Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo

Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo
Menjalankan


__ADS_3

Perlahan mobil pun beranjak dari kediaman Kartina dan keluar dari komplek elit itu, sekarang Sean mengajak Seorang supir untuk membantunya menyetir, tapi bukan Agam


Setelah beberapa waktu perjalanan mereka pun sampai di depan Rumah kost Lena Lagi, mereka segera turun dari mobil dan Sean juga mengikuti mereka turun


"Terima kasih kak, sudah antar lagi kami ke sini" ucap Lena


"Iya sama sama, kalian kapan kapan harus main lagi, ibuku kelihatanya sangat senang dengan adanya kalian" ucap Sean


"Iya kak," ucap Lena


"Kukira rumah kamu tidak sebesar itu kak, kenapa tidak memberitau dulu sebelumnya kalau kakak anak Sultan?, aku Sampai kaget lho kak" ucap Gina


"Iya iya maaf, aku tidak tau harus memberitahunya gimana" ucap Sean "Ya sudah kalau begitu, kakak pulang dulu ya"


"Iya kak, hati hati, terimakasih juga untuk bajunya, Lena sangat suka" ucap Lena


"Iya kak Sean terima kasih, jangan lupa kapan kapan beliin lagi ya, jangan kapok" ucap Gina


Lena pun langsung mencubit tangan Gina dengan gemas "Giinnn, kamu jangan malu maluin aku terus napa" ucap Lena pelan


"Aw aw aw, iya iya cuman bercanda" ucap Gina


"Iya tentu, kapan kapan ya" ucap Sean, diapun segera masuk ke dalam mobil dan supir pun perlahan melajukan mobilnya


"Daah kak Sean" ucap Lena yang melihat Sean di jendela


mobil, dan merekapun segera masuk setelah mobil Sean berlalu


Sean pun Segera kembali ke mansion Kartina setelah mengantar Lena dan Gina pulang ke rumah kost nya, Sean pun menghampiri ibunya lagi yang sekarang berada di Ruang keluarga, Ibunya juga sedang membaca beberapa majalah yang ada di meja dengan di temani secangkir teh


"Sudah kembali?, apa kamu mengantarnya sampai Rumahnya?" tanya Kartina


"Ya, tentu saja bu," ucap Sean sambil mengambil minuman dingin di kulkas di area dapur, kemudian dia kembali menghampiri ibunya dan duduk di Sofa dekat Sofa ibunya


Sean pun memindahkan saluran TV yang tidak terlalu di perhatikan juga oleh Kartina

__ADS_1


"Kalau Rania kapan kamu ajak kemari, apa harus ibu undang juga dengan papanya?" tanya Kartina


"Entahlah, paling nanti kalau Arman sudah selesai dengan sidak departemen Arman, untuk saat ini masih bingung juga Arman untuk memberitau Rania tentang Arman, nanti malah di sangka Arman membual atau halu, sekarang Arman masih belum sepenuhnya duduk di kursi Presdir kan, jadi sedikit Ragu juga untuk memberitaunya," ucap Sean


"Masih belum kamu beri tau juga?, hati hati, nanti pas jujur malah kamu di anggap bohongin dia selama ini, harusnya kamu kasih tau dia dari awal sebelum kalian ada hubungan, biar tidak ada masalah yang tidak perlu di kemudian hari" ucap Kartina


"Iya sih bu, Arman juga pernah kepikiran begitu, tapi ya lihat nanti saja lah, sudah terlanjur juga bu" ucap Sean


"Ya, terseah kamu, ibu cuma ngingetin." ucap kartina "O yah, Gadis temanmu itu kelihatanya dia cukup baik juga, ibu juga sangat suka dengan keperibadianya" ucap Kartina mengalihkan topik


"Ya, dia memang gadis yang cukup baik juga bu" ucap Sean


"Jadi, apa kamu yakin mau melepaskan gadis itu begitu saja?" tanya Kartina


Sean pun tidak langsung menjawab, dia berpikir cukup keras untuk menjawab pertanyaan singkat dari ibunya ini "Sepertinya memang harusnya begitu bu" ucap Sean


