Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo

Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo
Linglung


__ADS_3

Hendro pun tidak begitu saja meredakan amarahanya, hanya saja dia mencoba menghargai putrinya, dia sadar kalau Rania selalu membela Sean dari tadi, itu menegaskan kalau putrinya memang sangat peduli pada pemuda ini


"Baik, kalau kamu memang mencintai putriku, buktikan ucapanmu itu, layak atau tidaknya kamu untuk putriku kita lihat nanti, kamu jangan menemui putriku lagi sebelum kamu sukses dan bisa memberikan kasih sayang seperti yang bisa aku berikan padanya" ucap Hendro


"Pah, jangan seperti itu pah, Rania mencintai Sean apa adanya, Rania mohon jangan memberatkan dia seperti ini pah" ucap Rania memohon karena dia sadar kalau sarat yang di ajukan ayahnya itu berarti Sean harus sekaya ayahnya dulu baru bisa dia restui


Menurut Rania sarat itu terlalu berat bagi Sean, karena Rania berpikir dengan status Sean yang hanya karyawan biasa selain Sean harus bekerja keras juga pasti butuh waktu yang sangat lama untuk sukses, dia tidak mau jadi perawan tua hanya karena menunggu pacarnya sukses dulu


"Aku menyetujui Syarat dari anda" ucap Sean tegas, Sean berpikir dengan kondisinya nanti mungkin dia tidak butuh waktu lama untuk dia menghasilkan kekayaan seperti yang di miliki Hendro sekarang, setelah dia menduduki kursi presdir tentunya itu bukan hal yang sulit untuk Sean menghasilkan kekayaan dari tanganya sendiri, bukan dari harta yang sudah dihasilkan ibunya sebelumnya, jadi tentu saja dia menyetujuinya


"Sean, jangan bicara seperti itu, aku tidak mau menunggu lama hanya untuk bertemu denganmu" ucap Rania sedikit membentak "Pah tolong pah jangan seperti ini ke Rania, Rania selama ini sudah menuruti semua kemauan papah kan?, jadi tolong untuk kali ini turuti kemauan Rania pah tolong, jangan berikan syarat seperti itu pada Sean" ucap Rania


"Anak itu sudah menyetujuinya, dan seorang laki laki juga memang harusnya bisa menepati janjinya sendiri, jadi papah tetap dengan pendirian papah, maaf Ran, ini sudah jadi keputusan papah, papah melakukan ini karena papah menyayangimu, papah tidak mau mempercayakan kamu kepada orang yang tidak punya kemampuan" ucap Hendro


"Tidak pah jangan seperti ini" ucap Rania


"Sekarang kamu masuk kedalam" ucap Hendro menarik tangan Rania


"Tidak mau pah, tolong batalin persyaratan papah itu aku mohon" ucap Rania memohon


"Masuk" ucap Hendro tegas "Kamu Lebih baik pergi sekarang, jangan menemui Rania sebelum kamu memenuhi syarat yang aku berikan" ucap Hendro sambil menunjukan Sean arah keluar komplek

__ADS_1


"Sean, tidak, jangan pergi" ucap Rania, "Aku tidak mau masuk pah" ucap Rania sambil meronta dan ingin melepaskan tanganya dari genggaman tangan Hendro, tapi genggaman tangan hendro memang terlalu kuat untuk Rania, diapun akhirnya turut masuk kedalam dengan paksaan Hendro


"Ran, aku akan kembali menemuimu secepatnya dengan syarat itu, percayalah, kamu jangan melawan ayahmu lagi, karena ayahmu memang benar, sekarang aku memang belum bisa menyayangimu seperti dia" ucap Sean sambil menatap Rania yang sudah di dalam gerbang, dan Sean pun akhirnya berbalik untuk pergi dari sana


"Sean, Sean, jangan pergi, aku ikut" ucap Rania dengan terus menangis sejadinya bahkan diapun sampai terduduk di lantai


"Seaaan, jangan pergi" triak Rania sambil terus menangis


Sean pun masih bisa mendengar teriakan Rania itu, tapi dia tetap beranjak dari sana tampa menoleh lagi kebelakang, dia pun sudah di tunggu oleh Agam di depanya, dan Sean pun langsung masuk kemobilnya dan kemudian pergi dari komplek kediaman Hendro itu


...


