Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo

Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo
Wanita Nakal


__ADS_3

Bi Irna pun menoleh ke arah Sean untuk meminta pendapatnya "Arman, apa kamu mau mempertimbangkanya? mereka tidak ada kualifikasi untuk bekerja sama dengan real estet jaya ini, mereka hanya perusahaan cabang di kota ini yang tidak terlalu besar " ucap bi Irna


Sean pun merenung sejenak, 'Apa Rania yang menyuruhnya kemari?' pikir Sean, jadi diapun sdikit penasaran dengan maksud kedatangan viona ini


"Iya, saya coba pertimbangkan, biar Saya saja yang urus" ucap Sean


"Oh ya sudah, bibi juga mau keluar, kalau gitu bibi tinggal dulu sebentar" ucap bi Irna sambil berdiri untuk keluar "Silahkan masuk saja" ucap bi Irna


"Terima kasih bu" ucap Viona langsung masuk keruangan


Viona pun merasa senang karena merasa akan ada kesempatan untuk dapat kerjasama, dia meamang tau sdikit bocoran info tentang direktur Arman dari kota J yang akan berkunjung ke sini itu adalah pemimpin kantor induk dari pengembang Real estate baru ini, jadi dia sengaja ingin menemuinya


Yang Viona tidak sangka adalah ternyata direktur Arman itu orang yang masih muda dan tampan tidak seperti perkiraanya, dan juga bisa segampang ini untuk Viona bisa menemui direktur Arman,


Viona memang bukan pertama kalinya mencoba untuk bernegosiasi dengan Pak jaya di sini, tapi tidak pernah ada kesempatan karena pak jaya susah untuk di temui olehnya,


Karena bisa di bilang kalau pak Jaya ini juga orang hebat dan sudah banyak bangunan bangunan komersial yang sukses di kembangkanya di kota ini, dan perumahan baru yang di kelolanya ini juga di peruntukan untuk konsumen golongan menengah ke atas


"Selamat siang pak Arman, Saya Viona dari Hendros properti, terima kasih karena mau mempertimbangkan ajuan saya" ucap Viona cukup bersemangat, dia berdiri dan tersenyum ke arah Sean


"Iya, silahkan duduk" ucap Sean menunjuk kursi di sebrang meja bundar di hadapanya


"Iya pak, terimakasih" Viona pun duduk di sebrang Sofa Sean


Menurut pandangan Sean wajah Viona ini memang terlihat sdikit mirip dengan Rania, sama sama berkulit putih namun tubuhnya lebih pendek dan berisi jika di banding Rania, umurnya sepertinya tidak jauh dari umur Sean, sekitar selisih 1 atau 2 taun lebih tua darinya


"Jadi apa yang bisa ku pertimbangkan dari perusahaan anda ini?" Tanya Sean


"Oh iya, saya membawa data data tentang perusahaan kami, anda bisa melihatnya sendiri" ucap Viona menyerahkan beberapa berkas yang di bawanya ke meja kaca bundar yang ada di depan Sean


Sean pun mengambilnya dan melihat beberapa berkas itu, memang tidak ada yang menonjol dari perusahaan yang di pimpin Rania ini, pembukuan pendapatan pertahunya pun tidak bisa di bilang tinggi, karena perusahaan cabang Hendro ini memang targetnya untuk konsumen menengah kebawah,


Sean sedikit tau kemampuan kerja Rania itu lumayan bagus, dan bisa di bilang kalau Rania itu cukup punya talenta, tapi mungkin karena kurangnya dukungan dari orang sekitarnya jadi performa kerjanya melemah, karena pikir Sean juga bagai mana Rania bisa fokus bekerja kalau pikiranya selalu terganggu oleh masalah ibu dan kakanya sendiri


"Apa kamu di suruh bu Rania kemari?" tanya Sean penasaran


"Apa anda mengenal adik saya? kebetulan sekali saya adalah kakanya" ucap Viona

__ADS_1


"O yah?" ucap Sean pura pura


"Sejujurnya saya tidak di tugaskan oleh bu Rania, kebetulan pak Hendro sendiri yang langsung memberi tugas ini ke saya, papa saya berjanji kalau saya bisa mendapat kerjasama dengan Jaya Real Estate ini, saya punya kesempatan untuk di promosikan menggantikan jabatan adik saya, jadi saya sangat berharap bisa mendapat kerja sama ini pak" ucap Viona jujur


'Untuk kepentingan pribadi ya?, kukira untuk Rania, jangan harap kalau begitu' pikir Sean


"Maaf, sepertinya saya kurang tertarik dengan kerjasama ini, kalau bu Rania yang datang kesini saya mungkin bisa mempertimbakanya lagi" ucap Sean


"Pak Arman, saya mohon sekali untuk kerjasamanya, kalau pak Arman menerima kerjasama ini saya bersedia melakukan apapun untuk bapak, termasuk bila bapak menginginkan saya untuk menemani tidur bapak" ucap Fiona


