
Sean pun merenung sejenak, dia juga tidak tau apa yang akan terjadi jika dia yang ada dalam mobil itu, "Iya, kurasa itu cukup menakutkan, mungkin kita harus lebih meningkatkan keamanan di kantor" ucap Sean
"Ibu pikir juga begitu, Dirto memang tidak ada Kapoknya, ibu harus segera menangkapnya, dia terlalu berbahaya" ucap Kartina
"Iya, hanya saja memang tidak mudah untuk bisa menangkapnya" ucap Sean
"Begitulah, dia memang cukup pintar, orang orang ibu juga sulit untuk menemukan informasinya" ucap Kartina
Ibu dan anak ini membahas masalah itu hampir semalaman, hingga mereka pun akhirnya beristirahat setelah hampir bosan membahasnya
…
Keesokan Paginya, di sebuah ruangan vip rumah Sakit Kota SB seorang gadis cantik berpakaian khas pasien RS dengan perban putih terlilit pada tangan kirinya dan terlihat masih terbaring di ranjang rumah sakit, perlahan dia pun membuka matanya dan langsung menatapi langit langit rumah sakit
Dia pun mencoba mengingngat apa yang terjadi pada dirinya sebelumnya, dan seketika itu pun air matanya mulai berderai setelah dia mengingatnya "Sean, Sean, Seaaaaaaaaan" hanya nama itu yang Rania sebut saat dia bangun
"Rania, kamu sudah sadar? syukurlah sayang" ucap Hendro di sampingnya
Rania pun menoleh ke Hendro, tapi bukan itu wajah yang ingin di lihatnya sekarang, Rania pun tidak menghentikan tangisanya
"Ran, kenapa kamu nangis?, kamu kenapa?" tanya Hendro
"Pah, Sean di mana? apa dia di rumah sakit ini? bagaimana keadaanya? apa dia baik baik saja?" tanya Rania
Hendro pun sedikit bingung, "Sean? Sean siapa sayang?" tanya Hendro
"Sean pacarku, aku ingin melihatnya" ucap Rania
Hendro pun berpikir mungkin Sean itu memang panggilan Rania ke Arman, "Oh pacarmu, dia tadi malam harus kembali ke kota J , dia bilang ada urusan mendesak jadi dia tidak bisa menemanimu di sini, tapi nanti pasti dia akan kembali" ucap Hendro,
Rania pun menggelengkan kepalanya "Papah jangan bohong ke Rania, dia tertembak, mana mugkin dia ada urusan dan kembali seperti yang papah bilang, Rania bukan anak kecil polos yang gampang di bodohi pah" ucap Rania yang tidak mempercayai ucapn ayahnya sendiri ini
Hendro pun bingung dan coba mengingat ingat lagi 'tertembak? pak Arman terlihat baik baik saja kemarin, tidak terlihat kalau dia terluka' pikir Hendro
"Ran, dia baik baik saja, mungkin kamu hanya mimpi buruk?" ucap Hendro
Rania pun melihat ke pergelangan tanganya, "Kalau ini hanya mimpi, Rania tidak akan terluka seperti ini pah" ucap Rania memperlihatkan tanganya sendiri
Hendro tidak tau apa yang terjadi, dia memang tidak mengetahui apa apa, jadi dia bingung harus mengatakan apa pada anaknya ini
"Ran, percaya sama papah, dia baik baik saja, bahkan dia akan melamarmu kalau kamu sudah sembuh dan keluar rumah sakit" ucap Hendro
Rania semakin tidak percaya lagi dengan papahnya, karena dia memang tidak mendengar obrolan Sean dan Ayahnya tadi malam, yang dia tau kalau Ayahnya masih tidak menyukai Sean,
"Aku tidak percaya ayah, ayah hanya menghiburku kan? Rania ingin keluar, Rania akan mencarinya sendiri" ucap Rania sambil mencoba bangkit dari tidurnya
__ADS_1
"Ran Ran, jangan banyak bergerak, kamu sedang sakit" Hendro pun menahan Rania supaya dia tidak bangkit dari tempat tidurnya
"Lepasin pah, apa papah tidak sayang pada Rania?" tanya Rania
"Papah sayang kamu, makanya papah tidak mau kamu banyak bergerak , biar lukamu cepat pulih dan segera pulang dari sini" ucap Hendro
"Bukan itu yang Rania inginkan sekarang, Rania hanya ingin melihat keadaan Sean, jadi biarkan Rania bangun" ucap Rania
Tentu saja Hendro tidak memperbolehkan Rania untuk bangun karena khawatir dengan kondisi Rania yang seperti ini,
"Papah tidak mengijinkanya, jadi kamu diam di sini saja ya, pak Arman pasti akan datang kemari nanti dan melamarmu, jadi kamu tidak perlu menghawatirkan dia," ucap Hendro
'pak Arman? melamar? apa papa akan menjodohkanku?' pikir Rania "Papah benar benar tidak sayang padaku, Rania tidak mau bicara lagi dengan papah" ucap Rania ngambek dan memalingkan mukanya dari Hendro sambil terus menangis
…
Di saat yang bersamaan di bagian bumi yang berbeda namun masih di pualu yang sama, tepatnya di sebuah ruang rawat Rumah sakit umum kota J Sean sedang membantu ibunya untuk Sarapan pagi
"Biasanya ibu yang membantumu sarapan, sekarang jadi terbalik" ucap Kartina
"Masa harus aku terus bu yang terbaring di sini, aku sudah sdikit bosan, tapi kalau bisa di tukar memang lebih baik Arman yang sakit, bukan ibu " ucap Sean