"Ooh, Ibu hanya mau mengingatkan juga, putuskanlah sesuatu itu dengan hatimu, jangan sampai kamu menyesali keputusanmu nanti" ucap Kartina yang merasa Sean juga sangat menyukai Lena


"Iya bu, sudah Arman putuskan" ucap Sean,


Malam pun berlalu dengan kebimbangan Sean, dia sudah memutuskan, jadi dia harus menjalankan, meskipun itu bertentangan dengan keinginan hatinya yang ingin memiliki kedua duanya, tapi dia berpikir ulang juga itu tidak akan adil untuk mereka ber 2


Keesokan harinya Sean bangun pagi seperti biasa, menjalani latihan yang sudah jadi rutinitasnya sehari hari, dan kemudian pergi ke kantor


Dia sekarang sudah berpindah lagi ke departemen yang lain di minggu ini, dia masih fokus mempelajari dan memahami setiap struktur departemen yang ada di kantor ibunya Agar dia bisa memimpin perusahaan itu dengan baik nantinya


Setelah seharian di depan komputer Seanpun turun kebawah seperti biasa, apa lagi kalau bukan untuk makan siang, karena memang sekarang sudah waktunya makan siang


Diapun menunggu Rania sudah beberapa saat, tapi Rania belum muncul, diapun segera menghubunginya


"Hallo Ran, kamu sudah turun belum?" tanya Sean


"Aku hari ini tidak masuk kerja" ucap Rania dengan suara sedikit terisak


"Kamu kenapa Ran? apa kamu ada masalah?" tanya Sean mulai cemas, karena dia merasa ada sesuatu hal yang sedang Rania alami

__ADS_1


"Tidak apa apa aku baik baik saja, nanti malam kita ketemu ya, ada hal yang harus aku omongin kekamu" ucap Rania masih dengan terisak


"Baiklah, jika kamu tidak bisa mengatakanya di telpon, kita ketemu nanti!," ucap Sean


"Iya, aku tutup dulu telponya" ucap Rania


"Iya" ucap Sean, dia sadar kalau ada yang tidak beres dengan Rania, tapi masalah apa?, pikiran Sean pun jadi tidak tenang di buatnya


Setelah makan siang sendirian, Seanpun kembali lagi ke ruangan kerjanya dengan pikiran yang kurang fokus karena kepikiran Rania, tapi dia tetap menjalankan kewajibanya sebagai mana mestinya


Sore harinya Sean pun pulang bersama ibunya ke masion, dan setelah hari beranjak malam Sean pun menghubungi Rania kembali


"Hallo Ran, kita mau ketemu di mana?" tanya Sean


"Aku ke rumah sewamu saja, aku lagi tidak ada mood untuk ke tempat lain" ucap Rania dengan suara yang agak Serak


"Oh, baiklah, aku tunggu kalau gitu" ucap Sean


"Iya" ucap Rania dia pun langsung menutup telpon Sean


Setelah Rania mengakhiri panggilanya, Sean Segera bergegas ke Rumah sewanya dengan Agam, diapun menaruh mobilnya di jalan depan supaya mobil Rania bisa masuk ke jalanan yang memang sempit jika dimasuki 2 mobil


Seanpun berjalan kaki sebentar untuk Sampai ke rumah Sewanya, dan sesampainya di depan rumah diapun Segera masuk dan menunggu Rania


Tidak lama suara mobil Rania pun terdengar dari luar, Sean pun langsung keluar untuk membukakan pintu untuk Rania


Raniapun segera turun dari mobil, Sean juga sudah menunggu di depan pintu masuk, diapun langsung melihat mata Rania yang sdikit membengkak, menandakan memang Rania sudah menangis tadi


"Ran, kamu kenapa? Apa kamu menangis" tanya Sean yang mulai tidak tega melihat wajah Rania


"Iya, di dalam saja ceritanya, boleh?"


"Ya sudah kalau begitu, ayo masuk" ucap Sean


Mereka berdua pun segera masuk kedalam, dengan Sean yang sdikit memapah tubuh Rania untuk melancarkan langkah kaki Rania yang memang sdikit gontai

__ADS_1


__ADS_2