Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo

Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo
Mata Batin


__ADS_3

Sean pun tidak habis pikir dengan Sri yang sekarang ada di rumah ini, 'kenapa dia membantu di sini, bukan kah ibu bilang dia sudah menikah dengan anak juragan tanah?' pikir Sean, dia memang pernah di kasih kabar oleh ibunya kalau Sri akan menikah 3 bulan lalu


"Sri, bukannya kamu sudah menikah dengan adit, kenapa kamu bantu bantu di sini?" tanya Sean


Sri yang di tanya pun hanya menundukan pandanganya, dan tidak menjawab Sean


"Sri di paksa menikah waktu itu, ibu juga tidak tau kalau dia terpaksa, dia bilang itu karena di desak orang tuanya, ibu hanya kasihan padanya, kata Sri Adit sering memukul dia kalau permintuaanya di tolak Sri, jadi ibu membiarkanya tinggal di sini 1 bualan ini , adit juga tidak berani macam macam di sini, entah apa alasanya, tidak seperti di Rumah neneknya Sri, dia bisa memaksanya untuk pulang meskipun Sri sudah meminta pisah padanya" ucap bu Ika


"Begitu kah?" Sean pun tidak habis pikir dengan nasib teman yang pernah jadi orang spesialnya ini, padahal dulu dia gadis yang sangat baik menurutnya, Sean hanya berpikir 'mungkinkah ini karma untukmu Sri, karena kamu pernah membiarkanku terlunta lunta mencarimu bertahun tahun'


Perjuangan Sean mencari Sri waktu masih remaja memang tidak bisa di anggap enteng, dia pernah mencari Sri ke kota T hingga berminggu minggu lamanya, karena alamat yang di berikan neneknya tidak jelas, dia pernah jadi pengamen, dia pernah kehausan dan kelaparan karena kekurangan bekal


Dan nomor Sri juga tidak aktif waktu itu karena dia sengaja mengganti nomornya untuk menghindari Sean, dia berharap akan menemukan pria yang lebih baik dari Sean di kota T karena di bujuk orang tuanya,


Sean pun sedikit berbincang dengan Sri di ruang tamu, dan Regan juga sesekali ikut bertanya tentang masalah Sri ini, dan setelah hari hampir gelap merekapun segera membubarkan diri, dan Regan juga segera pamit untuk pulang


"Sean kita makan dulu" ucap bu ika


"Iya bu" ucap Sean yang masih duduk dan masih menggendong Aya


"Aya kamu turun ya, kita makan" ucap Sean


"Gak mau, aya mau di gendong Aa telus" ucap Aya yang mulai bisa beradaptasi dengan Sean


"Aya, jangan manja, kakakmu capek di perjalanan seharian, ayo turun!, kamu sudah besar, badan mu juga sudah berat sekarang, jangan minta di gendong kakakmu terus" ucap pak kadi


"Tidak papa, mungkin Aya masih kangen dengan Sean" ucap Sean "Aya,,, Aya th sono pisan ka Aa nya?" tanya Sean karena memang bahasa yang di gunakan Sean di desa adalah bahasa daerahnya


"Apa itu Sono A?" tanya aya yang masih polos, karena memang dia masih jarang mendengar kata kata Kangen atau semacamnya, karena usianya juga masih sekitar 5 tahunan


"Sono itu, artinya Aya sayang sama Aa, dan Aya tidak mau jauh jauh dari Aa" ucap Sean


"Oh, iya Aya Sono sama Aa" ucap Aya


Semua yang ada di ruangan itu pun tersenyum melihat Aya yang sangat manja pada Sean

__ADS_1


"Ya sudah, kamu bawa Aya sekalian makan saja, dia sulit makan akhir akhir ini, siapa tau kalau ada kamu dia bisa makan dengan lahap" ucap bu Ika


"Iya bu" ucap Sean "Aduh, Aya memang berat sekarang, Aya sudah besar ya, tapi Aya masih manja" ucap Sean yang mengendong tubuh kecil aya untuk beranjak dari kursi


Sean pun membawa Aya ke meja makan, dan saat makan pun Aya duduk di pangkuan Sean,, Sean juga sambil menyuapinya, dan benar saja Aya makan sangat lahap karena di suapi Sean


Selesai makan, kebetulan waktu magrib pun tiba, Sean meminta aya turun dari pangkuanya, dan dia pun menurut sekarang,, Sean pun segera bergegas dan bersiap siap pergi ke mesjid bersama pak Kadi


Setelah kembali ke rumah lagi Sean pun berkumpul lagi dengan keluarga angkatnya ini, Sri juga ikut duduk bersama mereka di ruang keluarga dan mengobrol juga bersama mereka, sejenak Sean pun bisa melupakan masalahnya dengan Rania, dan juga masalah dendamnya pada Goma, Sean memang mudah mendapat ketenangan jika dia berada di kampung halamanya


Jadi dia tidak terlalu berlarut larut dalam kegalauan nya itu, setelah hari beranjak malam Sean pun ke halaman depan Rumah untuk menikmati kesunyian malam di pedesan,


Sean berdiri di teras dengan melipat kedua tanganya di dada, dan sedikit menyenderkan tubuhnya ke sudut rumah, dia pun memandangi bulan di langit yang hanya terlihat setengah,


Malam sunyi itu pun membuat hatinya kembali teringat dengan Rania, bahkan Sean bisa menggambarkan wajah Rania ada di bulan itu, selanjutnya wajah Lena juga muncul, dia pun hanya tersenyum, namun ada satu wajah lagi yang tergambar di bulan itu, dan wajah itu adalah wajahnya Tiara, seketika Sean pun menggelengkan kepalanya dan menyingkirkan bayangan wajah Tiara dari bulan itu


