
Ferdi tidak langsung menjawab Sean, dia seperti memikirkan sesuatu
"Aku tanya lagi, Siapa yang menyuruhmu menembaku?" ucap Sean sambil duduk di kursi di sebarang pria pria yang di ikat di kursi itu
"Walau kamu membunuhku, aku tidak akan memberitahumu" ucap Ferdi
"Lancang" 'jebret' anak buah Agam langsung memukul wajah Ferdi cukup keras
"Aaaaaa" Ferdi pun mengerang kesakitan
Anak buah Agam bersiap untuk memukul dia lagi namun
"Cukup, tidak perlu di pukul, jika terlalu cepat dia mati tidak ada gunanya" ucap Sean
"Lebih baik kau memang mebunuhku" ucap Ferdi menantang Sean, dia yakin Sean tidak akan membunuhnya karena dia adalah lunci jawabanya
"Tentu saja, tapi nanti setelah aku tau siapa yang menyuruhmu, aku masih banyak cara untuk membuatmu mengatakanya" ucap Sean
"Coba Saja" ucap Ferdi
"Ku kira ini akan mudah, tapi sepertinya kita harus mempersulitnya" ucap Sean
"Agam , gantung mereka terbalik" ucap Sean, yang sudah tidak tega kalau melihat anak buah agam menghajar mereka lagi yang sudah babak belur ini
"Baik" ucap Agam
Agam pun menyuruh anak buahnya menggantung kaki mereka jadi satu dengan posisi terbalik, merekapun di tempatkan di tengah Ring tinju di besi tempat gantungan samsak untuk latihan anak buah Agam
"Jadi kalian tetap tidak mau mengatakan apapun?," tanya Sean yang sudah berada di arena ring tinju
"Aku tidak tau, aku hanya bertugas mengendarai mobil, penjarakan aku saja, jangan pukul aku lagi aku mohon" ucap Salah satu pria yang tidak di kenal Sean itu, dia menyangka kalau dia akan di jadikan alat latihan dan dipukuli seperti samsak
"Kalau kamu?" Sean menjambak rambut seorang pria satunya lagi cukup keras
"Aku aku tidak tau, yang aku tau hanya tuan Ferdi yang menyurhku untuk menembak anda" ucap pria satunya
__ADS_1
"Oh, jadi kamu yang menembak" ucap Sean melepas tangan dari rambutnya dan menampar nampar pipi pria ini pelan
"Apa kamu tau rasanya di tembak itu seperti apa?" tanya Sean padanya
"Ti tidak" ucap pria itu curiga
"Agam, apa kamu mendapat barang buktinya juga?" tanya Sean
"Tentu tuan, aku menyimpan pistol yang dia gunakan untuk menembak anda," ucap Agam
"Baiklah, bawa kemari" ucap Sean
"Ti tidak, jangan, ja jangan tembak aku, aku masih ada keluarga, aku tidak mau mati seperti ini" ucap pria yang di gantung terbalik ini
Sean pun mendapat pistol dari agam dan sebuah sarung tangan, mungkin supaya tidak menghilangkan sidik jari si penembak Sean pada pistol itu
"Aku hanya ingin mencobanya padamu, kamu juga sudah mencobanya padaku kan?" ucap Sean
Pria ini pun sampai terkencing kencing dan membasahi bajunya sendiri karena posisinya terbalik, saking takutnya melihat Sean sudah memegang pistol itu di depan wajahnya
Sean pun menodongngkan senjata berjenis Revolver itu ke kepala orang yang menmbaknya "Dor" ucap Sean mengagetkan pria ini
"Aaaaaaa," pria ini pun berteriak karena menyangka Sean sudah menekan platuk dari pistol itu, tapi dia tidak merasakan sakit
Ferdi dan satu temanya yang lain juga kaget hingga mereka latah dan menyebutkan kata kata yang aneh, mereka kaget karena menyangka Sean benar benar menembak pria ini
"Bagaimana Rasanya?" tanya Sean mengisenginya
Pria itu benar benar sangat kaget sampai dia tidak bisa berkata kata
Sean mengalihkan pistolnya ke kepala Ferdi "Apa kamu mau mencobanya juga?, ini tidak sakit, hanya seperti di gigit semut, aku bilang begini karena aku juga pernah mencobanya" ucap Sean
Ferdi sedikit gemetar karena kepalanya juga di todong pistol sekarang "Lakuakan lah, itu artinya kamu tidak akan menemukan jawaban yang kamu cari" meski Ferdi yakin Sean tidak akan membunuhnya sebelum dia memberi jawaban, tapi tetap saja ada perasaan takut jika dia di todong pistol seperti ini
