


__ADS_2