
"Ma maaf bos, aku tidak berhasil menjalan kan tugas" ucap si Gondrong yang tersungkur di depan meja bos Codet
"Tidak berguna, kau malah membawanya kemari untuk mengacau di tempatku, harusnya kau mati saja" ucap bos Codet
Pria yang tadi melapor dan 2 wanita tadi berdiri di samping bos Codet, mereka sangat ketakutan melihat senior dan orang kepercayaan bos codet sudah babak belur oleh Sean, mereka hanya diam di sana dengan gemetaran
Tapi bos Codet terlihat masih tetap tenang, dia pun perlahan membuka laci di meja tuanya itu, di dalam laci itu ada sepucuk senjata api rakitan yang dia sembunyikan, dia pun meraihnya dan menahanya di dalam laci itu,
"Baik lah, karena kamu sudah jauh jauh datang kemari, aku tidak mungkin tidak menyambut mu, jadi apa yang kamu inginkan?" ucap bos Codet melihat ke arah Sean dan tetep memegang pistol di dalam laci, dia tidak berniat menunjukanya dulu
Sean juga masih nampak tenang
"Aku hanya ingin tau sebuah nama, jadi ku harap kau tidak membuat ini jadi sulit, jadi katakan lah, siapa yang menyuruhmu menghabisiku? " tanya Sean
"Sepertinya aku akan membuat mu menyesal, sejujurnya aku tidak tau orang yang menyuruhku, yang ku tau dia memiliki banyak uang, dan dia sangat menginginkan nyawamu, aku sangat berminat menukar nyawamu itu dengan uang" ucap bos Codet sembari mengeluarkan senjata apinya itu dan mengangkatnya, dia memang bermaksud menakuti Sean terlebih dulu
Sean yang melihat kalau bos codet memiliki senjata api pun sedikit panik, tapi Sean belum mnunjukan reaksi apapun sekarang 'Gawat, Apa aku akan mati di sini?, menyedihkan sekali' gam batinnya
"Setidaknya kau tidak membuatku penasaran jika aku mati kan, jadi jawablah pertanyaan ku dulu, siapa orang yang mnginginkan nyawaku itu" ucap Sean
"Sudah ku katakan aku tidak tau, jadi kamu bersiaplah mati dengan penasaran" ucap bos Codet yang akan mengarahkan pistolnya ke arah Sean,
Sean mulai panik, dia hanya berpikir untuk menghindari peluru sebisa mungkin andai kata si Codet mnembak
Detik detik terasa mendebarkan bos Codet pun sudah akan meluruskan pistolnya ke arah Sean, tapi tiba tiba dari arah samping belakang Sean ada sebuah pisau tangan terbang melesat tepat ke arah tangan bos codet yang memegang senjata api, dan pisau itupun menancap tepat di pergelangan tangan bos Codet
Seketika bos codet pun menjatuhkan pistolnya ke atas meja dan jatuh kelantai, dia punmengerang kesakitan dan memegang tanganya itu "Aaaaaa,"
__ADS_1
Agam langsung melesat kedepan dan langsung menendang meja tua di depan bos Codet, alhasil meja itu pun menghantam tubuh bos codet hingga dia terjungkal ke kursi dan berahir di lantai dengan tetimpa meja, bos codet pun terus mengerang kesakitan
Pria yang melapor tadi dan 2 wanita itu hanya bergerak mundur ke arah dinding, dia ketakutan, mereka memilih menghindar, dan tidak mempedulikan bos nya yang sudah tergeletak tak berdaya
Sean masih tercengang di kursinya, tidak menyangka kalau Agam punya ke ahlian melempar pisau yang sangat akurat, melakukan itu di butuhkan insting yang tajam dan latihan tentunya, dia menjadi sangat bersemangat untuk terus berlatih dengan Agam
Agam menghampiri bos Codet yang sudah tergeletak dan menginjak telapak tangan bos Codet
"Sudah ku bilang, jangan membuat ini menjadi sulit" ucap Sean berlaga tenang, dia beranjak dari kursinya dan mengampiri bos Codet juga
"Katakan lah sesuatu agar aku bisa pergi dari sini dengan perasaan hati yang baik, itu cara memperlakukan tamu dengan benar kan," ucap Sean
Bos Codet yang kesakitan karna satu tanganya di injak hampir hancur dan satu tangan tertancap pisau pun sekarang membuka mulutnya
