Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo

Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo
Gengsi


__ADS_3

Sean pun langsung menjabat tangan Sandri itu


"Oh, aku Sean, mohon bimbinganya, aku masih baru di bidang ini dan masih harus banyak belajar" ucap Sean


"Baiklah Sean, kamu sepertinya belum terlalu paham mengerjakan ini, tenang saja aku akan kasih contoh sedikit, sisanya kamu kerjakan sendiri, aku juga masih banyak yang harus di kerjakan" ucap Sandri


"Iya terimakasih banyak" ucap Sean, dia pun di bimbing Sandri untuk mengerjakan tugas pertamanya itu, Seperti yang sudah sudah, Sean memang sangat cepat untuk mempelajari sesuatu, jadi dia pun juga dengan cepat memahaminya


Sean pun akhirnya mengerjakan pekerjaannya sendiri,, dia menyelesaikan tugas tugasnya nya dengan sedikit lambat karena dia masih belajar,, tidak terasa waktu istirahat pun sudah hampir tiba, dan baru beberapa berkas yang bisa berhasil Sean kerja kan,


Tiba tiba Arda pun menggebrak meja Sean, 'brak' "Kenapa kamu belum menyerahkan berkasnya keruangan saya, bukan kah sudah kubilang jangan telat" ucap Arda yang melihat berkasnya masih menumpuk di sana, hanya sekitar seperempatnya saja yang baru di kerjakan Sean


Sean hanya kaget saja tiba tiba mejanya di gebrak seperti itu, tapi tentunya dia tidak merasa takut dengan Arda,


"Saya masih baru, belum terbiasa mengerjakan tugas sebanyak ini" ucap Sean acuh


"Aahhh, Alasan saja kamu, saya tidakk mau tau, pokonya paling lambat sore ini sudah harus kamu selesaikan semuanya, kalau perlu kamu lembur sekalian" ucap Arda


Sean pun tidak berniat membantah Arda, karena dia berpikir ini juga termasuk belajar untuk bertanggung jawab pada pekerjaannya "Baik, saya akan usahakan" ucap Sean


Arda pun segera meninggalkan meja Sean dan keluar dari ruangan itu


Karena sekarang jam makan siang sudah tiba, Sean juga beranjak dari mejanya dan bergegas untuk ke lantai atas, dia bermaksud untuk menemui ibunya,


Tapi Sandri menghampirinya dari belakang, "Mau makan siang ya?, bareng ya, aku tidak ada teman," ucap Sandri


"Iya boleh" ucap Sean tidak menolaknya


Merekapun segera bergegas ke lift karyawan, dan saat pintu lift terbuka merekapun langsung masuk, kebetulan di dalam lift juga ada beberapa orang yang naik, Sean pun sedikit meperhatikan beberapa orang yang naik lift itu,


Dan Sean pun melihat ada seseorang yang tidak asing lagi baginya, dia adalah Rania, dia berdampingan dengan seorang pria yang sedang mengajaknya bicara


Sean terus memperhatikan Rania yang acuh tak acuh mengobrol dengan pria di sebelah nya itu, Rania belum sadar kalau ada Sean di dalam lift itu, karean dia tidak menoleh pada Sean, hingga akhirnya dia pun menoleh ke arah Sean setelah lift hampir sampai ke lantai bawah


Rania sampai tidak berkedip menatap Sean seperti melihat hantu saja, dia tidak menyangka dan bingung kenapa bisa melihat Sean di perusahaan ini, tapi dia tidak juga hanya diam dan tidak menyapa Sean


Hingga akhirnya pintu lift pun terbuka, Sean sengaja keluar belakangan, karena dia berniat mengikuti Rania yang berjalan bersama prianya, Seli juga ada di samping Rania


"Kamu suka ya?, dia itu bu Rania, dia memang karyawan tercantik di perusahaan ini, kalu kamu naksir dia, itu artinya kamu harus siap bersaing dengan banyak pria di perusahaan ini, termasuk Manajer muda di sampingnya itu, aku dengar dengar bu Rania juga belum pernah punya pacar sebelumnya" ucap Sandri dengan suara pelan


