
Setelah selesai makan Sean membayar, dan mereka pun kembali ke dalam mobil
"Rania, apa kamu mau langsung pulang" tanya Sean
"Iya, pulang saja, ayahku pasti sudah khawatir, kamu antar aku ya" ucap Rania
"Baiklah, kamu beri tau saja jalanya" ucap Sean yang memang tidak tau rumah Rania
"Iya" ucap Rania, mobilpun melaju ke arah yang di minta Rania, ketika mobil berhenti di salah satu lampu merah, Sean menoleh ke arah Rania yang sedang memandang ke arah papan reklame di sebrang jalan, kebetulan di papan itu ada gambar wanita, Sean juga memperhatikanya
Hingga pandangan sean terarah ke kalung yang di kenakan wanita di gambar itu, Sean pun seperti mengingat sesuatu dia pun membuka buka buka laci mobil, tapi yang dia cari tidak ada 'Aiya, aku lupa, ini bukan mobilku kalung buat Rania ada di mobilku' dia baru mengingat kalau kalung yang untuk Rania itu belum dia berikan, terlalu fokus di kantor hingga dia melupakanya
"Sean, kamu cari apa" tanya Rania heran
"Tidak tidak mencari apa apa, aku hanya merasa ada yang kelupaan saja" jawab Sean
"Oh, apa kamu kelupaan pacar mu kah?" ucap Rania tersenyum, sekalian dia mengetes Sean, dia belum pernah tanya Sean ada pacar atau tidak, Rania merasa tidak enak kalau menanyakanya langsung
"Pacar? pacar, pacar, apa itu pacar?, aku rasan baru mendengar kata itu" ucap Sean berlaga bodoh
"Jangan berlaga polos, masa iyah tidak tau" ucap Rania
"Iya iya, aku bercanda, jujur saja aku belum pernah punya pacar" ucap Sean
"Ah, masa sih, satu kali pun belum pernah?" tanya Rania
"Iya belum pernah, kenapa memang,?" tanya Sean
"Tidak apa apa, aku juga belum pernah, kita sama" ucap Rania
"Benarkah,? bagus kalau gitu," ucap Sean dan dia tertegun sejenak
"Mengapa kamu tidak pernah pacaran?, sangat mustahil jika tidak ada yang pernah menyukaimu"
"Tidak berminat saja, dulu fokus ku ke belajar, setelah kerja fokusku ya ke kerjaan," Rania tertegun sejenak
"sejujur nya aku hanya merasa takut untuk mempercayakan hatiku pada seseorang, aku takut hanya akan disakiti saja, stiap aku ingin mulai, aku selalu teringat pada pernikahan kedua orang tuaku, mereka hidup ber 2 hanya untuk saling menyakiti, hingga akhirnya mereka berpisah saat aku remaja, dari itulah aku enggan untuk memulai suatu hubungan" ucap Rania
__ADS_1
"Seperti itu kah?, tapi tidak semua pasangan itu selalu berahir tragis kan, ayah ibuku di desa contohnya mereka akur sampai tua" Sean tertegun "Kita sama sama tidak pernah pacaran, sepertinya kita cocok, apa baiknya kita pacaran saja?" tanya Sean menggoda Rania tampa melihat ke arahnya
Rania memukul lengan Sean
"Jangan bercanda, itu tidak lucu" ucap Rania
"Kalau aku bilang aku tidak bercanda, apa jawabanmu?" tanya Sean
"Aku......" sebelum Rania menjawab beberapa mobil di belakang sudah membunyikan kelaksonya, ternyata lampu lalu lintas sudah hijau
"Sudah lampu hijau, buruan jalan" ucap Rania mengalihkan topik pembicaraan yang membuat jantung nya berdegup tak beraturan itu
"Oh iya" Sean pun melajukan mobilnya lagi, ahirnya mereka pun sampai di komplek Rumah Rania mereka pun masuk, penjaga pos menganguk ke Rania yang di dalam
Tak berapa lama mereka pun tiba di luar gerbang rumah Hendro yang rumahnya lumayan besar, dengan gaya minimalis berlantai 2, tapi jika di banding dengan rumah kartina, ukuran rumah hendro hanya setengah dari ukuran rumah Kartina
"Sudah sampai, ini Rumahku, kamu mau mampir dulu tidak?" ucap Rania
"Tidak usah lah, sudah malam, aku langsung pulang" ucap Sean
"Sampai jumpa lagi, daaah" ucap Rania melambaykan tangan dan dia pun buru buru masuk gerbang rumah dan langsung melarikan diri ke dalam
Sean hanya melihat gadis itu pergi tampa menoleh dirinya lagi, Sean hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, Sean merasa ini seperti mimpi, serasa baru kemarin dia masih mengantarnya dengan jalan kaki, sekarang dia mengantar Rania menggunakan mobil mewah
