Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo

Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo
Dia Orangnya


__ADS_3

Sean sebenarnya mengerti kata 'meyakinkan' yang Rania ucapakan, tapi dia malah berpura pura bodoh untuk menggoda Rania "Apa kita sudah pacaran ya? kenapa aku tidak ingat momen bersejarah kamu menerimaku" Sean pura pura berpikir


Wajah putih Rania pun memerah karena malu, Rania pun mencubit Sean di samping perutnya dengan sangat gemas


"Iiiiih kamu, aku hanya pura pura tadi supaya bisa meyakinkan bu Kartina, jangan berpikir macam macam" ucap Rania memelototi Sean


"Sudah nanti saja menemui pak Arman, sekarang sudah waktunya kerja lagi, tapi kamu nanti tetap harus menemaniku menemuinya lagi" ucap Rania


"Iya iya baik," ucap Sean yang meringis kesakitan, Sean dengan tidak berdaya mengikuti Rania ke arah lift 'terbuat dari apa tangan wanita ini , mencubitnya seperti penjepit besi saja' gumam Sean dengan senyuman yang lebih jelek dari pada menangis


Mereka pun kembali keruangan masing masing, Sean sudah duduk di kursinya, dia meminta siaran langsung dari lantai sembilan pada (eS) , Sean pun tentu memilih siaran di ruangan Rania, dia yang baru saja duduk dan menyimpan paper bag di mejanya, Rania terlihat menyunggingkan senyuman indah di wajahnya dia terlihat senang, dengan sebelah tangan dia menahan dagunya di meja, entah apa yang sedang Rania pikirkan


Sean pun tersenyum melihat Rania tersenyum, hanya yang di sayangkan Sean, kenapa Rania harus membuang bunga yang di beri oleh Sean untuknya, mungkin karena menyangka itu pemberian orang lain, "Kalau tau aku yang memberikanya, apa dia akan menolak?" gumam Sean


Sean keembali fokus ke pekerjaan, Kebetulan siang ini Arda mengumumkan ada rapat kecil departemen, yang rutin di adakan seminggu sekali, rapat ini hanya di hadiri karyawan dari manajemen yang di pimpin Arda saja, mereka pun bergegas ke meeting room yang ada di lantai ini juga


Sean pun masuk ruangan meeting, di ruangan itu Sean melihat meja yang cukup panjang dengan kursi kursi kantor yang berjajar rapi, dengan satu layar lcd besar di tembok, meja ruangan ini lebih besar dan panjang daripada di meeting room yang ada di lantai presdir, mungkin karena itu hanya untuk meeting ptinggi petinggi saja yang memang tidak sebanyak karyawan divisi


Di meeting kali ini pembahasan terbagi untuk 2 tim, ya itu tim marketing dn tim sales, kebetulan Sean tergabung di tim marketing yang bertugas menyusun konsep penjualan, berbeda dari tim sales yang tugasnya bertatap muka langsung dengan konsumen,


Meski pembahasanya bebeda untuk tiap tim tapi tetap masing masing tim harus tau, karna marketing dan sales adalah satu kesatuan yang tidak dapat di pisahkan. Meskipun memiliki perbedaan dalam peran, 2 tim ini harus tetap solid karena termasuk pemeran penting juga untuk sebuah perusahaan sebagai ujung tombaknya


Jadi Sean pertama di tempatkan di posisi ini oleh Kartina, Sean juga beberapa hari ini mulai memahami seluk beluk departemen ini, dia berencana pindah ke manajemen yang lainny besok


Meeting pun selesai setelah beberapa waktu, merekapun bubar dan kembali keruangan masing masing, Sean juga mendapat banyak masukan di meeting kali ini, dan mendapat beberapa ilmu di bidang pemasaran,


Sean pun melanjutkan pekerjaan nya lagi, setelah bebera waktu Sean sibuk dengan komputernya, tidak terasa waktu pulang kerja sudah tiba, dia keluar dan langsung menuju lantai atas, setelah menyapa Elisa, Sean langsung masuk ruangan ibunya

__ADS_1


Sean melihat ibunya masih duduk dan masih fokus ke komputernya


"Bu, belum aelesai kah," tanya Sean


"Sudah sudah, sdikit lagi ini tanggung, duduk dulu, ibu mau bicara" ucap Kartina


"Oh baiklah, " Sean pun duduk di depan meja ibunya, dia tau ibunya pasti akan membahas masalah Rania tadi


