Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo

Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo
Kak Sarman


__ADS_3

"Kalau begitu ayo kita kesana" ucap Sean tidak menunggu lama lagi dia segera bergegas kemobilnya bersama Agam


mobilpun keluar dari mansion dan Agam pun langsung tancap gas


......,


Sementara itu di tempat Lena


Lena dan Gina, sedang terpojok di dinding dan di kerumuni beberapa preman mabuk yang memalaknya di jalanan yang menuju Rumah kosan


"Heh, bu doktor, cepetan minta uang, pelit amat si, doktor kan pasti banyak duit nya iya nggak" ucap pria berpakaian lusuh itu pada Lena dan Gina


"Aku aku tidak bawa uang, aku aku hanya bawa makanan ini Saja" ucap Gina gemetaran memperlihatkan kantong plastik makanan yang baru dia beli


"Ah tidak mungkin!!, hey kamu yang di belakang, berikan dompet mu itu, pasti ada uangnya kan" ucap pria lusuh ini kepada Lena yang membawa tas genggam di tanganya dan mengumpet di belakang Gina karena Saking takutnya


"Ja jangan, ini untuk kami kuliah, ka kalau kalau di ambil kami kami gak bisa makan pak" ucap Lena yang terus memegang erat punggung Gina


"Ah bodo amat, cepat berikan atau perlu aku paksa" ucap pria pria lusuh ini


"Ti tidak, jangan pak" ucap Lena memperkuat pegangan ke tubuh Gina yang juga sama Sama gemetaran


"Aaaah, kelamaan dialok lu kayak pemain sinetron saja" ucap pria lusuh yang lainya yang Langsung merebut tas genggam Lena dari tanganya


Lena pun tentu tidak melepaskan dompetnya begitu saja karena di dalamnya banyak terdapat benda penting termasuk handphone dan kartu atm nya dan kartu lainya juga


Lena pun dengan sekuat tenaga menariknya kembali "Jangan pak" Lena terus menariknya tapi apalah daya, tenaganya tidak sekuat pria lusuh itu


Alhasil dompet Lena pun terlepas sedangkan tubuh Lena terhempas ke tembok dan kepalanya terbentur dinding, "Aah" triak Lena dia pun merasa pusing dan tubuhnya pun langsung terduduk di tanah, diapun tak Sadarkan diri,


"Len, Len, kamu tidak papa, Len bangun, Len" ucap Gina yang langsung merangkul Lena dengan terduduk


Pria pria itu pun tertawa keras "Makanya jangan pelit pelit jadi orang" ucap pria lusuh yang lain


"Gadisnya cantik juga, boleh dong minta cium" ucap pria yang lainya lagi semuanya tertawa kembali


Gina pun semakin ketakutan mendengar itu , mana mau dia mencium orang seperti itu "Ti tidak tidak mau" ucap Gina makin gemetaran memeluk Lena


Tapi Saat salah satu pria itu mencoba mendekat pada Gina mereka mendengar tepukan tangan dari arah belakang mereka


"Hey hey hey, boleh minta perhatianya sebentar abang abang" ucap Sean sambil menepuk nepuk tanganya


Sean cukup tenang, tapi bukan berati dia tidak khawatir ke Lena, hanya saja dia belajar dari kejadian sebelumnya, kalau emosi itu hanya merugikan dirinya sendiri


Seketika semua preman yang berjumlah 9 orang itupun melihat ke arah Sean

__ADS_1


"Apa kalian tidak malu, beraninya keroyokan, sama perempuan pula, di taruh di mana muka kalian?" ucap Sean


"Lancang, Siapa si brengsek ini, apa kamu tidak tau kami ini Siapa, kami penguasa daerah sini" ucap Salah satu preman


"Terus,? apakah aku harus Takut? harus sembunyi? harus lari gituh?" ucap Sean


"kurang ajar, langsung sikat saja bos orang kayak gitu, ganggu urusan orang Saja" ucap Salahsatu dari mereka dan merekapun sermpak medekat ke arah Sean


Agam yang bersama Sean pun mundur, dia percaya tuanya sudah mampu menangani mahluk mahluk seperti mereka ini


"Jadi enaknya di apain ni orang kalau sudah di hajar, biar dia tau rasa, apa di buang ke sungai atau jembatan" ucap mereka yang sudah beradu pandang dengan Sean


"Di ikat, di biarkan sampai pagi, lalu masuk penjara" ucap Sean menimpali


"Kurang ajar, langsung saja hajar" ucap mereka dan merekapun langsung berhamburan ke arah Sean, bahkan ada beberapa yang mengeluarkan pisau


Sean mengambil napas panjang kemudian maju menerjang kerumunan mereka dengan cepat, dan satu persatu dari mereka di buat mntal oleh Sean dan tidak butuh waktu Lama bagi Sean untuk membereskan mereka hingga semuanya tergeletak di tanah sambil meraung kesakitan, "waduuu,, waduu,,," erang mereka memegang perut, dada, atau kepala mereka


