
Dengan segera Sean dan Goma pun saling berhadapan dan mereka beradu pandangan dari jarak yang tidak begitu jauh, Agam dan anak buahnya pun memandangi Rombongan Goma dan melihat lihat lawan mana yang akan mereka targetkan
"Apa ada kata kata terakhir mu untuk ku sampaikan pada ibumu nanti" tanya Goma
"Ada,,,, katakan pada ibuku kalau aku akan membunuh mu" ucap Sean
"Besar mulut juga kau ya, kita buktikan" ucap Goma
Dia pun langsung melesatkan pukulannya kepada Sean, dan seketika semua anggota pun langsung menyerang satu sama lain
Sean pun menahan semua serangan serangan Goma berkali kali, dan begitu ada kesempatan Sean melesatkan tinju andalanya itu pada tubuh Goma 'Habuk' Goma yang terkena pukulan Sean itu pun melayang beberapa meter menghantam beberapa benda yang ada di ruangan itu,
Goma pun bangkit kembali tampa merasa kesakitan, dia langsung melesat ke arah Sean lagi dan terus menyerang dengan cepat, sampai pada saat Sean lengah Goma pun berhasil menendang Sean sampai tubuh Sean terpelanting cukup jauh,
Memang serangan yang paling kuat dari Goma menurut Sean adalah tendangannya itu, Sean sedikit memuji pada tendangan kakinya ini, dia pun sedikit berhati hati dengan kaki Goma
Sean yang tergeletak karena tendangan Goma itu pun segera bangkit lagi dan kembali menyerang Goma, namun dia belum bisa menenangkan pikirannya itu sehingga dia belum bisa menebak titik lemah Goma
Sean terus menerus melesatkan tinjunya dan tendanganya bertubi tubi mengenai Goma, tapi tidak ada satu pun serangan Sean yang sanggup untuk menghentikan pergerakan Goma
Pertarungan cukup seimbang, mereka saling hantam, saling pukul, saling tendang saling banting, Hinga sampai seisi ruangan ini pun nyaris hancur karena pertempuran dua manusia kuat ini
Hinga hampir Satu jam pertarungan Sean dan Goma terus berlangsung seperti itu, belum ada yang mau mengalah, beberapa senjata yang tergeletak sudah mereka coba gunakan untuk menyerang lawan, tapi memang tubuh mereka sama sama kebal
Dari mulai rantai besi, belati, pipah besi pun sampai bengkok akibat mereka hantamkan pada tubuh masing masing, tidak ada satupun senjata yang membuat cacad tubuh mereka itu,
Sementara di sisi lain semua anggota Agam sudah terkapar di lantai, anggota Goma pun trlihat sudah bergelimpangan di sana , dan yang masih berdiri dan masih sanggup bertarung adalah Agam dan 2 wanita hebat Redbear, yaitu Tiara dan Aruna,
Agam bukanya tidak sanggup mengalahkan keduanya, jika mereka adalah pria, Agam tidak akan segan, Tapi karena mereka perempuan Agam tidak terlalu bernafsu untuk memukul mereka
Goma dan Sean pun Sudah hampir kelelahan karena sengitnya pertarungan mereka itu, ruangan yang tadinya indah pun sudah seperti tempat pembuangan sampah yang di penuhi barang barang yang hancur,
Di sela sela pertarungan mereka dengan bersaman memukul dada masing masing dengan cukup keras, hingga membuat mereka sama sama mundur beberapa langkah,
"Tidak ku sangka kau mampu bertahan sejauh ini, aku benar benar telah salah menilai mu, tawaranku masih berlaku kalau kau ingin menyerah sekarang" ucap Goma sambil berjalan kesamping dengan nafas yang sudah tidak beraturan
Sean juga berjalan ke arah berlainan hingga mereka pun hanya mengelilingi arena tarung saja "Sudah ku bilang aku tidak tertarik sama sekali, aku lebih suka membunuhmu dan memberi tau antek antek mu kalau kau sudah ku kalahkan, bukan kah itu lebih indah?" ucap Sean dengan nafas yang juga tidak beraturan
__ADS_1
"Itu terdengar menarik, tapi apakah kamu masih sanggup bertahan?, Aku tau kamu memperoleh kekuatan dari cicin kursani yang kamu pakai kan, yang ku tau kekuatan cicin itu tidak akan bertahan cukup lama" ucap Goma
Sean pun sedikit kaget mendengar Goma tau masalah cincinnya itu, tapi untungnya di titik jeda ini Sean mampu mengatur pernafasannya, dan diapun bisa sedikit menenangkan pikirannya sejenak dan memfokuskan mata batinya pada Goma untuk mengetahui titik lemah di tubuhnya