"Begitukah?, sepertinya dia primadonanya di sini" ucap Sean juga dengan suara pelan


"Bisa di bilang begitu,, aku juga sangat mengaguminya, tapi karyawan seperti kita mana mungkin di liriknya, dia juga menjabat sebagai Manajer di perusahaan, jadi sepertinya sangat mustahil untuku bisa bertegur sapa denganya," ucap Sandri


Rania pun berjalan ke arah luar karena dia memang selalu makan di restoran luar, sedangkan Sean berjalan ke arah kantin kantor bersama Sandri


Rania pun menoleh sebentar ke arah Sean yang berlainan arah dengannya itu, dan kemudian di melanjutkan jalanya lagi

__ADS_1


Sean juga tidak terlalu memikirkanya, dia pun segera sampai di area kantin, mereka langsung memesan makanan dan membawanya ke salah satu meja di sana, mereka pun segera menyantap makanan masing masing


Setelah beberapa saat mereka pun sudah menghabiskan makanan mereka lagi


"O ya, aku tidak punya teman di sini, karena kebanyakan orang hanya suka membuliku, apa kamu mau jadi temanku" tanya Sandri yang baru selesai makan


"Tentu saja," ucap Sean,


Tiba tiba ponsel Sean pun bergetar, dan dia segera melihatnya , ternyata ada sebuah pesan yang masuk dari Rania ["Jika yang tadi itu kamu, temui aku di lorong dekat pintu lift"] tulis Rania


Sean pun hanya membalasnya dengan ["ya"]


Dan dia pun lansung beranjak dari kantin ke tempat yang di sebut kan Rania itu, Sandri juga mengikutinya,


mereka pun segera tiba di depan area lift yang kebetulan masih terbuka


"San, kamu duluan saja, aku ada urusan dulu sebentar," ucap Sean


"Kamu yakin, lift bakalan lama untuk turunnya lagi, nanti kamu terlambat masuk," ucap Sandri


"Iya tidak papa, aku hurus urus dulu sesuatu" ucap Sean


"Baiklah, aku duluan kalau gitu" ucap Sandri


Sean pun melewati area lift itu dan terus berjalan kedepannya, sedangkan Sandri langsung masuk lift, dan sekarang juga sudah tidak ada orang lagi di area lift itu, karena mungkin karyawan lain sudah naik semua, karena memang jam istirahat juga hampir habis,


Jadi Sean pun langsung menghampiri Rania yang duduk sendiri di kursi besi metal di sana,


Rania juga menatap ke arah datangnya Sean, dan dia pun segera berdiri, hingga mereka pun kini saling berhadapan


"Apa manajer Rania mencariku? " tanya Sean


"Sean, kenapa kamu ada di perusahaan ini, apa kamu mengikutiku sampai kemari,?" tanya Rania


"Tidak, aku tidak mengikutimu, hanya kebetulan saja ada yang mengajaku kerja di sini, aku sama sekali tidak tau kalau kamu juga kerja di sini, jadi ini sangat kebetulan sekali, mungkin kita ini ......" Sean tidak melanjutkan perkataannya itu


Rania pun bisa menebak apa kata yang akan di ucapkan Sean selanjutnya, jadi dia pun melotot ke arah Sean "Jangan bercanda aku bertanya serius, kamu kerja di tempat makan sebelumnya, jadi mana mungkin ada hubungan denga orang di Perusahaan ini, kalau memang benar kamu di ajak seseorang kesini, siapa nama orangnya? aku pasti mengenalnya, jangan membohongiku" ucap Rania


Sean pun tidak ada pilihan lain selain mengatakannya,


"Aku di ajak......" ucapan Sean terhenti karena melihat Rania membelalakan matanya ke arah belakang Sean dengan ekspresi kaget, Rani pun langsung berjalan ke arah belakang Sean,


Karena Sean merasa penasaran dia juga langsung membalikan badannya, dan ternyata ada ibunya yang berdiri di depan lift sana, dan Kartina sedang memperhatikan ke arah mereka berdua sekarang


Rania pun berjalan dan segera menghampiri Kartina, dan Sean juga mengikutinya di belakang