Seanpun membersihkan tanganya dari debu dan sisa darah dari hidung hidung mereka "Agam, tugasku sudah beres, tinggal tugasmu," ucap Sean


Agam pun mengerti dia pun pergi mencari tali tambang, sementara Sean langsung memungut tas Lena yang terlepas dari tangan Salah satu preman itu, sean pun menginjak telapak tanganya keras keras hingga berbunyi 'krekek', pria itupun berteriak histeris karena kesakitan "Aaaaaaaaaaaa, sakit"


" Lain kali, aku mungkin harus memutus tanganmu jika kau menggagunya lagi" ucap Sean yang perlahan melepas injakanya dan menghampiri Lena dan Gina yang tercengang melihat kejadian ini, sementara Lena belum bangun juga


Gina pun menggelengkan kepalanya "Tidak, Te terima kasih banyak" ucap Gina


"Dia kenapa??" Tanya Sean agak panik karena baru sadar kalau Lena terpejam di pelukan Gina


"Kurasa tidak papa, dia hanya pingsan akibat terbentur tadi" ucap Gina


"Oh, syukurlah, Di mana rumah kalian, biar ku antar dia pulang" ucap Sean, kura kura dalam perahu


"Itu di Sanah, Rumah yang pagarnya Warna putih" ucap gina Sambil menunjuk Rumah kosnya yang tidak terlalu jauh


"Oh baiklah, aku saja yang membawa dia, kamu bawa saja tasnya" ucap Sean


"Baiklah, aku juga sangat lemas, tidak mungkin membawa dia sendiri," ucap Gina


Kemudin Sean pun mengangkat tubuh Lena yang lemas dan mungil itu kepangkuanya, Sean pun sempat sempatnya memperhatikan wajah Lena 'kamu tetap cantik meskipun sedang menutup matamu Len' ucap hati Sean, bibir Sean pun sedikit menyunggingkan senyuman


"Ayo bawa kesana, jangan cuma di lihatin terus, kasian dia" ucap Gina


"Oh iya maaf, ayo" ucap Sean


Sean pun membawa tubuh Lena ke rumah kost nya, kebetulan kamar Lena berada di lantai 2, jadi Sean Harus naik tangga dulu untuk Sampai ke kamarnya

__ADS_1


"Bawa kesini," ucap Gina membuka sebuah pintu kamar


"Oh baiklah" Sean pun membawa tubuh Lena masuk ke kamarnya


Sean pun melihat ruangan itu lumayan besar, dengan 2 tempat tidur kecil yang terpisah, dan Satu lemari sedang di tengahnya, " ke tempat tidur yang mana?" tanya Sean


"Itu yang kiri" ucap Gina


"Oh" Sean pun membaringkan tubuh Lena di sana


"Terima Kasih ya sudah nolongin, tidak tau kalau tidak ada kakak gimana nasib kita sekarang" ucap Gina


"Iya Sama sama, sudah semestinya" ucap Sean sambil matanya terus melihat ke wajah Lena yang berbaring


"Oh iya, kalau boleh tau, nama kakak siapa?" tanya Gina


"Namaku Ss....." ucapan Sean terhenti


"Ss?, masa nama cuma sssssss doang, apa ada terusanya?" tanya Gina lagi


"Arman, yah Arman" ucap Sean meralatnya


"Oh maksudnya Sarman gitu?" tanya Gina


"Iiiiiii, ya" Sean ragu mengiyakanya karena bukan itu maksudnya, tapi Sean tidak terlalu berharap Lena tau Sean yang menolongnya


"Oh, baiklah, terima kasih kak Sarman " ucap Gina


Sean pun tersenyum kecut, 'Kenapa jadi si Sarman?, gak enak nama dari ibuku di rubah rubah' tapi ucapan itu hanya ada dalam hati Sean saja "Iya sama sama, kalau gitu aku pulang dulu, tolong rawat dia ya" ucap Sean melihat Sekali lagi ke arah Lena


"Baik, sudah tugasku" ucap Gina yang mulai merasa kalau Sean perhatian kepada Lena


Sean pun melangkahkan kakinya untuk keluar, tapi baru juga sampai di pintu


"Kak Sean, jangan pergi" itu yang terdengar dari belakang Sean


Sean pun menarik nafasnya, menyiapkan dirinya, kemudian berbalik lagi karena pikirnya Lena sudahh bangun, tapi dia mendapati kalau mata Lena masih terpejam


"Ku kira dia memanggilku" ucap Sean


"Tidak, dia hanya mengigau saja, sering dia memanggil nama itu saat dia tidur, entah Siapa kak Sean yang meninggalkanya itu, kasian Lena, mungkin dia dari masa lalunya" ucap Gina melihat ke arah Lena


Hati Sean seketika itu pun menghangat, mendengar ucapan Gina 'Segitunya kah Lena?' Sean pun jadi merasa sangat bersalah pada Lena hingga matanya pun berkaca kaca


...~°~...

__ADS_1


__ADS_2