
Tiarapun kini sudah berada di atas Ring dengan 2 pengawalnya, dan dia sudah melakukan pemansan, tapi Sean masih belum naik juga dan hanya memandangi Tiara dari tempatnya dia berdiri tadi
"Apa kamu laki laki?, kalau iya cepat naik, jangan jadi pengecut" ucap Tiara yang sedikit emosi karena melihat Sean diam saja
"Tiara,, apa kah kita perlu bertarung?" ucap Sean
"Kenapa, apa kamu takut oleh seorang wanita? kalau kamu tidak mau bertarung denganku, maka lepaskanlah kakaku tampa syarat" ucap Tiara dari atas ring
Seanpun hanya menghela napasnya, bukanya dia menyepelekan kemampuan Tiara, tapi masa iya dia harus bertarung dengan wanita
"Baiklah kalau kamu memaksa" ucap Sean
Seanpun mulai melepas jas mahalnya, dan melipat kemeja di tanganya sampai ke sikut, dia juga melepas batu kursaninya agar ini adil untuk Tiara
Perlahan Sean pun naik ke atas ring dengan masih bersetelan baju kerja,
"Bagus, aku akan menghajarmu, jadi kau juga tidak perlu ragu padaku, aku tidak suka di kasihani" ucap Tiara
Sean hanya bisa menatap Tiara yang sudah mengambil ancang ancang itu "Apa ada peraturan di sini?" tanya Sean yang berpikir kalau wanita mempunyai beberapa area sensitif
"Tidak ada peraturan apapun, biar aku bebas menghajarmu" ucap Tiara
"Baiklah" ucap Sean juga menyiapkan kuda kuda
"Berhati hatilah jangan sampai kau lengah, karena aku tidak akan segan untuk memukulmu" ucap Tiara yang masih menyimpan sedikit kepedulianya pada Sean
"Baik" ucap Sean
Tiara yang sudah siap dari tadi pun langsung saja menyerang Sean, dia langsung melesatkan pukulan yang bertubi tubi pada Sean, dia menendang, menyikut, dan mendekul dengan tehnik muaythai yang dikuasainya
Tapi semua serangan Tiara itu bisa di tahan Sean dan belum ada yang serangan yang berhasil menembus pertahanan Sean, sampai Tiara pun merasa sedikit jengkel dan kelelahan, dia terdiam sesaat "Ayo lawan aku, mengapa kau tidak membalasku, apa kau kira aku suka di kasihani olehmu" ucap Tiara
Sean pun hanya tersenyum, dia tidak menyangka semua gerekan Tiara ini cukup taktis, dia memang cukup terlatih dan mempunyai kemampuan yang tidak kalah hebatnya dengan pria pria anggota Redbear senior yang lain
Tapi sebenarnya mudah saja untuk Sean menyerang Tiara dan segera mengalahkanya, tapi bukan Sean namanya jika dia harus memukul Seorang wanita "Gerakanmu terlalu hebat, makannya aku belum bisa menyerangmu" ucap Sean beralasan
"Omong kosong, aku tau kamu menahan diri kan, aku tidak suka di permainkan seperti ini" Tiarapun langsung menyerang Sean lagi dan lagi
__ADS_1
Sean pun hanya mencoba bertahan dan tidak ada maksud untuk menyerang, sampai ketika dia dan Tiara bertarung dari jarak yang cukup dekat, Sean menahan serangn sikut tiara yang mengarah ke tubuhnya dengan menahan dan mendorong tangan tiara itu kedalam tubuhnya sendiri, alhasil "Ahaawww" tiara sedikit merintih karena tinjunya mengenai dadanya sendiri,
Tiara seketika menghentikan sejenak seranganya dengan memegangi dadanya yang sakit itu, dia merasa kalau itu cukup menyesakan dadanya, dia menundukan tubuhnya ke lantai matras dan terlihat kesakitan
Sean pun kaget, karena tidak adak niat seperti itu pada awalnya "Tiara, apa kau tidak papah" ucap Sean
Dua pengawal Tiara pun langsung mendekat ke tempat pertarungan "Nona apa kau tidak papa" ucap Salah satu pria itu
"Kurang ajar, beraninya kamu menyakiti nona kami" ucap pengawal Tiara yang langsung menerjang ke arah Sean yang masih siaga
Sean tentu tidak diam saja, dengan cepat dia menghindar dan memukul mereka dengan kekuatan penuh dari tanganya, hingga satu persatu pengawal Tiara yang bertubuh tegap itu pun terlempar jauh menabrak pembatas ring dan langsung tergeletak di matras, dan merekapun tidak ada yang bergerak lagi dan langsung pingsan
Tiara pun sedikit ngeri melihat pukulan Sean yang mampu menerbangkan 2 pengawalnya itu, padahal kalau di lihat dari segi perawakannya Sean cenderung sedikit lebih kecil jika di bandingkan mereka, jadi Tiara sedikit tidak paham 'kenapa kekuatannya bisa sebesar itu' pikir Tiara
"Kenapa kamu tidak memukulku seperti itu, apa kamu kasihan padaku karena aku wanita?" ucap Tiara yang masih terduduk di lantai
"Sudah ku bilang, gerakanmu terlalu hebat dan aku sulit untuk me............"