Sesampainya di kediaman Kartina Sean pun langsung kembali ke kamarnya, dia membasuh mukanya di wastafel dan melihat bayangan dirinya di cermin, dia pun diam diam berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa jadi seorang yang sukses dengan kemampuanya Sendiri, dan bukan jadi orang yang hanya bisa menghabiskan harta orangtuanya saja


Hingga larut malam pun dia tetap seperti itu, bahkan sampai menjelang subuh pun matanya masih tidak bisa terpejam karena dia terus kepikiran Rania


Sampai akhirnya rasa kantuknya pun perlahan mengalahkan lamunanya, dia tidak tau kapan dia mulai tertidur, yang pasti dia terpejam hingga haripun mulai beranjak terang


"Rania" begitu bangun hanya nama itu yang di sebut Sean, diapun melihat jam di tanganya sudah menunjukan pukul 6 lebih, Diapun segera beranjak dari tempat tidurnya untuk membersihkan dirinya dan kemudian mengganti pakaianya dengan tergesa


Dia mengingat kalau Rania akan terbang ke kota SB pukul 7 pagi ini, jadi diapun dengan tergesa turun kebawah dan bergegas kemobilnya, dia berniat mengantar Rania untuk terakhir kalinya sebelum Rania benar benar jauh darinya

__ADS_1


Diapun pergi bersama Agam menuju kediaman Rania, dan ternyata Rania sudah tidak ada di rumahnya, "Agam Kita langsung pergi kebandara internasional kota J saja, cepatlah" ucap Sean yang tidak ingin melewatkan momen terakhirnya ini


"Baik," Agam pun segera memutar balik mobilnya dan langsung melesatkan mobil itu sebisanya untuk menuju ke arah bandara


Mereka pun mulai menyusuri lagi jalanan kota J, dan kebetulan jalan menuju bandara sedikit macet sekarang, jadi butuh beberapa waktu untuk Sean sampai ke bandara


Setibanya di depan bandara Sean pun segera turun dan masuk kedalam untuk mencari keberadaan Rania, dia mencari kesana kemari dengan tergesa, dan diapun melihat jam sudah hampir menujukan pukul 7


Diapun menghubungi nomor Rania, namun ponselnya tidak aktif, Sean pun mencoba bertanya pada petugas bandara untuk mencari tau gate mana yang menuju ke pesawat yang akan take of ke kota SB saat ini


Sean pun langsung mengikuti arahan petugas itu dan diapun akhirnya melihat Rania dari kejauhan, dia sedang berdiri dengan ayahnya di depan pintu pemeriksaan untuk masuk ke ruang boarding gate


Rania pun menatap lurus ke arah Sean yang datang, dia memang sengaja menunggu Sean untuk melihatnya dulu sebelum dia masuk ke pesawat, sebab dia yakin Sean pasti datang


Sean pun mulai melambatkan langkah kakinya karena dia melihat Rania sudah melambaikan tangan ke arahnya, dan diapun segera masuk ke pintu pemeriksaan tampa menunggu Sean mendekat dan menemuinya, itu mungkin karena ada ayahnya, Rania takut akan menangis lagi jika Sean berdebat dengan ayahnya lagi


Sean pun menghentikan langkahnya dan membalas lamabayan tangan Rani itu dengan mata berkaca kaca , Sean pun berdiri di sana untuk melihat Rania yang perlahan lahan pergi dan hilang dari pandanganya


Dia berdiri cukup lama di sana, hinga pesawat yang di naiki Rania pun benar benar mengudara, "Ran, semoga kamu akan baik baik saja di sana, aku pasti akan menyusulmu nanti, tunggu saja" gumam Sean yang masih menatap ke arah perginya Rania


Setelah beberapa saat dia di sana diapun mulai sadar kalau dia sendirian di sini sekarang, dia berbalik dan entah kemana dia harus melangkah, dia lupa dari mana tadi dia datang "Kemana aku harus keluar????" Sean sedikit linglung karena tadi dia mencari Rania dengan tergesa hingga dia sedikit tidak sadar kalau bandara ini memang cukup luas

__ADS_1


Diapun menghubungi Agam untuk meminta bantuanya


__ADS_2