Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo

Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo
Kemarahan Hendro


__ADS_3

Setelah mereka masuk kedalam, mereka duduk di depan meja kecil dengan saling berhadapan, Rania masih mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri


"Ran, sebenarnya ada apa?" tanya Sean yang penasaran


"Aku, aku sebenarnya sudah berdebat dengan papahku" ucapan Rania pun berhenti sejenak "Aku mungkin akan keluar dari pekerjaanku yang sekarang, karena ayahku ingin memindahkan aku ke luar kota untuk memipin kantor cabangnya yang ada di sana" perlahan air mata Rania pun menetes lagi


"Jadi, apa itu artinya kita akan berjauhan?" tanya Sean


Rania pun hanya menganggukan kepalanya tanda mengiyakan Sean


"Kenapa mendadak seperti ini?" tanya Sean lagi


"Sebenarnya memang papah sudah merencanakan ini sejak awal, dia memasukan aku ke perusahan Kartin.corp hanya supaya aku punya pengalaman kerja di perusahaan yang besar, dan memang rencana awalnya aku hanya akan kerja selama 3 tahun di Kartin.corp, tapi sepertinya ada yang mengadu ke papah soal hubungan kita, jadi papah mempercepat proses pemindahanku untuk ke sana, dan papah juga sudah menguruskan surat pengunduran diriku dari kantor HRD Kartin.corp siang tadi" ucap Rania


Sean pun merenung dan memikirkan kata apa yang mampu menahan Rania untuk tetap tinggal


"Apa keputusanya tidak bisa di rubah lagi Ran?" tanya Sean


Rania pun hanya menggelengkan kepalanya, air matanya pun tidak henti hentinya menetes, mungkin keputusan ini memang berat untuk Rania karena harus berjauhan dengan Sean, dari itulah Rania berdebat hebat dengan Ayahnya dari tadi malam, baru juga beberapa hari mereka jadian tapi mereka sepertinya sudah harus di pisahkan lagi oleh jarak


"Besok aku berangkat ke kota SB pukul 7 dari bandara internasional kota J" ucap Rania sambil sedikit terisak


"Baiklah kalau itu sudah jadi keputusanya, aku mungkin tidak bisa berbuat apa apa" ucap Sean


Disaat mereka mengobrol tiba tiba ponsel Rania bergetar tanda panggilan masuk, Rania pun perlahan melihat phonselnya dan kemudian menekan tombol untuk mengangkat


"Hallo pah" ucap Rania


"Kamu di mana Ran? kita harus bicara lagi, jangan kamu menghindari papah seperti ini dong, maaf kalau Papah sedikit memaksa, tapi papah pikir ini sudah waktunya kamu untuk kesana, jadi papah mohon, kamu pulang ya" ucap Hendro yang mengira kalau Rania sengaja kabur

__ADS_1


"Iya pah, Rania pulang sebentar lagi" ucap Rania sambil sedikit terisak


"Baiklah, papah tunggu kamu di rumah ya" ucap Hendro


"Iya pah" ucap Rania, dia pun menutup panggilanya


"Kamu mau pulang sekarang?" tanya Sean


"Iya" ucap Rania


Sean pun menghela nafasnya "Baiklah, hati hati di jalan" ucap Sean


Rania pun segera berdiri dengan enggan, dia sebenarnya masih ingin di sini untuk beberapa saat lagi, tapi dia juga berpikir jika semakin lama dia di sini akan semakin berat pula rasa dia untuk pergi


Rania pun perlahan melangkah keluar dari pintu, Sean juga mengikutinya untuk mengantarnya kedepan


Baru beberapa langkah Rania berjalan dia pun menoleh kembali ke arah Sean yang di belakangnya, diapun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memeluk Sean, dan diapun menangis sejadi jadinya di pelukan Sean


Tapi Rania tidak menghentikan tangisanya itu hingga beberapa waktu, hingga diapun akhirnya tenang dengan sendirinya "Maaf, aku sebenarnya tidak ingin pergi" ucap Rania


"Aku tau, tapi mungkin dengan begini kamu baru bisa memenuhi harapan orang yang sudah membesarkan mu, kalau saja masalahnya bukan seperti ini, mungkin aku akan memperjuangkanmu semampuku untuk kamu tetap tinggal di sini, tapi untuk masalah ini, aku mungkin tidak bisa apa apa" ucap Sean yang matanya juga mulai berkaca kaca