Sean mencoba memperhatikan nomor rumah ini dan dia mengingatnya, dia pun pergi dari sana, yang tidak di ketahui Sean, Rania sebenarnya masih memperhatikan dia di balik gorden rumahnya dari saat dia masuk, dan setelah mobil Sean pergi, dia pun menghela napasnya
Mobil Sean sekarang sudah meninggalkan area komplek, tapi karna ini kali pertama Sean kerumah Rania, mobilnya sekarang berhenti dan terdiam di persimpangan jalan, dia lupa dari jalan mana dia datang dan harus kemana dia pergi, Sean melihat ponselnya, dia tidak bisa membuka maps, ponsel nya masih ponsel jadul , dia belum mengganti ponsel miliknya itu,
Dia tidak kepikiran sebelumnya membeli handphone baru, tapi sekarang dia sadar kalau dia membutuhkanya,
untungnya sekarang mobil yang dia pakai milik ibunya, andai mobil BMWnya mungkin akan ada orang yang mngikuti seperti waktu itu,
Mobil BMW Sean memang sudah di blacklist musuh, jadi kalau memakainya sendirian seperti ini pasti akan jadi sasaran empuk, dia pun diam diam bersukur karna memakai mobil ibunya ini, mending kalau mereka hanya mengirim preman preman biasa, andai kata mengirim orang orang yang terlatih tentunya itu akan sangat merepotkan
Sean berpikir di sisi lain mobil BMWnya itu memang adalah kelemahan, tapi di sisi lain itu adalah umpan yang bagus untuk memancing orang yang bersembunyi di balik layar itu untuk ke luar
Setelah beberapa waktu dia berniat menghubungi Agam, tapi sebelum dia melakukanya ada 2 mobil hitam berhenti di sisi kanan dan blakang nya, seseorang bersetelan hitam pun langsung turun dan mengentuk kaca mmobil, Sean kaget karna ini malam jadi dia tidak bisa melihat jelas wajahnya
__ADS_1
"Tuan kenapa anda diam di sini, apa ada masalah?" ucap pria itu yang ternyata itu Agam,
Sean pun membuka kaca mobil
"Agam, ku kira kau orang lain, tidak ada masalah, aku hanya lupa arah" ucap Sean
"Baiklah, aku akan menunjukan jalan" ucap Agam
"Baik" ucap Sean merasa lega, dia tidak tau kalau dirinya di ikuti, tapi bagus juga Agam tidak menurut padanya
Sean pun mulai melaju mengikuti Agam, dan kebetulan mereka melewati sebuah kounter ponsel, Sean berhenti dan membeli handphon baru intuk dirinya,
Mereka pun melanjutkan perjalanan lagi, akhirnya sampai juga di kediaman Kartina, Sean masuk dan bergegas ke kamarnya, karna sudah malam Sean juga tidak melihat ibunya di ruang tamu, seperti biasa Sean meembersihkan diri solat setelahnya dia pun tidur di tempat tidur empuknya itu
....
Keesokan paginya, suara kicauan burung di pohon depan rumah membangunkan tidur Sean,
"Huaaah, ternyata sudah pagi juga" gumam Sean, dia pun bangkit ke kamar mandi, solat, dan bergegas ke area belakang rumah, dia pun melakukan beberapa latihan yang di ajarkan agam,
Jika biasanya Sean melakukan yang ringan ringan saja dia sekarang menambah ritme dan beban latihannya, dan beberapa latihan baru juga
Ketika hari sudah siang Sean bersiap dan pergi ke kantor dengan ibunya, sesampainya di kantor Sean naik kelantai paling atas bersama ibunya, dia menunggu Elisa di sofa tunggu, kaerna Sean ingin meminta bantuan padanya
tidak lama Elisa pun datang, "Selamat pagi pak direktur" ucap Elisa yang baru keluar dari pintu lift dan bergegas untuk ke mejanya
Sean pun memandang ke arah Elisa dia mengenakan setelan kantor berwarna ungu, dengan jilbab abu di kepalanya "Iya selamat pagi, Elisa tunggu sebentar" Sean pun bangkit dan bergegas ke arah Elisa dengan paper bag sedang warna coklat di tanganya,
"Elisa, apa kamu bisa tolong aku melakukan sesuatu?," ucap Sean
"Kalau saya bisa melakukanya tentu saja, jangan sungkan" ucap Elisa
"Baiklah, aku ingin kamu menyimpan ini di ruangan menejer Rania, apa kamu tidak keberatan?" Sean menunjukan paper bag di tanganya dan setangkai bunga mawar merah yang cantik, Sean meniru dari film film romantis yang pernah dia tonton, jdi dia mnyempatkan diri membeli bunga tadi
Elisa terkesan dengan tingkah Direktur Arman ini, ada sedikit perasaan iri dengan Rania, tapi Elisa segera menepis nya jauh jauh "Baik, tentu saja tidak keberatan" ucap Elisa
...~°~...
__ADS_1