'Duuuaaaaar' Sean membelokan pistolnya kebawah dan menembak lantai matras
__ADS_1
Ferdi sangat kaget dengan suara pistol asli di depan mukanya sendiri , sekarang Sean benar benar menekan pelatuknya, hanya saja Sean mengarahkanya kebawah, bukan ke kepala Ferdi
Sean yang menembak juga sedikit kaget, karena baru pertama kali juga pegang pistol, tapi dia tetap cool di permukaan "Aku perkirakan di dalamnya masih ada peluru yang tersisa, jadi kurasa akan sangat cukup untuk menghancurkan otakmu" ucap Sean yang menodongkan lagi pistol itu ke kepala Ferdi
Ferdi sekarang merasa benar benar sangat takut, bau bubuk misiu yang keluar dari bibir pistol itupun bisa dia cium, jadi bagaimana mungkin dia tidak takut, dia mencoba mengatur nafasnya lagi yang tidak karuan, tapi dia masih bungkam seribu bahasa
"Jangan piki aku hanya main main, meskipun kamu mati, aku pasti masih bisa menemukan orang yang menyuruhmu, itu hanya masalah waktu, jadi kurasa kau akan mati dengan sia sia saja" ucap Sean menakuti Ferdi
"Agam, apa mereka bawa ponsel?" tanya Sean
"Iya tuan, saya menyimpanya" ucap Agam
"Bawa kemari, aku yakin bos mereka sudah menghubungi mereka mereka ini, aku pastikan bisa menemukanya hanya dengan nomornya saja, jadi kamu bersiap saja untuk mati" ucap Sean
Ferdi pun kalah dengan gertakan Sean ini "Tunggu tunggu,,,, jangan tembak,,,, jangan tembak,,,, aku katakan,,,, aku katakan,,,, dia adalah Om mu sendiri, paman Dirto,, jadi jangan tembak" ucap Ferdi dengan nada putus asa
Sean pun merasa seperti tersambar petir mendengar nama Om nya di sebut, tapi dia tidak mempercayainya begitu saja, Sean berpikir mana mungkin Om nya sendiri yang mencoba mengahancurkan hidup keponakan dan adik kandungnya
"Apa kau kira aku akan percaya bualanmu, pertama kau ingin membunuhku dan kedua kau mau mengadu domaba aku dengan om ku sendiri, Ferdi kamu memang pantas mati" ucap Sean dia benar benar menyentuh pelatuk pistol itu dan berniat untuk menembak
Itu terdengar oleh Ferdi dan sadar Sean tidak akn main main seakarang "Aku bersumpah, aku berani bersumpah, dia sangat ingin menguasai seluruh perusahaan KARTIN.corp, aku mendengarnya sendiri,,,,, aku mendengarnya sendiri" Ferdi mulai meneteskan air mata Saking takutnya untuk mati
Seketika badan Sean sedikit melemas, 'Tidak mungkin' ucap batin Sean, tapi dia menyambungkan semua kejadian yang di alaminya dan ibunya dari cerita Agam itu sangat masuk akal menurutnya, tapi sean masih belum percaya
"Itu sangat musathil, ibuku adalah adik kandungnya, tidak mungkin dia tega ingin melenyapkan adik dan keponakanya sendiri, jadi jujur lah sebelum aku benar benar kehabisan kesabaranku" ucap Sean yang kini menjambak Rambut Ferdi dengan tetap menodongkan pistol di jidat Ferdi dengan tangan satunya
"Aku bersumpah,, aku bersumpah, aku mendengarnya sendiri kalau aku harus melenyapkan Ibumu, aku bersumpah sungguh" jawaban Ferdi masih tidak berubah
Keyakinan Seanpun mulai goyah, "Kalau begitu buktikan, kau pasti punya nomornya kan?, hubungi dia, dan jangan bilang kalau kamu tertangkap, aku pastikan menembakmu kalau kamu bicara macam macam" ucap Sean
"Baik baik" ucap Ferdi
Seanpun mencari nomor yang di intruksikan Ferdi di ponselnya karena tangan Ferdi masih terikat, dia manamai kontaknya dengan Daddy Bos 'kenapa dia menamainya ayah?' pikir Sean dia yakin kalau dia dan Ferdi tidak terikat hubungan darah,
"Kenapa kau menamainya daddy?" tanya Sean penasaran
__ADS_1
...~°~...