"Tapi aku mau di sini" ucap Rania dengan air mata yang terus saja mengalir


"Iya, aku juga ingin kamu di sini, tapi bukan berarti hubungan kita akan berakhir jika kamu pergi kan?, kita masih bisa telponan, atau bahkan bertemu sesekali" ucap Sean


"Sudah jangan menangis lagi, aku antar kamu pulang ya" ucap Sean


Rania hanya menganggukan kepalanya, Sean pun memapah Rania hingga dia duduk di mobilnya, Sean pun masuk di kursi pengemudi dan mulai melajukan mobil Rania perlahan untuk mengantar Rania pulang

__ADS_1


Mobil pun segera melaju keluar dari jalanan rumah sewa Sean, Sean juga memberi arahan Agam supaya dia mengikutinya,


Sepanjang perjalanan Rania tidak henti hentinya menangis, entah sudah berapa banyak air mata yang di keluarkan Rania untuk keputusan orang tuanya ini, hingga matanya membengkak seperti sekarang


Sean tidak tega melihat Rania yang seperti ini, tapi dia memang tidak bisa berbuat apapun untuk hal ini sekarang


Merekapun akhirnya segera tiba di depan kediaman Hendro, Sean pun segera turun, dan membukakan pintu untuk Rania, diapun memapah Rania lagi untuk turun dari mobil


Kebetulan Hendro melihat mereka dari lantai 2 rumahnya, dan diapun mengenali sosok pria yang bersama dengan Rania ini, diapun segera bergegas turun untuk menghampiri mereka


Sean dan Rania pun sudah berada di depan gerbang rumah Rania sekarang "Makasih sudah antar aku pulang" ucap Rania


"Iya, aku mengantarmu sampai sini saja ya" ucap Sean


Tiba tiba Hendro pun keluar dari dalam gerbang "Kamu lagi kamu lagi, ternyata kamu yang menghasut Rania untuk pergi malam malam!, kamu ini anak berandal yang tidak bisa di bilangin yah, gak di kota B gak di sini kamu terus saja mengganggu putri saya" ucap Hendro yang langsung saja menampar muka Sean 'plakkk' suaranya cukup nyaring terdengar ketelinga Rania


Rania pun segera menangkap tubuh Hendro dan mendorongnya perlahan "Pah sudah pah ini salah Rania, Rania yang keluar tampa izin ke papah, tidak ada hubunganya dengan Sean, kalau mau pukul, pukul saja Rania" ucap Rania dengan air matanya semakin deras lagi mengucur di wajahnya, dia tidak terima kalau Sean di perlakukan seperti itu oleh Ayahnya sendiri


Sean yang mukanya miring akibat dari tamparan Hendro pun hanya bisa menyunggingkan senyum di bibirnya, sakitnya tamparan itu masih tidak seberapa jika di bandingkan dengan rasa sesak karena dia harus berpisah dengan Rania


"Lepaskan papah Ran, biar papah kasih pelajaran lagi anak berandalan ini" ucap Hendro


"Tidak pah, jangan pukul dia lagi, kalau papah pukul dia Lagi Rania tidak akan pergi ke kota SB, Rania lebih baik pergi bersama Sean pah" ucap Rania


"Hebat kamu yah, kamu sudah bisa mencuci otak putriku sampai dia bisa melawanku seperti ini" ucap Hendro sambil menunjuk ke arah Sean


Hendro memang sudah mengenal Sean sewaktu di kota B waktu itu, dan dia mengetahui pekerjaan Sean waktu di kota B hanya seorang pelayan, dia masih belum mengetahui kalau anak muda di depanya ini adalah putra dari wanita terkaya di kota ini bahkan masuk ke jajaran orang terkaya di negara ini


"Pak, saya sangat mencintai putri bapak, saya tidak mungkin menyuruh dia untuk bisa melawan bapak, mungkin hari ini saya belum bisa menghasilkan sesuatu dari tangan saya sendiri untuk membahagiakan Rania, tapi saya berjanji suatu saat nanti saya akan bisa memberi apapun yang Rania minta dari hasil kerja Saya sendiri" ucap Sean

__ADS_1


Hati Rania pun seketika menghangat mendengar pernyataan Sean ini, dia cukup terharu mendengar kata kata dari Sean ini hingga diapun bisa sedikit menyunggingkan senyum di tengah derasnya air mata yang mengalir di wajahnya


__ADS_2