
Sean pun di bantu Rania untuk berjalan menuju pintu lift "Maaf, aku jadi merepotkan bu manajer" ucap Sean basa basi
"Tidak papa, jadi kita impas, juga jangan panggil aku ibu,, panggil Rania saja, umurku belum pas juga di panggil ibu ibu kan?," ucap Rania, dia pun terus memapah Sean untuk masuk kedalam lift
Di dalam lift pun Rania tetap memegangi Sean, meskipun Sean bersandar di dinding lift
"Manajer Rania, apa mnurutmu ini impas,?" tanya Sean asal
"Harusnya begitu, memangnya kenapa?" Rania pun menoleh ke arah Sean
"Kurasa ceritanya berbeda, ini kamu yang buat aku seperti ini, aku waktu itu tidak melakukan apa pun padamu" ucap Sean menggodanya
Rania pun tertegun "Iya, memang begitu, jadi menurutmu ini tidak impas ya? bagai mana supaya membuatnya impas?" tanya Rania
Sean pun berpikir sejenak
"Kamu belum mengembalikan jaketku yang waktu itu, jadi sepertinya ini tidak akan bisa impas," ucap Sean menggoda Rania, sebenarnya Sean tidak pernah memikirkan soal jaketnya itu samasekali
"Oh soal itu ya, aku, aku minta maaf, jaketmu tidak sempat aku cuci waktu di kota 'B', aku juga lupa malah memasukannya kedalam koperku, aku tidak ada maksud apa apa, beneran" ucap Rania sambil mengangkat 2 jarinya, takut di kira kalau dia sengaja menyimpannya
Sean pun tersenyum, "Aku bercanda, jangan terlalu di anggap serius" ucap Sean
"Tidak, ini memang aku yang pelupa, jaketmu sudah di cuci di rumahku, O yah sekarang kamu tinggal di mana?, nanti aku akan antarkan ke tempat tinggalmu langsung" ucap Rania
Sean pun bingung menjawab nya, Rania sepertinya tidak akan percaya kalau Sean tinggal di perumahan elit, Sean berpikir akan lucu juga kalau Rania tidak tau dulu soal ibunya, pertemanan mereka tentunya akan sangat natural
"Aku tinggal di daerah sini juga, di rumah sewa" ucap Sean berbohong, Sean berpikir itu ide yang bagus juga jika mengontrak sebuah rumah seperti di kota 'B', mungkin bisa di pakai untuk mengasingkan diri, atau mengobati kerinduan ke rumah sewanya yang sebelumnya
"Oh baik lah, kamu nanti kirimkan saja alamatnya ke nomorku, nanti aku akan antarkan kesana" ucap Rania
"Rania,,, aku tidak serius menanyakan jaketku," ucap Sean
"Tapi aku serius mau mengembalikan jaketmu itu" ucap Rania
Sean pun menghela napas "Baiklah kalo kamu memaksa, nanati ku kirim alamatnya," ucap Sean
Merekapun sampai di lantai 8 tempat Sean kerja, mereka pun keluar dari lift, dan Sean masih tetap berjalan dengan dipegangi Rania, sebenarnya Sean merasa kasihan dengan Rania yang menopang sebagian berat badanya, 'ya sudahlah, gadis ini sepertinya sdikit keras kepala juga' pikir sean
__ADS_1
"O yah, apa yang tadi bersamamu itu pacar mu" tanya Sean penasaran
"Bukan,, dia bukan pacarku, aku tidak punya pacar, masih belum kepikiran, dia teman satu kampusku dulu, dan kebetulan sama sama keterima kerja di sini" ucap Rania
"Sayang sekali" ucap Sean
"Sayang kenapa?" tanya Rania bingung
Sean maksudnya mau melanjutkan kata 'sayang' nya itu seperti gombalan ala ala, tapi pasti garing dan malah merusak suasana
"Tidak, tidak jadi, tadinya mau bercanda" ucap Sean sambil tersenyum
Rania tidak paham apa maksud Sean, tapi dia tidak terlalu memikirkanya juga, mereka pun segera sampai di pintu masuk kantor pemasaran "Kamu kerja di departemen ini?" tanya Rania
"Iya, aku di tempatkan di sini, kenapa memang?" tanya Sean
"Tidak papa, kita cuma beda satu lantai ternyata, kebetulan ruang kerjaku ada di lantai 9" ucap Rania
"Baiklah, kalau nanti aku ingin mencarimu, aku akan mecarinya di lantai sepuluh" ucap Sean
"Ya gak bakal ketemu dong kalau nyarinya di lantai sepuluh, orang aku kerjanya di lantai sembilan,, aneh kamu," Rania tertawa kecil di samping Sean, jarang jarang Rania bisa tertawa seperti itu, sepertinya cuma Sean yang bisa membuat Rania seperti ini di kantor
Sean pu memandangi gadis yang tertawa manis itu dengan tersenyum 'Indah juga tawa gadis ini' pikir Sean,
Dia pun segera membuka pintu ruangan kantor itu, seketika semua mata pun langsung tertuju pada Sean yang datang terlambat ini, tapi bukan itu yang jadi fokus perhatian mereka, semua menatap ke arah gadis yang memegangi Sean di sampingnya
