
Dan beberapa waktu kemudian , ambulans pun tiba di Rumah Sakit umum kota K, Sean pun langsung dilarikan ke ruangan operasi untuk melakukan pengangkatan proyektil peluru yang bersarang di tubuhnya
Sean pun kini terbaring di ranjang operasi
"Apa pasien dalam kondisi sadar?" tanya salah satu dokter yang menangani Sean ke salah satu perawat yang akan membantu proses operasi
"Iya dok, dia sadar Sepenuhnya," ucap perawat yang sudah mengecek ke adaan Sean, karena dari tadi memang Sean selalu menjawab pertanyaan perawat itu tapi dengan mata tertutup
"Pak, apa anda bisa mendengar saya?" tanya dokter itu ke Sean
"Tentu saja dok" jawab Sean
"Ini mustahil, bukan kah dia tertembak di bagian kepala dan dadanya?" tanya dokter itu kperawat
"Berikan aku hasil foto rontgen pasien" ucap doktor keperawat yang ada disana
Dokter itupun menaruh foto rontgen di LED film viewer untuk melihat lebih jelas hasil rontgennya "Ini keajaiban, sangat jarang peluru tidak tembus kebagian dalam tubuh manusia dengan posisi seperti ini" ucap dokter itu
Dan memang ini cukup mencengangakn, proyektil peluru itu tidak tembus ke kepala atau dada Sean, peluru itu bersarang sangat dangkal di kulit Sean, mungkin karena pengaruh cincin besi kursani yang Sean dapat dari kang Rawing tempo hari, jadi tubuh Sean sedikit kebal terhadap peluru,
Hanya saja Sean memang tidak pernah memakainya cicin itu di jari tanganya, karena menurut Sean modelnya terlalu kuno, tapi dia memang selalu membawanya kemanapun di sakunya, hanya saja mungkin epek kebalnya sedikit berkurang jika tidak di pakai
Dokter itu pun kemudian segera melakuakn prosedur pengangkatan peluru, dan tidak butuh waktu lama operasi pun selesai dengan mulus, karena memang tidak sulit untuk mengangkat proyektil peluru itu dari tubuh Sean, karena proyektil itu memang sangat dangkal dan terlihat oleh kasat mata,
Hanya saja tadinya memang tertutup bercak darah dari lukanya, jadi itu yang membuat panik hadirin yang berada di tempat kejadian tadi
Di luar pintu Ruang operasi terlihat ada seorang wanita yang terus mundar mandir dan beharap harap cemas menanti hasil operasi, "Ya allah, selamatkanlah Direktur arman ya allah" Elisa terus mengulang kata kata itu sambil mundar mandir di depan pintu
Sementara yang Lainya menunggu di kursi panjang yang ada di luar ruang operasi itu
Tidak lama lampu di atas pintu Ruang operasipun berganti warna dan doktorpun segera keluar dari Ruangan operasi
Elisa dan yang lainya pun langsung menghampiri dokter itu, "Dok, gimana hasil operasinya dok, apa direktur Arman Selamat?" tanya Elisa, dia memang yang paling mendominasi, karena dia satu satunya wanita yang menunggu Sean sekarang,
Hati wanita memang sangat peka dan sering menghawatirkan sesuatu secara berlebihan
"Pasien dalam keadaan setabil, tidak ada yang perlu di khawatirkan" ucap dokter
"Oh syukurlah," ucap Elisa merasa sangat lega
__ADS_1
Sean pun segera di pindahkan ke bangsal Rawat karena kondisinya juga tidak terlalu buruk, Hanya saja Sean masih belum sadar sepenuhnya karena efek obat bius
"Elisa, saya pulang dulu, tolong kamu jaga direktur Arman ya, kalau ada kabar apa apa tolong beritau saya" ucap Dirto
"Baik pak, silahkan" ucap Elisa
Dirto pun segera beranjak pergi dengan putra laki lakinya Ogas, di Rumah Sakit pun tinggal ada 4 orang yang menunggu Sean, Elisa , Regan dan 2 anak buah agam yang ditugaskan Agam untuk berjaga tadi
Sementara Agam masih terus melakukan pengejaran terhadap pelaku penembakan itu
Beberapa jam kemudian Kartina pun datang ke rumah sakit kota K ini dengan dikelilingi Sepuluh orang pengawal
Kartina pun langsung menghampiri 2 pengawal yang berjaga di luar ruang rawat Sean "Kalian ini kerjanya apa sih, kenapa bisa sampai lengah seperti ini, kalian harusnya bisa melindungi putraku dengaan nyawa kalian, kalau sampai terjadi apa apa pada putraku, aku akan menuntut kalian" ucap Kartina sangat marah
