
Sean yang melihat kalau Leon memiliki senjata api pun dia tidak berani mendekat lagi dan seketika menghentikan langkahnya
"Oke Oke aku berhenti, tapi singkirkan benda itu dari pacarku, dia terlalu indah jadi tidak panatas kamu mendekatkan benda itu di kepalanya " ucap Sean
"Ha ha ha, kupikir kamu benar benar orang kuat Sean, ternyata kamu lemah juga hanya karena seorang wanita" ucap Leon sambil tertawa
"Baiklah, aku mengaku lemah, jadi jangan sakiti dia" ucap Sean yang tidak bisa berbuat banyak untuk saat ini
"Kalalu kamu tidak ingin melihat benda ini dekat pacarmu, maka mundurlah ketepian sana" ucap Leon menunjuk ke arah pinggiran rumah
Leon bisa saja menembak langsung Sean saat ini, tapi dia berpikir Sean masih lumayan dekat dengan Rania, dia masih sedikit menghargai perasaan Rania
"Baik baik aku lakukan" ucap Sean, dia pun menuruti kemauan Leon itu
Sean pun mundur dan berdiri di tepian itu, dia pun bisa langsung melihat ke arah bawah bangunan ini yang terlihat cukup dalam, karena memang bangunan 2 lantai ini lumayan tinggi 'Mau apa manusia ini menyuruhku kemari, apa dia akan menyuruhku melompat?' pikir Sean
"O yah, sekarang kamu ucapkan selamat tinggal dulu pada pacarmu yang tercinta ini" ucap Leon sambil mengarahkan pistolnya ke Arah Sean berdiri dan 'Duarrrr' Leon pun langsung menembak ke arah Sean
Sean pun tersadar dari lamunanya dan tidak sempat untuk menghindar lagi, meskipun dia yakin peluru itu tidak akan menembus badanya, tapi tetap saja itu sedikit menyakitkan dan sedikit ada trauma juga dengan butir proyektil kecil itu
Sean pun kehilanngan keseimbangannya saat peluru itu menghatam dadanya, diapun terjungkal ke belakang dan jatuh dari atas bangunan
'Tidaaaaaaaaaak, Seaaaaaaan, jangan tinggalkan aku' Rania hanya bisa menjerit dalam hatinya saja, karena memang mulutnya masih tertutup lakban, dia mencoba berontak tapi Leon memegang tangan atasnya cukup erat
"Ran, aku minta maaf karena melakukan ini pada pacar mu, tapi kamu tenang saja, aku masih bisa menggantikanya" ucap Leon
Rania pun hanya bisa mengelengkan kepalanya lagi dan lagi dengan air mata yang bercucuran, dia putus asa melihat pacarnya di tembak di depan mata sendiri, dia ingin segera melihat ke adan Sean sekarang, setidaknya untuk terahir kalinya, tapi dia tidak bisa lepas dari Leon, dia hanya bisa menangis sejadi jadinya
Leon pun membawa Rania masuk kembali ke dalam Rumah
…
Sementara di tempat lain di rerumputan hijau di pekarangan samping rumah Sean masih tergeletak di sana, sendirian
__ADS_1
"Bangs*t kau Leon, Sakit juga tembakan pistolmu, lihat saja akan ku buat kau menyesal" ucap Sean sambil meraba bekas proyektil peluru yang hanya membuat lecet kulitnya saja
Diapun perlahan bangkit darisana dan berjalan lagi dengan sedikit berlari menuju ke pintu masuk depan lagi, diapun melihat kalau Agam juga sudah melumpuhkan belasan anggota Redbear itu di tanah
Dan Sean pun masuk kembali kedalam bangunan dengan di ikuti agam di belakangnya, dia pun langsung mencari Rania ke tempat tadi
Tapi Sean tidak melihat Rania di sana lagi, dia pun turun kembali dan mencarinya lagi ke kamar kamar seperti sebelumnya
Di membuka pintu pertama, kedua, tapi dia belum melihat Rania juga
Di pintu ketiga barulah Sean menemukan seorang pria yang sedang menyangga tubuh seorang gadis yang tergeletek di lantai dengan luka di tangan kirinya
Itu adalah Rania yang mencoba melukai dirinya sendiri untuk mengancam Leon, Rania ingin melihat Keadaan Sean yang di tembak Leon tadi, namun dia di halangi oleh Leon hingga dia merasa putus asa dan berpikiran pendek
