
Mobil mereka pun segera sampai di komplek kediaman ibunya lagi, meskipun mansion ibunya itu termasuk salah satu yang termewah di kompleks elite ini, Sean tetap saja kagum dengan bangunan bangunan lain yang ada di sana, dan dia terus memperhatikannya kiri dan kanan,
Merekapun akhirnya sampai juga di mansion Kartina, dan Sean pun langsung bergegas ke kamarnya dan segera mengganti pakainya dengan hanya mengenakan setelan celana pendek dan kaos polos,
Kemudian Sean pun kembali turun ke lantai bawah
"Arman, kamu mau kemana?" tanya Kartina yang sedang menikmati secangkir teh hangat di sofa ruang tengahnya
"Aku mau ke belakang bu, mau coba kolam renangnya" ucap Sean senyum seyum dan menggaruk rambutnya, meski ini rumah ibunya, tapi Sean masih belum merasa bebas, dia masih ada sedikit kaku pada ibunya
"O, ya sudah pergi sana, tapi jangan lama lama, ini sudah sore, nanti kamu masuk angin kalau kelamaan," ucap Kartina
"Iya bu siap" ucap Sean, sebenarnya dari kemarin dia ingin langsung mencoba nya, tapi dia masih merasa canggung, dan dia masih sedikit Jaim kemarin,
Sean pun segera bergegas ke area belakang rumah yang terdapat kolam renag yang lumayan luas di sana, dan dia pun tidak tahan melihat air jernih di dalam kolam itu, jadi dia pun langsung saja menceburkan dirinya ke air, 'Cebbbuurrr'
"Segesmr juga Air nya" gumam Sean, meskipun sebenarnya air kolam ini cukup dingin, tapi di kota 'J' ini memang hawanya panas, dan Sean sangat mudah merasa gerah, apalagi setelah pulang kerja, meskipun hari sudah mulai sore, dan cuaca sekarang juga turun hujan ringaan, tapi Sean tetap melanjutkan aktivitasnya itu, jika ini di kota 'B' Sean mungkin akan berpikir 2 kali untuk berenang di kondisi sekarang, karna mungkin akan sangat dingin di cuaca seperti ini,
Sean lumayan pandai dalam urusan berenang, waktu kecil dia memang seorang perenang handal di kubangan kali, ya meskipun di sini berbeda levelnya, tapi masih bisa sedikit di kondisikan la yah, dia pun melakukan beberapa gaya renang yang di kuasainya, dari mulai berenang santai, gaya dada, gaya katak, dan bahkan gaya batu pun dia bisa melakukan nya
Setelah beberapa waktu melakukannya, Sean pun segera naik ke pinggir kolam, pelayan pun juga sudah menyiapkan handuk dan minuman hangat di meja rotan di area gazebo, Sean pun langsung merebahkan dirinya di kursi malas rotan yang ada di di sana, Sean memang berniat ingin mencoba pasilitas apapun yang ada di rumah itu
Hingga tidak terasa hari sudah mulai gelap, Sean pun segera beranjak dari sana untuk ke kamarnya lagi, dia langsung membersihkan dirinya dan kemudian solat, setelahnya diapun sejenak rebahan di kasur empuknya sambil menonton acara TV di kamar nya,
Dan Sean turun dari kamarnya saat waktu malam tiba, dia pun segera beranjak ke meja makan, Kartina juga sudah menunggu nya di meja makan, jadi Sean juga langsung duduk di kursi
"Mari makan," ucap Kartina
"Iya bu," jawab Sean
Mereka pun makan malam sambil sesekali mengobrol ringan, dan setelah makan malamnya selesai Sean pun kembali lagi kekamarnya
...