"Ma maafkan kami nyonya, kami memang tidak becus kerja, kejadianya sungguh sangat diluar dugaan kami" ucap salah satu penjaga itu
Kartina tidak menggubris mereka lagi dan langsung masuk ke ruang rawat Sean
Regan dan Elisa pun langsung berdiri dari duduknya saat melihat Kartina datang
Kartina pun langsung menghampiri Sean yang sedang tertidur pulas dan masih belum bangun dari saat keluar ruang operasi tadi
"Kata dokter kondisi pak direktur setabil bu" ucap Elisa yang masih sedikit terisak dengan mata yang sembab
Kartina pun memperhatikan anaknya yang kepalanya diperban lagi, sudah ketiga kalinya Sean terbaring di rumah sakit dengan luka di kepala
Dan entah kebetulan atau tidak Sean sudah 3 kali ini terluka di pelipis kirinya, entah kenapa pelipis kirinya itu yang selalu jadi korban, dan setiap kali terluka Sean selalu jadi lebih baik setelahnya, seperti sebuah indikator takdir Sean untuk maju ke level berikutnya
"Arman, bangun Sayang, ini ibu datang" ucap Kartina pelan sambil mengelus rambut Sean
Sean tidak merespon ibunya karena dia tidur cukup nyenyak
kartina pun sangat iba melihat putranya ini, dia memutuskan untuk membawa Sean ke kota J, karena menurut Kartina bisa saja masih ada yang mengintai mereka jika masih di kota ini
"Elisa kamu tolong urus pemindahan Arman ke kota J, di sana mungkin lebih aman untuk Arman" ucap Kartina
"Baik bu, saya akan Segera mengurusnya" ucap Elisa, diapun segera pergi dari Ruangan itu, Regan juga ikut dengan Elisa
Seanpun akhirnya di bawa keluar dari rumasakit itu dan langsung di antar oleh ambulans ke bandara, Sean pun di terbangkan dengan jet pribadi Kartina yang dia tumpangi kartina sebelumnya, karena dia memang mempunyai 2 unit jet pribadi
__ADS_1
Setibanya bandara kota J, Sean juga sudah di tunggu oleh Ambulans dengan pengawalan yang sangat ketat
hinga akhirnya proses pemindahan Sean pun berjalan lancar
Sean tiba di Kota J sudah lewat tengah hari, dia tidak Sadar kalau dirinya sudah berpindah pulau sekarang
Dia pun perlahan terbangun dari tidurnya di ruang rawat dengan masih di dampingi Elisa dan Regan, Sedangkan Ibunya kebetulan sedang keluar sesaat sebelum Sean bangun
Elisa juga belum menyadari kalau Sean sudah membuka matanya
"Elisa, aku ingin pulang" ucap Sean
Elisa pun langsung menoleh ke arah Sean "Pak direktur, anda sudah sadar Syukurlah" ucap Elisa
"Bawa aku pulang" ucap Sean masih sdikit lemah, mungkin epek obat bius belum benar benar hilang darinya, dan maksud Sean pulang itu dia memang ingin ke kota J
"Tidak pak direktur, anda lebih baik disini, kondisi anda tidak baik" ucap Elisa
"Iya bos, anda lebih baik tetap di sini" ucap Regan
"Tidak, aku ingin ke kota J, aku sangat merasa asing di sini" ucap Sean yang perlahan kondisinya membaik, diapun mencoba mendudukan dirinya di kasur rawat
"Pak direktur, anda jangan banyak bergerak dulu" ucap Elisa yang langsung membantu Sean untuk duduk
"Apa ibuku tau aku tertembak, kalau bisa jangan beritau dulu, aku baik baik Saja" ucap Sean
Elisa pun beradu pandang dengan Regan "Bos, anda Sudah di kota J Sekarang, bu Kartina yang membawa anda kemari" ucap Regan
"Benarkah, aku tidak ingat" ucap Sean
Tidak lama Kartina pun kembali masuk ke Ruangan Sean
"Arman, kamu Sudah Sadar sayang, Syukurlah" ucap kartina langsung menghampiri Sean
"Kenapa kamu duduk?, kondisimu masih lemah, kamu tertembak sayang," ucap kartina yang sekarang menggantikan posisi Elisa, sementara Elisa mundur kebelakang Kartina
"Tidak apa bu, aku baik baik Saja" ucap Sean
Dia juga bingung kenapa tubuhnya tidak merasa Sakit padahal dia tertembak, diapun mulai mengingat sesuatu 'Apa ini karena efek cicin kursani?' pikir Sean
__ADS_1
"Untung ibu tidak pergi ke peresmian itu, kalau ibu pergi mungkin......" Sean tidak meneruskan kata katanya dia tidak sanggup membayangkan kalau saja yang tertembak itu ibunya, mungkin ceritanya akan sangat berbeda