'menemani tidur? apa maksudnya?' pikir Sean


"Maaf saya memang tidak tertarik kerjasama dengan anda, dan juga saya bukan anak kecil penakut yang perlu di temani saat tidur" ucap Sean polos, dia mana ngerti maksud sesungguhnya dari menemani tidur itu


"Tentu tidak hanya menemani pak, kita boleh main bareng atau apapun, tolong lah pak pertimbangkan lagi" ucap Viona


Sean makin bingung 'Dia anggap aku ini anak kecil atau apa?' pikir Sean


"Sudah Saya bilang saya bukan anak kecil, jadi saya tidak perlu di temani tidur ataupun main bareng" ucap Sean yang mulai bosan dengan obrolan ini


Viona pun kehabisan kata katanya, dan diapun mengingat mobil Maserati hitam yang terparkir di depan, itu adalah mobil yang mengantar Rania tadi pagi "Maksud saya ya....... anda pasti ngerti lah maksudnya,, anda juga pasti pernah main dengan bu Rania kan?, saya juga tidak kalah cantik darinya, dan pasti bisa main lebih baik dari Rania, tolong pertimbangankan lagi pak" ucap Fiona


"Saya benar benar tidak mengerti yang anda bicarakan itu, main apa yang anda maksud?" ucap Sean yang memang polos, dan mana ngerti ucapan ucapan wanita nakal seperti Viona ini,


"Ya, maksud saya main di atas ranjang pak," ucap Fiona sedikit berbisik


Sean pun langsung paham dengan apa yang di katakan viona itu, Seketika darah Sean pun langsung naik ke kepalanya saat mengerti maksud dari Viona yang berbelit belit itu


"Anda anggap Saya apa? apa anda merendahkan martabat saya? saya tidak serendah itu, Apa anda tidak di didik oleh ibu anda, anda murahan sekali, hanya demi kerja sama anda mau menawarkan diri anda? anda sunguh rendah" ucap Sean sdikit mninggikan suaranya


Fiona pun tersentak, dia tidak menyangka kalau jurus pamungkasnya itu malah memancing emosi Sean, hingga diapaun menjatuhkan air mata karena kaget dan merasa dirinya akan gagal "Pak maksud saya tidak seperti itu pak, mohon maaf kalau itu menyinggung bapak, saya salah bicara" ucap Viona


"Saya harap anda pergi sekarang, pintu keluarnya ada di sebelah sana, silahkan!" ucap Sean sambil menunjuk arah pintu,


Jika Viona merendahkan dirinya sendiri itu tidak masalah untuk Sean, tapi tadi dia juga merendahkan martabat Rania, itu yang mebuat kesabarannya habis


"Pak saya mohon maaf pak, ini hanya Salah paham, kita bisa bicarakan ini lagi baik baik kan" ucap Viona yang masih berharap mendapatkan kerjasama itu

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu di bicarakan, mohon anda segera keluar dari Ruangan ini" ucap Sean


"Tapi pak.....


"Keluar" ucap Sean tegas


Fiona pun dengan berat hati bangkit dan berjalan keluar dengan berlinang air mata, dan diapun di sambut ibunya yang menunggu di luar "Sayang kenapa kamu nangis, apa direktur itu berbuat sesuatu padamu?" tanya Retno yang memang diapun mendengar putrinya di bentak oleh Sean


Viona pun hanya menggelengkan kepalanya


"Sudah kita pulang Saja, kita memang tidak di inginkan di sini" ucap Retno sambil memapah putrinya untuk keluar


Para staf yang ada di sana pun keheranan kenapa bos besarnya marah marah, bi Irna yang baru datang dari luar pun juga langsung menghampiri Sean


"Arman ada apa, kenapa kamu membuat wanita itu menangis?" tanya bi irna heran


"Tidak apa apa bi, dia hanya sedikit menyinggung saya barusan" ucap Sean yang moodnya mulai redup "bi, untuk kunjungan kerja hari ini cukupkan saja ya, aku sedikit lelah" ucap Sean


"Ya sudah, kita kembali ke kantor saja setelah ini" ucap bi Irna


"Iya"


Merekapun kembali ke mobil masing masing, dan rombongan mobilpun pun beranjak meninggalkan tempat itu dan kembali ke kantor Kartin.corp lagi di siang hari menjelang sore


Sesampainya di kantor, Regan juga sudah menunggu Sean di lobi "Selamat siang bu" sapa Regan ke bi irna


"Iya Siang juga" jawab bi Irna,


"Siang bos" sapa Regan juga ke Sean


"Iya siang, O yah Regan, apa sudah kamu dapat apa yang ku suruh?" tanya Sean


"Sudah bos mobilnya masih dalam perjalanan ke kantor yang anda sebutkan, dan ini sertifikat apartemen yang anda inginkan bos" ucap Regan, sambil memberikan sebuah sertifikat kepemilikan pada Sean


"Kerja bagus" ucap Sean


"Bi aku keluar dulu, ada hal yang harus aku urus sebentar" ucap Sean

__ADS_1


"Baik, silahkan" ucap bi irna


Sean pun pergi dengan Regan dan di ikuti Agam dan anak buahnya


__ADS_2