Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo

Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo
Gandengan


__ADS_3

Si pria itu pun menatap tajam pada Sean, dan langsung menunjuk arah pintu besi "Keluar kamu, atau aku akan menghajarmu di sini" ucap pria itu, tapi Sean tetep berdiri di sana dan tidak bergerak sedikitpun,


"Baiklah, kamu seperti nya memang minta di hajar," ucap pria gendut itu, dia pun langsung mengakat tangan gempalnya dan memukulkan tinjunya itu ke arah Sean


Sean yang dari tadi berdiri dengan tenang pun hanya menggerakan tubuhnya sedikit kebelakang, dan 'Wush' pukulan pria itu pun hanya mengenai angin saja,


Sean merasa kondisi ini sudah sedikit mendesak, jadi dia langsung mengepalkan tinjunya juga, dan 'Buk' Sean memukul ulu hati si pria itu cukup cukup keras


Dan si pria itu langsung terjungkal kebelakang, dan 'brak' dia pun langsung terkapar di lantai, tidak terlihat ada pergerakan lagi dari si pria gendut itu


Sean pun memperhatikan nya 'Baguslah, Sepertinya dia langsung pingsan' pikir Sean


Sean sedikit heran, walau pun ada suara ribut di ruangan ini, tapi tidak ada satupun orang dari pihak kedai yang datang, mungkin karena ada suara musik dari dalam, jadi keributan di sini pun tidak terdengar oleh pengelola kedai di dalam


Pukulan Sean itu memang cukup keras, karena memang Sean sering melatih tinjunya setiap pagi, jadi hanya dengan satu pukulan pun dia bisa melumpuhkan pria mabuk ini


Si wanita yang masih terduduk di lantai pun menatap lekat ke arah Sean "Te terima kasih sudah membantuku" ucap Rania, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika saja pria ini tidak datang membantunya


"Sama-sama" ucap Sean, dia pun sejenak memperhatikan si wanita yang terduduk itu, wajahnya terlihat sangat cantik, dia berkulit putih seputih salju, 5 panca indranya pun terlihat sangat sempurna,


Sean pun bisa melihat kalau jari tangannya yang lentik itu terus memegangi kemeja putihnya di bagian dada


"Jangan menatapku" ucap Rania yang risih karena di perhatikan Sean seperti itu,


Rania pun langsung menundukan kepalanya, dia pun lebih merapatkan bajunya lagi, dia takut kalau pria ini juga punya pikiran jahat padanya, kondisi pakaianya sekarang tidak terlalu bagus, karena si pria gendut sempat menarik bajunya tadi, dan itu membuat kancing kemejanya copot beberapa di bagian dadanya


"Baiklah,, kalau kamu tidak butuh bantuan lagi, aku pergi sekarang" ucap Sean, dia pun bermaksud untuk segera keluar dari sana

__ADS_1


"Tunggu dulu" ucap Rania agak berteriak "Apa kamu tega meninggalkan seorang gadis dengan kondisi seperti ini?" ucap Rania yang mulai bisa berpikir rasional,


Dia merasa tidak mungkin bisa keluar sendirian dari sini, badanya lemas, karena dia sangat takut jika si pria gendut tadi akan berbuat suatu hal yang buruk pada dirinya


Sean pun menoleh pada gadis itu lagi "Apa kamu bisa bangun sendiri? kalau bisa kita keluar sekarang" ucap Sean


"Bisa,, tunggu sebentar" Rania menjawabnya tampa ragu ragu, dia pun mencoba untuk bangkit sendiri, tapi belum juga dia berdiri tegak dia sudah berteriak lirih "Sssh aaaw,,, sakit" pekik Rania sambil menjatuhkan dirinya lagi kelantai


Sean pun langsung berbalik ke arah Rania dengan melangkahi tubuh si gendut yang tergeletak, Sean pun mengulurkan tanganya karena bermkasud ingin membantu Rania supaya bisa berdiri, tapi


"Jangan sentuh aku" ucap Rania sedikit berteriak lagi, dia memang merasa risih dengan kondisi bajunya sekarang, karena bisa saja bajunya terbuka kalau peganganya itu lepas


Sean pun sektika terdiam, lalu dia pun menarik kembali uluran tangannya itu, Sean juga sadar kalau dari tadi gadis ini memang terus memegangi bajunya itu, dan dia memang berusaha untuk menutupi itu darinya, Sean yang paham dengan masalah wanita ini pun segera melepaskan jaket yang dia kenakannya


Rania pun menatap pria yang membuka jaket ini dengan tatapan curiga, "Apa, apa yang ingin kamu lakukan?'' ucap Rania sedikit gugup


"Oh" Rania pun tertegun sejenak, lalu diapun mengambil jaket Sean itu dan segera memakai nya "Terima kasih" ucap Rania yang malu sendiri karena sudah berpikiran negatif