"Alasan" Tiara langsung bangkit dan menyerang Sean lagi, namun seranganya kini sedikit lambat karena dia sambil menahan sakit di tubuhnya
Alhasil Sean kehilangan keseimbanganya dan jatuh terlentang di atas matras, di susul Tiara yang jatuh juga karena tersandung oleh kaki Sean dan langsung menimpa tubuh Sean "Ah" lirih Tiara yang tengkurap di perut Sean
Posisi tubuh Sean pun kini tertindih oleh tubuh Tiara, dan itu sedikit menyulitkan Sean untuk segera bangkit,
Tiara pun tidak menyia nyiakan kesempatan itu dia langsung beranjak dan menduduki bagian perut Sean yang tergeletak
"Kau tidak bisa menghindar lagi, jadi bersiaplah untuk menerima pukulan" ucap Tiara yang langsung mengangkat tinjunya tinggi tinggi
Sean pun sadar posisinya tidak menguntungkan, jika Tiara laki laki, Sean pasti akan langsung menggulingkan tubuh Tiara dan berbalik menindihnya dan mengunci tubuh Tiara dengan mudah atau memukulnya sampai pingsan, tapi Tiara wanita, Sean tidak berani melakukanya gerakan seperti itu
"Baiklah, terserah" ucap Sean pasrah saja apa yang akan Tiara lakuakan padanya
Tiara pun memukulkan 2 tanganya pada wajah Sean 'Buk' buk' dan Tiara pun mengangkat tinjunya lagi
Sean yang di pukul pun memang lumayan merasakan sakit, dia pun menanti pukulan berikutnya dan belum berniat menghindari pukulannya lagi, dia berpikir mungkin dengan sedikit mengalah akan sedikit meredakan emosi Tiara,
Tiara pun sadar kalau Sean tidak memberikan perlawanan yang berarti, diapun menjatuhkan tinjunya ke dada Sean dengan tidak menggunakan tenaganya
__ADS_1
Sean pun heran, kenapa tinju Tiara sangat lemah, dia pun mulai memperhatikan wajah Tiara, yang ternyata tiara menangis
"Kenapa?, bukan kah kau ingin memukulku?, lakukan saja" ucap Sean
"Kenapa kamu tidak melawan? apa karena kasihan padaku? aku tidak suka di kasihani oleh mu, lawan aku" ucap tiara meremas kemeja Sean kuat kuat
"Aku tidak memukul wanita, jadi maaf, aku tidak bisa melawan" ucap Sean
"Kenapa, kenapa, kenapa?" ucap Tiara sedikit menaikan nada bicaranya, dia tidak memukul Sean lagi karena dia merasa tidak tega juga jika harus terus memukulnya, karena dari awal Tiara memang sudah menyimpan sedikit rasa pada Sean, jadi dia tidak bisa menyakiti Sean lebih dari itu
Tiara pun menundukan kepalanya di atas tubuh Sean itu dan menangis di sana untuk meredakan emosinya yang tidak terlampiaskan
Sean pun tidak bisa berbuat banyak dan hanya membiarkan tiara di sana beberapa saat, lambat laun Sean mulai menyadari kalau posisi mereka itu terlalu intim
Sean pun segera mendorong tubuh Tiara ke samping tubuhnya dengan sedikit kasar, dan Sean langsung bangkit untuk duduk
Tiara pun terjatuh dari tubuh Sean itu ke matras dan melanjutkan tangisanya di sana,
"Ma maaf," ucap Sean yang memang tidak bermaksud seperti itu, dia sangat kasian pada Tiara sekarang, tapi dia tidak mungkin juga melepaskan Leon begitu saja, Rania juga pasti tidak akan menyetujuinya
Di saat saat seperti ini tiba tiba saja muncul seseorang dari pintu masuk markas Agam yan langsung menendang 2 anak buah Agam yang berjaga di pintu yang mencoba menghadangnya
"Aaaa" 'Gupprak' Guprak' 2 anak buah Agam terlempar cukup jauh hingga menabrak alat alat latihan
Perhatian Sean pun langsung tertuju pada pria paruh baya yang mengenakan jubah kulit berwarna hitam dan berkacamata hitam, dia masuk dengan di ikuti puluhan anggota Redbear
Yang pertama merespon kedatangan dia adalah Agam yang di luar Ring tinju , dia sangat mengenali pria ini "Goma" ucap Agam
Goma pun melirik ke arah Agam yang berada sedikit jauh darinya "Hmm, kamu masih hidup juga, tapi tetap saja kamu terlihat menyedihkan seperti dulu" ucap Goma sambil memperhatikan ke sekeliling Ruangan markas Agam ini
"Sudah lama aku menunggu untuk bisa berhadapan denganmu seperti ini" ucap Agam dengan pandangan mata yang tajam ke arah Goma, dan dia pun beranjak dari pinggir ring tinju untuk berhadapan dengan Goma
"Kau tetap saja sampah meskipun majikanmu mendandanimu dengan jas mahal itu Agam" ucap Goma yang juga dengan tenang melangkahkan kaki ke arah Agam yang perlahan mendekat dengan di iringi belasan anak buah Agam juga di belakangnya
Merekapun akhirnya berhadapan di tengah tengah dengan Agam yang menatap Goma dengan penuh kebencian karena teringat masa lalunya
...~°~...
__ADS_1