Di kantor ini siapa yang tidak tau Rania, karyawan paling cantik yang ada di perusahaan ini, dan semua yang di ruangan itu pun merasa aneh kalau Rania bisa langsung sedekat itu dengan Sean, padahal dia anak baru di kantor ini, apalagi mereka tadi mendengar tawa gadis ini, jadi sudah di pastikan kalau mereka ini memang cukup akrab
Arda juga kebetulan sedang berada di meja karyawan, jadi dia melihat kalau gadis yang di samping Sean itu adalah Rania, gadis yang ingin dia dekati juga, intinya setiap gadis cantik yang ada di kantor ini pasti dia ingin mengejarnya,
wajah menggelap melihat Sean yang di gandeng Rania itu, ada ketidak senangan di hatinya pada Sean sekarang, 'tadi Elisa, sekarang Rania, benar-benar kurang ajar ni anak baru' pikir Arda, dia seperti mendapat lawan bersaing, kesannya terhadap Sean pun semakin menburuk saja
"Sudah, dari sini aku bisa masuk sendiri" ucap Sean, dia sadar kalau banyak tatapan mata yang iri mengarah padanya
"Ya sudah, hati hati kalau gitu, aku akan keruangan ku juga" ucap Rania
"Iya, terima kasih" ucap Sean, dia pun masuk dan beranjak ke meja kerjanya sambil sesekali berpegangangan pada meja yang di lewatinya
__ADS_1
Dan Rania juga kembali naik lift untuk keruanganya lagi
Sean kembali duduk dan menyalakan komputernya lagi, dia heran tidak ada yang menegurnya walau dia terlambat masuk, mungkin mereka terkesima meliha dia dan Rania bisa sedekat itu,
Setelah duduk di kursinya dia pun langsung mengirim pesan ke Agam agar mencarikannya rumah sewa yang sederhana yang juga tidak jauh dari kantor, dan menyuruhnya untuk segera mengirim alamatnya jika dia sudah mendapatkanya
Arda juga kembali keruangannya tampa menegur Sean, hingga waktu beranjak sore kerjaan Sean juga hampir selesai, dia mulai bisa beradaptasi dengan kerjaanya ini, walau pun baru sehari dia bekerja
'Brak' Arda mengirimkan lagi beberapa berkas ke meja Sean, "Kerjakan ini juga, ini hukuman karena kamu lelet mengerjakan tugas, dan juga karena kamu terlambat masuk, pokonya jangan pulang sebelum ini selesai" ucap Arda
Sean pun menghela napasnya, "Nambah lagi ya?,, baiklah" sebelumnya dia tidak pernah di tekan seperti ini oleh orang lain, dia berpikir mendingan berkelahi jelas dia bisa membalas, kalau ini bagai mana membalasnya
Padahal sangat mudah kalau Sean mau, dia adalah presdir di perusahaan ini, dia punya wewenang untuk melakukan apapun yang dia mau di kantor ini, tapi Sean memang tidak berpikiran seperti itu
Selama itu masih di batas normal , Sean menganggap ini hanya ujian permulaan untuk dirinya yang akan berkembang, jadi dia tidak terlalu berpikir untuk melakukan apapun pada manajer yang menjengkelkan ini
Waktu pun sudah sore, karyawan lain sudah mulai merapikan mejanya dan bersiap pulang, tapi Sean masih fokus di sana dengan komputer dan berkasnya, tiba tiba ponsel Sean pun bergetar tanda panggilan masuk, dan itu adalah panggilan dari Kartina
Sean pun segera menjawab panggilannya, "Hallo bu"
"Hallo, Arman kamu masih di mana, apa sudah turun?"
"Aku masih di meja kerjaku bu, sepertinya aku akan lembur hari ini" ucap Sean
"Apa?, kenapa harus lembur? apa ada yang mempersulitmu di sana, siapa orang nya,? biar ibu tegur dia" ucap Kartina cemas
"Tidak tidak papa, ini memang karena aku yang lambat kerjanya, jadi kerjaanku belum beres sekarang, ini kan tanggung jawabku juga bu" ucap Sean
"Tapi kamu tidak harus lembur juga kan, masih ada besok pagi untuk mengerjakan nya" ucap Kartina
"Bu, aku hanya ingin menjadi sukses dengan bekerja keras ku, bukan karena di manja ibu, bukan kah ibu juga bisa berhasil karena kerja keras dan mengorbankan banyak waktu?, jika hanya bekerja lembur seperti ini, itu belum termasuk apa apa kan?" ucap Sean kukuh
"Baiklah, jika kamu punya pendirian seperti itu, itu bagus, tapi kamu juga harus memperhatikan kesehatan mu, jangan terlalu kecapean juga" ucap Kartina, sebenarnya dia merasa bangga dengan tekad anaknya, tapi yang namanya ibu tetap saja selalu merasa kawatir dengan anaknya
...~°~...
...(jangan lupa like dan dukunganya)...
__ADS_1