"Apa kamu bisa hubungi seseorang untuk membantumu?" tanya Sean, dia merasa kalau gadis ini terlalu berhati-hati, itu mungkin karena kejadian yang menimpa nya barusan, jadi Sean mengusulkan wanita ini untuk meminta bantuan, dan di lihat dari penampilannya, Sean bisa menebak kalau wanita ini memang bukan orang biasa biasa


"Aku tidak tau, aku sekarang tinggal sendiri di kota 'B' ini, ayah ku kembali ke kota 'J' tadi sore, mungkin besok baru kembali" Rania pun menghela napasnya, "Apa kamu bisa menyetir mobil?,, aku sepertinya tidak akan bisa menyetir sekarang, kaki ku terasa sakit, sepertinya terkilir tadi" ucap Rania


Sean pun menggeleng kan kepala nya "Tidak, aku tidak bisa bawa mobil" ucap Sean, dia pun melihat ke arah pergelangan kaki kanan Rania yang putih itu, memang terlihat sedikit kemerahan dan sdikit bengkak,


"Atau kamu tolong carikan aku hotel terdekat, atau penginapan, atau apalah yang penting bisa untuk beristirahat dulu malam ini,'' ucap Rania sedikit memelas


"Kalau Hotel lumayan cukup jauh jaraknya dari sini, tapi kalau rumah sewa atau rumah kos biasa, ada banyak yang dekat di daerah sini" ucap Sean, rumah sewanya juga sudah tidak jauh dari sana, jadi dia lumayan tau daerah itu

__ADS_1


Rania pun berpikir sejenak, "Tidak apa lah itu saja, kamu bantu aku untuk kesana, ulurkan tanganmu" ucap Rania, dia tidak ingin Sean memegang badannya, jadi Rania meminta tangan Sean untuk jadi peganganya saja


Rania pun segera bangkit dengan berpegangan di tangan Sean, sebelum pergi, Rania mengeluarkan ponselnya dan mengarahkan pada si pria gendut yang tergeletak itu


"Untuk apa kamu foto pria itu?" Sean bertanya karena heran


"Tidak apa, ayo pergi" ucap Rania tidak menjelaskan apapun, mereka pun bergegas keluar dengan Rania yang berjalan terpincang


Suasana di jalanan gang gelap dan sepi, Rania yang berjalan sedekat ini dengan Sean dan menggandeng tanganya pun sebenarnya merasa sangat canggung, hingga jantungnya pun terasa berdegup cukup kencang, Jujur saja Rania tidak pernah berinisiatif sedekat ini dengan seorang pria sebelumnya,


Sean juga tidak jauh berbeda dengan Rania, dia sebelumnya juga tidak pernah sedekat ini dengan seorang gadis, samar samar Sean pun bisa mencium aroma wangi gadis yang di sampingnya ini


Di tambah sentuhan lembut dan dingin tangan gadis ini membuat Sean sedikit gemetaran, sepertinya dia memang tidak bisa biasa-biasa saja di kondisi seperti ini, yang tiba tiba bergandengan tangan dengan seorang gadis cantik


Sean pun mencoba memecah keheningan jalanan gang dengan mengajak gadis ini mengobrol "Sebenarnya apa yang terjadi?, kenapa kamu bisa ada di situasi seperti itu tadi?" tanya Sean


"Aku juga tidak menyangkanya, aku tadinya hanya sedang minum kopi saja di kedai itu, karena kebelet aku pergi ke toilet, tidak ada siapa siapa di ruangan itu sebelum aku masuk ke toilet, tapi begitu aku keluar sudah ada orang itu yang entah dari mana datangnya, dia langsung menghampiriku dengan jalanya yang sempoyongan, kemudian dia dengan cepat meraih tanganku, aku sangat terkejut karena tidak bisa menghindarinya, dia terus meminta maaf padaku dan tidak melepaskan tanganku juga" ucap Rania


"O yah?, terus?" ucap Sean


"Aku sudah mencoba menolaknya tapi dia tidak mau melepaskan tanganku, malah dia mencoba merangkulku tadi, aku mengeluarkan alat yang kamu pegang tadi dari tas ku, tapi dia malah menepisnya dan jatuh ke lantai, dan setelah itu kamu datang, dan begitu lah ahirnya," ucap Rania


Sean terdiam sjenak untuk memperoses ucapan gadis ini,


"Menurutku, mungkin pria itu menganggapmu pasanganya, kemungkinan mereka sedang berselisih,, spertinya dia juga masuk melewati pintu besi yang tadi aku masuki, dia mabuk, jadi tidak mungkin dia dari dalam kedai kan?" ucap Sean menebak nebak


"Sepertinya memang begitu, tapi aku tetap saja tidak senang dengan perlakuanya itu terhadapku" ucap Rania

__ADS_1


...~°~...


__ADS_2