"Melamun Saja den" ucap mang ujang tiba tiba


"Eh, kang ujang ngagetin saja, mau kemana kang keluar malam malam?" tanya Sean


"Oh, boleh saya minta kang rokoknya kang" ucap Sean yang sedang banyak pikiran di kepalanya


"Boleh, silahkan den" ucap kang rawing sambil mengulurkan bungkusan Rokok "Aden sedang ada masalah kan?" tanya Kang ujang yang sekarang duduk di pinggir teras rumah


Sean juga mengikuti kang Rawing untuk duduk ,"Kok akang bisa tau?" tanya Sean heran, dia merasa belum cerita kepada siapa siapa tentang masalahnya di sini


"Ya masalah hati itu terkadang memang membingungkan den, ada kalanya hidup itu bisa di arahkan ke satu pilihan saja, namun tidak jarang hati malah di hadapkan dengan beberapa pilihan yang sulit, tapi apa pun yang aden putuskan nantinya, pastikan kalau aden akan tenang untuk menjalaninya" ucap Kang ujang


Seketika Sean pun bingung, karena dirinya bisa di tebak kang ujang seperti ini "Iya kang, memang membingungkan, ngomong ngomong kenapa akang bisa menebak apa yang saya pikirkan?, apa kang ujang bisa membaca pikiran saya?" tanya Sean bingung


"Tidak juga, akang hanya menebaknya dengan kepekaan insting saja" ucap kang ujang


"Benarkah?, tapi tebakan akang itu sangat kena dengan apa yang saya alami sekarang, hebat,, apa kepekaan seperti itu bisa di pelajari kang" tanya Sean penasaran dan merasa sangat tertarik


"Tentu saja bisa, kalau kamu mau, akang akan sedikit ajarkan padamu" ucap kang ujang

__ADS_1


"Sungguh? baiklah, tapi apa kepekaan seperti itu bisa di pakai untuk menebak kelemahan lawan kang? ya misalkan jika saya sedang dalam pertarungan" tanya Sean


"Itu tergantung dari ketajaman dan kepekaan insting dari den Sean, dan juga tergantung bagaimana aden bisa menenangkan hati dan mengosongkan pikiran untuk Fokus ke tujuan, tentunya itu akan sulit di lakukan jika aden benar benar dalam posisi berhadapa dengan musuh" ucap Kang ujang


"Begitu kah?, aku sangat tertarik mempelajarinya kang" ucap Sean


"Ya sudah, buang dulu rokok mu, dan bersila lah menghadap Saya, saya akan membuka sedikit mata batin aden terlebih dahulu" ucap kang Rawing


"Oh, baiklah, tapi apa nanti saya akan bisa melihat penampakan kang?, itu seram juga kang" ucap Sean asal, dia pun segera bersila menghadap kang ujang


"Tidak,,, akang hanya akan membukanya sedikit saja, jadi buang semua keragu raguan aden, dan bulatkan tekad, itu agar saya mudah untuk membuka mata batin aden" ucap kang ujang alias kang Rawing ini, dia memang pernah mendalami ilmu ilmu kebatinan seperti itu


"Baiklah" ucap Sean


Kang ujang pun kini menghadap Ke Sean dan bersiap untuk menyalurkan energi sepiritual kepada Sean "Pejamkan mata, kosongkan pikiran, dan tenangkan hatimu," ucap Kang ujang sambil mencengkram kening Sean dengan telapak tanganya


Dan Kang ujang pun mulai membacakan ayat ayat yang tidak bisa di dengar jelas oleh Sean, Sean pun hanya mencoba terus fokus untuk mengosongkan pikirannya,


Mereka berada dalam posisi itu beberapa saat, dan tidak sampai sepuluh menit kang ujang alias kang Rawing pun mulai melepas tanganya pada kening Sean


"Sudah Selesai, mari kita uji seberapa tajamnya insting dan mata batin Aden," ucap Kang ujang


Sean pun membuka matanya, dan dia belum merasakan perubahan apa pun pada dirinya, hanya memang sekarang pikiran Sean sedang dalam kondisi tenang, dan hatinya juga terasa cukup damai, hingga dia pun mulai menyadari sesuatu, dia mampu menggambarkan situasi yang ada di belakangnya sekarang meskipun dia tidak menolehnya


"Baiklah" ucap Sean


Kang ujang pun beranjak dari duduknya dan dia masuk ke rumah lewat pintu samping, sementara Sean masih di sana merasakan mata batinya yang mulai terbuka


Setelah beberapa saat kang ujang pun kembali dengan beberapa Alat di tanganya "Lepaskan dulu cincin kursani Aden untuk latihan ini, karena akan ada saatnya juga cicin itu tidak akan membantu aden sama sekali" ucap Kang ujang yang sudah bisa menebak kalau musuh yang di maksud Sean itu bukanlah orang yang bisa dengan mudah di kalahkan


"Apa itu artinya efek dari cicin ini akan hilang dengan sendirinya?" tanya Sean


"Bukan seperti itu pengertiannya, cicin itu memang punya kekuatan magis yang hebat, tapi di dunia ini memang tidak ada yang kekal abadi, termasuk kekuatan cicin itu juga yang memiliki batasan tertentu, dan jika cincin itu sudah sampai pada batasannya, maka tidak ubahnya cincin itu hanya seperti cincin biasa yang tidak punya kekuatan, dan butuh waktu pemulihan yang cukup lama untuk mengembalikan kekuatanya lagi."


"Jadi jika suatu saat Aden berada dalam fase seperti itu, Aden harus bisa mengandalkan ketajaman insting Aden untuk bertahan di kemungkinan terburuknya" ucap Kang ujang

__ADS_1


__ADS_2