Sean juga memperhatikan jari jari tangan Goma yang ternyata dia juga memiliki cincin yang sama denganya, namun dengan warna berbeda, dan bahkan dia memiliki 2 cincin sekaligus
Tapi Sean sudah menetapkan titik lemah Goma itu sekarang, jadi dia berniat untuk mencari celah agar bisa menyerang bagian itu
"Ya, aku tau, tapi kurasa waktunya akan cukup untuk segera mengalahkan mu" ucap Sean yang mulai bisa menajamkan instingnya
Sean pun berhenti dari putaran langkahnya, diapun memejamkan matanya
"Apa kamu bermaksud mengalahkan ku dengan menutup mata, gurauanmu sangat lucu anak muda, membuka mata saja kau belum tentu bisa mengalahkanku" ucap Goma
Diapun segera menyerang Sean lagi dengan cepat, namun ternyata serangannya itu mampu di hindari Sean yang menutup mata
"Hebat, kau menguasai ilmu batin juga ternyata, tapi jangan harap kalau itu bisa mengungguliku" Goma pun mempercepat serangannya namun malah dirinya yang terkena serangan beruntun dari Sean
Tapi Sean masih belum bisa menjangkau titik lemah Goma itu, perlahan ketenangan dirinya pun mulai terganggu lagi oleh derasnya serangan Goma, dan Sean pun mendapat beberapa hantaman di tubuhnya, Sean pun membuka matanya lagi, dia sedikit kesulitan menyerang titik lemah Goma ini, karena titik ini sedikit terhalang
'Buk' "Aaaarggghh" erang Sean yang mundur dan merasakan sakit di bagian wajah yang di pukul Goma itu, Sean pun berhenti sejenak dan menyeka sudut bibirnya, dan ternyata dia berdarah
'Ahahahhhhah' Goma tertawa lepas menyadari kalau kekuatan cincin Sean mulai habis "Kamu sudah tidak kebal lagi sekarang kan?, kurasa harapan mu untuk mengalahkanku itu hanya mimpi sekarang, dan bersiaplah untuk menyambut akhir dari mimpimu itu" ucap Goma
Goma pun segera menyerang Sean lagi dan lagi , namun Sean sekarang lebih berhati hati dari pada sebelumya karena dia sadar kalau tubuhnya tidak kebal lagi sekarang, jika sebelumnya dia selelu menahan serangan goma dan membalas menyerng, sekarang dia lebih banyak menghindar dari serangan Goma yang cukup mematikan itu
Dia mencoba untuk tidak panik, malah dia mencoba menenangkan kembali pikirannya, karena itu satu satunya jalan ketika cincinnya tidak bisa membantunya lagi, ucapan kang Rawing itu yang terlintas di pikiran Sean sekarang
Dia terus menghindari serangan namun tetap fokus pada titik lemah Goma, hingga akhirnya Sean melihat titik lemah Goma itu terbuka saat dia mencoba memukul wajah Sean
Sean pun tidak menyia-nyiakan kesempatan dan memusatkan tenaga di kepalan tangannya dan "Habbuuuuuuk" Sean memukul Goma dengan cepat dan tepat pas di ketiaknya yang menurut Sean itu adalah titik lemah Goma
"Aaaaaaaaarghh" rintih Goma yang terpelanting cukup jauh dan mendarat di tumpukan meja kayu solid yang sudah hancur akibat perkelahian mereka tadi 'Bruuukk' suara tubuh Goma itu jelas terdengar
"Goall" ucap Sean sedikit berteriak
"Ayaaaaaah" teriak Tiara, dia langsung menoleh ke arah Goma meski dia sedang melawan Agam, baru kali ini Tiara mendengar Goma mengerang kesakitan, dia sedikit khawatir meskipun tau ayahnya orang kuat
__ADS_1
Goma pun kini terbaring di tumpukan bekas meja itu dengan cukup mengenaskan, dia merasakan kebas yang luar biasa pada tangan kanannya akibat hantaman keras dari Sean di ketiaknya
"Arrrghh, bagaimana bisa seperti ini?, apa kekuatan ku sudah habis?, tidak ini tidak mungkin, kekuatanku lebih besar darinya" gumam Goma pada dirinya sendiri
Tapi Sean masih bisa mendengar perkataan Goma itu "Tidak perlu terkejut, aku memang selalu bisa mewujudkan mimpiku, jika Anda bilang mengalahkan Goma itu hanya mimpi, itu pun bisa ku wujudkan dengan atau tanpa cicinku ini" ucap Sean sambil mengangkat tinjunya dan meniupnya 'piuuuhhhh!'
