
Sean pun merasa memang ada yang tidak beres di sini, "Regan, kamu tunggu di sini, temani Aya jangan biarkan Aya keluar" ucap Sean
"Baik bos, anda hati hati, mereka sepertinya di provokasi orang bos" ucap Regan menebak nebak
"Ya sepertinya begitu,, Aya, kamu jangan turun ya, diam di sini saja sama paman Regan" ucap Sean
"Iya a" ucap Aya juga menurut
Sean pun segera turun dari mobil dan menghampiri kerumunan "Mohon maaf ibu, bapak, ada masalah apa kalian berdemo di sini?" ucap Sean
Seketika orang orang yang berada di sana pun menoleh ke Arah Sean
"Nah itu tuh, ibu ibu bapak bapak orang yang sudah selingkuh dengan istri saya dan sudah menybunyikan istri saya selama sebulan di rumahnya" ucap salah satu orang yang berdiri di teras rumah sambil memegangi tangan Sri
Sean pun melihat ke asal suara itu dan ternyata itu adit anak sang juragan tanah alias suami Sri
"Wah benar benar bajingan dia, orang seperti dia kita rajang saja tubuhnya sampai mati, ayo" ucap salah seorang provokator bayaran adit
"Iya benar, dia tidak pantas hidup di desa kita ini, kita rajang saja" ucap salah seorang provokator lain
Warga yang termakan hasudan para provokator itu pun langsung menuju Sean yang jaraknya sekitar 3 meter dari mereka dan segera berteriak "Ayo , ayo"
Sean sedikit bingung menghadapi situasi ini, kalau mereka semuanya preman bayaran Adit tentu Sean tidak segan untuk memukul mereka, tapi ini kebanyakan adalah warga sekitar tempat tinggal Adit yang tidak tau apa apa
"Tunggu tunggu, bapak ibu, saya baru pulang kesini kemarin, masa iya saya menyebunyikan istri orang di rumah ini sudah sebulan, bukan kah tidak masuk akal?" ucap Sean mencoba memberikan pembelaan
"Aah dia hanya membual saja jangan percaya ayo pukul saja dia ramai ramai" ucap salah satu provokator itu
Sean pun memperhatikan orang yang bicara itu dari tadi, Sean sudah bisa menebak kalau hanya ada 5 orang provokator dengan senjata tajam di antara kerumunan warga itu, Sean pun sudah bisa menebak orang orangnya merka memang maju kebarisan terdepan
Dan segera kerumunan itu menghampiri Sean dan salah satu provokator langsung saja menebaskan golok ke arah Sean "Rasakan ini bajingan" ucap si provokator
Namun yang tidak dia sangka olehnya golok yang di bawanya itu malah terbang jauh karena Sean dengan cepat memukul genggaman tanganya pada golok itu cukup keras "Aaaaaaaaaa" pria itu langsung kesakitan karena jari jari tangan yang memegang golok itu di pukul Sean sampai nyaris hancur
Sean dengan cepat melakukan itu kepada setiap propokator yang membawa senjata tajam, hingga senjata senjata yang di bawa mereka terpelanting, ada yang jatuh ke tanah ada yang terbang jauh,
Sean melakukanya dengan pergerakan yang sangat cepat dan tepat sasaran, karena dia memang menggunakan insting dari mata batinnya untuk menyerang, dia tidak hanya mengandalkan penglihatan mata zahirnya saja
__ADS_1
Hingga dengan cepat pula semua yang tadinya membawa senjata di tanganya kini mengaduh kesakitan karena tangan tangan mereka di pukul oleh Sean
Sementara warga yang hanya membawa pemukul di tanganya tidak menyerang karena cukupbkaget dengan pergerakan Sean ini, dan mereka jadi tidak berani memukulnya
"Apa kalian masih ingin bicara lagi? kalau masih ingin bicara lagi aku tidak keberatan untuk menghancurkan tangan kalian yang satunya lagi" ucap Sean sambil memandang satu persatu wajah para provokator itu yang memegang satu tanganya karena kesakitan
"Ti ti tidak, aku tidak akan bicara lagi" ucap pria itu
"Jadi kamu kamu kamu kamu kamu dan kamu, mau mengakui atau tidak, kalian di bayar siapa untuk memprovokasi warga supaya membuat keributan di sini?, kalau kalian tidak mengatakanya aku mungkin dengan senang hati akan mematahkan tangan tangan kalian, bahkan aku bisa memisahkan tangan tangan kalian dari tubuh kalian jika kalian mau" ucap Sean menggeretak sambil menunjuk satu persatu wajah provokator itu
"Be baik baiklah, para warga sekalian, maaf, aku, memang di bayar tuan Adit untuk menghasud warga sekalian" ucap pria itu
"Wah kurang ajar kamu, kamu sudah hampir mencelakai orang yang tidak punya salah, hajar saja mereka para warga" ucap salah satu ibu ibu di sana