Besoknya Sean pun terbangun saat hari masih sedikit gelap, dan setelah Solat subuh, dia langsung melakukan olah raga seperti biasanya, hanya saja sekarang dia menggunakan alat olah raga yang tidak biasanya dia gunakan, karena di sini perlatanya lebih modern
Setelah hari mulai terang, Sean segera bersiap siap untuk pergi ke kantor lagi, tapi kali ini dia hanya mengenakan kemeja putih polos dan celana katun biasa saja, dia tidak mengenakan setelan jas mahalnya seperti saat pergi kemarin, karena dia sudah memutuskan kalau hari ini dia akan jadi karyawan biasa
"Begini juga tidak terlalu buruk," gumam Sean yang sekarang memerhatikan penampilannya di pantulan cermin
Setelah bersiap Sean pun segera turun dari kamarnya dan mencari ibunya di bawah
"Pagi bu" ucap Sean menyapa Kartina yang baru kelur dari kamarnya
__ADS_1
"Pagi Arman, apa tidurmu nyenyak semalam?" tanya Kartina
"Ya, lumayan nyenyak bu" jawab Sean
Mereka pun segera bergegas keluar mansion bersamaan, tapi mereka masuk ke mobil yang berbeda, dan mereka pun langsung bergegas ke kantor dengan mobilnya masing masing
Sesampainya di kantor, Sean dan Kartina tidak dapat sambutan seperti hari kemarin, Jadi mobil pun juga langsung mengarah ke lantai besment, mereka turun dari mobil dan langsung naik lif ceo lagi untuk naik ke lantai teratas,
Setelah beberapa saat mereka pun tiba di lantai tertinggi kantornya itu, Sean masih belum melihat Elisa di meja kerjanya, jadi dia pun duduk dan menunggunya di sofa ruang tunggu, sedangkan Kartina langsung saja masuk keruanganya
Setelah menunggu beberapa saat pintu ruangan pun terbuka, dan masuklah sosok cantik berparas anggun dengan balutan hijab coklat di kepalanya, Sean pun langsung mengarahkan pandangannya pada Elisa yang baru masuk itu
"Selamat pagi pak direktur" sapa Elisa menganguk pada Sean yang duduk di sana
"Pagi juga elisa, O yah, apa kamu sudah menyiapkan posisi kerja untukku hari ini?" tanya Sean
"Sudah pak direktur, mari saya antar sekarang" ucap Elisa
Sean pun segera beranjak ke pintu ruangan ibunya dulu untuk izin
"Bu, aku turun dulu dengan Elisa" ucap Sean
"Iya silahkan, kalo kamu nanti ada kesulitan, kamu jangan sungkan untuk menghubungi ibu" ucap Kartina
Sean pun berbalik dan menghampiri Elisa, mereka pun segera masuk lift lagi untuk turun
Sean dan Elisa berdiri berjauhan di dalam lift, karena memang mereka belum terlalu saling mengenal, dan masih sedikit merasa canggung
"Elisa , kamu nanti masukan data dataku menggunakan nama Sean sebagai panggilannya, dan kamu juga harus memanggilku dengan nama itu" ucap Sean
"Baik pak direktur,,, maaf sebelumnya, kenapa harus nama itu, kedengaranya sedikit aneh" ucap Elisa melirik ke arah Sean
"Begitukah?, itu memang nama panggilanku, apa itu terdengar aneh?" tanya Sean, dia merasa kalau namanya biasa biasa saja, karena mungkin dia sudah terbiasa dengan panggilan itu, berbeda dengan Elisa yang baru mendengar nya
"Tidak, maksud saya hanya tidak umum saja, tapi bukan berarti jelek pak direktur" ucap Elisa
"Ooh, Mulai sekarang panggil aku Sean saja" ucap Sean
"Baik pak Sean" ucap Elisa
Sean mengerenyitkan dahinya, 'Ternyata memang terdengar aneh kalau pake awalan pak '
"Jangan pake pak, Sean saja, kamu benar, ternyata memang agak aneh terdengarnya" ucap Sean
__ADS_1
Mereka pun akhirnya sampai di lantai 8, mereka keluar lift dan begegas ke ruangan Manajmen pemasaran, Elisa memang akan menempatkan Sean di sana