"Araman, sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dari Rania, apa kamu sedang mempermainkanya? jika kamu memang menyukai Rania jangan kamu melandasinya dengan kebohongan, itu tidak akan baik nantinya" ucap k


Kartina


Sean pun terdiam sejenak


"Sebenarnya ini hanya salah paham saja bu, aku tidak ada maksud membohongi Rania, jadi gini, aku kenal Rania di kota 'B' kan, dia tau aku hanya pelayan dari Rumah Makan sederhana, dia tau aku juga berasal dari kampung, jadi dia mungkin tidak menyangka jika aku ini putra ibu" ucap Sean


Sean menggaruk rambutnya


"Kalau soal itu, aku memang berkenalan denganya menggunakan nama Sean, itu nama panggilan masa sekolah ku dulu, tapi Rania juga tau kalau aku juga Arman, tapi aku belum sempat menjelaskan kalau aku putra ibu, nanti Arman coba jelaskan" ucap Sean


"Oh, ya sudah, cepat selesaikan masalahmu dengan pacarmu itu dan undang di makan lagi nanti, kalau itu alasanya harusnya mudah menjelaskanya kan" ucap Kartina


"Baik lah, Arman coba nanti, tapi kita sebenarnya belum pacaran bu, Rania hanya asal bicara tadi, kita masih dalam tahap PDKT" ucap Sean


"Seperti itu ya, ibu lihat Rania juga menyukaimu, bukan kah harusnya itu tidak akan sulit,? " ucap Kartina


"Ya, Arman rasa juga bgitu, tapi Rania tidak sesederhana itu, aku masih harus berusaha keras sepertinya, Arman juga tidak terlalu terburu buru juga" ucap Sean

__ADS_1


"Ya sudah, ibu bantu doa saja kamu biar cepet cepet jadian" ucap kartina sambil tersenyum


"O yah, ayo pulang,"


Mereka pun bergegas ke luar dan menuju lift lalu mereka turun ke parkiran besment, baru saja keluar dari lift handphone sean begetar tanda panggilan masuk sean pun mengangkat


"Hallo, kamu masih di mana? aku nunggu kamu di lobi," ucap Rania


"Oh ya senbentar, aku kesana sekarang" ucap Sean, dia pun menutup panggilan telepon nya, tapi belum juga dia menyimpan ponsel ke saku nya, (eS) mengirim informasi kalau seseorang yang dia cari ada di lobi, dia pun memastikan satu nama yang tidak asing untuk Sean 'Apa benar dia' gumam Sean penasaran


"Bu, aku ke lobi dulu, ibu duluan saja, tidak perlu menunggu aku," ucap Sean


"Siapa?, Rania yah, ya sudah sana pergi" ucap Kartina


Sean pun kembali ke lift dan naik ke lantai satu, tak lama pintu lift pun terbuka lagi Sean keluar dan melihat sekeliling untuk mencari keberadaan Rania, Sean pun melihatnya Rania melambaykan tanganya pada Sean dari kejauhan


dia sedang duduk di sofa di sebrang meja resepsionis dengan Seli, dan Ferdi sedang berdiri di depan Rania, mereka pun mengarahkan pandangan mereka ke arah Sean


Sean masih berdiri di sana, dia penasaran tentang informasi dari (S) dia pun mencoba menghubungi nomor itu tampa mengangkat ponselnya ke atas, panggilan itu pun terhubung, dan salaseorang dari orang di sana mengeluarkan ponsel dan memperhatikan ponselnya tampa menjawab panggilan


Mungkin karna merasa dia tidak mengenal nomornya dia pun menolak pangilan Sean 'Ternyata memang dia orangnya' ucap Sean dengan melihat tajam ke arah Ferdi yang berada jauh di sana,


Ferdi masih tidak tau kalau Sean putra Kartina, dia hanya sudah mengenali mobil milik Sean saja, tadinya Sean berniat memberitahu Rania tentang dirinya secepatnya,


Tapi melihat ini Sean mengurungkan niatnya lagi, karna Ferdi sering dekat dengan Rania, ada kemungkinan dia akan tau jika Rania tau, Sean berniat ingin menggali informasi dan menyelidiki lebih dalam lagi tentang orang di belakangnya tampa menimbulkan kecurigaan pihak lain


...~°~...

__ADS_1


__ADS_2