"Tidak, ibu tidak sakit, siapa bilang ibu sakit, hanya luka kecil saja, ini bukan apa apa" ucap Kartina yang memang hanya terbentur dan hanya mengalami lecet Ringan saat mobilnya menabrak pembatas jalan karena memang masih tertahan Airbag
"Iya iya, aku percaya ibu memang wanita kuat, o iya bu apa ibu sekarang punya Rencana untuk menemukan om Dirto?" tanya Sean
"Baguslah kalau ibu sudah ada Rencana, jujur kali ini aku masih belum bisa berpikir tentang rencana apapun, karena masih ada pikiran yang menggangguku saat ini" ucap Sean
"O yah?, masalah apa?, apa masalahnya di kota SB?" tanya Kartina
"Iya, ini masalah Rania" ucap Sean
"Ada apa lagi denganya?" tanya Kartina
Sean menghela napasnya
"Dia kemarin masuk RS juga bu" ucap Sean
"Benarkah, kenapa Rania?" tanya kartina
"Dia terluka oleh dirinya sendiri sih, ibu masih ingat pria yang makan dengan Rania Waktu itu,?" ucap Sean
"Iya ibu ingat, kenapa memang?" kartina
"Dia menculik Rania di kota SB kemarin, dan Rania mencoba melepaskan diri dari Leon dengan cara mengamcam akan melukai dirinya sendiri, karena Rania tau Leon menyukainya, tapi nahas, dia malah benar benar melakukanya," Sean menghela nafasnya dan melanjutkanya lagi
__ADS_1
"Mungkin karena geretakanya tidak di anggap oleh Leon dan dia jadi putus asa hingga tidak bisa mnguasai dirinya, mungkin menurut dia lebih baik terluka daripada harus bersama Leon" ucap Sean
"O yah?, jadi bagaimana ke adanya sekarang?" tanya kartina
"Menurut dokter tidak ada masalah yang terlalu serius dan tidak perlu khawatir juga, tapi tetap saja Arman kepikiran dia terus bu" ucap Sean
"Ya sudah kamu kembali kekota SB saja nanti, masalah mencari om Dirto masih banyak orang orang ibu yang bisa ibu percaya untuk mengurusnya" ucap Kartina
"Baiklah, tapi aku tunggu ibu pulih dulu, nanti baru kesana lagi" ucap Sean
"Tidak papa kamu pergi saja, ibu baik baik saja, kamu bisa melihatnya sendiri kan?" ucap Kartina
"Tidak, ibu harus ikut juga kesana, aku ada Rencana untuk melamar Rania di sana" ucap Sean
"Benarkah? apa itu artinya sebentar lagi kalian akan segera menikah?" ucap Kartina bersemangat
"Ya,, mungkin" ucap Sean
Setelah beberapa waktu membahas tentang lamaran dan tunangan bersama ibunya, Sean juga sudah bertanya banyak perihal pengalaman ibunya tentang lamaran, Sean juga mendapat banyak refrensi dari penglaman ibunya ini agar dia tidak terlalu kaku saat melakukanya nanti, karena ini tentu kali pertamanya Sean akan melamar seorang gadis
…
Keesokan pagi nya Kartina sudah bisa pulang dari Rumah sakit, Sean juga sudah mendapat kabar tentang Rania yang juga mulai membaik di RS Kota SB, dan 1 hari berikutnya Rania juga sudah diperbolehkan meninggalkan RS
Sean juga merasa kalau ibunya sudah cukup pulih karena sudah beristirahat juga di Rumah, jadi Sean hari ini mengajak ibunya untuk pergi ke kota SB untuk melamar Rania,
Hendro juga sudah Sean kasih kabar sebelumnya agar dia mempersiapkan apapun yang di perlukan untuk proses lamaran dengan di bantu oleh Regan juga
"Arman, Apa semuanya sudah di persiapkan?, tidak ada yang lupa kan?" ucap Kartina
"Kurasa sudah, apa aku terlihat tampan memakai baju ini bu?" ucap Sean yang menghadap ke cermin, dia mengenakan setelan kemeja batik dengan corak simple dan pas dengan postur tubuhnya
Kartina menghampiri Sean dan memperhatikan penampilan Sean dari atas sampai bawah, dan kartina pun merapihkan kerah kemeja Sean dengan kedua tanganya "Kamu memang terlihat sangat tampan dan gagah Arman, persis dengan mendiang ayahmu waktu dia masih muda dulu" ucap Kartina dengan matanya yang berkaca kaca
"Iya bu, aku percaya, ayah pasti dulu lebih tampan dariku, makanya dia bisa menaklukan hati ibu" ucap Sean asal
"Kamu ini, jangan bahas itu sekarang, atau ibu akan menangis di sini seharian karena mengingat ayahmu" ucap Kartina
"Oke oke Siap, kita langsung berngkat saja kalau gitu, kalau ibu nangis sekarang aku mungkin akan kerepotan cari balon atau permen kapas untuk menenangkan ibu" ucap Sean menggoda ibunya
"Kamu ini, memangnya ibu ini anak kecil apa, ada ada saja, suadah lah ayo kita berangkat, cincin jangan lupa di bawa" ucap Kartina
"Iya bu" ucap Sean, dia pun melihat kembali cincin berlian yang berkilauan di tanganya itu untuk memastikan kalau cicin itu masih ada di dalam kotak kecil berwarna merah itu,
Sean pun perlahan beranjak dari kamarnya dan berjalan mengikuti langkah ibunya untuk turun kebawah dan kemudian naik ke mobil yang akan mengantar mereka ke bandara
__ADS_1
...~°~...