"Baik baiklah, aku aku memang tidak tau namanya, tapi aku bisa memberi kontak phonselnya padamu, ku harap kau puas" ucap bos Codet
"Kontaknya ya? Agam, lepaskan dia," ucap Sean dia pun berjonngkok di depan tubuh bos Codet
"Aku tidak bisa, tanganku sakit" ucap bos Codet
"Apa perlu aku memutuskan tanganmu itu supaya kau tidak merasa sakit" ucap Sean menakuti
Bos codet pun sangat takut sekarang, dia pikir pria buruanya ini singa, tapi ternyata lebih kejam daripada itu
"Tidak tidak perlu, aku tulis , aku tulis" bos Codet pun memaksakan tanganya mengambil ponsel Sean dan menulis nomor yang dia ingat, dia pun menyerahkan lagi ponsel Sean
"Ini ini nomornya, lepaskan aku, aku aku tidak akan mengganggumu lagi," ucap bos Codet, dia sangat takut kalau dirinya akan di bunuh atau di mutilasi
__ADS_1
Sean mengambil ponselnya, "Baiklah, aku lumayan puas, kalau nomor ini memuaskan, aku melepaskanmu, kalau tidak, aku akan mencarimu lagi" ucap Sean dia berdiri dan beranjak keluar sembari mengatakan
"Aku Sean Arman, jika ingin mencariku, ingatlah nama itu dengan baik,"
Agam mengambil senjata api yang di lantai kemudian pergi menyusul Sean melewati tubuh tubuh yang tegeletak memenuhi lantai yang sudah tidak berdaya
Begitu keluar anak buah Agam sudah ada di luar, mereka belum lama sampai sini, mereka menganguk ke Agam dan Sean
"Kalian terlambat, olah raga sudah selesai, kita kembali" ucap Agam mereka pun kembali kemobil Mercynya masing masing
Sean sekarang menyerahkan kemudi pada Agam, agar cepat, Sean sudah tidak bersemangat untuk mengemudi lagi, yang dia pikirkan sekarang adalah apa yang akan dia lakukan dengan kontak phonsel yang mungkin milik musuh ibunya ini, jika meneleponya sekarang ada kemungkinan dia akan mengganti nomornya nanti, dan petunjuknya satu satunya ini juga akan hangus, jadi Sean akan menyimpanya dulu
"Agam, apa kamu bisa melacak orang dengan nomor teleponya? " tanya Sean
"Maaf tuan, itu bukan keahlian ku, itu harus di lakukan orang yang mengerti dengan perangkat lunak, aku hanya menguasai perangkat keras" ucap Agam
"Baiklah" ucap Sean, dia juga sadar memang manusia tidak ada yang sempurna , mereka memiliki keahliannya masing masing, termasuk Agam yang dia latih hanya ototnya
Jadi kalau menyuruhnya untuk menggunakan otak itu bukanlah ahlinya, dia hanya tau memukul, andai kejadian tadi menimpa Agam dan ibunya, mungkin Agam hanya akan memukuli si Gondrong habis habisan, dan tak akan berpikir mencari sampai ke akar nya,, tentunya tidak akan menemukan petunjuk apa pun
Mereka pun melajukan mobil beririrngan dengan BMW i8 putih yang memimpin di depan, dan di ikuti 2 mobil mercy hitam di belakang
Selang beberapa waktu Sean pun tiba di kediaman ibunya, Kartina sudah dapat laporan kalau Agam memanggil bantuan, jadi dia sangat cemas, dia terus mundar mandir di ruang tamu mewahnya itu dengan perasaan tidak tenang
Sekarang hari sudah gelap, dan Sean pergi dari pagi, kemudian Agam memanggil bantuan, bagai mana Kartina tidak mencemaskan putranya ini, dia sangat takut ada apa apa dengan putranya
Tidak berapa lama Sean membuka pintu, dan ketika dia masuk kartina langsung menghampiri Sean dan langsung memeluknya erat "Arman, kamu tidak papa nak, apa ada yang berbuat sesuatu padamu, ah tanganmu berdarah" kartina sangat panik karna ada bercak darah di punggung tangan Sean
__ADS_1
"Tidak bu, aku tidak papa, ini hanya darah orang mimisan saja," ucap Sean sambil tersenyum ke arah ibunya, Sean tidak ingin membuat ibunya ini cemas, dia juga tidak bohong, itu memang darah dari hidung preman pereman yang Sean pukul
...~°~...