"Bu direktur, selamat siang, maaf kami masih ada di sini" ucap Rania tersenyum canggung

__ADS_1


"Siang juga Rania" Kartina balas menyapa


Rania pun berbisik ke arah Sean "Sean, sapa dia, dia direktur utama di perusahaan ini!" ucap Rania dengan suara yang sangat pelan


Meskipun sekarang Sean berada di samping Rania, tapi dia tidak bisa mendengar jelas perkataan Rania itu


"Apa yang kamu ucapkan?" tanya Sean juga berbisik


"Sapa dia!!" Rania berbisik lagi tampa melirik


"Apa??" Sean pun lebih mendekatkan telinganya lagi ke arah Rania


Tapi Rania malah replek menginjak sepatu Sean dengan heelsnya dengan gemas,


"Aww aw" seketika itu Sean pun langsung meringis kesakitan


"Maaf bu direktur, dia karyawan baru di sini, dia teman... eh bukan saya tidak kenal dia, dia belum tau siapa anda dan saya akan meberi taunya nanti, tolong jangan hukum dia" ucap Rania dengan senyuman yang dipaksakan, dia merasa canggung juga karena kepergok sedang berduaan di jam kantor


Sementara Sean jongkok dan memegangi kakinya yang sakit,


Kartina yang melihat Sean kesakitan pun merasa khawatir dengannya, dia bermaksud untuk menghampiri dan menanyakan ke adaanya, tapi Sean malah meletakan telunjuknya di depan mulutnya, dan melambaikan tanganya sesekali ke arah Kartina, dia bermaksud melarang ibunya untuk membantunya,


Rania tidak memperhatikan gerakan Sean iru, dia hanya fokus melihat Kartina di depannya


Kartina paham apa maksud dari putranya itu, Sean memang tidak ingin Kartina membantunya sekarang, mungkin anaknya tidak ingin terlihat lemah di hadapan seorang gadis, jadi menurut nya itu berhubungan erat dengan yang namanya gengsi


"Baiklah tidak papa, ini sudah waktunya masuk kerja lagi , segera kembali ke ruangan masing masing, dan jangan ulangi lagi" ucap Kartina, dia pun segera masuk kedalam lift ceo,


Sementara Sean masih merasa kesakitan di kakinya, tapi dia tidak berbicara apa pun, hanya terus memegangi sepatu luarnya itu sambil meringis


Setelah Kartina pergi barulah Rania menoleh ke arah Sean yang masih jongkok itu, dan melihat ke arah kakinya yang di peganganya, dan dia merasa bersalah juga


"Sean, apakah itu sakit? maaf aku tidak bermaksud begitu, siapa suruh kamu tidak mendengarku, aku bantu kamu berdiri saja ya, kamu mau ke lantai berapa? biar aku antar juga," ucap Rania


"Tidak tidak perlu, aku bisa berdiri sendiri" ucap Sean, dia pun mencoba berdiri


Rania pun hanya mememperhatikanya saja,


Sean pun mencoba melangkah dengan sedikit terpincang-pincang, dengan di ikuti Rania di belakangnya , Sean memang merasa sakit di jari kakinya, ujung heels Rania memang tidak terlalu runcing, tapi tetap saja itu akan menyakitkan jika di injakan ke sepatu orang yang ada kaki di dalamnya, Sean sama sekali tidak marah, dia memakluminya karena mungkin Rania tadi sedikit gugup


Dan setelah mencoba beberapa langkah, Sean malah jatuh ke lantai karena ngilu di kakinya 'guprak' "Aaaw" Sean merintih lirih,,


Rania tidak sempat menahan tubuh Sean itu, walau sempat pun tenaganya juga tidak akan kuat menahan berat badan Sean "Tuh kan sudah kubilang, aku bantu kamu jalan saja,, ayo" ucap Rania, dia pun segera membantu Sean berdiri dan memapah nya untuk jalan


"Terimakasih" ucap Sean, Walaupun dia merasa sedikit gengsi karena di tolong seorang gadis, tapi memang Rania juga yang menyebabkan kakinya begini, jadi dia tidak menolak lagi


...~°~...

__ADS_1


__ADS_2