Di ruangan kantor yang cukup luas itu, Sean melihat ada banyak furnitur meja yang di sekat untuk satu orang dan satu komputer, sekat kaca buram itu hanya setinggi bahu orang dewasa, dan manajemen ini di kepalai oleh manajer bernama Arda Suseno
Mereka pun masuk keruangan itu dan bergegas ke ruangan Manajer, Elisa lasung membuka pintu kaca ruangan itu tampa mengetuknya
Arda yang sedang fokus dengan komputernya pun kaget melihat Elisa yang tiba tiba masuk, meskipun dia Manajer, dia juga harus hormat kepada Sekretaris Presdir ini, terlebih Arda juga seorang pria mata keranjang, jadi melihat gadis cantik dan anggun itu masuk ke ruangannya, air liurnya pun hampir menetes
"Sekertaris Elisa, ada apa gerangan anda menemui saya secara pribadi, silahkan silahkan duduk" Arda pun langsung mempersilahkanya untuk duduk
"Tidak perlu, saya sedikit buru buru, saya kemari hanya ingin meminta kamu untuk menempatkan orang di divisimu," ucap Elisa
"Jangan telalu terburu buru, sangat jarang sekali Sekretaris Elisa bisa keruangan saya, lebih baik Sekretaris Elisa duduk dulu di sini sebentar, santai saja, soal menempatkan orang itu masalah mudah, apa mau aku buatkan teh dulu" ucap Arda
"Aku tidak ada waktu, langsung saja" dia pun memberi isarat supaya Sean segera masuk,
"Dia pak... , Maksud saya dia Sean, tolong atur dia di timu, dia orang baru dan masih perlu belajar, jadi bimbingan dia perlahan" ucap Elisa
"Pak... Maksud saya Sean, sekarang kamu adalah bagian dari departemen ini, kamu akan berada di bawah arahan Manajer Arda, kalo kamu perlu apa apa, langsung hubungi saya saja" ucap Elisa
"Baik, saya mengeti" ucap Sean
Melihat Sean yang di beri perhatian seperti itu oleh Elisa, Arda merasa tidak senang, 'Siapa peria ini, kenapa mendapat perhatian seperti ini dari Elisa' umpat Arda
"Baiklah, selamat bergabung di Departemen Pemasaran, aku akan menujukan tempat untukmu" ucap Arda ketus, dia memberi kesan jelek terhadaap Sean yang mengacaukan moodnya sekarang ini
Arda pun keluar dan menujukan tempat kerja untuk Sean tempati, Sean juga langsung duduk di sana, Elisa juga langsung keluar, Arda juga tidak tinggal lama dia kembali keruanganya
Sean yang sudah duduk pun menyalakan komputer di depanya, mencari file Manajmen yang tersimpan di komputer untuk mempelajarinya
Tidak lama Arda datang dengan setumpuk berkas dan menaruhnya di meja Sean "Selesaikan berkas berkas ini dan harus beres sebelum waktu makan siang tiba dan langsung antarkan keruangan saya, jangan telat" ucap Arda
"Baik" Sean tidak protes, meskipun melihat berkas yang menumpuk di depanya ini cukup banyak dan tidak mungkin menyelesaikanya sesingkat itu, dia baru belajar, masih harus mencari tau dan mempelajarinya, 'Ya sudah lah di coba saja' umpat Sean
Arda pun kembali keruanganya. Sean terdiam beberapa waktu dan akhirnya dia mengambil berkas itu, tiba tiba ada orang di sebelah meja Sean yang menghampirinya
"Sabar saja, dia memang seperti itu orang nya, aku juga sering di berikan tugas sebanyak ini, dia punya mood yang buruk, kadang biasa kadang sangat menyebalkan" ucap pria berkacamata bulat itu
"O ya aku Sandri, selamat bergabung di divisi kami" ucap Sandri mengulurkan tangannya pada Sean,
Sandri berusia setahun lebih tua dari Sean, dia berkacamata bulat sedang, denga rambut di sisir rapih kesaamping, berpenampilan biasa saja dan mungkin untuk pandangan sebagian orang akan menilai penampilanya itu culun, tapi dari pandangan Sean Sandri terlihat seperti seorang yang Jenius
...~°~...
__ADS_1
...(jangan lupa like dan dukunganya)...