Dan 5 orang itu pun segera jadi bulan bulanan warga yang kesal karena mereka di bodohi dan hampir membuat tindakan anarkis yang akan merugikan mereka
Sementara Sean langsung melenggang ke teras rumah dan berhadapan langsung dengan adit yang masih tercengang
"Kamu memang pintar Dit, sayang kepintaranmu kamu gunakan hanya untuk memvropokasi orang" ucap Sean
"Kamu, kamu mengapa bisa menemukan orang orang bayaranku di antara banyaknya warga?, itu itu mustahil" ucap Adit
"Tidak ada yang mustahil di dunia ini, lepaskan tangan Sri" ucap Sean santai
"Tapi tapi dia istriku, aku aku punya hak untuk membawa dia pulang" ucap Adit
"Kamu memang punya hak membawanya pulang, tapi bukan berarti kamu juga berhak memperlakukan Sri seperti budakmu" ucap Sean "O yah, aku dengar kamu sering memukul Sri kan
'Plaaaaakk' Sean langsung menampar muka Adit keras keras hingga dia terpelanting dan terjatuh ke lantai "Aw aw sakit sakit" ucap Adit sambil memegangi pipinya yang merah karena tamparan Sean
Sri yang di sampingnya pun kaget bukan main, dia tidak menyangka Sean akan melakukan itu pada Adit
"Gimana rasanya, sakit kan, itu juga yang di rasakan Sri jika kamu memukulnya, jangan karena kamu merasa punya kendali pada Sri jadi kamu seenaknya saja menyakiti istrimu, kalau kamu ingin istrimu melayanimu dengan baik, harusnya kamu juga memperlakukan dia dengan baik" ucap Sean
"Ba baik, aku tidak akan memaksa dia pulang, biar dia bersamamu saja" ucap Adit masih memegangi pipinya
"Bodoh, kurasa aku harus memukulmu satu kali lagi supaya kamu jadi pintar, apa kamu tidak mengerti maksudku hanya karena satu tamparan saja?" ucap Sean
__ADS_1
"Tidak, tidak jangan pukul lagi, aku mengerti, aku mengerti, aku akan berubah, aku akan merubah perlakuanku pada Sri" ucap Adit
"Pintar, itu yang ku maksud" ucap Sean
Entah mengapa Sean merasa Sri yang sekarng jadi sedikit pendiam, tidak ekspresip seperti dulu, Sean menebak Sri merasa bersalah padanya atau apalah, Sean tidak bisa menebaknya pasti karena banyaknya masalah yang di pendam Sri
"Sri, apa kamu ingin pulang bersama suamimu?, kalu dia memukulmu lagi bilang saja padaku, jangan takut" ucap Sean
Sri pun menatap wajah Sean "Bisa beri aku waktu untuk memikirkanya lagi?, setidaknya 1 atau 2 hari lagi" ucap Sri yang masih ragu kalau adit akan berubah
"Adit, apa kamu mengijinkan 2 hari lagi istrimu tinggal di sini?" tanya Sean
"Ii iya, aku mengijinkan, mau 2hari atau 2 minggu terserah Sri saja" ucap Adit
Setelah itu Sean menyuruh Adit segera enyah dari rumah orang tuanya ini, Sean membiarkan Adit pergi begitu saja karena dia masih menghargai Sri, kalau tidak, mungkin Sean akan membuat adit babak belur karena sudah membuat kekacauan di Rumah ibunya
Warga juga sudah bubar setelah memita maaf pada Sean, sedangkan nasib 5 orang provokator tadi sudah babak belur di hajar warga karena sudah menyebar berita hoaxs dan hampir membuat mereka berbuat anarkis, dan provokator itu langsung di giring warga untuk ke kantor desa
Dan semuanya pun tenang kembali seperti sedia kala, "Terima kasih kamu masih peduli padaku, aku, aku, malu padamu" ucap Sri
"Kita masih teman kan?, jadi kurasa sudah seharusnya, masalah yang lalu jangan kamu pikirkan terus, itu hanya akan membuatmu makin stres saja, cobalah untuk menjalani hidupmu sekarang dengan sebaik baiknya, aku yakin kamu akan menemukan kebahagiaanmu nanti" ucap Sean
"Iya, terima kasih,,, maaf karena ada aku di sini, jadi ada masalah seperti ini di rumah ibumu" ucap Sri
"Tidak apa," ucap Sean
"Aa, kenapa tinggalin Aya di mobilnya lama" ucap Aya yang tiba tiba datang dengan Regan
"O iya maaf sayang, aa lupa" ucap Sean sambil menggendong Aya lagi
"O ya Sri, apa Isna dan Aya baik baik saja?, dimama mereka?" tanya Sean yang baru mengingat mereka karena tidak melihatnya
"Mereka sembunyi di kamar, karena pas adit triak triak tadi mereka ketakutan dan masuk kamar," ucap Sri
"Oh ya sudah, kamu bujuk mereka keluar lagi" ucap Sean
"iya" ucap Sri sambil bergegas kedalam
__ADS_1
"Boas,, anda hebat sekali bos, bagaimana anda tadi bisa melakukan itu?, itu luar biasa bos" ucap Regan yang baru pertama kali melihat Sean beraksi
"Biasa saja" ucap Sean sambil mencium pipi Aya yang ada di pangkuanya