"Kurang ajaaaaaaar,,,,,,,, apa yang kau Lakukan pada Rania?" ucap Sean yang melihat tubuh Rania yang terkulai lemas dalam sanggaan Leon
"Kamu,, kamu masih hidup???? aku aku aku tidak berbuat apa apa pada Rania, aku aku sudah menahan dia supaya dia tidak melakukan ini" ucap Leon juga gugup melihat Rania tidak sadarkan diri dengan luka di tangan kirinya itu, jujur Leon juga memang tidak tega melihat Rania terluka
Seketika Leon pun melepas sanggaan tanganya pada Rania dan tubuh Leon pun seketika langsung tergeletak di lantai dan merintih
Sean pun langsung menyangga kepala Rania menggantikan Leon, "Ran,, Ran, bangun Ran, kenapa kamu berbuat seperti ini pada dirimu sendiri, kenapa kamu tidak menungguku datang?, aku baik baik saja lihatlah, kamu bodoh Ran" ucap Sean yang mendekap Rania erat dan hampir menangis,
Sean pun langsung membuang jauh pisau buah yang di pakai Rania untuk menggores tanganya sendiri itu
"Tuan, anda langsung bawa nona ke rumah sakit saja" ucap Agam
Sean pun baru bisa berpikir setelah Agam memberitaunya, "Rumah sakit, iya rumah sakit" ucap Sean yang sangat gugup itu
"Agam,,, kamu urus dia, patahkan saja tangan dan kakinya, dan kirim dia kepenjara" ucap Sean dengan penuh amarah pada Leon
"Baik tuan" ucap Agam yang tidak Ragu meskipun Leon masih ada hubungan darah denganya
Sean pun langsung membopong tubuh Rania keluar, dan setelah dia berada di luar kamar, Sean pun bisa mendengar suara Leon yang di eksekusi oleh Agam
__ADS_1
"Tidak tidak jangan lakukan ini padaku paman tidak aaaaaaaaaaaaaaaaaa" Leon berteriak cukup keras Karena Agam sedang melakukan perintah Sean
Sean pun kini sudah turun ke bawah, dan entah sudah berapa kali Sean mendengar teriakan Leon yang memilukan dari Ruangan itu
Diapun langsung keluar pintu gerbang rumah yang sudah di bukakan anak buah Agam, diapun langsung membawa tubuh Rania msuk ke kursi belakang mobil yang akan di kemudikan anak buah Agam juga
"Carikan aku Rumah Sakit terdekat, cepatlah" ucap Sean yang tetap mendekap tubuh Rania erat di kursi belakang itu
"Ba baik tuan" anak buah Agam itu pun lansung mengemudikan mobilnya secepat yang dia bisa
"Bertahan lah Ran" ucap Sean gemetar karena melihat wajah Rania yang mulai pucat
Dan beberapa waktu kemudian merekapun Sampai di Rumah Sakit umum kota SB, Sean pun langsung turun dan membopong kembali Rania dan berlari langsung menuju IGD rumasakit dan dia pun di sambut beberapa perawat yang melihat Sean membawa orang terluka dan langsung membawakan brangkar dorong untuknya
Sean pun membaringkan tubuh Rania di berangkar dan kemudian ikut mendorongnya bersama beberapa perawat hingga dia pun tidak di perbolehkan masuk ke ruang penanganan di IGD
Sean pun hanya menunggu di luar dengan cemas, Sean segeara menghubungi Regan untuk membantunya mengurus prosedur rumah sakit, dia terlalu khawatir dan malas jika dia yang harus mengurusnya sendiri
Tidak lama Regan pun datang dan menghapiri Sean
"Bos bagaimana ke adaan nona Rania?" tanya Regan
"Aku tidak tau, dia masih di dalam" ucap Sean yang duduk di kursi luar ruang penanganan itu
Tidak lama seorang doktor pun keluar dari ruangan itu
Sean pun langsung menghampirinya "Dok,, bagaimana keadaan pacar Saya?, apa masih bisa selamat?" ucap Sean
"Tidak usah khawatir pak, lukanya tidak terlalu serius, urat nadinya memang tergores, tapi tidak terlalu dalam, dan pasien juga memang belum terlalu banyak mengeluarkan darah, jadi masih bisa kami tangani dengan Baik" ucap dokter itu
"Syukurlah, terimakasih dok" ucap Sean
Dokter itu pun segera pergi dan tidak lama Rania pun keluar dari ruang penanganan dan segera di pindahkan ke bangsal perawatan
__ADS_1