"Ti tidak mungkin, aku tidak mungkin bisa di kalahkan olehmu" dia pun langsung bangkit lagi, dan dia mencoba memukul dadanya sendiri dengan keras untuk memastikan kekuatanya, dia pun masih merasakan kekuatanya itu ada, Goma memang tidak mengetahui titik lemahnya sendiri, jadi dia menganggap serangan Sean itu hanya kebetulan menyakiti dirinya
"Jangan senang dulu, kekuatanku masih banyak, kau hanya beruntung saja barusan" ucap Goma
"Beruntung atau tidak, itu bukan alasan ku untuk tidak mengalahkanmu" ucap Sean
Goma pun langsung bergegas lagi ke arah Sean yang hanya berdiri tenang seperti sudah menguasai jalanya pertandingan, Goma pun segera menyerang Sean kembali, namun Serangannya kali ini sedikit kacau karena tangan kanannya masih terasa kebas
Sean pun dengan santai menghindari serangan dari goma itu dengan mata tertutup, dan mencari kesempatan untuk memukul titik lemahnya lagi
'Habuuukkkk' pukulan itu pun kembali terulang di ketiak Goma, namun kali ini Sean mengincar ketiak kirnya, karena keduanya adalah titik lemah Goma
Goma pun kembali terpelanting ke Arah yang sama untuk kedua kalinya "Aaaarghh, bagai mana mungkin kau bisa menyakitiku 2kali" Goma mencoba untuk segera bangkit kembali, namun karena sakit yang teramat sangat pada kedua lengannya dia pun kembali tergeletak di tumpukan kayu itu
Sean pun ingin menghampiri Goma yang sudah terlihat menyedihkan itu, namun ada sebuah tangan yang menangkap langkah kakinya, Sean tidak menoleh ke Tiara karena Sean tau Tiara mendekat bukan untuk menyerangnya
"Sean, Sean, aku mohon tolong ampuni Ayahku" ucap Tiara menangis dan berlutut memegangi kaki Sean, dia tidak tega melihat Ayahnya yang sudah tidak berdaya itu
Sean pun sedikit menarik kakinya itu dan membalikan tubuhnya pada tiara "Apa dia juga memberiku kesempatan memohon, untuk tidak membunuh ayahku? tidak kan!" ucap Sean pada Tiara
Tiara pun langsung bersujud di kaki Sean sambil menangis "Aku mohon, aku rela jadi budak mu, tolong ampuni dia, tinggal dia satu-satunya orang yang menyayangiku di dunia ini, aku mohon" ucap tiara
'Duarrr 'duar' duarrr' tiba tiba ada bunyi ledakan dari belakang Sean yang terdengar, itu adalah suara tembakan Goma yang menemukan senjata api di tumpukan meja yang hancur itu
Namun Sean sudah menyadarinya sedari awal, dan berkat ketajaman instingnya Sean pun mampu mengelak secepat kilat menghindari 3 peluru itu dengan lihai, meskipun dia tidak melihat ke arah tembakan Goma, Sean salto ke belakang, memutar tubuhnya dan langsung menendang pistol di tangan Goma itu Hinga pistol itu terpelanting jauh
Sean berdiri normal dan langsung menendang keras dada Goma hingga dia terlempar ke arah jendela kaca dan langsung menghantam kaca itu hingga pecah, dan
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" tubuh Goma itu pun seketika terjun bebas dari jendela kaca lantai atas ini menuju ke lantai dasar, dan "Gedebuk" Suara tubuh Goma menghantam lantai paving dengan di iringi Suara gemerincing kaca yang berjatuhan dari atas
"Tidaaaaaaaaak, Ayaaaaaaaaaaahhh" triak Tiara yang melihat Ayahnya di tendang keluar oleh Sean
__ADS_1